
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Melihat senyum Adit merekah di tambah dengan suaranya yang berisik membuat aku yang tengah fokus dengan penggorengan di tanganku ikut menyunging senyum tipis. Kami sudah seperti keluarga sebenarnya saja, setelah peristiwa seminggu lalu. Dan nyatanya Bang Daffa mau berdamai dengan situasi yang ada, lantas ikut bersandiwara denganku ketika Adit ada di sekitar kami.
Aku sibuk dengan menu makan siang di dapur, Adit sibuk lari larian kesana kemari menuju kepadaku dan Bang Daffa yang tengah sibuk dengan laptopnya di ruang tengah. Kami sudah seperti keluarga yang tengah menikmati romantisme indahnya berkeluarga, jika dalam pandangan orang.
Tidak perduli itu, bagiku melihat senyum Adit dan berlahan dalam seminggu ini Adit kembali ceria serta tidak takut lagi dengan Bang Daffa itu sudah cukup bagiku. Dan biarlahaku menikmati sandiwara ini sejenak, meski sikap baik Bang Daffa hanya di tunjukan saat Adit bersam kami semata.
Aku sudah kebal dengan sikap Bang Daffa yang dominan dan tak ingin di bantah di tambah sinis, sadis. Mungkin memang karakternya sudah seperti itu, jadinya aku hanya perlu mengikuti ritmenya saja agar aku bisa waras.
Dan seminggu ini cukup asing bagiku, lantaran Bang Daffa sedikit melunak sikapnya.
Justru ini yang paling aku takutkan. Ketika Bang Daffa berubah lembut, aku merasa kwatir karena dari senyum dan tatapannya yang sulit aku jabarkan maknanya membuat perasaanku gelisah. Dan yang paling aku takutkan ketika aku justru luluh dan terbuai dengan itu, lantas Bang Daffa akan menjatuhkan aku dengan mudahnya.
"Cepat kasih air, War." Triak Bang Daffa sambil bersin bersin saat aku mulai mengaduk bumbu yang berisikan butiran cabe.
"Iya." Jawabku singkat saja. Ya tidak perlu menjawab terlalu banyak ucapan Bang Daffa karena nanti yang keluar ahirnya perdebatan belaka, dan aku tak ingin perdebatan kami di dengar terlebih terlihat oleh Adit. Cukup beberapa bulan yang telah berlalu saja, Adit menyaksikan sikap kasar Bang Daffa kepadaku.
Sebenci bencinya Bang Daffa kepadaku ada satu hal yang tak pernah di bencinya, yakni masakanku. Karena setiap apapun yang aku masak Bang Daffa tidak pernah menolaknya dan cendrung terlihat lahap memakannya. Dan aku anggap itu sebagai salah satu celah untuk lebih dekat dengan Bang Daffa.
Tidak perlu muluk dekat seperti apa, cukup kembali seperti sedia kala saat Kak Melati masih ada, yakni menganggap aku sebagai adiknya yang harus mendengarkan ucapanya dan menuruti nasehatnya, itu saja cukup. Dan lagian aku tidak pernah berpikir akan di anggap lebih oleh Bang Daffa, atau memang aku yang sengaja tidak mengijikan hatiku untuk itu.
Makan siang usai dengan ocehan Adit yang merindukan kedua Omanya, serta menginginkan berkunjung kesana. Dan aku memilih diam dengan tanya Adit tentang kapan itu kami bertiga bisa datang kesana. Sekali lagi, aku tidak ingin muluk muluk, jika Bang Daffa mengajak ku ikut serta ya mongga, tidak juga tidak masalah. Toh, aku memang bukan preoritas bagi Bang Daffa.
Sepiring pisang goreng krispi menemani kami bertiga yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga dengan TV yang menayangkan acara kartun kesukaan Adit. Dan sesekali ucaoan spontan Adit akan aku tanggapi dengan senyum tipis ataupun dengan ucapan yang di pahaminya.
"Bunda, Bima teman Adit mau punya Adik, katanya Bima adiknya cowok." Ucap Adit tiba tiba keluar dari bahasan tentang kartun yang di tontonnya saat iklan mulai terlihat di layar kaca.
"Wah, bagus dong. Nanti Bima ada teman main sepak bola." Jawabku dengan tetap mengelus kepala Adit yang tengah tidur di pangkuanku.
"Tidak seru."
"Ehh, kenapa.?" Tanyaku heran karena wajah Adit terlihat langsung jutek saat mengatakan itu, dan itu persis seperti Ayahnya yang kini tengah menyomot pisang goreng di depannya.
"Kalau cewek kan cantik Bunda. Nanti rambutnya panjang, terus bajunya bagus bagus dan enggak perlu rebutan mainan." Jelas Adit dengan wajah serius.
__ADS_1
"Emm, tidak juga seperti itu." Jawabku. "Saudara itu sama saja, baik cewek dan cowok, seperti Ayah dan Om Daffin, Ayah dan Tante Devi."
"Juga Bunda dan Om Nusa."
"Pintar sekali. Sudah yuk matanya di meremin biar nanti malam bisa lanjut ngajinya sama Bunda. Biar tidak ngantuk." Jawabku lagi.
Adit justru langsung duduk dan menatap ke arahku dengan intens, sementara kedua tangan kecilnya mengelus elus pipi secara bersamaan. "Ada apa.?" Tanyaku dengan heran.
"Adit maunya punya Adik cewek ya Bunda."
"Uhuk, uhuk, uhuk." Bang Daffa terbatuk batuk hebat mendengar penuturan Adit hingga wajahnya memerah, dan sebentar lagi pasti akan menyemburkan kata kata sadisnya.
"Adit, lekaslah tidur." Bentak Bang Daffa dan itu membuat Adit seketika merangkulku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku, sementara tangannya mencengkram erat gamisku, menandakan bahwa Adit merasa takut saat ini.
Aku menghadiahi Bang Daffa delikan tajam dan raut menyesal juga Bang Daffa tunjukan saat melihat reaksi Adit yang ketakutan. "Tidak apa, ada Bunda disini. Iya nanti Bunda mintakan kepada Allah adik cewek yang cantiknya kayak Bang Adit. Sudah sekarang tutup mata rapat rapat dan nanti saat Bang Adit bangun, semua akan kembali seperti sedia kala." Adit tidak menjawab hanya mengguk pelan. Dan seperti itulah yang selalu aku lakukan saat Adit mendengar perdebatan kami.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu berhasil memanfatkan, Adit." Desis Bang Daffa saat aku baru saja keluar dari kamar Adit.
Tak ku hiraukan Bang Daffa, aku memilih memacu langkahmu menjauh dari pintu kamar Adit. Dan menuju ke taman belakang guna mengangkat jemuran yang sudah kering. Saat aku kembali masuk, aku sudah di cegat oleh Bang Daffa yang tengah berdiri di ambang pintu dengan bersendekap dada.
"Kamu benar benar pintar sekali bersilat lidah, hingga Aditpun mengikuti anjuranmu bicara." Ucap Bang Daffa.
"Minggir." Kataku tanpa menjawab ucapan Bang Daffa.
"Kamu jangan berlagak di depanku, War." Ucap Bang Daffa tanpa mau menyingkir.
"Bang Daffa mau bicara denganku, membahas soal ucapan anak kecil." Aku menarik nafasku dalam sembari memperhatikan mimik Bang Daffa yang tetap dengan kesombongannya. "Bang Daffa kan bilang, Mawar aku perlu bicara denganmu. Seperti itu sudah cukup, jadi tidak perlu buang buang energi dengan terus menerus berkata keras. Nanti kalau pita suara sampean rusak, akan merugikan sampean." Lanjutku dengan santai, lantas melnggang masuk ke dalam tanpa memerdulikan Bang Daffa yang tengah dongkol setengah mati.
Aku terus berjalan hingga sampai di tempat setrika, dan tiba tiba saja bahuku mendapat tarikan yang cukup keras hingga aku hampur saja terjatuh oleh perbuatan Bang Daffa.
"Ngelunjak kamu ya." Kata Bang Daffa dengan nada emosi. "Kamu pikir kamu siapa hah.?"
"Istri Bang Daffa kalau Bang Daffa lupa." Jawabku masih dengan berani, tanpa memerdulikan wajah Bang Daffa yang tengah berang ku buat, apa lagi saat ku tambah senyuman tipis di bibirku itu membuat wajah Bang Daffa semakin memerah menahan amarah.
"Sudah aku bilang barusan. Kalau Bang Daffa mau bicara denganku, tidak perlu triak triak aku dengar kok. Jadi hematlah energinya sedikit saja Bang." Jawabku dengan sudah menikmati kemarahan Bang Daffa.
__ADS_1
"Kamu sengaja membuatku marah.!"
"Tidak, bukannya Bang Daffa memang senang marah marah."
"Diam, diam Mawar. Kamu banyak bicara." Ucap Bang Daffa sembari mengangkat tangannya dan tak lama setelah itu terdengar suara gedubrak saat satu tonjokan Bang Daffa lanyangkan ke arah pintu.
"Simpel saja. Ayo bicara. Bukankah itu mudah. Dan juga saat berbicara dengan kepala dingin bukankah itu lebih mudah, dan jalan keluar akan segera terlihat." Ucapku dengan nada datar. "Seperti yang telah aku tulis waktu itu, aku hanya ingin kita berdamai, kita bisa menjadi partner demi Adit. Dan salah satu caranya, dengan mengajak berbicara secwra baik baik saat ada masalah." Lanjutku.
"Jadi, apa yang ingin Bang Daffa katakan padaku.?" Tanyaku dengan masih nada rendah dan cendrung santai.
"Jangan mencoba mencari celah melalui Adit, aku sudah berkali kali mengingatkanmu akan itu bukan.!" Kata Bang Daffa.
Ku tatap Bang Daffa lekat lekat, dan kemudian menghela nafasku dalam, lalu ku ulas senyum ku tipis mengejek ke arah Bang Daffa. "Kenapa harus aku yang di salahkan, atau mungkin memang sampean tidak yakin dengan perasaan yang sampean punya. Hingga harus mengkwatirkan keberadaanku di dekat sampean. Jadi, sebelum sampean marah marah padaku alangkah lebih baiknya jika itu coba tanyakan pada diri sendiri." Wajah Bang Daffa menegang dan tampak gusar untuk sesaat.
"Atau mungkin sampean mau belajar mencintaiku." Lanjutku
"Cuih." Bang Daffa membuang muka ke samping. "Kamu begitu percaya diri, War. Kita lihat siapa yang akan betahan di babak ahir. Akan ku buat kamu bertekuk lutut di hadapanku."
"Jangan terlalu percaya diri. Sampean memilki orang yang di cintai, begitupun denganku. Bukan perkara mudah memindah perasaan hingga harus putar balik berulang ulang." Ucapku Ambigu.
Aku memiliki orang yang ku cintai dan itu adalah Mas Karnag. Benar, aku memiliki rasa cinta meski tidak yakin apa dia masih memiliki hal yang serupa saat kembali nanti, terlebih dengan statusku saat ini. Tapi, jika aku mengingat bahwa tidak ada kontak yang bisa di hubungi, tidak ada alamat yang bisa untuk di tuju untuk bertemu, apa lantas aku harus bertahan dengan perasaanku saat ini.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Aris Kopi
@maydina862