Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Tak Ingin Membenci.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"War, kamu yakin mau berangkat sekarang. Tinggalah beberapa hari lagi. Setidaknya biarkan Adit benar benar pulih." Ucap Bu Mega pelan saat baru saja masuk dalam kamarku.


Tanganku yang tadi sibuk mengemasi baju baju terhenti sesaat dan aku menghela nafas dalam dalam untuk memenuhi dadaku yang seakan sesak. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan selama sepuluh hari ini. Sedih karena kehilangan, sakit hati karena di salahkan, dan yang paling parah kecewa oleh keadaan.


"Mawar akan ada ujian, Bu." Jawabku pelan setelah berusaha mengeluarkan suara dengan nada sedatar mungkin.


Sepuluh hari kepergiaan Kak Melati, selama itu pula Bang Daffa selalu memandangku dengan penuh kebencian setiap kali tanpa sengaja berpapasan. Selama itu pula aku lebih sering mengurung diri di dalam kamarku, meski di luar tengah ramai oleh saudara dari Bu Mega dan Pak Agung, tak jarang juga saudara dari Bang Daffa. Dan selama sepuluh hari ini pula, aku banyak menghabiskan waktuku dengan Adit. Karena, memang Adit hanya lengket denganku seorang.


Ada satu tanyaku tentang Adit, meski aku sangat kecewa oleh Kak Melati, namun sedikitpun tidak ada rasa membenci Adit ataupun sekedar ingin membencinya. Setiap kali Adit menyentuhku, setiap itu pula dadaku selalu menghangat karenannya. Padahal makin kesini, wajah Adit hampir delapan puluh persen milik Kak Melati.


Apa ini yang di maksud dengan cinta sesungguhnya, karena cinta akan selalu menemukan jalan penghubungnya meski seperti apapun keadaannya. Tapi, bolehkan jika kali ini aku ingin egois sesaat, dengan tak menghiraukan Adit karena perlakuan Ayahnya. Dan melupakan sejenak kebaikan Kak Melati selama ini karena satu alasan ketidak jujurannya.


"War, bolehkan ibu bicara." Ku angkat kepalaku lagi menatap wanita paruh baya yang kini tengah duduk di ranjangku. Dan setelah menutup resleting tasku, akupun mengangguk pelan kepada Bu Mega.


Di tepuknya tempat di samping Bu Mega, sebagai isyarat agar aku duduk di sampingnya. Akupun menuruti keinginannya dan duduk dengan patuh di sebelahnya. Di elusnya kepalaku pelan dan tak lama di peluknya tubuhku dengan erat oleh Bu Mega. Andai saja itu dulu Bu Mega lakukan terhadapku, mungkin akan lain ceritaku.


Aku biarkan Bu Mega terus memuaskan dirinya memelukku dengan air mata yang berlinang. Meski aku tau kemungkinan air mata itu sesungguhnya di tumpahkan untuk Kak Melati. Karena pasti kehilangan anak adalah hal yang berat bagi setiap orang tua.


Puas dengan air matanay, Bu Mega kembali mengangkat kepalanya dan mengelus pipiku pelan seraya berkata. "Ibu salah selama ini, War. Maafkan ibu. Kamu anak yang baik seperti yang selalu di ucapkan oleh almarhum Melati. Selama ini, Ibu selalu menutup mata tentangmu karena Ibu terlalu kwatir dengan Melati. Ibu hanya tak ingin, hidupnya yang hanya memiliki sedikit harapan terus di liputi dengan rasa bersalah terhadapmu." Bu Mega menjeda ucapannya dengan menelisik wajahku yang entah sudah berubah seperti apa.


Selama sepuluh hari ini, aku sama sekali tak ingin membahas apapun tentang alasan kepergian orang tuaku serta penyebabnya meski aku telah mengetahuinya. Bukan aku tak menyanyangi mereka, ataupun apapun alasannya itu. Aku rasa, aku butuh waktu untuk mencerna ini semua, serta menata hatiku, agar tak perlu menyisakan benci. Karena, walau bagaimanapun, dan apapun yang telah terjadi tidak mungkin akan kembali terulang lagi.


"Ibu mohon maafkan Melati, War. Biar dia lapangkan kuburnya disana."


"Beri Mawar waktu, Bu." Lirihku.

__ADS_1


"Ingatlah saja apa yang ibu perbuat padamu, ibu orang yang selalu jahat terhadapku, dan Melati yang akan selalu membelamu, agar hanya ingatan kebaikan Melati saja yang ada pada hatimu." Lanjut Bu Mega.


Bu Mega terus memegang kedua tanganku dengan erat. "Ibu telah gagal menjadi seroang Ibu sambung. Ibu takut sekali, jika Adit yang akan memetik buah dari karma Ibu."


Ku tatap lekat lekat Bu Mega dan tak percaya dengan apa yang tengah di ucapkan oleh Bu mega barusan. Aku tau Bang Daffa adalah tipe tipe lelaki setia, dan melihat kebucinan Bang Daffa terhadap Kak Melati selama ini, menurutku kekwatiran Bu Mega terlalu berlebihan. Karena, jelas Bang Daffa tidak akan dengan cepat berumah tangga lagi.


Aku lekas berdiri dan berjalan ke arah meja belajarku, aku teringat sesuatu yang aku taruh di laci meja pas aku baru datang, saat Bu Mega berbicara tentang Ibu sambung. Lekas ku ambil cincin pernikahan Kak Melati dan Bang Daffa yang di berikan oleh Erik kepadaku, yang kata Erik itu adalah amanah Kak Melati untuk ku.


"Ini milik Kak Melati, Bu. Erik yang memberikan kepada Mawar pas Mawar baru datang." Ucapku datar dan raut Bu Mega tampak terkejut saat aku menyodorkan cincin itu kepadanya.


"Apa kata Erik, War.?" Tanya Bu Mega tanpa meraih cincin di depannya dan justru semakin menatapku dengan tatapan anehnya. Lebih tepatnya tatapan menyelidik seperti dulu.


"Erik hanya bilang itu di titipkan untuk di kasih ke Mawar, Bu. Dan Mawar rasa, Mawar harus mengembalikan cincin itu kepada Bang Daffa. Karena, Bang Daffa sedang keluar saat ini. Oleh sebab itu Mawar titipkan sama." Ucapku dengan nada datar, dan memang aku rasa itu yang harus aku lakukan saat ini.


Karena menurutku, tidak ada hak apa apa aku menyimpan cincin itu di tanganku, meski kata Erik, Kak Melati memberikannya kepadaku. Itu adalah cincin pernikahan, dan cincin itu bukan hanya milik Kak Melati seorang. Di dalam cincin itu tertulis nama Bang Daffa, dan aku tak ingin terjadi kesalah pahaman dengan Bang Daffa.


"Tidak, Bu. Ini bukan hak, Mawar." Kekehku sembari meraih salah satu tangan Bu Mega dan menaruhnya tepat di telapaknya.


"Berapa waktu yang kamu butuhkan, War.?" Tanya Bu Mega keluar dari jalur pembahasan cincin. "Berapa lama kamu akan tinggal disana, untuk menenangkan diri.?" Lanjut Bu Mega.


Aku menggeleng pelan. "Setahun, dua tahun.?" Tanya Bu Mega.


"Tidak tau pasti, Bu."


"Apa kamu membencu Melati..?" Lama tidak langsung menjawab, aku ahirnya menggeleng pelan.


"Apa kamu membenci Adit.?" Lagi aku menggeleng dengan cepat.


"Satu lagi, apa kamu membenci Daffa.?"

__ADS_1


"Tidak, Bu. Saya tak ingin membenci. Adit dan Bang Daffa tidak ada sangkut pautnya dengan Kak Melati. Adapun tentang apa yang terjadi di masa lalu, itu bukan kesalahan Kak Melati. Semua yang terjadi sudah pasti karena takdir." Aku menjeda ucapanku, lalu menghela nafasku dalam dalam sebelum ahirnya ku lanjutkan lagi ucapanku. "Hati itu sifatnya mudah berubah ubah, Bu. Saat ini karena ada perasaan kecewa, jadinya hati Mawar sedikit egois dengan menghapus beribu kebaikan Kak Melati terhadap Mawar karena satu kejadian yang itu juga bukan kesalahan Kak Melati."


"Itu wajar, War. Justru, reaksimu ini jauh dari kata Normal. Karena setelah kamu tau segalanya, kamu masih mau mengurusi Adit dengan hati tulus. Terima kasih banyak." Jawab Bu Mega. "Orang tuamu, pasti bangga memilikimu, War."


Kami diam dan hanya saling pandang dengan senyum tipis yang terukir di bibir kami berdua. Dan tak lama setelah itu, Bu Mega kembali meraihku dalam dekapannya seraya berucap. "Berapapun lama waktu kamu butuhkan untuk menengkan diri, ingatlah kami ada disini sebagai keluargamu. Seperti yang kamu ucapkan tadi, hati itu sifatnya mudah berubah ubah. Semoga hatimu secepatnya berubah, begitupun dengan Daffa. Karena Adit butuh kalian berdua."


Ucapan ambigu Bu Mega, sukses membuatku tak berkutik, apa lagi saat Bu Mega semakin mengeratkan pelukannya dan terus membesiki ku dengan kata kata yang membuatku semakin bingung harus menjawab seperti. Dan, kadang memang setiap kata itu tidak butuh jawaban kata lain, atau kata itu sudah cukup bagi kata itu sendiri, karena setiap penerimaan orang itu berbeda beda maknanya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Koment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2