
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku sudah berjanji tidak ingin menangis lagi, terlebih itu di hadapan Aliena. Tapi, aku tidak bisa. Kenapa, Tuhan tidak henti hentinya terus bercanda denganku. Kenapa, tidak pernah terputus begitu saja hubungan darah antara Aliena dan Ayahnya. Kenapa, Ayah Aliena harus menginginkan Aliena. Kenapa..?
Aku tau persis, Ayah Aliena tidak akan bercanda dengan ucapannya. Dan soal gugatan, dia pasti akan segera mempersiapkannya. Dia tau persis kelemahanku, karena aku tidak akan bisa melawannya jika sudah dalam ranah hukum. Tentu lantaran, aku tidak cukup punya harta dan kekuatan untuk melawannya. Aku harus bagaimana.?
Hari hari berlalu, dan tidak ada setiap harinya tanpa Aliena menanyakan Ayahnya. Kapan Ayah akan menjemput Alin, kapan Ayah akan membawa Alin, atau kapan Ayah dan Abang akan datang menengok Alin. Semua tanya itu tidak pernah aku jawab, karena memang dia tidak pernah datang kembali. Tapi, hari ini sudah seharian Aliena duduk di teras dengan mata yang terus melihat pagar menunggu orang yang mengaku sebagai Ayah, namun setelah menampakan diri beberapa jam saja beberapa minggu lalu, dia tidak pernah kunjung datang kembali hanya sekedar untuk melihat keadaan Aliena.
Lelah membujuk, ahirnya aku merepotkan Erik dan Bella untuk ikut membujuk Aliena dan pas berbarengan kedatangan mereka dengan Rendi yang juga datang berkunjung dengan tiba tiba.
"Alin mau Ayah datang." Sebaris kata itu membuat Erik menatapku tajam dan menyeretku masuk ke dalam rumah.
"Hubungi dia, War.!"
"Aku tidak bisa, Rik. Aku tidak bisa.!"
"Apa kamu tidak kasihan dengan Aliena. Demi Tuhan, buanglah jauh jauh rasa sakit hatimu demi Aliena, War. Bijaklah. Berdamailah dengan masalalu, agar beban yang kamu rasakan tidak berdampak pada Aliena." Aku tak bergeming dari tempatku meski Erik telah meninggalkan aku seorang diri yang tengah terpekur oleh ucapan Erik yang tak ubahnya seperti sebuah tamparan keras untuk ku.
Benar, aku harus berdamai dengan masalalu agar aku bisa lebih fokus dengan pengobatan Aliena. Tapi, aku butuh waktu. Aku butuh menata hatiku, menata perasaanku ketika pada ahirnya Aliena akan di bawa oleh Ayahnya lantas tak memberiku kesempatan untuk merawat Aliena. Apa Erik akan paham jika kemungkinan aku tidak akan sanggup menapakkan kaki di bumi ini jika Aliena di rampas dariku.?
Aku paham dengan sikap Ayah Aliena, oleh sebab itu aku masih berdiri egois dengan mengabaikan perasaan Aliena. Apa karena terlalu sering tersakiti, hingga perasaan was was itu mendominasi. Atau, memang ini sebuah benteng yang sengaja aku buat agar aku tak kembali di sakiti. Lalu, apakah dengan begitu aku bisa seenaknya menyakiti Aliena.?
"Aku akan ada untukmu, War." Selarik kata kata Rendi membuatku mengusap airmata yang hampir saja lolos dari mataku, lantas berusaha keras untuk tersenyum kepada Rendi.
"Jangan lakukan itu, War. Dadaku sesak melihatnya. Menangislah jika itu terlalu berat untukmu." Rendi membentangkan tangannya untuk membuka dada bidangnya guna menapung kepalaku yang seakan tak ingin tegak.
Ingin aku menghambur di dalam dekapannya, jika saja aku tidak ingat bahwa tidak ada alasan bagiku untuk menyandarkan kepalaku kepada Rendi ataupun menyembunyikan airmataku dari dunia di dekapan Rendi. Karena aku tak ingin di kasihani.
"Masih sama, War. Dan ini bukan sebuah tawaran, ini adalah kepastian akan keinginanku. Agar kamu bersandar padaku. Aku akan sabar menunggu kamu memberi kepercayaan padaku, dan sebagai gantinya akan aku berikan kebahagiaan untukmu." Aku ternganga dengan ucapan Rendi.
Rendi bukan lagi bocah tengil yang usil padaku, atau bocah SMP yang senang merayuku. Rendi adalah seorang dokter, apa hidupnya terlalu membosankan, hingga sampai sampai Rendi memilih membuat lelucon dengan memberiku angin segar dengan kata kata manisnya. Apa aku begitu semenyedihkan itu, hingga Rendi menghiburku dengan candaan yang tak masuk akal.
"Aku tau, ini bukan waktu yang tepat. Tapi, aku rasa tidak ada yang salah dengan perasaan yang tidak bisa di kendalikan." Rendi menjeda ucapannya begitu aku mengangkat kepalaku guna menatapnya. "Aliena adalah prioritasmu, Aliena adalah denyut nadi bagimu. Tapi, tidak sadarkan kamu, bahwa kamu dan Aliena adalah detag dari jantungku. Bukalah sedikit celah untuk ku agar aku bisa memastikan bahwa kamu dan Aliena bisa berada atas tanggung jawabku."
__ADS_1
Bibirku kelu, pikiranku kosong. Seluruh kata kata Rendi seperti tulisan yang terukir di atas air, lenyap tak berbekas. Selama ini tidak pernah terbersit sedikitpun di otakku, bahwa akan ada seseorang yang menawarkan bahunya untuk aku bersandar, terlebih itu Rendi. Atau mungkin kepercayaan diriku telah runtuh akibat luka yang telah di toreh Ayah Aliena, hingga aku selalu menutup mata dan telinga dengan orang di sekitarku.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Aliena..!" Aku menjerit sejadi jadinya sembari mengangkat tubuh Aliena yang mengejang disertai dengan kulitnya yang membiru. Berlari sekuat yang aku bisa, tanpa menghiraukan tatapan iba orang yang tengah melihatku, dan tak sedikit pula yang ikut panik sepertiku. Dan beruntung bagiku, karena ada salah satu tetangga yang sigap dengan langsung mengeluarkan kendaraannya untuk membantuku.
Dua jariku sampai membiru karena aku sengaja menaruhnya di mulut Aliena agar jangan sampai Aliena mengigit lidahnya saat kejang yang kedua dalam perjalan menuju rumah sakit. Dalam kurun waktu beberapa bulan terahir, ini kali pertama aku menyaksikan keadaan Aliena benar benar drob. Dan itu cuma karena merindukan orang yang di sebutnya Ayah.
Jika dia datang hanya sebentar membesarkan hati Aliena, lantas tak perduli lagi setelahnya. Untuk apa dia harus menampakan wajahnya di depan Aliena. Harusnya semarah apapun aku, sekasar apapun aku terhadapnya, dia tetaplah Ayahnya Aliena, dan tidak akan semudah itu menyerah hanya karena aku mengusirnya waktu itu. Apa aku boleh marah kepadanya, yang telah membuat Aliena merindukannya.
Haruskah aku yang tetap mengalah, tidak bisakah dia mengesampingkan egonya sedikit saja untuk Aliena. Apa aku harus bersujud di kakinya agar dia mau datang menemui Aliena.
"Kamu sudah menghubungi, Daffa.?" Pertanyaan Erik membuatku berhenti berspikulasi dengan perasaanku. Lantas menggeleng pelan.
"Hubungi dia." Lanjut Erik sembari memberikan ponselnya.
"Aku tidak tau harus menghubunginya dimana, Rik." Jawabku lirih tanpa mengalihkan tatapanku dari wajah pucat Aliena.
"Biar aku yang mendatanginya." Jawab Erik pasti dan sudah hendak beranjak, namun dengan cepat ku raih tangannya.
"Beri aku sedikit waktu lagi untuk menyiapkan hatiku, Rik."
"Hanya beri aku sedikit waktu." Bibirku hanya bisa berucap itu saja, lantaran aku terlalu malu jika harus mengatakan jujur kepada Erik soal keinginan Ayah Aliena yang hendak membawanya dan pada ahirnya nanti Erik juga yang akan repot dengan urusan hukum untuk membantuku. Aku tak ingin semua itu.
Jika benar Ayah Aliena mengajukan gugatan hak asuh atas Aliena, maka jalan terbaik yang bisa aku ambil adalah mengalah. Bukan aku tak ingin mempertahankan Aliena di sampingku, tapi karena Aliena. Aku tak ingin keadaan Aliena semakin memburuk dengan urusan orang tua. Biar saja aku yang mengalah, sebagai anggapan bahwa aku memberi kesempatan bagi Ayah Aliena untuk merawat Aliena. Tapi, aku butuh waktu, bukan secepat keinginan Erik.
"Baiklah, jika dalam dua hari keadaan Aliena belum juga membaik, dengan atau tanpa persetujuanmu. Aku akan mendatangi Ayah Aliena." Putus Erik dengan wajah kesalnya, wajah kesal karena terlalu mengkwatirkan aku tentunya.
Harus sampai kapan aku menjadi beban buat Erik. Mungkin benar ucapan Erik, ketika aku berdamai dengan masalalu maka semuanya akan berangsur angsur membaik. Jika itu iya, haruskan aku menghapus rasa sakit ini dengan menghadirkan orang lain sebagai penyembuhnya, tidak cukupkah obat itu hanya Aliena saja.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak ada yang berubah dengan keadaan Aliena, ruam merahnya semakin banyak bahkan ada juga yang membiru. Dokter sudah memberikan obat melebihi dari takaran biasanya, namun seolah obat itu tidak bereaksi sama sekali.
Benar Aliena tidak mengeluhkan jika itu sakit baginya, bahwa setiap jarum yang menancap di tangannya memberi sensasi nyeri yang luar biasa, di tambah dengan setiap injeksi perbeberapa jam yang rutin di lakukan oleh perawat atas intruksi dokter. Tapi, setiap tetes airmatanya yang meluncur tanpa suara itu sudah menjadi bukti bahwa dia kesakitan. Dan jauh lebih sakit lagi, saat orang yang selalu di rindukannya tak kunjung menemuinya.
__ADS_1
Kehadiran Rendi bisa mengalihkan sedikit apa yang di inginkan Aliena, karena memang Rendi cukup dekat dan paham betul dengan karakter Aliena. Tapi, setelah kejadian beberapa minggu lalu, aku lebih memilih sedikit menjauh dari Rendi. Karena jujur aku masih takut jika harus melibatkan perasaan atas semua hubungan. Aku takut tersakiti kembali. Keseriusan Rendi bisa aku lihat dengan dia memilih dipindah tugaskan di Kota G. Tapi, sekali lagi aku masih takut. Aku trauma.
"Hari ini Papa dokter sudah pindah rumah di dekat kita, jadi bisa setiap hari Papa dokter datang menemui Aliena." Ucapku saat aku bersiap untuk menidurkan Aliena. Sebenarnya bukan saja Aliena, tapi aku juga.
"Alin senang, tapi Alin akan senang lagi jika Ayah datang menjenguk Alin dengan Abang." Sekali lagi, hatiku perih mendengarnya.
"Nanti Ayah akan datang. Saat Alin bangun tidur Ayah akan langsung berada di samping Aliena." Kataku berbohong, setelah segala alasan yang aku berikan tidak di terima oleh Aliena.
Wajah gembira Aliena sebelum terlelap membuat dadaku sesak dan kembali menyiapkan kebohongan baru setelah Aliena terbangun. Setidaknya ada satu hal yang bisa aku lakukan sebelum Aliena bangun, yakni dengan menelfon Erik agar dia mau aku repotkan kembali.
"Datanglah ke rumah, Rik. Ambilkan aku baju ganti."
"Aku kira kamu akan bilang datangilah dia." Kata Erik datar.
Aku menghela nafasku dalam dalam sebelum ahirnya memilih menekan seluruh egoku demi Aliena. "Katakan padanya Aliena merindukannya dan menantikan kedatangannya." Ada beban yang seakan lepas dari pundakku saat aku mengucapkan kata itu. Apa mungkin ini yang dikatakan Erik, bahwa bedamai dengan masalalu akan meringankan beban. Ya, aku akan belajar berdamai dengan masa lalu, jika Ayah Aliena datang setelah Erik menemuinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi.
@maydina862