
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Dia datang mencarimu.." Selarik pesan singkat yang Bia kirimkan mampu mengganggu hariku. Aku sadar, aku bukan lagi anak Abege yang akan labil dan mudah galau. Tapi, kadang memang hati ini tidak bisa untuk di kontrol untuk tidak tersentuh oleh hal hal kecil yang di lakukan orang di sekitar ku.
Dua tahun yang ku tunggu, setahun yang berat untuk meneguhkan hati agar tetap menunggunya nyatanya ketika dia bena rbenar datang mencariku, hatiku telah sedikit bercabang kepada seseorang yang telah mengikatku dalam ikatan halal.
Bukan tanpa alasaan kenapa aku memilih mencabangkan hatiku. Dan aku rasa tidak ada salahnya memberi kesempatan bagi aku dan Bang Daffa untuk membuka hati masing masing, mengingat sebelumnya Bang Daffa tidaklah sebaik ahir ahir ini.
Ternyata bukan hal mudah memindahkan hati, buktinya hanya dengan selarik pesan dari Bia yang mengatakan bahwa dia mencariku, aku tak berani membalas pesan Bia dengan alasan aku takut hatiku akan kembali mengingat kehangatan sikapnya kepadaku, lantas membuyarkan tekatku untuk memulai lembaran baru sepenuhnya bersama Bang Daffa.
Setahun bukan waktu yang singkat, dan selama itu pula entah sudah berapa kali Bang Daffa mematahkan hatiku. Dan kini saat remukan hati ini mulai Bang Daffa susun, apa aku akan egois merusak segalanya hanya karena masalalu yang tak berani memberi kepastian.?
Andai Mas Karang, datang lebih awal sebulan lalu. Sungguh, tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hatiku untuk meninggalkan Bang Daffa, meski perceraian adalah jalan satu satunya untuk bersama Mas Karang. Dan lagi lagi, apa yang di harapkan dan di inginkan manusia itu tetap kembali pada sang pemilik rencana.
Menutup wajahku dengan kedua tangan, ku hela nafas dalam di baliknya. Entah, kenapa aku hati ini tidak ingin seringan sebelumnya, dan melanjutkan perjalan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia seperti sehari kemarin.
"War, apa kamu baik baik saja.?" Tanya Bang Daffa yang seakan sadar dengan kegelisahan yang aku rasakan.
Ku sunggingkan senyum tipis ke arah Bang Daffa yang kini kembali fokus dengan kemudinya. "Ada sedikit masalah yang mengangguku." Jawabku pelan dan terus memperhatikan expresi Bang Daffa yang justru datar datar saja.
"Apa itu ada sangkut pautnya dengan orang tuaku. Bukannya kamu sudah beberapa kali bertemu dengan mereka.?" Aku diam tak menjawab ucapan Bang Daffa.
"Meraka cukup baik denganmu daripada aku sebelumnya." Bang Daffa menjeda kembali ucapannya lantas memandangku sekilas dengan tatapan sendunya. "Maafkan aku." Lanjutnya lirih.
"Tidak, tidak itu." Jawabku pelan sembari memilin ujung jilbabku. Jujur aku ingin sekali jujur saat ini kepada Bang Daffa, tapi apa akan cukup tepat waktunya. Dan apa mungkin setelah aku jujur kepada Bang Daffa, Bang Daffa akan kembali seperti sebulan ini kepadaku.
"Ada masalah apa.?" Ucap Bang Daffa dengan penekanan kata bahwa Bang Daffa akan mendengarkan apapun itu.
Aku semakin mengeratkan cengkramanku di ujung jilbabku. Aku sadar betul bukan hal mudah membicarakan soal masalalu dengan seseorang yang tengah berusaha mendekat, dan pasti akan ada perasaan tak enak ketika kenyataannya orang di masalalu itu masih menempati sedikit sisa tempat di hati. Bukankah aku juga seperti itu, saat Bang Daffa tetap menyimpan foto pernikahannya dengan Kak Melati.
"Apa aku tidak berhak tau.?" Kembali Bang Daffa berucap tanpa memberiku kesempatan untuk memilih kata. "Mawar..!" Tegas Bang Daffa.
"Dia sudah kembali, dan mencariku." Cepat aku menjawabnya tanpa berani memandang ke arah Bang Daffa.
"Chitttt.." Bunyi rem mobil Bang Daffa yang di injaknya secara mendadak, hingga membuat tubuhku maju kedepan begitupun dengan Adit yang tengah tidur di belakang.
Mobil menepi dengan Bang Daffa yang masih mencengkram kemudi erat. Lantas melempar pandangannya ke arahku yang tengah sibuk membenarkan dudukan Adit.
"Siapa yang kamu maksud dia.?" Dingin nada yang keluar dari Bang Daffa. "Katakan siapa, War."
"Apa bisa kita bicarakan nanti saja setelah sampai di rumah." Jawabku dengan harap harap takut.
Tanpa berkata sepatah katapun, Bang Daffa bergegas memacu pedal gasnya. Dan moodnya seketika berantakan dan perjalan ini berubah tidak menyenangkan seperti yang aku harapkan sebelumnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Oma.." Triak Adit girang begitu mobil Bang Daffa masuk di halaman luas rumah orang tua Bang Daffa, dan tampak disana Bu Asri dan Pak Bakti berdiri di teras menyambut kedatangan kami.
"Pelan pelan sayang." Ucapku saat Adit yang dengan semangatnya berlari begitu pintu mobil terbuka.
"Aduh, aduh. Oma tidak kuat gendong sekarang. Adit makin berisi sekarang." Ucap Bu Asri begitu Adit menubruknya.
"Bunda kuat gendong Adit." Jawab Adit.
"Buk, Pak." Sapaku dan menyalami tangan mereka berdua secara bergantian, sementara Bang Daffa sibuk dengan bawaan kami, yang planingnya akan menginap kurang lebih seminggu lamanya.
"Kalian tampak baik baik saja dan akur, War.?" Ucap Pak Bakti.
__ADS_1
"Alhamdulillah, berkat do'a Bapak." Jawabku kalem.
"Ayo masuk dulu." Timpal Bu Asri. "Ini pertama kalinya kamu datang kesini, War. Anggap saja seperti rumah sendiri ya." Lanjut Bu Asri sembari mengandeng tanganku.
"Buk, Daffin belum datang.?" Tanya Bang Daffa.
"Harusnya pagi tadi sudah sampai, tapi tidak tau anak itu kemana dulu. Pamit tidak sama Bapak.?" Tanya Bu Asri kepada Pak Bakti.
"Pamit, dia bilang mau menemui teman lama. Tapi, Bapak tidak tau dimana tepatnya." Jawab Pak Bakti.
"Yeyeye. Om Afin datang, nanti bisa tidur di tenda sama Om Afin." Girang Adit.
Kami semua tersenyum melihat tingkah Adit yang kegirangan dan larut dalam obrolan basa basi setelahnya.
"Devi apa tidak pulang, Buk.?" Tanyaku.
"Pulang, dia sedang membersihkan kamar Daffin di belakang." Jawab Bu Asri.
"Kalau begitu biar Mawar bantu. Dimana tempatnya, Buk.?"
"Bukannya, kamu harus membersihkan mamar kita." Potong Bang Daffa dengan nada santai.
"Benar, kata suamimu, War. Kamar kalian juga sudah lama tidak di tinggali."
"Ayo, kamu juga belum lihatkan." Aku merasa tidak nyaman dengan ucapan Bang Daffa, dan jika boleh aku berprasangka pasti ini ada sangkut pautnya dengan pertanyaan Bang Daffa tadi di mobil, hingga membuat mood Bang Daffa berantakan.
Bang Daffa telah berdiri dan mengambil tas berisikikan pakaian kami, sedangkan aku memilih mengambil peralatan milik Adit.
"War, punya Adit biarkan disini dulu. Nanti biar Adit tidur sama saya."
"Tap, tapi Buk." Jawabku gugub.
"Terima kasih, Buk. Daffa ke kamar dulu bersih bersih sekalian nitip Adit bentar." Ucap Bang Daffa lekas menarik tanganku dan mau tidak mau aku terhuyung mengikuti langkah panjangnya.
"Sakit, Bang." Ucapku sembari menarik tanganku dari cengkraman Bang Daffa.
"Sakit mana dengan ini." Ucap Bang Daffa sembari menepuk nepuk dadanya, seakan akan dadanya benar benar nyeri. Padahal jika boleh jujur, harusnya aku yang mengatakan hal itu kepadanya. Bukankah, selama ini Bang Daffa selalu menduakan aku dengan Kak Melati.
"Aku cemburu, War." Desisan Bang Daffa membuat mataku membulat. "Katakan siapa dia, untuk apa dia mencarimu. Apa tujuannya, seberapa jauh hubungan kalian.?" Lanjut Bang Daffa dengan menguncang bahuku yang masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
Antara melonjak bahagia dan bingung dengan pengakuan Bang Daffa, aku masih diam terpaku menatap Bang Daffa. "Cepat katakan, War. Jangan buat aku semakin penasaran."
"Ayo duduk dulu." Ku tarik tagan Bang Daffa dan mengajaknya untuk duduk di ranjang. Dan setelah Bang Daffa tenang begitupun denganku, pelan aku mulai menjelaskan dengan singkat hubunganku dengan Mas Karang. Tidak mendetail, hanya poin poinnya saja, kapan hubungan itu bermula hingga berahir tanpa kepastian.
"Sungguh, tadi aku tidak merespon chat Bia. Bang Daffa bisa lihat sendiri." Ucapku sambil menyodorkan ponsel milik ku ke arah Bang Daffa.
"Baiklah aku percaya." Ucap Bang Daffa begitu selesai melihat chat dari Bia yang hanya selarik itu saja. "Aku akan pergi agak lama. Baik baikalh bersama Ibuk." Ucap Bang Daffa lantas lekas keluar dari kamar meninggalkan aku sendiri yang sesungguhnya masih bingung dengan Bang Daffa yang dengan cepatnya berubah expresi.
Membersihkan kamar yang ukurannya lebih kecil dari kamar tidur Bang Daffa di rumah, tidaklah memakan waktu yang lama dan itu sudah termasuk merapikan baju baju kami. Usai dengan itu, aku memilih kembali ke ruang tengah yang belum sepenuhnya aku lihat tadi.
"Devi belum selesai, Buk.?" Tanyaku ke Bu Asri yang masih asik mainan sama Adit.
"Belum, anak itu lelet sekali War. Harus ada yang marahin baru bisa cepat selesai.
"Kalau begitu biar Mawar bantu, mumpung Adit anteng sama Ibuk."
"Tidak perlu, War. Sudah sana kamu istirahat saja, pasti capek."
"Tidak apa apa Buk. Saya belum lelah kok."
__ADS_1
" Jangan ngerasa enggak enak sama Ibuk. Kamu itu sudah jadi anak Ibuk."
"Benar Buk, Mawar tidak capek. Karena Mawar juga anak Ibuk, makanya biarkan Mawar bantu bantu Ibuk." Ucapku dengan tulus.
"Kamu benar benar anak yang baik, War." Ucap Bu Asri sembari mengelus bahuku pelan. "Kamu cukup temani saja Devi di belakang." Lanjut Bu Asri sembari berdiri dan mengantarku hingga sampai di belakang rumah yang lumayan luas dan aku baru sadar ternyata yang di katakan Bu Asri kamar adalah paviliun yang tadi sempat aku lihat dari kamar Bang Daffa.
Mendengarkan cerita Devi dari hingga A lagi, aku paham sekarang, bahwa aku dan Devi cukup cocok karena memang umur kami yang tidak terpaut jauh. Dan entah ini cuma kebetulan, atau memang rata rata laki laki menyukai aroma farfum yang sejenis hingga aku merasa bahwa aroma ini cukup familiar di hidungku sedari aku masuk untuk tadi.
"Ini Daffin, Vi.?" Tanyaku ke Devi begitu melihat sebuah foto seorang anak laki laki dengan kostum basketnya.
"Iya, Mbak. Itu Mas Daffin pas masih kelas satu SMP." Jawab Devi antusias.
"Kulitnya hitam ya." Ujarku.
"Tidak juga. Justru Bang Daffin tuh kulitnya bersih sendiri dari kami semua."
"Masak sih.?" Ucapku tidak percaya.
"Ya Mbak Mawar lihatnya pas Bang Daffin masih buluk." Kata Devi dengan cekikikan sembari berjalan ke arah lemari kaca yang berisikan deretan penghargaan yang tadi belum sempat aku lihat.
"Coba lihat yang ini." Aku mendekat ke arah Devi yang tengah menyodorkan sebuah figura ke arahku dan aku justru fokus ke arah deretan piala piala yang saling tumpang tindih di dalam lemari.
"Bang Daffin tuh banyak banget prestasinya, meski masih banyak Bang Daffa." Bla bla, entah apa lagi yang di katakan Devi aku tidak lagi mendengarnya karena bersamaan dengan itu mataku menangkap foto kecil disalah satu piala dan aku tidak akan salah mengenalinya, terlebih lagi saat figura di tanganku ku balik dan senyum itu benar miliknya.
"Vi, siapa nama lengkap Daffin." Lirihku, sambil berharap bahwa itu masih hanya orang yang mirip saja.
"Bang Daffin.? Kami selalu di panggil dengan nama depan kami, Mbak. Seperti Bang Daffa, Daffa Rendra Bakti. Kalau Bang Daffin, Daffin Karangseno Bakti."
"dr.Karang."
"Kok Mbak Mawar tau, kalau Bang Daffin Dokter."
"Brukk.." Aku langsung terduduk di tempatku dengan pikiran kacau. Apa mungkin Tuhan ingin bercanda denganku...
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Scane mendebarkan buat Mawar kayak e di part berikutnya...
Like, Koment dan Votenya di tungguuuuuu.....
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1