Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Inginku.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Semangat pagi. Itulah kata pertama yang aku ucapkan begitu aku membuka jendela kamar dan melihat pendar cahaya keemasan di antara birunya lautan. Setelah drama visual orang asing semalam, yang sukses membuatku tidak bisa memejamkan mata. Ralat sih, bukan karena pemuda asing itu, melainkan kehadiran sosok Bang Daffa yang membuyarkan semuanya yang membuatku terus berpikir semalaman.


Apa aku belum benar benar melepaskan perasaanku terhadap Bang Daffa.? Pertanyaan itu berjatuhan bak meteor yang berlomba lomba menyentuh atmosfir. Namun, setelah ku yakinkan hatiku dan mencari jawaban dari sana, aku sudah benar benar tidak memiliki rasa terhadap Bang Daffa.


Begitupun dengan siapapun saat ini. Karena aku telah berjanji hanya akan jatuh cinta kembali kepada seseorang yang telah begitu berbesar hati menjabat tangan waliku untuk megajakku menemaninya beribadah di sisa hidupnya.


Terlalu muluk memang, tapi apa salahnya jika aku memiliki keinginan seperti itu. Bukankah, Allah itu maha mengabulkan segala do'a. Mungkin belum sekarang, atau sebulan lagi, setahun lagi bahkan. Tapi, aku yakin setiap do'a akan sampai pada tempatnya ketika aku masih tetap melangitkannya.


Dulu, aku memang tidak tau malu dengan terus melangitkan nama Bang Daffa dalam setiap sujud malamku hingga beberapa tahun lamanya. Namun, kini aku sadar. Bahwa do'a itu tidak bisa memaksa. Karena, Allah lebih tau mana yang terbaik buat hambanya.


Meleburkan perasaan senti mentil, aku memilih beranjak menyiapkan diriku menikmati pagi di tepi pantai. Dan dengan rok plisket warna dusty ungu yang aku padukan dengan kaos polos warna hitam serta kerudung hitam juga. Akupun mamacu langkahku menuruni anak anak tangga dengan semangat.


"Selamat pagi Kak Mel. Cup." Satu kecupan lembut di pipi, aku berikan kepada Kak Melati yang menatapku dengan heran.


"Bahagia bener.!" Ucap Kak Melati.


"Harus dong, kan mau ajak Adit jalan jalan di pantai." Jawabku.


"Kebetulan kalau gitu. Kak Mel mau mandi di pantai sama Mas Daffa." Kata Kak Melati setelah meneguk satu gelas air putih.


"Aditnya dimana sekarang.?" Tanyaku.


"Habis mandi sama Papanya. Masuk aja ke kamar." Jawab Kak Melati.


Aku menggelenng reflek. "Kak Melati ambilin Aditnya." Ucapku.


"Ayo, kamu ambil sendiri. Kak Mel temani." Ucap Kak Melati meraih tanganku. "Kamu kayaknya sungkan gitu sama Mas Daffa."


Aku bingung mau menjawabnya bagaimana dan aku memilih jawaban yang sepertinya cukup realistis saja untuk Kak Melati. "Ya karena belum terbiasa sama Bang Daffa saja, Kak Mel."


"Halah, biasanya kamu juga enggak gitu gitu amat sama orang baru." Kata Kak Melati lagi.


"Kan sekarang Mawar sudah beda enggak kayak dulu, Kak Mel. Sekarang Mawar sedang oteweh sholihah." Jawabku dengan di iringi tawa pecah Kak Melati.


"Iya iya, semoga terkabul menjadi adik Kak Melati yang sholihah." Ucap Kak Melati sembari membuka pintu.


Begitu pintu terbuka, aku tidak bisa lagi memalingkan tatapanku dari mahluk mengemaskan di atas kasur itu. Aku kasih tau, bukan Bang Daffa yang membuatku ingin segera menghambur ke arahnya, melainkan Adit yang tengah duduk dengan senyum lebarnya dan jari telunjuknya berada di ujung bibirnya.

__ADS_1



Di tambah dengan out fit serba biru yang di kenakannya, membuatku semakin ingin mengigit tangan kecilnya itu. Apa lagi, topi kecil yang bertengger di atas kepalanya membuat kepala setengah plontosnya tertutup sempurna dan menambah nilai tambah untuk menggemaskan yang di miliki Adit.


"Mas, jadi mandi di pantai dong. Ada Mawar yang mau momong Adit." Kata Kak Melati ke Bang Daffa yang kini tengah menatapku. Dan jika aku boleh kembali bersorak bahagia dengan mengartikan tatapan Bang Daffa terhadapku, tatapan itu telah kembali seperti dulu saat pertama tama kami saling mengenal.


"Kamu yakin mau momong Adit, tidak apa apa, War.?" Bang Daffa mencari keyakinan terhadapku. Dan aku jawab dengan menggeleng, lantas langsung menyerbu Adit begitu Bang Daffa beranjak dari tempatnya.


"Ponakan Aunty cakep banget sih, sudah siap mau main pasir, he'eh.?" Ucapku seraya menciumi seluruh bagian tubuh Adit yang membuat tawa Adit semakin melebar.


"Lihat deh, Mas. Adit kalau sama Mawar, persis pas sama Kamu. Ketawa mulu." Ucap Kak Melati dan tak ada tanggapan dari Bang Daffa hanya anggukan samar saja yang sempat tercuri dari ekor mataku.


"Kak Mel, bawa gendongan aja yah. Buat antisipasi, biar enak kalau kalau Adit merosot minta main dengan tiba tiba." Ucapku.


"Enggak takut kelihatan kayak ibu ibu, War.?" Tanya Kak Melati.


"Betul, War."


"Biasa saja kali. Kalaupun memang di sanga ibu ibu kan emang sudah pantes jadi Ibu." Jawabku dengan meraih gendongan yang di angsukan Kak Melati.


"Suruh nemenin Erik saja." Bang Daffa memberi ide kepadaku.


"War, hati hati dan terima kasih ya." Terdengar ucapan tulus Bang Daffa kepadaku, membuatku semakin melebarkan senyum ku dan berbalik dengan cepat ke arah Bang Daffa.


"Tentu saja kalau hati hati." Jawabku sama tulusnya dengan Bang Daffa. Dan ternyata memilih memusnahkan rasa yang tidak tepat, lantas meminta gantinya kepada sang pemilik cinta itu jauh menenangkan dari yang pernah aku bayangkan. Apa lagi terlalu kwatir dengan hari esok yang jelas jelas kita saja tidak tau, bahwa akan sampai esokkah diri kita.


"Sudah siap jalan jalan ke pantai. Main air, main pasir." Ucapku ke Adit sembari meninggalkan kamar Kak Melati tanpa sedikitpun karaguan. Selayaknya perasaanku yang tak lagi meragu dengan melepas Bang Daffa. Dan justru kini aku dapati hubungan yang jauh lebih bermakna lagi. Yakni hubungan adik kakak. Dan jika boleh serakah sedikit, aku berharap lambat laun sikap Bang Daffa akan seperti Bang Nusa tehadapku ataupun seperti Bang Daffa terbahap Devina.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Air laut terlihat menjauhi pantai, di karenakan saat ini tengah surut. Bebatuan karang juga terlihat menonjol di balik genangan genangan bak kolam kecil disana sini. Tetap membawa Adit dalam gendonganku, aku terus menyusuri pinggiran pantai di bawah langit yang mulai membiru.


Dalam gendonganku, Adit sama sekali tidak mau diam. Apa lagi saat melihat air yang menggenang, Adit sudah tidak sabar ingin turun dengan terus saja menggerak gerakan kakinya hendak merosot dari gendonganku, beruntungnya aku membawa gendongan tadi. Jika tidak, tidak tau akan seperti apa susahnya.


Sampai di tempat yang lumanyan sepi, aku menurunkan Adit dan bermain main disana. Sesekali Adit akan merangkak menuju genangan air dan akan kaget bergitu ombak kecil menyentuh kakinya. Dan, berdua dengan Adit cukup membuat kami tertawa lepas, hingga tanpa sadar kami berdua menjadi pusat perhatian.


Terlebih, saat aku membuatkan kolam kecil dan memasukan Adit di dalamnya. Bahkan, aku sempat pula menanam separuh tubuh Adit dengan pasir hingga membuatnya lebih menggemaskan lagi. Dan, itu sukses membuat Adit menjadi objek foto bagi banyak orang. Baik yang secara terang terangan meminta ijin untuk mengambil foto Adit atau yang asal jeprat jepret sesuka mereka.


Dengan tubuh berlumuran pasir serta basah kuyup, aku kembali menggendong Adit dan melangkah kembali ke Villa. Dan bertemu dengan Bang Nusa beserta Bu Mega yang tengah duduk santai di sebuah gazebo di belakang Villa.


"Wah, Adit baru mainan di Pantai ya.?" Sapa Bang Nusa terhadap Adit.

__ADS_1


"Iya. Seru banget mainnya. Tadi, Bunda Ima di cari cari belum keluar kamar." Ucapku dengan membuat suara kecil layaknya akan balita.


"Harusnya tadi, Ayah ikut ya." Bang Nusa menjawil pipi tembem Adit.


"Anak sekecil itu di ajak mainan pasir, nanti kalau kemakan gimana.?" Ketus Bu Mega.


"Masak Mawar mau biarin aja sih, Ma. Mama sih yang terlalu parno." Bela Bang Nusa.


"Ya, siapa tau aja dia malah asik main sediri."


"Udah deh, Ma. Jangan mulai lagi. Mama saja yang senangnya curiga sama Mawar."


"Siapa yang curiga, Sa. Lagian anak sekecil itu di ajak bermain di pasir tidak bagus." Aku mimilih aman dengan hanya diam mendengarkan kata kata Bu Mega.


"Kata siapa tidak bagus. Itu justru merangsang kemampuan sensorik anak. Sudah sana, War. kamu bawa berishin Adit." Mendengar ucapan Bang Nusa membuatku ingin memacu langkahku kembali, namun seketika terhenti begitu mendengar ucapan Bu Mega.


"Merasa bersalah karena telah mengugurkan anak sebelumnya, makanya pura pura baik sama Adit." Hatiku seperti di remas kuat oleh ucapan Bu Mega.


"Ma.! Tidak ada bahasan itu lagi. Mawar sudah menerima hukumannya." Bentak Pak Agung. "War, cepat gantikan baju Adit. Nanti keburu masuk angin." Akupun mengikuti ucapan Pak Agung dan sengaja membuat gerakan cepat agar tidak perlu mendengar Bu Mega merendahkan aku lagi.


Ingin sekali aku mengatakan yang sebenarnya, namun aku selalu teringat akan Kak Melati dan mungkin saja Kak Melarti akan sangat sedih saat tau yang sebenarnya. Tapi, apa aku akan kuat tetap seperti sekarang, terlebih saat kemungkinan nanti ketika ada seseorang yang datang melamarku dan mereka mengatakan kesalah fahaman itu di hadapan semuanya. Apa aku akan cukup muka untuk menanggung malu..??


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2