Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Jawaban Rasa Gelisah.


__ADS_3

"Mawar.." Seruanya membuatku kaget. Kaget dalam artian kaget sesungguhnya, sekaligus bingung juga tidak menyangka jika Erik bakal tau tempatku berada.


Aku masih terpaku di tempatku dengan pikiran pelik mengenai Erik, kenapa, ada apa dan urusan apa yang membuat Erik datang kesini memenuhi otak ku, sampai sampai aku melupakan dua orang yang berada di dekatku juga sama bingungnya denganku.


"Ini buatku kan, Mawar." Ucap Mas Karang membuyarkan pikiranku mengenai Erik, sekaligus membuatku mengalihkan pandanganku dari Erik yang tengah berjalan ke arahku, sedangkan Mas Karang memilih merunduk mengambil lolipop yang terjatuh di tanah tidak jauh dari kakiku.


Wajahnya tampak datar saat kami kembali bertatapan. Namun, dari mata Mas Karang tampak banyak tanya mengenai seseorang yang membuatku seketika berubah gelisah. "Sudah pecah, juga kotor lolipopnya." Pelan Mas Karang.


"Nanti Mawar ganti sama yang lain, Mas." Ucapku sembari meraih lolipop dari tangan Mas Karang.


"Tidak apa, rasanya juga tetap akan manis." Jawab Mas Karang.


"War, gua telfon dari kemarin kemarin kemana aja loe." Kata Erik yang sudah berdiri di antara kami bertiga. Dan itu membuat kami bertiga kompak menggiring arah pandang ke arah Erik yang tampak kelelahan.


"Cekkk." Decak kesal Erik, saat ponselnya tiba tiba berdering. Tanpa pamit, Erik berjalan kembali menjauh beberapa langkah dari kami.


"Siapa, War.?" Tanya Bia tiba tiba, dan sepertinya itu juga yang hendak Mas Karang padaku.


"Teman." Kalem ku jawab tanya Bia. Jujur, aku begitu tak tenang melihat gelagat Erik. Karena, tidak mungkin tanpa alasan yang darurat Erik akan menyusulku kesini, terlebih Kak Melati dan Bang Nusa tidak akan memberi tahukan keberadaanku kepada Erik sesuai permintaanku.


Gelisah ini sungguh membuatku tak fokus dengan keadaan. Hingga, saat tatapan Mas Karang terhadapku berubah penuh tanya atas jawaban yang tidak memuaskan baginya, aku masih tak bisa memberi kejelasan atas tanya yang tak mungkin tersampai oleh Mas Karang saat ini, lantaran masih ada Bia di sampingku.


"Aku harus segera kembali." Ucap pelan Mas Karang.


"Iya, Mas Karang. Terima kasih." Jawab Bia, dan aku hanya bisa terus memandang Mas Karang dan Erik secara bergantian, hingga Mas Karang masuk ke dalam mobil.


"Loe ikut pulang gua sekarang juga." Kata Erik tanpa basa basi sedikitpun.


"Tapi, Rik." Jawabku.


"Lebih baik masuk dulu, Mas. Istirahat sebentar, ini kami juga baru pulang. Minta ijin dulu sama pengurus." Ucap Bia mencoba menengahi, namun seketika Bia mengkerut begitu mendapat tatapan dari Erik yang tak bersahabat.


"Apaan sih loe, Rik." Sergahku dengan ketus, karena aku rasa Erik keterlaluan saja. "Astaghfirohaladzim." Terus ku ulang ulang istighfarku, begitu sadar dengan caraku bicara dengan Erik yang telah mengikuti emosi.


"Bi, kamu masuk dulu. Habis ini aku nyusul." Ucapku Bia.


"Tapi, War. Kamu yakin enggak akan apa apa.?"


"Tidak perlu kwatir. Masuk dulu gih." Ucapku sembari mendorong pelan tubuh Bia agar segera masuk ke dalam. Karena aku tak ingin melibatkan Bia, apa lagi soal laki laki tepat di depan Pesantren, yang jelas akan jadi masalah nantinya.


"Kita harus pulang segera." Kata Erik lagi.


"Aku tidak bisa, Rik." Lirihku. "Disini tidak sesuka hati bisa pulang, atau datang. Disini ada aturan, juga harus ada ijin dari Pengasuh agar untuk bisa pulang." Lanjutku mencoba menjelaskan kepada Erik.


"Bang Nusa akan mengurus semuanya. Jika hari ini kamu tidak ikut pulang, selamanya kamu akan menyesal, War. Gua bukan suka rela datang kesini, semua gua lakukan karena semata mata demi loe." Terlihat mata Erik yang sipit selebar dengan berbagai emosi yang dia tahan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Rik.?" Nadaku seketika berubah, dan harusnya aku percaya dengan firasatku beberapa hari lalu, bukan malah menikmati hari di pengungsian lantas mengabaikan perasaan sentimentil itu dengan hadirnya Mas Karang.


"Gua enggak berani speak up. Tujuan gua cuma bawa loe pulang, agar loe lihat sendiri." Masih dengan nada dingin Erik bersuara.


"Kak Melati baik baik saja kan, Rik. Iyakan Rik." Spontan ku tarik kemeja Erik sampai mengoyang goyangkan tubuhnya, namun Erik tetap diam seribu bahasa. Sampai aku lelah dan terduduk dengan dada sesak penuh penyesalan berandai andai.


Andai aku lekas kembali waktu itu, andai aku mempercayai firasatku, andai aku tidak mengantar Mas Karang, semua andai itu berbaur menjadi satu penyesalan yang menyesakkan dadaku. Dan ada yang lebih aku sesalkan lagi, andai aku bisa lebih menjaga hatiku, mungkin aku bisa tidak mengabaikan firasatku tentang Kak Melati.


"Jika, gua jadi loe. Maka gua akan bergegas." Ucap Erik sembari menyodorkan tisu kepadaku.


"Kak Mawar baik baik saja kan, Rik." Ucapku untuk menyakinkan diri, atau sejatinya aku hanya meminta kepada Erik sebuah oase belaka.


"Jika ada kamu disampingnya, Melati akan kuat. Maka dari itu lekaslah." Terdegar nada sendu di ucapan Erik, dan aku tau itu untuk penyemangatiku.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Meninggalkan tanya yang tak bisa ku jawab untuk Bia. Aku bergegas meninggalkan Asrama setelah mendapat ijin dari Pengurus yang juga langsung di beri ijin dari Penagsuh. Bahkan tidak ada proses sulit perijinan yang seperti biasanya terjadi sebelumnya.


"Semoga semua tidak terjadi apa apa, War. Dan kamu akan lekas kembali kesini." Ucap Bia sembari melepaskan pelukannya begitu Erik membuka pintu mobilnya untuk ku.


"Semoga, Bi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam.." Begitu ku dengar jawaban Bia, aku lekas masuk ke dalam mobil dan mobilpun berlahan meninggalkan pelataran Pesantren.


Memasuki jalan raya Erik memacu kecepatannya, dan seakan tak ada niatan sedikitpun untuk mengajakku untuk berbicara mengenai alasan kenapa dia harus menyusulku untuk pulang. Meski aku tau alasan di balik ini semua pasti karena kesehatan Kak Melati. Hingga, perjalan ini hampir usai baru Erik mengajakku berbicara dengan menghentikan mobilnya di sebuah coffeshop, di pinggir lapangan.


Ku tatap Erik dengan tak mengerti akan arah pembicaraan Erik, dan memilih diam menunggu kata yang Erik coba susun untuk ku. Berharap semoga itu tidak hal yang akan mengecewakan aku.


"Gua gagal menyimpan rahasia loe." Lirih Erik.


Aku terlonjak. "Maksud kamu.?" Tanyaku dengan dada berdetag habat menyikapi kata rahasia yang di ucapkan oleh Erik.


"Melati sudah tau semuanya." Aku terbelalak mendengar ucapan Erik sembari membuka mulutku untuk mengambil udara yang seakan tetiba menipis.


"Semuanya." Ulangku pelan dengan bahu merosot. Memikirkan kemungkinan itu, membuatku tidak ada keberanian untuk bertemu dengan Kak Melati.


"Tapi, sumpah War. Gua tidak ada maksud memberi tau Melati soal ini." Kata Erik masih dengan pelan. "Itu karena Melati menemukan bukumu, dan dia bertanya padaku soal itu."


"Buku, buku apa.?" Tanyaku.


"Buku ungkapan cinta loe kepada Daffa."


"Kamu belum membakarnya waktu itu..?" Tanyaku dengan nada kaget.


"Sorry, gua enggak kepikiran kalau bakal jadi kayak gini. Gua pikir loe."

__ADS_1


"Rik, seharusnya loe bisa bilang sama Kak Melati kalau itu buku bukan punya ku." Kataku dengan mencengkram erat ujung jilbabku.


"Tanpa gua bilang, Melati itu cukup cerdas, War. Loe tau itu." Bela Erik. "Gua enggak tau Melati dapat darimana tuh buku, yang pasti dari situ, Melati menanyai gua dari A sampai dengan Z soal perasaan loe ke Daffa kayak gimana. Dan yang membuat gua tak terima, hingga membongkar semua di hadapan Melati, adalah penghinaan Bu Mega terhadap loe."


Aku kehilangan seluruh kata yang hendak aku tanyakan kepada Erik, begitu mendengar pejelasan Erik. Dan semua seakan semakin tidak berarti dikala harus melibatkan Bu Mega di dalamnya.


"Melati bisa menebak, bahwa ginjal yang berada di tubuhnya dari loe. Dan gua tidak punya alasan untuk menyembunyikan kebenaran itu. Gua lakukan karena gua perduli sama loe. Karena gua teman loe, War." Lanjut Erik.


Tatapan tak percaya sekaligus kecewa, aku layangkan kepada Erik. Namun, aku sama sekali tidak bisa menyalahkan Erik akan hal itu. Karena, seharusnya aku tidak perlu memberi tau Erik soal ginjal dan lain sebagianya. Karena aku yang tidak bisa menjaga lisanku.


"Setelahnya aku tidak tau apa yang terjadi, hingga Melati dan Daffa harus mengalami kecelakaan saat menuju ke Pesantren yang kamu tinggali."


"Ulangi lagi kata katamu, Rik." Kataku dengan nada bergetar.


"Iya, mereka mengalami kecelakan. Daffa tidak ap.."


"Antar aku ke Rumah Sakit sekarang juga, Rik." Kataku dengan sudah berdiri.


"Tenanglah sebentar, War. Aku pasti akan mengantarmu kesana. Tapi, lihatlah jam. Ini sudah tengah malam." Kata Erik sembari meraih tanganku agar duduk kembali.


"Rik, aku mohon." Ucapku memelas kepada Erik, lantas segera teringat dengan ponselku, kemudian tanganku sudah sibuk mendial bergantian nomer orang rumah, namun sama sekali tidak ada respons. Lantaran nomerku sengaja mereka Blok.


"Percuma kamu menghubungi mereka, karena semua jelas sudah memblokir nomermu sementara waktu ini. Itu adalah permintaan Melati sebelum ahirnya Melati koma dan masuk ICU." Tangisku pecah, tangis yang sedari siang tadi sengaja aku tahan. Tangis yang aku tak ingin keluarkan.


Kenapa, semua rahasia ini harus terbongkar dengan cara seperti ini. Dan kenapa harus Kak Melati yang menjadi korbannya. Harus setebal apakah mukaku, untuk menemui Kak Melati, setelah begitu jelas aku yang telah menodai kepercayaannya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya selalu di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2