Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Hatiku Merindukannya.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Menjadi tegar itu bukan berarti tidak boleh meneteskan airmata, tapi menangis juga merupakan salah satu terapi agar tetap waras. Waras untuk menghadapi Bang Daffa. Dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan menangis diam diam, karena masih aku ingat penghinaannya malam itu, sekaligus ucapannya.


"Aku menikmati tatapan tak berdayamu." Oleh sebab itulah, seperti apapun perlakuan Bang Daffa terhadapku, aku selalu tersenyum di depannya, karena aku tak ingin terlihat lemah di hadapannya.


Sejak malam kejadain itu, dan kedua Ibu kembali ke kota setelah Adit membaik. Mulai itupula Bang Daffa belum kembali lagi ke rumah, dan ini sudah hampir dua minggu lamanya.


Jujur, aku senang jika Bang Daffa tidak pulang ke rumah ini. Tapi, saat menatap Adit yang tengah bermain terlebih saat tidur meringkuk dalam dekapanku, hatiku sakit. Aku tidak ingin egois hanya dengan memikirkan kenyamananlu sendiri. Karena keberadaannya disini jelas untuk Adit dan menurutku Adit membutuhkan Ayahnya.


Menanggalkan harga diriku, aku memutuskan untuk menemui Bang Daffa di kantornya hari ini. Bukan untuk diriku, tapi untuk Adit. Menenteng bekal makan siang serta membawa serta Adit akupun sampai juga di depan kantor Notaris Bang Daffa yang di rintisnya setahun sebelum Kak Melati meninggal.


Bangunan berlantai dua ini tampak cukup sibuk dan lebih sibuk lagi saat aku melangkah masuk, karena beberapa pekerja yang menyadari siapa Adit sibuk menyambut Adit.


"Pak Daffanya ada, Mbak.?" Tanyaku basa basi menyadarkan salah satu pegawai wanita itu dengan kehadiranku.


Di pandanginya aku dari atas hingga ke bawah, tercetak jelas di wajahnya yang meremehkan aku, sebelum ahirnya berucap dengan nada sombong. "Bapak sedang ada clien, Mbak. Mbak pengasuh Adit yang baru.?"


Ku tarik nafasku dalam dalam, lantas memutar kepalaku tepat di cermin beras yang memantulkan keberadaanku disana, dan benar saja kalau aku di anggap pengasuh untuk Adit. Apa setiap orang menilai status sosial dari palakainnya.? Meski aku tidak berharap seseorang mengenalku sebagai istri dari Bang Daffa.


"Silahkan tunggu saja disana Mbak, biar Adit saya antar ke dalam." Lanjut wanita itu lagi.


"No, Adit mau sama Aunty." Kata Adit dengan cepat dan menarik tanganku dan menyeretku masuk ke salah satu ruangan yang ternyata itu kosong, membiarkan wanita itu begitu saja dengan wajah juteknya.


Kembali, ada rasa yang tidak nyaman di dada, saat mataku menangkap sebuah bingkai foto yang lumayan besar saat ku ijinkan mataku menjelajah keseluruhan ruangan. Tapi, aku tidak punya hak untuk merasa itu pantas aku proteskan kepada Bang Daffa, karena memang hanya Kak Melati yang menjadi ratu dalam hati Bang Daffa.


Sejam lamanya, aku dan Adit menunggu di dalam ruangan Bang Daffa, hingga Adit yang memang sudah masuk jam tidur siangnya kehilangan semangatnya sebelum berangkat tadi untuk bertemu Ayahnya, lantas terkulai lemas tak berdaya dengan mata tertutup rapat dengan berpangku padaku.


Aku juga saja hampir menutup mataku andai saja pintu di ujung ruangan tidak terbuka dan masuk pula orang yang sedait tadi kami tunggu. Rautnya sudah bisa ku tebak, karena hampir setahun berstatus sebagai istri yang tak di harapkannya aku sudah hafal di luar kepala apa saja yang akan di lakukan ketika bertemu denganku. Maka, aku sudah siapkan mental sebelumnya.

__ADS_1


"Mau cari muka kamu datang kemari bersama Adit. Meski kamu membawa Adit mereka juga tidak akan menganggap kamu sebagai nyonyanya." Benar apa yang aku pikirkan barusan. Tidak ada enaknya ucapannya di dengar.


Dan seperti kataku tadi, bahwa aku memiliki alasan kenapa aku datang kemari dan merendahkan harga diriku, terlebih membiarkan diriku di hina dan di rendahkan oleh Bang Daffa.


Memgabaikan Bang Daffa, aku memilih memidahkan posisi tidur Adit dan meraih tasku. Lantas berjalan menuju dimana Bang Daffa tengah duduk dengan angkuhnya di kursi kebesarannya.


"Aku tidak meminta waktu sampean banyak. Aku hanya ingin sampean membaca ini dan memahaminya. Dan aku rasa, sampean orang yang cukup pintar, sehingga aku tidak perlu menjelaskan apa apa lagi setelahnya." Ucapku dengan nada datar.


Meraih beberapa kertas yang aku sodorkan Bang Daffa lekas membacanya. "Kamu kira dengan begini, sedikit demi sedikit kamu bisa mengambil semua tempat Melati. Tidak dengan aku Mawar, tidak dengan aku.!" Di bantingnya kertas yang ku berikan tadi tepat di hadapanku, dan itupun aku sudah menduganya.


"Aku tidak menginginkan tempat Kak Melati. Aku melakukan ini karena Adit. Setidaknya berkorbanlah sedikit demi Adit, Bang Daffa boleh membenciku, Bang Daffa boleh tak ingin melihatku, tapi dimana salahnya Adit.?" Jawabku dengan lantang.


"Kamu sengaja menggunakan Adit sebagai senjata untuk mu." Decihnya.


"Tidak sama sekali." Ku tatap Bang Daffa seperti yang di lakukan Bang Daffa terhadapku, lantas kembali melanjutkan kata kataku. "Seperti yang aku tulis di poin ke sembilan, bahwa kita bisa mengesampingkan ego kita demi Adit tanpa harus mencampuri urusan masing masing. Bisa di bilang itu sandiwara, demi psikologis Adit."


"Aku tidak sebodoh itu, War. Kamu berencana masuk di kehidupan pribadiku dengan pelan pelan melalui Adit.!" Sinis Bang Daffa.


"Kamu..!"


"Cukup, Bang Daffa. Jangan merasa sampeanlah orang yang paling di rugikan atas pernikahan ini. Jika sampean sangat keberatan kenapa tidak menceraikan aku saja. Kenapa.? Karena pada kenyataannya sampean butuh aku untuk Adit kan.? Kalau memang begitu kenapa kita tidak kerja sama saja."


"Kelihatanya aku terlalu baik padamu ahir ahir ini Mawar, sampai sampai kamu cukup berani menantangku kali ini." Ucap Bang Daffa dengan nada yang mengerikan untuk di dengar.


Ku lebarkan senyum ku untuk Bang Daffa agar hati Bang Daffa semakin panas oleh itu. "Sampean punya mimpi, aku juga punya mimpi. Saat mimpi kita berdua tidak sejalan dengan kenyataan, apa cukup dengan saling menyalahkan. Jangan mengira bahwa sampean adalah orang yang paling tersakiti, karena sampean juga luka bagiku." Ucapku lantas bergegas berdiri dari tempatku dan melangkah meninggalkan Bang Daffa yang masih memikirkan ucapanku.


"Antar Adit pulang saat dia sudah bangun. Rebut hatinya kembali, jika benar Kak Melati adalah cinta sejati sampean. Karena kehilangan orang yang di cintai, bukan berarti tidak ada harganya cinta yang di tinggalkan untuk sampean." Ucpaku lagi sebelum membuka pintu dan keluar dengan tergesa sebelum Bang Daffa memuntahkan amarahnya lagi terhadapku.


Tidak ada sekalipun ada dalam bayanganku bahwa aku akan menjaminkan pernikahanku dengan perceraian dan aku rasa juga bagi wanita lain di dunia ini. Pada awalnya aku menjujunjung pernikahan ini, dan selalu bertahan dengan segala cemo'ohan Bang Daffa.


Harusnya sabar itu tidak ada batasnya, dan menjadikan pernikahan sebagai ladang ibadah adalah tujuan utamanya. Tapi, ketika setiap usahaku yang tak di hargai dan selalu kalah saing dengan yang sudah dalam keabadian, maka harusnya tidak ada yang perlu menyalahkan jika masih ada sisa tempat lain untuk orang yang pernah singgah dan memberi warna.

__ADS_1


Jika laki laki selingkuh dengan nafsunya, maka wanita akan selingkuh dengan perasaannya. Dan itu yang terjadi terhadapku ahir ahir ini. Dan kembali mengulang kenangan dengan beberapa kali menstalking akun sosial media miliknya yang pernah merajut kenangan indah bersama.


Tekat ini semakin kian kuat hingga aku berani mengajukan perjanjian terhadap Bang Daffa, dan siap dengan segala resikonya, andai dia yang akan segera kembali datang menemuiku. Demi Allah, aku rela meninggalkan Bang Daffa dan membawa Adit ikut serta denganku untuk merajut bahagia bersama dengannya.


Tapi, manusia hanya bisa berencana dan Allahlah yang menentukan segalanya. Tidak ada yang bisa menjamin hati manusia akan tetap sama setelah lama tak bersua Dan tidak ada yang tau kapan hati ini akan berubah dengan cepatnya. Seperti hatiku yang tiba tiba merindukan sikap manisnya, dan berharap itu akan masih sama. Ternyata hatiku merindukan dia orang yang pernah memberi warna bahagia di dalam dada.


.


.


.


.


.


Bersambung...


###


Baru kali ini Emak ngerasa bersalah dengan karakter Novel yang di tulis. Selingkuh dengan perasaannya, kok kejam sekali dirikuh, kayak orang yang enggak ada ahlaqnya..🤭🤭🤭


Like, koment san votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2