
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Adit pulih dengan cepat. Mungkin juga karena kedua Omanya berada di dekatnya, hingga cukup dua hari saja Adit mendapat perawatan di Rumah Sakit. Dan tepat di hari ketiga ini, Adit di bolehkan pulang.
Andai anak itu bisa mengungkapkan perasaannya selayaknya orang dewasa, maka kata rindu yang akan dia sebutkannya. Ya, selama kurun waktu enam bulan sejak kami datang ke kota ini, selama itu pula kami tidak pernah bertandang ke rumah Pak Agung ataupun Pak Bakti. Bukan aku tak ingin kesana, tentu saja itu karena Bang Daffa yang tak menginginkan aku bertandang kesana.
Mengemasi barang barang sembari mendengarkan celoteh Bu Asri dan Adit, aku ikut tersenyum sembari sesekali menimpali ucapan Adit dengan canda. Dan tak jarang pula aku juga di ajak berbicara oleh Bu Asri dan Bu Mega dengan topik yang mereka bahas.
"Om Afin belum pulang Oma, Adit kangen sama Om Afin, mau tidur sama Om Afin di tenda." Kata Adit tiba tiba.
"Sebentar lagi Om Afin akan pulang, nanti kita camping bareng bareng di belajang rumah ya. Tapi, Adit janji dulu tidak boleh sakit lagi." Jawab Bu Asri.
"Iya, jangan sakit lagi. Kasihan Aunty Mawar kalau Adit sakit." Timpal Bu Mega.
"Bunda, Oma. Kalau tidak ada Ayah panggilnya Bunda, kalau ada Ayah panggilnya Aunty." Jelas Adit yang itu membuat pergerakan tanganku terhenti dan aku juga merasa tiba tiba udara di sekitarku lebih kecang karena semua seketika diam tak ada yang bersuara.
Benar saja, saat aku menoleh ke arah Adit, kedua wanita paruh baya itu tengah menatapku dengan tatapan yang entah harus bagaimana aku menerjemahkannya. "Nanti Ayah marah marah lagi, kalau Adit tidak patuh."
"Sayang, Ayah marah kan karena memang Bunda salah." Potongku dengan cepat, karena aku takut kejujuran Adit justru akan membuat masalah baru, dan nanti ujung ujungnya tetap aku yang di salahkan oleh Bang Daffa.
Cukup sudah sandiwara tiga hari ini tampak baik baik saja dengan Bang Daffa. Dan setelahnya aku tak ingin di tindas lagi, karena aku sudah membuat keputusan bahwa aku akan tegas.
"Mawar, apa yang di katakan Adit itu benar.?" Tanya Bu Asri.
Ku ulas senyum tipisku untuk Bu Asri dan Bu Mega sebelum ahirnya duduk di samping mereka berdua dengan tenang seraya mengambil tangan keduanya untuk ku genggam erat. "Ibuk berdua percaya dengan Mawar kan..?" Tanya ku balik ke keduanya.
Keduanya tak langsung menjawab, dan memilih saling berpandangan sebelum ahirnya memilih fokus menatapku lantas mengangguk secara bersamaan.
"Apapun yang terjadi dengan kami berdua, semua akan baik baik saja nanti dengan do'a panjenengan berdua. Dan saya pastikan setelah ini, itu tidak akan mempengaruhi Adit." Lanjutku dengan penuh kepercayaan diri, seperti aku yang percaya akan mampu bernegosiasi dengan Bang Daffa.
Tidak perduli dengan cacian dan hinaan Bang Daffa kepadaku sebelumnya. Karena, aku memilih untuk fokus dengan tumbuh kembang Adit yang dan itu butuh kerjasama dengan Bang Daffa sebagai Ayahnya. Jika tidak ada sedikit percaya dari Bang Daffa kepadaku, lantas alasan apa yang membuat Bang Daffa menyerahkan Adit dalam pengawasanku. Setidaknya itulah celah yang coba untuk ku masuki.
Meninggalkan segala ego demi tanggung jawab, meski di bilang bodoh dengan menulikan telinga dan membisukan mulut. Itu menurutku adalah bentuk cinta yang paling ikhlas. Karena tidak semua cinta itu harus terlihat dan diperhatikan adanya. Dan aku anggap tanggung jawabku, serta keputusanku menerima amanah Kak Melati juga merupakan salah satu bentuk cinta yang aku miliki untuk Kak Melati.
Memang benar, Bang Daffa adalah laki laki pertama yang berhasil merebut perhatianku, tapi tidak dengan cintaku, karena cintaku telah habis untuk Kak Melati sebelumny. Kalaupun saat itu aku menyukai Bang Daffa itu juga tidak lebih besar dari Kak Melati, buktinya aku maosh bertahan demi Kak Melati. Oleh sebab itulah, aku tidak akan perduli dengan sikap Bang Daffa, karena Bang Daffa bukan prioritasku, Bang Daffa hanya tanggung jawabku saja.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Rumah yang biasanya sepi karena hanya ada aku dan Adit saja, malam ini cukup ramai. Karena baik Bu Mega dan Bu Asri memutuskan untuk menginap di rumah ini, sampai besok suami keduanya menjemputnya.
__ADS_1
Aku sibuk memasak untuk makan malam, sementara Adit sibuk dengan kedua Omanya memperlihatkan mainannya. Aku cukup tersenyum tipis menyaksikannya intraksi mereka dari dapur yang memang tidak ada sekatnya.
Kini pandanganku beralih ke arah tangga, dimana berada Bang Daffa yang tengah menuruninya, yang itu jarang sekali di lakukannya ketika sudah berada di kamarnya. Dan aku terus saja memperhatikannya hingga duduk di tengah tengah Adit dan kedua Omanya.
Ada ngilu yang lebih dalam saat aku menyaksikan pamandangan ini dan ini jauh lebih sakit daripada saat Bang Daffa berkata kasar kepadaku. Yakni, perubahan Adit yang langsung diam dan memilih duduk dalam pangkuan Bu Asri saat Bang Daffa mencoba meraihnya.
Akankah, Adit takut kepada Ayahnya, padahal setauku Adit sedari kecil cukup lengket dengan Bang Daffa, dan jika itu benar. Maka, itu adalah pengaruh buruk baginya, dan sekaligus kesalahan Bang Daffa. Karena Bang Daffalah yang secara sengaja membuat celah itu untuk Adit, meski sebenarnya itu untuk menghindariku.
Makanan sudah siap tersedia di atas meja tepat pukul 19.00. Dan kami duduk sudah duduk mengelilingi meja, lagi dengan hal yang tidak seperti biasanya, yakni dengan adanya Bang Daffa.
Diam itu bukan tidak ingin bicara, tapi karena aku mimilih aman dengan diam. Karena dengan begitu aku tidak perlu bersitegang dengan Bang Daffa, terlebih dengan perasaanku sendiri.
Usai makan semua masih berkumpul di ruang keluarga, dan sekali lagi Bang Daffa ikut serta disana, itu aku sebut sebagia usaha mengembalikan citranya sebagai Ayah yang baik. Tapi, sayangnya Adit lebih senang ndusel padaku sampai dia tertidur di pangkuanku.
"Biar aku angkat Adit ke kamar." Ucap Bang Daffa pelan, dan nada seperti itu justru asing buatku.
"Iya, sekalian kamu lekas istirahat, War. Biar Adit kami yang jaga. Bukan begitu, Jeng." Ucap Bu Asri yang itu membuat pergerakan tangan Bang Daffa terhenti, lantas tanpa di komando mata kami saling menatap dan lagi itu adalah tatapan Bang Daffa yang seperti biasanya kepadaku. Aku sudah tidak heran, juga tidak perlu ku perdulikan.
"Benar, kami akan tidur dengan Adit. Jadi, malam ini kamu tidak perlu kwatir, War. Tidurlah dengan nyenyak." Timpal Bu Asri.
Tidur dengan nyenyak, aku tidak yakin dapat melakukan itu, terlebih lagi harus sekamar dengan Bang Daffa. Dan aku rasa beliau berdua bukan tidak tau arti kecanggungan di antara aku dan Bang Daffa sehingga harus membuat kami berada dalam posisi sulit. Atau beliau berdua memang berpura pura tidak tau, sehingga bisa menjebak kami sesukanya.
"Tidak sama sekali, Mama sudah biasa menjaga Adit, Fa." Kata Bu Mega bersemangat.
"Buk, benar yang di katakan Bang Daffa, sudah bukan umur njenengan berdua untuk menjaga Adit. Lagipula Adit adalah tanggung jawab kami." Timpalku membantu Bang Daffa membuat alasan.
"Sudah tau kalau kami tidak lagi muda juga sakit sakitan, kenapa kalian tidak menyegerakan memberi Adit adik." Jawaban Bu Asri membuatku terkesiap, sekaligus salivaku tertelan dengan terpaksa. Dan itu juga sukses membuat wajah Bang Daffa kembali menahan amarah seperti biasanya.
Aku salah ucapan, dan itu membuat Bang Daffa melayangkan tatapan penuh penghinaan padaku. Dan dengan tanpa berucap kata lagi, Bang Daffa segera mengangkat tubuh kecil Adit yang di ikuti dengan Bu Asri dan Bu Mega di belakangnya. Sedangkan aku memilih untuk memilih berlama lama membereskan ruang keluarga.
"Lekaslah istirahat, War." Ucap Bu Asri dengan tiba tiba, membuatku terkaget dan lekas menyudahi pekerjaanku, karena Bu Asri terus saja menungguiku tanpa memberiku kesempatan untuk membuat alasan.
Berjalan beriringan naik ke lantai dua, aku memilih diam dengan terus memilin ujung jilbabku. Dan aku justru semakin gugub, saat sampai di ujung tangga terlihat Bang Daffa yang juga sedang berjalan menuju kamarnya.
"Fa, cepat ajak Mawar istirahat." Panggil Bu Asri kepada Bang Daffa dan sontak tatapan tajam langsung tertuju padaku dari Bang Daffa. Aku sudah sangat berusaha tenang mendapat tatapan seperti iu dari Bang Daffa, tapi nyatanya dadaku jauh lebih tak terkendali dan membuat kakiku gemetaran.
Tak ingin berjalan ke arah kandang Singa, tubuhku justru terus di dorong oleh Bu Asri, hingga pintu kamar Bang Daffa benar benar menelanku di dalamnya. Ini kali kedua aku memasuki kamar Bang Daffa, dan kembali aku di sambut dengan foto pernikahan Bang Daffa dan Kak Melati di atas ranjang besar persegi itu.
Aku rasa oksigen di kamar semakin menipis, saat Bang Daffa terus memindaiku tanpa ampun, dan kepalan tangannya semakin membuat nyaliku menciut ingin memulai kata negosiasi.
Berdecak kesal, Bang Daffa mengikis jarak kami. Berhenti tepat di depanku, membuatku mendongak untuk melihat wajahnya yang tinggi menjulang. Sinis, dingin dan tak ada enak enaknya untuk dipandang, Bang Daffa lekas mencondongkan tubuhnya. Dan mensejajarkan mulutnya dengan telingaku.
__ADS_1
"Begitu inginnya aku menyentuhmu, hingga kamu melibatkan orang tua di dalamnya. Ayo kita lihat seberapa jalangnya tubuhmu ini. Srakk." Dengan satu sentakan kuat Bang Daffa berhasil meluruhkan jilbabku.
Aku masih kaku di tempatku, bukan karena aku suka dengan perlakuan Bang Daffa, melainkan karena aku terlalu kaget hingga aku butuh beberapa menit untuk bersikap. Namun, nyatanya Bang Daffa tidak memberiku kesempatan untuk menjawabnya atau berpikir.
"Aku, aku tidak ada maksud seperti itu, sungguh." Ucapku dengan nada terbata.
"Sudah berapa banyak laki laki yang tahluk oleh bibir beracun ini." Dingin ucapan Bang Daffa berbanding terbalik dengan bibir Bang Daffa yang panas dan meringas mengambil ciuman pertamaku.
"Jangan sok polos dengan hanya diam, seolah olah kamu adalah wanita suci yang belum pernah di sentuh laki laki sama sekali, War." Ucap Bang Daffa begitu melepas pangutannya terhadap bibirku.
Dan lagi, ketika aku hendak menjawab ucapannya, Bang Daffa kembali membungkamku dengan ciuaman yang semakin menuntut hingga berangsur angsur ciuman itu turun ke leherku, hingga membuatku tanpa sadar terbawa suasana yang di ciptakana Bang Daffa, tanpa perduli lagi bahwa di setiap aktifitas Bang Daffa menyisipkan kata kata penghinaan terhadapku.
"Lihat seberapa jalangnya dirimu." Bang Daffa menarikku tepat di depan cermin meja rias dan tampak disana wajahku yang sudah merah menjijikan dengan baju yang sudah tak beraturan lagi.
"Kamu lihat, Mel. Wanita seperti dia yang kamu pilih untuk ku. Entah sudah berapa banyak laki laki menjamahnya." Kata Bang Daffa penuh nada kecewa dengan menunjuk nunjuk foto Kak Melati, seolah olah Bang Daffa menyalahkan Kak Melati.
"Cukup." Lirihku dengan airmata yang aku coba tahan agar tak keluar di depab Bang Daffa. "Jangan berlebihan membenciku, jangan berlebihan menilaiku karena aku diam. Nanti suatu saat, ketika benci itu berubah arah maka hanya akan sebaliknya yang kamu dapatkan.
"Ck,ck,ck. Kita lihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang." Decih Bang Daffa. "Aku menikmati tatapan tak berdayamu, dan aku pastikan kamu akan lupa caranya tersenyum hingga kamu begitu putus asa untuk hidup." Lanjut Bang Daffa sebelum melangkah ke kamar mandi dan membanting pintu di belakangnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
@maydina862
__ADS_1