
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Saling berbisik, berpegangan tangan mesra, atau menyandarkan kepala di bahu kokoh pasangannya, mungkin itu yang akan terjadi di kencan pertama orang lain, tapi tidak bagi kami berdua. Karena kami berdua justru duduk sedikit berjauhan dan bahasan yang kami bicarakan justru remeh temeh saja.
Duduk saling berhadapan tersekat oleh batang pohon yang membulat seperti meja, aku justru asik menunduk daripada menatap dia yang berada di hadapanku. Ataupun membuang pandanganku ke lain tempat asal itu tidak menatap Mas Karang.
Sungguh, aslinya aku bukan gadis pemalu. Ataupun gadis yang susah untuk bicara dengan orang lain. Tapi, di hadapkan dengan Mas Karang seluruh kata kataku sirna, dan ini jauh berbeda pada saat dulu aku mulai menyukai Bang Daffa. Meski sama sama aku menyimpannya seorang diri, aku termasuk expresif di depan Bang Daffa.
Mungkin, karena dari usia juga sekaligus karena spesifikasi tujuan hubungan yang aku inginkan bukan lagi sekedar cinta cintaan yang saling rayu merayu. Melainkan tujuan yang selalu di inginkan setiap gadis saat laki laki datang kepadanya membawa tujuan sakinah untuk bersama. Terlalu dini memang. Tapi, ya itulah harapanku.
Angin malam ini cukup kencang dari pada malam malam sebelumnya. Bahkan gemeraknya seakan menjadi musik alami bagi kami berdua di antara nyanyian binatang malam pegunungan.
Entah harus kulukiskan seperti apa perasaan ku saat ini. Melihat senyum tipisnya, hatiku mekar seperti bunga, mendengar antusiasnya mengenalku dengan terus menanyaiku apa yang aku suka dan tak kusuka membuat dadaku kembang kempis. Tapi, di sisi lain hatiku ada sebuah perasaan tidak nyaman serta gelisah. Dan itu karena aku yang terus tak bisa mengalihkan pikiranku terhadap Kak Melati.
"Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, Mawar.?" Tanya Mas Karang begitu aku menghela nafasku dalam untuk membuang jauh jauh keresahan di dadaku.
"Sedikit." Jawabku dengan membubuhkan senyum tipis ke arah Mas Karang.
"Apa itu karena aku.?" Tanya Mas Karang lagi.
Ku angkat kepalaku, dan kembali mata kami bertemu di tengah keremangan malam. Jujur, aku tau apa yang kami lakukan ini salah. Dan akan menjadi masalah jika sampai Gus Karim tau, oleh sebab itulah aku mengatakan kepada Mas Karang agar jangan sampai ada yang mengetahui soal hubungan yang kami jalin, termasuk Bia sekalipun.
"Mawar." Ulang Mas Karang.
"Mas Karang mau aku jujur.?" Tanyaku pelan.
"Tentu saja."
Kembali ku ulas senyumku untuk Mas Karang. "Bohong jika Mawar tidak merasa was was saat bersama Mas Karang. Karena Mawar sadar apa yang kita lakukan saat ini tidak di benarkan menurut agama. Apa lagi status Mawar yang seorang Santriwati, itu menambah ketidak pantasan bagi Mawar." Ku jeda ucapanku sembari menelisik mimik Mas Karang saat mendengarkan ucapanku.
"Terus kamu maunya gimana.? Apa kamu mau aku bicara dengan Mas Karim soal hubungan kita.?" Tanya Mas Karang dengan nada yang aku tau itu sedikit meragu.
Aku sadar betul, tidak mudah bagi seorang laki laki untuk menjalin komitment, apa lagi ini yang baru saja terjalin dan kesannya aku seakan mendesak Mas Karang agar memberi nama yang jelas atas hubungan ini.
"Mas Karang ini, bukan itu yang sedang Mawar pikirkan, meski itu ada, tapi Mawar sadar diri, Mawar masih belajar untuk menjadi sholihah yang imannya hanya setipis kulit ari." Ku jeda ucapanku guna menelan saliva yang seakan menjadi pahit. "Disini ada perasan bahagia saat bersama Mas Karang, tapi juga sedih yang Mawar sendiri tidak tau apa penyebabnya." Kilahku dengan cepat, meski andai Mas Karang benar benar datang ke Pesantren aku juga tidak akan menolaknya..
"Katakan apa itu, siapa tau keberadaanku disini bisa membantumu."
"Mawar teringat akan Kakak angkat Mawar di rumah." Ucapku kalem, dan entah kenapa tiba tiba saja di ikuti dengan air mata yang luruh di tanpa bisa aku menahannya.
"Hei, hei. Jangan menangis." Jari telunjuk Mas Karang menyusuri jejak airmataku hingga berhenti tepat di ujung mataku. "Apa kamu sangat merindukannya..?" Tanya Mas Karang lagi yang kini sudah duduk di sampingku.
Aku masih tergugu dengan tangisku, sungguh ini di luar nalarku dan aku tak mampu mengendalikan ini semua. Aku terus menangis tanpa sebab yang jelas dan membuat Mas Karang kebingungan ku buat, sampai pelukan hangat dari Mas Karanglah yang membuat tangisku berangsur angsur terhenti.
"Jangan menangis lagi, sungguh aku tidak akan sanggup jika harus menyaksikannya." Ucap Mas Karang sembari mengelus elus punggungku pelan.
__ADS_1
"Maaf." Ucapku dengan sedikit terbata di tengah sisa sisa tangisku.
"Seestt."
"Seharusnya, malam ini kita bisa membicarakan hal yang indah indah tanpa harus terganggu dengan perasaan sentimentil."
"Jujur, itu yang aku pikirkan tadi sebelumnya. Tapi, saat ini aku lebih menyukai hal ini." Ucap Mas Karang dengan di sertia kekehan pelan.
Sadar dengan apa yang membuat Mas Karang terkekeh, aku langsung beristighfar dan melepaskan diri dari pelukan Mas Karang. Dan itu semakin membuat Mas Karang melebarkan senyumnya sembari mengusap tengkuknya pelan.
"Sudah aku bilang jangan malu malu gitu. Aku jadi gemes."
"Mas Karang, ih.."
Mas Karang kembali tertawa mendengar nada manja yang keluar dari bibirku, jangankan Mas Karang, aku saja tidak percaya jika itu adalah aku. Dan biasanya nada itu hanya aku gunakan jika sedang bersama Kak Melati. Karena memang hanya kepada Kak Melatilah aku bisa bermanja.
"Sudah lega." Ucap Mas Karang lagi.
Ku angkat jariku."Sedikit."
"Jadi seberapa dekat hubunganmu dengan Kakak angkatmu, sampai bisa dia membuatmu menagis." Kali ini terdengar nada santai dari Mas Karang, sembari bersiap siap untuk mendengarkan ceritaku dengan seksama.
Bibirku tak henti hentinya menceritakan kedekatanku dengan Kak Melati dan Bang Nusa. Cinta yang aku miliki untuk Kak Melati, dan segalanya tentang Kak Melati. Sementara Mas Karang di depanku tak henti hentinya terus manggut manggut mendengarkannya.
"Jadi, jika di persentase berapa besar cinta yang kamu miliki untuk Kakak angkatmu.?" Tanya Mas Karang di ahir ceritaku.
"Hemmm, berapa ya."
"Ehh, kok gitu.?"
"Tidak ada. Hanya aku merasa, hadirku terlalu terlambat dan cinta yang kamu miliki untuk ku tidak sebanding dengan yang kamu berikan untuk Kakak angkatmu itu."
Kali ini aku yang ganti tertawa mendengar penuturan Mas Karang. "Di larang cemburu dengan Kak Mel. Karena dia perempuan."
Mas Karang kembali mengusap tengkuknya dengan gerak lucu. "Tidak perduli itu perempuan atau laki laki, kenyataannya cintamu jauh lebih besar kepadanya."
"Cie cie cemburu." Ledek ku.
"Jelaslah cemburu." Jeda Mas Karang seperti sedang memikirkan sesuatu. "Namanya cukup familar, Mel. Lucu jug.."
"Baiklah lucuuu.."
"Cie cie yang gantian cemburu," Timpal Mas Karang meledek ku.
"Enggak kata siapa." Jawabku sembari bangkit dari tempatku duduk.
"Kataku." Mas Karang ikut berdiri dan menjulang tinggi tepat di depanku serta menghalangi langkahku yang sudah ku susun untuk kembali ke tenda.
__ADS_1
"Mau kemana. Aku kan belum selesai bicaranya."
"Sayangnya, Mawar sudah selesai."
"Aku kira sayangnya Mawar Mas Karang." Ucap Mas Karang dan sontak itu menbuatku tersenyum mengejek ke arah Mas Karang yang ternyata cukup narsis.
"Ih, narsis amat. Minggir gih, Mawar mau lewat, keburu Bia nyariin entar."
"Tidak mau, kan sudah aku bilang kalau aku belum selesai bicara." Kekeh Mas Karang sembari terus memblokir jalan ku dengan tubuhnya.
"Banyak jalan menuju roma, Bung." Kataku sembari berbalik dan ingin segera melangkah, namun Mas Karang segera mencekal tanganku.
"Selurh jalan sudah aku tutup, kecuali jalan menuju ke hatiku." Aku terkekeh mendengar ucapan Mas Karang. Dan melihat expresi Mas Karang saat ini sungguh aku tidak percaya jika itu adalah orang yang sama, yakni dr.Karang yang terkenal dengan keseriusannya saat bekerja, bicara seperlunya dengan orang yang tidak begitu di kenalnya meski tetap ramah.
Kini Mas Karang mengubah expresinya sedikit serius. "Aku sadar, hubungan kita tidak akan seperti ini terus, Mawar. Tapi, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis seperti tadi, jika sampai aku melihat itu terjadi tidak perduli tempatmu dimana aku akan memeluk ku." Ucap Mas Karang dengan mengelus pucuk kepalaku serasa tersenyum di tengah aku yang masih tidak percaya dengan ucapannya.
"Besok usai penutupan aku akan mengantarmu, jadi jangan berani berani pergi sebelum aku memanggilmu. Paham. Aku sudah selesai sekarang, cepatlah kembali ke tenda dan istirahat. Apa perlu aku menciummu untuk bekal tidur malam ini." Aku langsung tergagap mendengar ucapan Mas Karang, dan melangkah sembari menggurutu di tengah tawa Mas Karang yang terbahak melibat expresiku..
Aku tau di belakangku, Mas Karang masih terus mengikuti langkahku. Karena sesekali masih saja aku dengar ucapan tak masuk akalnya yang terus terusan dia ucapkan lirih di sertai dengan kekehannya, dan sekuat tenaga aku berusaha agar tidak menoleh ke arahnya. Tapi, ujung ujungnya aku kalah juga saat Mas Karang yang tiba tiba sedikit mengeraskan suaranya saat aku sudah hendak masuk ke tendaku.
"Langsung tidur, jangan berani berani tidak tidur. Kalau kamu tidak tidur bagaimana aku hadir di mimpimu."
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Seumur umur kenal Dokter agak nyleneh ya sampean Mas Karang. Mbok ya sedikit cool kayak dr.Rama gitu lho..
"Terus Sempean yang di demo para reader's, dan sok manis di cari cari gitu..". Kata Mas Karang..
"Saya yang nulis ketawa puasss..."
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi.
@maydina862