Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Taruhan Terahir.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ikut melarutkan diri di hari bahagia Erik bukanlah sebuah kebohongan, aku benar benar bahagia untuk satu satunya temanku setelah Kak Melati. Dan jika di tanya, sebahagia apa aku, ukurannya sudah pasti setara dengan rasa bahagia Erik saat ini.


Ikut andil dalam game, sampai menyumbang beberapa lagu kenanganku dan Erik, yang baru pertama kali aku lakukan di acara pernikahan, meski dengan berbekal nekat. Karena sudah di pastikan orang yang mendengar aku menyanyi akan tertawa dengan suaraku yang tak ada range nadanya.


"Kamu kelihatan enjoy sekali, War." Kata Bang Daffa begitu aku kembali ke meja kami.


"Sudah dapat di pastikan, Bang." Jawabku. "Ada apa.?" Tanyaku saat Bang Daffa masih terus menatapku.


"Tidak ada. Aku cuma berpikir bagaimana selanjutnya hubunganmu dan Erik setelah hari ini." Jawab Bang Daffa.


"Paling juga sama kayak waktu kami berantem. Bedanya cuma karena Erik memiliki kesibukan lain bersama Bella dan sementara waktu aku akan di lupakan." Jawabku santai.


"Se simple itu hubunganmu dengan Erik.?"


"Biasanya gitu sih. Dan aku rasa, kehilngan Erik itu jauh akan lebih sulit ketimbangan kehilangan pacar."


"Daffin.?" Kata Bang Daffa.


Aku diam sesaat sembari menatap Bang Daffa yang tengah menanti jawabku. "Tidak semua cinta yang di inginkan harus terus bersama, dan menurutku jodoh tidak akan salah menemukan tempatnya. Mas Karang sudah menjadi masalalu." Ku ulas senyumku tipis untuk Bang Daffa.


"Kamu tidak sakit ha.."


"Sakit sudah pasti, tapi bukankah setiap sakit itu pasti akan bertemu dengan obatnya. Dan aku rasa pernikahan Eriklah jawabnya. Ya aku datang." Jawabku dengan cepat, sembari menyahuti panggilan Erik melalui pengeras suara yang memintaku untuk datang ke pelaminan.


Berada di pelaminan dengan Erik yang terus menghujaniku dengan pujian agar semua orang mendengarkan ocehan Erik, aku cukup salah tingkah karena semua mata kini tengah fokus kepadaku. Terlebih saat Erik meminta Bang Daffa agar juga ikut naik ke pelaminan membuat mukaku semakin memerah.


"Peluk istrinya dikit dong, Bro." Ucap Erik. "Nahh, cakep kan kalau gitu." Lanjut Erik begitu Bang Daffa sudah mengapitku dengan tangannya yang terselip di pinggangku.


"Satu pelajaran yang aku ambil dari sahabatku, Mawar. Bahwa setiap cinta itu pada ahirnya membutuhkan Tuhan sebagai perantaranya. Dan tak lupa, setiap jengkal dari langkah, setiap helaan dari nafas, juga setiap kisah yang di tulis juga merupakan takdir Tuhan. Terima kasih karena telah banyak memberiku pelajaran mengenal Tuhan, meski Tuhanmu dan Tuhanku berbeda, aku memahaminya. Sahabatku, Mawar yang memiliki kebaikan dan kecantikan budi seperti bunga Mawar." Ucap Erik sembari menunduk hormat kepadaku, begitupun dengan Bella yang berada di sampingnya.


Aku memilih memeluk erat tangan Bang Daffa dan menyembuyikan wajahku dari tatapan orang karena ulah Erik. Dan ternyata inilah yang sedari tadi Erik sebut sebut akan memberiku kejutan. Aku benar benar terkejut, begitupun dengan Bang Daffa. Sampai acara usaipun, aku masih saja jadi pusat perhatian. Semua gara gara Erik penyebabnya.


Ingin sekali aku memiting kepalanya saat ini, dan memaki makinya dengan puas, tapi kelelahan di wajah Bella membuatku tak ingin lagi menganggu acara malam pernikahan mereka. Lantas segera pamit kepada mereka berdua.


"Kamu mau pulang kemana sekarang, War.?" Tanya Erik begitu melihatku menyeret koperku keluar dari kamar Erik.


"Ke rumahlah, masak iya ke kuburan." Jawabku ngasal.


"Iya tau, maksudnya ke rumah Pak Agung atau ke kota G.?" Tanya Erik lagi.


"Kemana sajalah, asal jauh darimu yang merepotkan."


"Enggak salah, padahal seringnya kamu yang merepotkan aku."

__ADS_1


"Jangan percaya, Bell. Padahal aku cuma beberapa kali merepotkan suamimu, tapi cukup tidak bisa untuk di hitung." Ucapku sembari menutup mulutku yang tengah cekikikan. "Rik, boleh minta peluk." Lanjutan kataku membuat Erik terkejut.


"Bel, boleh ya." Ucapku lagi dan dengan cepat keduanya sudah memeluk ku erat.


Tersisa Erik yang masih merangkulku, dan aku sengaja ingin berlama sejenak di manja pelukan Erik, karena aku sadar setelah ini tidak akan ada bahu yang lebih lebar dari milik Erik untuk ku bersandar.


"Terima kasih banyak, Rik. Aku senang memiliki kamu sebagai teman. Untuk sementara waktu nikmati masa masa indahmu, aku tidak akan menganggu.." Kataku pelan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aku baru saja keluar dari lift dan rencanaku akan segera menuju meja resepsionis untuk mencari informasi soal taksi, tapi begitu aku membelokan kakiku di beberapa langkah, aku melihat sosok Bang Daffa yang tengah berdiri seolah sudah bosan menunggu.


"Kamu tuh lama amat sih, War." Kata Bang Daffa dengan nada datar.


"Bang Daffa kenapa masih disini.?" Tanyaku.


"Jelas nungguin kamu lah." Jeda Bang Daffa lantas segera mengambil alih koper di tanganku.


"Kenapa.?" Bang Daffa menyipitkan matanya mendengar pertanyaanku.


"Banyak tanya kamu." Jawab Bang Daffa dan segera berjalan sembari menyuruhku untuk mengikutinya dengan isyarat matanya.


"Bang, aku mau pulang ke rumah." Lirihku saat kami sudah sampai di parkiran.


Bang Daffa tidak langsung menjawab justru melihat jam yang melingkar di tangannya. "Boleh." Singkat Bang Daffa menjawab, lantas segera meraih ponsel di sakunya dan dari sana aku mengerti bahwa Bang Daffa tengah menelfon Pak Bakti guna memberi tau bahwa kami akan langsung pulang ke kota G.


Terbuka dan tertutup entah sudah yang keberapa kalinya mulutku hendak berbicara, namun pada ahirnya aku tetap tidak bisa memulainya tanpa meminta persetujuan Bang Daffa.


Satu jam setengah berlalu, dan sudah separuh perjalan yang kami tempuh untuk sampai di rumah tepat di pukul 22.45.


"Bang Daffa ada yang mau aku bicarakan." Ahirnya kata itu keluar juga setelah melalui perdebatan panjang.


Bang Daffa menatapku sekilas kemudian kembali fokus ke arah jalan, karena gerimis yang sedari tadi turun dengan tiba tiba berganti dengan hujan lebat.


"Sepertinya aku tidak akan bisa menyimak dengan jelas apa yang mau kamu sampaikan, War. Mending nanti saja kalau sudah sampai di rumah." Jawab Bang Daffa.


Aku mengangguk pelan sebagai jawaban setuju, kemudian kembali diam lagi sampai aku rasa mobil yang kami tumpangi sedikit oleh, Bang Daffapun menepikan mobilnya. Saling tatap untuk bertanya dalam hati masing masing, ahirnya kami memilih mengedikkan bahu masing masing sebagai jawaban tidak paham.


Hujan semakin lebat saja, hingga kami berdua menunggu agar sedikit reda untuk mengechek keadaan ban mobil. Hingga beberapa menit berlalu barulah hujan sedikit lebih reda. Bang Daffa keluar lebih dulu dengan menutup kepalanya dengan jasnya, dan tidak lama Bang Daffa sudah kembali.


"Bannya bocor kayaknya." Kata Bang Daffa. "Sepertinya kita akan terlambat sampai di rumah, War. Apa kir akira ada bengkel yang masih buka ya."Lanjut Bang Daffa sembari menyunggar rambutnya yang sedikit basah dan setelah itu sudah fokus pada layar ponselnya.


"Apa tidak ada Ban serepnya.?" Tanyaku.


"Ada."


"Mesin dongkraknya ada.?" Lagi aku bertanya kepada Bang Daffa.

__ADS_1


"Ada." Jawab Bang Daffa masih dengan nada santai.


"Ya udah di ganti saja." Kali ini kataku keluar dengan sedikit bingung, karena jika ada Ban serep, ada dongkrak juga, kenapa harus menunggu.


Bang Daffa terkikik pelan. "Aku tidak bisa melakukannya, War."


Aku melonggo mendengar penuturan Bang Daffa kemudian memukul jidatku pelan sembari tersenyum sumbang entah itu untuk mengejek atau untuk menertawakan Bang Daffa. "Aku bisa, Bang." Jawabku dengan sudah melepas sabuk pengamanku.


"Jangan, War. Masak yang ngerjain perempuan, aku akan malu nanti." Bang Daffa mencekal tanganku saat aku bermaksud keluar dari mobil.


"Makanya bantuin kalau tidak ingin malu." Jawabku.


Aku dan Bang Daffa ahirnya sama sama keluar dari mobil dan baru saja hendak mengeluarkan dongkraknya, ehh ternyata hujan kembali deras hingga membuat kami harus berlari masuk lagi ke dalam mobil.


"Aku punya ide, kalau kamu mau mendengarnya dari pada kita harus terjebak di dalam mobil semalaman." Ucap Bang Daffa setelah beberapa menit kami saling diam.


"Apa itu.?" Tanyaku, jujur akan tidak nyaman jika kami harus terjebak di dalam mobil.


"Apertementku ada di dekat sini, mungkin butuh waktu lima belas atau dua puluh menitan untuk sampai kesana, jika kamu bersedia jalan kaki ayo kita kesana." Aku menatap Bang Daffa sedikit tidak percaya. Bang Daffa mengajakku ke Apartement kenangannya, Apartement yang di desain khusus untuk Kak Melati.


"Jadi.?" Tanya Bang Daffa dan aku tak menangkap keraguan di balik tanyanya. Apa aku harus.? Sekali lagi ini adalah pertaruhan untuk tau sejauh mana Bang Daffa menganggapku.


"War.?" Bang Daffa kembali mengulang pertanyaannya, dan dengan taruhan sikap yang akan aku ambil setelahnya, aku ahirnya mengangguk sebagai tanda setuju, sekaligus taruhan nekatku untuk terahir kali sebelum aku benar benar menghilang dan terlupakan seperti ingin Bang Daffa sebelumnya.


Tapi, jika boleh serakah, bisakah aku percaya dengan mata Bang Daffa yang menyiratkan ketulusan ketika mengundangku untuk datang kesana. Mungkin saja Bang Daffa benar benar telah menganggapku teman, tapi jikalaupun tidak, sekurang kurangnya Bang Daffa tidak lagi mencaciku dan merendahkan aku seperti dulu.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Koment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2