
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Entah harus ku lukiskan seperti apa perasaanku saat ini. Deg degan tidak karuan, membuat kakiku yang sudah menapak ke gerbang masuk sebuah lapangan futsal kembali lagi aku giring keluar.
Setelah liburan singkat yang justru membuatku harus berpikir keras serta menimbang baik dan buruknya akan keputusan yang aku ambil, disinilah aku sekarang. Ibarat cangkir yang di letakan di kedua tanganku, satu berisi racun dan satunya berisi madu. Rendi benar benar membuatku delema.
Aku tidak cukup berharga atas sebuah cinta dan kehidupan baru bersama Rendi, itu pikiran logikaku. Tapi, di hatiku menginginkan Rendi yang menemaniku karena aku tidak cukup kuat menanggung kesenangan dan manisnya hidup jika tanpa Rendi.
Sangat terlihat kekanakan memang, dan tingkahku tak ubahnya seperti abege labil yang malu malu hendak menemui seseorang yang menghangatkan hatinya. Bukan tanpa alasan yang kuat, hingga aku berani menggiring langkahku sampai disini. Dan salah satu alasanku mengambil keputusan besar ini, adalah Adit.
"Adit lihat, Bunda dan Om Rendi barusan. Adit cukup menyukai Om Rendi karena Om Rendi menyukai Bunda. Adit mau Bunda bahagia." Kata kata Adit pagi setelah aku berbincang dengan Rendi membuat aku berani melangkah mengambil keputusan untuk masa depanku.
Bukan sekedar Adit, Erik juga mengambil peranan penting di dalam keputusanku. Tentu yang paling berpengaruh adalah Rendi sendiri. Karena aku melihat kegigihan Rendi. Dari Rendi aku tau artinya cinta untuk melindungi dari jauh. Cinta yang terbatas meminta kepemilikan atas yang di cintai, akan tetapi yang tak terbatas hanya meminta dirinya sendiri.
Karena itulah aku disini. Seperti yang di mau Rendi, bukan dia yang menegaskan permintaan akan tetapi aku yang mengambil keputusan. Aih, sungguh rasanya malu sekali sebenarnya. Tapi, aku tidak punya pilihan lain.
Setelah cukup menghela nafas untuk menenangkan degupan di dada, ku pegang erat erat tali tas slempangku. Menarik maju kakiku makin ke dalam, terlihat cukup ramai di area tepat pertandingan berlangsung.
Pelan sampai juga langkahku di area tempat duduk penonton. Pantesan rame, itu karena sedang ada pertandingan yang berlangsung. Dan setelah menjelejahkan pandanganku, dapat aku lihat keberadaan Rendi yang tengah menggiring bola menuju gawang.
Keringat yang bertebaran di wajahnya, rambut yang sedikit basah oleh keringat juga berantakan membuat penampilan Rendi jauh dari kesan seorang dokter. Dia terlihat seperti Rendi di masa lampau saat aku baru bertemu denganya, meski aku tidak pernah lihat saat dia menggiring bola.
Mendudukan diri bersama penonton lain, aku merasa canggung. Lantaran hanya aku seorang yang datang kemari dengan tujuan berbeda, meski tetap bonusnya adalah melihat pertandingan futsal.
Dan semakin salah tingkah saat Rendi berhasil menjebol gawang lawan, lantas melakukan selebrasi dan menyadari keberadaanku. Dengan cepat jarinya cintanya telah mengarah ke arahku yang aku perkirakan semua orang telah menatap ke arahku.
Merah wajahku tak dapat aku sembunyikan saat lagi dan lagi, Rendi bertingkah konyol kepadaku. Hingga pertandingan usai, tidak tau sudah berapa banyaknya dia melakukannya sampai sampai aku harus jadi pusat perhatian.
"Tunggu aku di caffe sebelah. Aku akan cepat menyusul." Ucap Rendi saat pertandingan berahir dan segera menghampiriku. Tidak menjawab, aku hanya mengikuti arah telunjuk Rendi kemudian mengangguk pelan.
Seperti yang di sarankan Rendi, aku duduk juga di caffe yang cukup rame. Di temani dengan coklat panas, aku mencari ketengan darinya. Dan tidak butuh waktu lama, menunggu Rendu telah muncul dengan pakaian rapi, menganggalkan kaos bolanya yang penuh keringat berganti dengan kemeja panjang yang di gulungnya hingga hampir ke siku.
"Sendirian kesini.?" Tanya Rendi begitu mendudukan dirinya tepat di kursi kayu depanku.
"Begitulah." Jawabku kalem.
"Pilihanmu tepat sekali, hot coklat disini yang paling terkenal." Ucap Rendi sembari menunjuk cup coklatku.
"Iya, aku bisa lihat. Dia berada di menu teratas. Dan rasanya memang tidak mengecewakan." Ku timpali ucapan Rendi dengan mengangkat cupku.
"Serius, aku mau coba." Tanpa menunggu persetujuanku, Rendi langsung menarik tanganku ke arahnya dan dengan cepat menyeruput coklatku. "Sempurna." Lanjut Rendi.
Aku masih ternganga dengan prilaku Rendi hingga tanpa sadar aku tidak tau apa yang di ucapkan Rendi setelahnya. Dan setelah tersadar aku justru hanya menggelengkan kepalaku pelan. Apa kabar dengan jantungku kali ini, jelas dia sedang jempalitan di dalam sana.
"Gimana kemarin lanjutan liburannya.?" Tanya Rendi. Dan ingin sekali aku jawab. Aku sama sekali tidak menikmatinya, lantaran kamu membuatku berpikir keras.
"Lumayan menyenangkan." Jawabku lirih dengan suara yang agak tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
"Pasti akan lebih menyenangkan jika aku disana." Rendi tertawa terbahak dan kembali meraih cup yang masih senantiasa aku pegang. Terlambat menarik tangan, tangan besar Rendi telah menutup telapak tanganku. Sadar aku keberatan dengan itu, Rendi sengaja mengeratkan tangannya. Kembali seolah aku menyuapi Rendi.
"Pahit dan manis jadi perpaduannya. Ada manis karena juga ada pahit, dan tidak melulu yang pahit itu akan tetap pahit. Dan yang manis akan berahir dengan tetap manis. Seperti hidup, selalu ada pilihan. Semua itu hanya soal rasa. Tapi bagiku, coklat ini terasa lebih manis karena berasal dari tanganmu."
Yes, Rendi kembali berhasil membuat wajahku bersemu merah, dan bingung harus aku sembunyikan dimana. Itu hanya kata sederhana, namun akibatnya bagi dadaku sungguh luar biasa. Dadaku bergejolak tidak mau berhenti.
"Kenapa kamu terus mengambil punyaku. Pesan saja sendiri." Ucapku untuk menutupi kegugupan yang melandaku.
Rendi justru tertawa mendengar penuturanku. "Lucu sekali."
"Apanya yang lucu.?"
"Kamulah." Aku memutar mataku dan menolehkan wajahku kelain arah, asal itu tidak menghadap ke arah Rendi, karena asli saat ini wajahku tengah memerah sempurna.
Rendi kembali tertawa dan malah menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Dan terus menatapku intens dengan senyum yang tak mau meninggalkan bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan Ren.?" Ucapku tanpa menoleh ke arah Rendi, hanya melihat sekilas dari ekor mataku, aku tau Rendi masih melakukan kegiatan yang sama.
"Tidak ada. Hanya terlena dengan sisi lain dari Bidadari." Jawab Rendi.
"Hentikan kata kata konyolmu itu, Ren."
"Aku akan diam. Setelah kamu beri tau aku, bagaimana caranya seperti Jaka Tarup." Aku menautkan alisku heran dengan pertanyaan Rendi.
"Ada apa dengan Jaka Tarup.?" Aku balik bertanya pada Rendi.
"Apa yang harus aku curi darimu.?" Sadar enggak sih Rendi dengan ucapannya. Apa aku harus memperjelas semuanya, untuk apa kedatanganku kesini. Apa mungkin Rendi memang tidak serius dengan ucapannya tempo hari.
"Eh, mau kemana. Aku belum selesai." Cegah Rendi.
"Aku selesai." Dengan ucapan singkat yang aku lontarkan, cukup sudah untuk mengetahui bahwa aku salah telah datang kesini.
"Dengarkan sebentar dong, Mawar." Rengek Rendi persis anak kecil. Dan aku baru sadar, bahwa Rendi bisa bertingkah jauh kekanakan dari sebelum sebelumnya.
"Apa lagi.?"
"Soal Jaka Tarup." Aku berdecak kesal dengan ucapan Rendi, yang itu justru membuat senyum Rendi terbit kembali. "Please, jangan bertingkah lucu seperti itu. Aku tidak akan tahan untuk mencubit pipimu seperti ini."
"Auwh, sakit tau." Pekikku, karena Rendi dengan seenaknya mencubit pipiku.
"Mau duduk lagi, atau mau berdiri saja seperti itu.?" Ucap Rendi.
"Kamu membuang waktuku, Ren." Ucapku lirih.
"Memang, sengaja sekali aku lakukan." Kembali Rendi terkekeh, ku hadiahi Rendi dengan delikkan mataku.
"Aku rasa keputusanku datang kesini salah besar." Ucapku.
"Tapi, sayangnya kamu terlanjur datang kesini, dan kamu tidak bisa kembali sebelum aku mengijinkan." Kini terdengar nada serius dari Rendi.
__ADS_1
Jari Rendi memetik dan seketika lampu mati, menyisakan layar besar yang berada di belakang Rendi sebagai sumber cahaya. Tidak ada suara berisik seperti tadi, orang orang seakan menjadi bisu seketika, saat layar sudah menanyangkan foto fotoku.
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Syok dengan lagu yang di putar bersama foto foto berbagai expresi, bahkan aku sendiri tidak tau kapan foto foto itu Rendi ambil.
Dengarkalah wanita pujaanku.
Malam ini akan ku sampaikan.
Suara merdu Yovie & Nuno yang melantunkan lagu Janji Suci membuat dadaku semakin bergemuruh. Bukan karena aku yang memang suka dengan lagu itu, tapi lebih kepada sikap Rendi yang langsung berlutut di hadapanku saat lagu berahir dan lampu kembali menyala.
Merasa sangat malu, ku putarkan kepalaku ke semua arah. Lihatlah, kini semua orang tengah mengelilingi kami.
"Benar cinta tidak pernah salah dan tidak akan berdosa karena mencintai. Tapi salah bagi Jaka Tarup karena memilih cara licik dengan mencuri selah satu Bidadari agar rasa cintanya terbalaskan. Dan aku tidak ingin menjadi seperti Jaka Tarup, yang membenarkan segala cara untuk mencintai." Rendi menjeda ucapannya, lantas mengayunkan tangannya. Akupun mengikutinya.
Alangkah lebih tercengangnya aku, karena dari arah tangannya menunjuk keluar orang orang terdekatku dengan senyum bahagia mereka. Pak Agung, Pak Bakti, Bu Asri, Bu Mega, Bang Nusa, Kak Ima, Erik, Bella, Mas Karang, dan tak ketinggalan Adit. Dan beberapa orang lagi yang tidak aku tau siapa, tapi mereka juga ikut tersenyum hangat kepadaku.
"Apa yang mereka lakukan disini, jelas sekali itu pertanyaanmu. Tapi, tidak perlu aku jawab. Kamu akan paham nanti." Kembali Rendi menjeda ucapannya dan merogoh sesuatu dari sakunya. "Aku ingin memiliki hatiku, saat ini, besok, lusa, bahkan hingga sampai nyawa tak terkandung di badanku. Aku akan mencintaimu hingga mencapai kekekalan. Maukah kamu."
Ucapan Rendi berhenti dengan kotak yang terbuka, memperlihatkan sebuah cincin putih bermata mengkilap di tengahnya. Sedang di barisan orang orang tadi mengangkat kartas yang akan terbaca. Mawar, menikahlah denganku.
Itu bukan kata ajakan, melainkan perintah dan aku tidak memiliki pilihan lain selain dari mengangguk pelan sebagai jawaban kesesiaanku, seperti terbersit inginku tadi sebelum datang kesini. Tapi, aku tidak pernah mengira bahwa akan seindah ini di lamar dengan cara yang romantis dan di depan orang orang yang menginginkan kebahagian bagiku.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Oteweh End dung. Tapi, tenang Emak sudah siap sedia penggantinya yah, Yuk mampir dan jadi saksi atas anak anak Mbak Zilla.
Like, Koment dan Votenya di tunggu yah.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862