Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Saling Mengobati.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Tidurlah, War. Biar aku yang gantian jaga Aliena." Ucap Ayah Aliena pelan.


Aku menggeleng pelan tanpa menoleh ke arahnya, sejurus kemudian dia telah mengambil posisi duduk di sebrangku. "Istirahatlah, kamu membutuhkan itu." Kembali dia berujar pelan.


Ya, sejak Aliena kambuh sore tadi, aku masih tak bergeming dari tempatku kecuali untuk urusan mendesak. Tanganku terus saja menaut di antara jari jari kecil Aliena, memandangnya lekat dengan harapan dia akan lekas membuka matanya. Meski, Mas Karang bilang tidak ada yang perlu di kwatirkan akan keadaan Aliena, tapi aku butuh kepastian akan hal itu dengan berada di samping Aliena.


Rasa kwatir dan waspada jauh menguasai pikiranku, daripada mengingat peristiwa sakit hati seperti apa saja yang pernah aku alami di kamar ini. Tentu saja kamar bercat abu abu yang tampak suram dan masih lengkap dengan foto pernikahannya bersama Kak Melati, kesuramannya sama persis dengan pemiliknya. Nyatanya, perasaan kepemilikan dan cinta berlebihan, serta takut kehilangan itu jauh menakutkan daripada sayatan luka yang kembali terkuak.


Kini aku menyadari akan sikap yang di ambil Ayah Aliena waktu itu, adalah sebuah bentuk cinta berlebihan kepada Kak Melati hingga membuat dirinya tumpul terhadap cinta yang lain. Dan sekarang itu terjadi padaku dengan begitu mencintai Aliena lebih dari apapun bahkan menawarkan perasaan lara di dada.


"Kamu tidak sendiri sekarang, War. Ada aku yang bisa kamu ajak berbagi beban." Seperti sebuah melodi indah andai aku masih memiliki sisa rasa. Sayangnya, seluruh rasa ini sekarang hanya untuk Aliena seorang.


"Aku hanya ingin melihat Aliena sadar." Kekehku.


Helaan nafas dalamnya terdengar berat dia tarik. "Daffin sudah mengatakan Alin akan bangun besok."


Aku angkat kepalaku angkuh. "Kamu, kamu tidak pernah tau rasanya....." Aku tidak melanjutkan ucapanku, dan memilih membuang tatapan yang aku layangkan kepadanya.


"Oleh sebab itu, beri aku kesempatan untuk menjaga Aliena." Katanya pelan. "Begitupun dengan menjagamu."


"Atas dasar apa.?" Ucapku dingin.


"Tanggung jawab, War." Jawabnya dengan nada ambigu. "Ayo kita wujudkan impian Aliena, dengan kita kembali bersama." Di tumpuknya tanganku yang tengah menggenggam tangan Aliena.


Darah di ubun ubunku seketika mendidih mendengar ucapannya. Dan dengan cepat aku berdiri lantas melangkah menuju ke arah jendela. Nafasku tak beraturan menahan emosi yang seakan hendak meledak saat ini juga. Namun, ahirnya kembali mereda saat aku berpikir akan keadaan Aliena.


Masih hening, aku memilih membuang pandanganku ke luar jendela. Dingin malam sama seperti perasaanku yang telah lama mendingin untuknya, itupun juga bagi orang lain. Jika, sampai saat ini aku masih bertahan di sebelahnya itu jelas sebabnya adalah Aliena. Andai, Aliena baik baik saja, tanpa ada keraguan sedikit saja, aku tidak mau kembali ke tempat dimana seluruh harga diriku tidak di harga sama sekali, sampai sampia di injak rata degan tanah.

__ADS_1


Benar, karena Nila setitik rusaklah susu sebelanga. Ya karena kesalahan yang di lakukan oleh Ayah Aliena membuat semua merasakan imbasnya.


Setelah berhasil menguasai amarahku, kembali ku buka mataku dan berbarengan dengan lampu di sebuah Pavilun menyala. Aku tau siapa yang berada di dalam sana, namun sekali lagi hatiku sudah terlalu tumpul untuk mengingatkan segala hal yang berbau soal perasaan hati, karena ujung dari semua itu pasti akan tetap sakit. Jika bukan sakit karena terhianati, maka sakit lantaran semesta tak merestui. Lalu setelah semua terjadi, hanya tinggal rasa yang tak pernah akan bisa kembali seperti sedia kalanya lagi.


Langkah beratnya mendekatiku di samping jendela. Lalu pelan dia menyampirkan selimut di bahuku, yang itu membuatku semakin tidak ingin mengingat apapun lagi tentang hati. Karena bukan sekali dia membesarkan hatiku, lantas meremasnya hingga remuk tak berbentuk lagi.


"Kita bisa membesarkan Aliena bersama sama, tanpa harus menjalin hubungan. Cukup aku sebagai Ibunya dan kamu sebagai Ayahnya." Aku rasa dia cukup mendengar ucapanku. Terbukti, seketika langkahnya terhenti dan mengayun lagi kembali menuju ke arahku.


"Berarti, ada kesempatan bagiku mengisi celah kosong itu, Mawar." Deg, sudah seberapa lama aku terpekur di samping jendela, hingga tanpa sadar orang yang berada di dalam kamar telah berganti.


Layakakah aku di sebut sebagai perempuan berbudi, jika menjaga martabat sebagai seorang perempuan tidak ku tepati. Betapa sangat memalukan diriku, berada dalam satu ruangan dengan seseorang yang tidak ada sangkut pautnya denganku dan semata hanya soal hati lagi. Sungguh noktah hitam ini selamanya akan terus terpatri.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi datang kembali membawa perubahan, seperti arah angin yang berubah dengan cepat membawa musim silih berganti. Begitu juga dengan Aliena, seolah tidak terjadi apa apa kemarin, hingga hari ini dia bangun dengan segar dan penuh semangat seperti hari selama sebulan ini.


Seperti Aliena, beberapa wajah juga tampak berubah dan yang paling mencolok adalah Adit yang dengan santainya sudah memanggilku Bunda, sampai aku harus menajamkan pendengaranku oleh itu. Pak Bakti juga sudah keluar dari kamarnya tanpa infuse, dan sekarang tengah meladani seluruh kebawelan Aliena bersama dengan Bu Asri.


Menyiapkan sarapan dengan tujuan setelahnya agar aku bisa lekas keluar dari rumah ini untuk kembali dimana aku dulu pernah di besarkan meski tidak dengan sepenuh perasaan, tapi darisana aku menemukan sebuah cinta yang terus akan aku ingat. Cintaku untuk Kak Melati.


Sarapan ahirnya berlangsung, dan semakin hangat dengan kehadiran Devi yang juga bisa pulang ke rumah. Suasana semakin hidup dengan kehadiran Devi, meski hanya canggung yang bisa aku rasakan. Itupun tidak bisa aku sembuyikan dari Devi yang memang seorang Psikolog, jadi wajar jika tanpa sungkan Devi menanyaiku begitu kami hanya tinggal berdua saja di dapur.


"Tidak ada satupun relasi manusia memberikan hak memiliki satu sama lain, meskipun itu setiap dua jiwa bersama dalam sepaham. Tetap akan berlainan sama sekali." Terdengar biasa intonasi yang di buat Devi, tapi aku paham dengan penekanannya. "Seperti dulu yang pernah aku katakan Mbak Mawar bisa mencariku saat butuh tempat mencurahkan perasaan."


"Terima kasih, Vi. Tapi, sungguh aku baik baik saja." Jawabku dengan nada tenang sembari membubuhkan senyum tipis di bibirku.


"Semakin dalam kesedihan dan perasaan terluka seseorang. Maka akan semakin dia berusaha untuk terlihat baik baik saja, bahkan cendrung pura pura bahagia." Telak Devi mementahi jawabanku.


Ya, mana mungkin Devi tidak bisa membaca apa yang aku rasakan. Mau bersandiwara seperti apa tetap dalam dadaku masih membekas luka. Sungguh, aku tak ingin mengingat serentetan peristiwa sebelum hadirnya Aliena, hingga sempat menumbuhkan ketidak terimaan akan skenario Allah terhadapku. Namun, aku ini hanya manusia biasa.


Bolehkah, jika aku meminta Tuhan mengahapus sebagian ingatanku tentang sesiapa saja yang memberi luka. Dengan begitu sepenuhnya aku akan berdamai dengan segala ikatan masalalu dan kembali merajut cerita baru. Terlalu muluk dan tidak akan mungkin.

__ADS_1


Harap, tinggalah harapan saja. Aku yang berniat keluar sendiri harus kembali bersama Ayah Aliena begitupun dengan kedua anak kami. Harusnya aku cukup sadar, saat aku bersedia ikut kesini bersama dengan Ayah Aliena, maka inilah yang harus aku hadapi. Dan lagi, seperti sebuah keluarga kecil kami berempat masuk ke dalam mobil dengan senyum Aliena yang tak terputus.


Senyum itu menular ke seluruh keluarga, kecuali satu orang yang tangah tersenyum getir dan berubah penuh semangat dan pengharapan saat matanya tanpa sengaja bertubrukan dengan mataku. Melengkung senyum di bibirnya sejenak membuatku ragu untuk membuat senyum itu kembali menghilang. Namun, tidak ada prioritas bagiku untuk menjaga senyum itu tetap di tempatnya.


Jika aku bisa berbaikan dengan masalalu dengan membunuh benci menjadi sebuah pelajaran yang layak untuk di syukuri, sejatinya Mas Karang juga akan bisa melupakan masalalu guna menata masa depannya. Kalaupun masalalu kami kembali, bukankah tetap rasa tidak nyaman yang akan kami rasakan.


Benar kata Devi, semakin seseorang berusaha untuk terlihat baik baik saja serta ingin tampak bahagia, sejatinya begitu banyak dera yang tengah di sembunyikannya. Dan aku melihat itu dari senyum Mas Karang, lantas Devi melibat itu dariku. Lalu apakah dengan begitu aku akan egois dengan mengubah prioritasku untuk saling mengobati..??


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By:Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2