Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Adakah Perasaan Yang Sama


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Meregangkan otot yang terasa kaku sembari menikmati udara yang masih alami, ku hirup dalam dalam udara pagi nan basah oleh embun. Melupakan sejanak keadakan di sekitar dengan terus menutup mata, aku menikamati nikmat yang masih di karuniakan untuk aku rasakan pagi ini.


Puas dengan segalanya, kembali ku gulung lengan bajuku dan melangkah penuh kepastian ke arah dapur umum berada. Sampai disana, kaget di wajahku tidak dapat ku sembunyikan, karena yang ku temui adalah para laki laki bertubuh kekar yang tengah sibuk memasak.


"Maaf, saya salah tempat." Dengan perasaan malu sekaligus memberanikan diri ahirnya aku berucap lantas segera berlari tanpa menghiraukan jawaban para Om Om Loreng tersebut yang sudah ramai menggodaku.


"Ada apa, War.?" Tanya Mbak Yesha heran melihatku masuk tenda perawatan terburu buru dengan nafas terengah engah.


Aku mengulas senyum penuh rasa malu ke arah Mbak Yesha. "Tadi niatnya mau bantuin di dapur, ternyata penuh sama Om Om Loreng, Mbak." Jawabku jujur.


"Oh iya. Wah, mau dong kayak gitu, War." Tanggapan Mbak Yesha justru lain dari perkiranku. "Keren keren banget tau meraka tuh." Lanjut Mbak Yesha. Aku hanya meringis sekilas dan memilih mengikuti Mbak Yesha yang meyiapkan obat obatan.


"Bayi yang kemarin itu sehat banget, War. Ini lihat deh gambarnya." Mbak Yesha menunjukan foto bayi dan Ibunya yang kemarin kami tolong.


"Lho katanya di bawa ke Puskesmas terdekat Mbak.? Kok ini kayaknya ada di rumah.?" Tanyaku, karena dari yang aku dengar kemarin hendak di bawa ke Puskesmas di balik gunung.


"Ibunya tidak mau, dan juga karena memang keduanya dalam keadaan baik baik saja." Jawab Mbak Yesha. "Hari ini bakal sibuk banget kayak e, War."


"Kenapa Mbak, bukannya malah beberapa bantuan tenaga medis datang membantu.?"


Mbak Yesha mengacungkan jempolnya ke arahku. "Bener, tapi juga akan di bagi bagi orangnya. Ini Mas Karang juga sudah berangkat ke tempat pengungsian yang satunya. Sisanya nanti menyusul." Aku yang tadinya fokus dengan tanganku, seketika menoleh ke arah Mbak Yesha mendengar penuturannya.


Entah perasaan seperti apa ini, ada perasaan lega dengan Mas Karang meninggalkan tempat ini, karena dengan begitu tidak setiap waktu aku bisa melihatnya dan sekaligus aku bisa mengontrol perasaanku kepadanya. Namun, sisi lain dari hatiku, merasa tidak nyaman sekaligus ingin Mas Karang tetap di sini.


"War. Are you okey.?"


Dengan tergagap akupun menyahuti Mbak Yesha. "Iya, Mbak."


"Sure.?" Tanya Mbak Yesha lagi yang masih melihatku dengan intens.


Ku angguki Mbak Yesha, dan Mbak Yesha tersenyum lantas mengambil obat dari tanganku. "Ini tempatnya bukan disini. Fokus dong."


"Maaf, Mbak." Kataku dengan tersenyum kaku.


"Tidak apa apa, aku tau karena kamu memang bukan tenaga kesehatan." Aku makin meringis mendengar penuturan Mbak Yesha. Karena ucapan Mbak Yesha membuatku semakin menyadari siapa diriku ini.


"Ya sudah ayo, saatnya beraksi. Harus semangat." Ucap Mbak Yesha lagi sembari menyemangati dirinya sendiri sekaligus aku.


Aku terus mengukuti Mbak Yesha, berintraksi dengan orang orang yang tengah terluka sekaligus mendengarkan keluh kesah mereka. Tidak semata dari luka di bagian tubuh yang di dera, melainkan juga setiap trauma yang berusaha mereka bagi dengan kami semua.


Lain waktu, rumah, tanah dan harta benda mereka dapat kembali kepada mereka, dan bantuan terus saja mengalir untuk mereka. Tapi ada yang kadang terlupakan, yakni trauma yang mungkin saja tetap membekas di hati mereka. Apa lagi saat mereka harus kehilangan anggota keluarga mereka, seperti anak kecil semalam yang hingga saat ini masih seperti linglung.


Hingga matahari yang seharusnya sudah sedikit bergeser ke barat, entah berapa banyak orang yang terluka terus kami rawat. Sampai sampai aku melewatkan sarapan sekaligus makan siangku, dan baru menyadari itu saat perutku yang tiba tiba berbunyi di tengah keheningan, hingga membuat semua orang menatapku.


"Aku lupa, War. Kamu belum makan tadi." Ucap Mbak Yesha dan segera memanggil temannya untuk mengantikannya. Lantas mengajak ku menuju ke dapur umum yang lumayan membuatku tidak bisa berkutik dengan banyaknya kaum adam disana.


Bagiku sebelumnya, berbaur dengan para laki laki bukan hal yang canggung, meski temanku tetap hanya Erik belaka. Namun, setelah aku memutuskan untuk belajar di Pesantren, rasa malu, sungkan dan canggung kerap aku rasakan tanpa ada komando dari siapapun acap kali aku berpapasan dengan lawan jenis, apa lagi ini sampai berada di tengah tengahnya.

__ADS_1


"Bang, ada makanan yang bisa untuk di makan tidak.?" Tanya Mbak Yesha kepada salah satu Om Om Loreng. "Teman saya belum makan dari pagi." Lanjut Mbak Yesha.


Lima laki laki kekar memandang ke arah kami bersamaan dengan di sertai senyum ramah, ada juga yang sengaja menggoda kami dan Mbak Yesha justru menganggapi itu.


"Kasihan sekali, jam segini belum makan. Tidak takut pingsan gadis gadis cantik." Ucap salah satu dari mereka.


"Kalau pingsan kan ada Abang Abang yang bakal gendong kami." Seketika suara riuh tawa bergema di tenda begitu Mbak Yesha berucap, cuitan dan lain sebagai terus bergantian membahana seiring dengan saut sautan Mbak Yesha dan Om Om Loreng, sementara aku hanya sesekali menimpali saja saat Mbak Yesha melibatkan aku di dalamnya.


Dua mangkuk Mie Instan dengan telur setengah mateng, menemani duduk ku dan Mbak Yesha di batang pohon yang berada tepat di samping lapangan. Dan tidak jauh dari tempat kami di camp khusus para Om Om Loreng, tengah datang beberapa orang yang baru selesai dengan tugas mereka di tempat bencana.


"War, lihat deh mereka semua. Bikin ngiler." Ucap Mbak Yesha sembari menunjuk mereka dengan dagunya. K


Aku mengikuti arah pandang Mbak Yesha dan seketika langsung tersedak oleh Mie rebus yang baru aku kunyah. "Uhuk, uhuk, uhuk."


"Kamu kenapa bisa kesedak sih, War. Aku malah seneng banget bisa lihat tontonan kayak gitu." Mbak Yesha tersenyum sumringah sembari terus menatap ke arah gerombolan yang tengah melepas pakaian atas mereka. "Aku seolah olah berada di scane film Descendats of the sun."


"Film apa itu Mbak.?" Tanyaku yang memang tidak tau menau soal film yang di maksud oleh Mbak Yesha.


"Filmnya Oppa Song Joong Ki, masak kamu tidak tau." Aku segera menggeleng begitu ucapan Mbak Yesha berahir. "Seriusan kamu tidak tau, War." Raut heran Mbak Yesha semakin terlihat seakan akan aku berasal dari planet lain, karena bahasan yang menurut Mbak Yesha umum tidak ku ketahui.


"Kapten Yoo, kamu tidak tau.?" Ulang Mbak Yesha masih dengan wajah herannya, apa lagi saat aku mantap untuk menggeleng. "Di rumah kamu tidak ada TV, atau tidak ada Internet, War."


"Saya tinggal di tempat yang hal hal semacam itu seakan terlupakan oleh kesibukan kami, Mbak."


"Maksudnya.?" Kini ganti wajah Mbak Yesha yang bingung mendengar perkataan ku.


Aku tersenyum sekilas. "Saya tinggal di Pesantren, Mbak." Jawabku.


"Ya menghayal saja Mbak."


"Kamu tidak tau alurnya, kan bingung jadinya."


"Ya Mbak Yesha ceritakan dulu garis besar filmnya." Timpalku.


"Kelamaan, keburu menghilang semua mereka entar. Pokoknya aku anggap saja salah satu dari mereka Kapten Yoo dan aku jadi dr.Kang. Hahaha.." Putus Mbak Yesha sembari terus memandang ke arah mereka semua dengan senyum yang tak pernah putus dari bibirnya.


"Masukin sarung, Mbak." Mbak Yesha semakin mengeraskan tawanya begitu mendengar ucapanku.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Malam kembali datang dan suasananya masih hampir sama dengan malam kemarin, cuma sudah sedikit tenang dan suara tawa di tenda perawatan cukup lumayan banyak terdengar. Itu karena para perawat dan relawan yang menyebarkan aura positif dengan terus memotifasi para korban agar terus bersemangat.


Malam ini, aku juga bisa merasakan lega sekaligus rilex di seluruh tubuhku. Itu karena aku yang tadi sore mandi sekaligus berganti pakaian. Bukan, karena pakian yang di janjikan akan di kirim oleh Gus Karim datang. Melainkan, Mbak Yesha yang meminjami pakainnya kepadaku atas permintaan Mas Karang.


Setelah berjuang mencari sinyal yang di lakukan oleh Mbak Yesha tadi sore dengan berjalan naik turun cukup jauh dari camp, justru mendapat pesan dari Mas Karang agar memberiku pinjaman baju. Dan Mbak Yesha seolah tidak ada keberatan dengan itu, malah tersenyum penuh arti kepadaku.


Menikmati air hangat di gelas seadanya, aku kembali duduk di batang pohon yang tadi siang aku duduki bersama Mbak Yesha. Melarutkan diri dengan pikiran semrawut kemana mana, aku terus menatap jauh ke langit yang di penuhi oleh bintang bintang.


Seakan Bintang disini jauh lebih terang, daripada biasanya. Tentu saja itu karena disini tidak begitu banyak penerangan selayaknya di kota kota besar, jadi kesannya jauh lebih benderang.


"Kelihatan banget kalau dari kota." Aku langsung menoleh ke asal suara yang membuat kerja jantungku bekerja cukup keras dengan tiba tiba, hingga membuatku mengelusnya pelan. "Kaget ya." Lanjut Mas Karang.

__ADS_1


Ku tolehkan kembali kepalaku, asal itu tidak menatap Mas Karang. "Sedikit." Lirihku.


"Mas Ka.."


"Mawar." Kami berbarengan berbicara sekaligus berhenti bersamaan, lantas sama sama menoleh dengan mengulas senyum kami.


"Mawar dulu, silahkan." Ucap Mas Karang santai.


"Mas Karang saja dulu."


"Tidak apa, Mawar saja dulu." Timpal Mas Karang dengan cepat.


Jujur aku bingung, dan entah apa yang membuat ku begitu bingung hendak memulai kata, padahal apa yang hendak yang ku katakan juga bukan hal yang aneh juga. Dan itu membuat kami diam dalam kebisuan sedikit panjang.


"Mawar.?" Kata Mas Karang memecah kesunyian yang justru terjadi di antara kami.


"Itu, bukannya Mas Karang berada di tempat pengungsian yang lain. Kok sudah ada disini lagi." Ucapku lirih.


"Aku di gantikan teman yang lain."Jawab Mas Karang santai. "Ini aku punya sesuatu yang aku bawa dari sana." Lanjut Mas Karang sembari menyodorkan sebuah buah yang berkulit tebal sekaligus keras.


"Eh, ini apa Mas." Ucapku sedikit bingung dengan buah berkulit kuning di tangan Mas Karang.


"Coba kamu tebak ini apa." Mataku tak henti hentinya terus mengamati buah berkulit tebal di tangan Mas Karang, dan itu membuat Mas Karang tersenyum geli melihat ku yang masih tidak bisa menebak. "Benar benar gadis kota. Makanya tidak tau ini buah apa." Lanjut Mas Karang.


Aku meringis tidak enak hati dengan ucapan Mas Karang. "Saya benar benar baru kali ini lihat buah kayak gini, Mas." Ucapku.


"Ya sudah ini buat kamu, dimakannya besok siang siang baru enak. Besok kalau sudah di makan baru aku beri tau ini buah apa." Ucap Mas Karang sembari berdiri dari tempatnya duduk. "Lekaslah istirahat, Mawar." Lanjut Mas Karang.


Aku masih tetap menatap ke buah yang oleh Mas Karang di letak kan di atas tanganku. Bukan karena penasaran akan buahnya yang membuatku tak ingin berpaling, melainkan sisa hangat tangan Mas Karang yang masih menempel di pungung tanganku, dan hangat itu merayap hingga ke dada, lantas menggiring tanya yang tak mampu aku menjawabnya.


"Akankah kali ini hatiku tidak salah mengenali kebaikan Mas Karang. Apa itu perasaan yang sama seperti yang aku rasa."


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Leve Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2