Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Ada Apa Dengannya.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Belajar berdamai, baru sebelum tertidur tadi aku mengucapkan berjanji di dalam hati ingin melakukan itu, dan sekarang orang yang aku maksud sudah duduk dengan tenang di samping bangsal bersama Aliena yang sudah berada di pangkuannya.


Menekan seluruh perasaan yang ada, aku berusaha sekuat yang aku bisa bersikap seperti tidak pernah terjadi apa apa, atau lebih tepatnya aku tidak menganggap dia ada, demi senyum Aliena mengembang menghiasi wajahnya yang beberapa hari ini terus pucat.


Berpura pura itu sulit, menahan perasaan tidak menyenangkan itu sakit, apa lagi langsung terlibat dengan sang pemberi luka, perihnya tentu nikmat tiada tara. Namun, sekali lagi aku lakukan itu demi Aliena.


Terima kasih, hanya kata itu yang bisa aku ucapkan untuknya setiap kali dia melibatkan diri antara aku dan Aliena. Jangankan mengatakan sesuatu terhadapnya, menatapnya saja dadaku terasa begitu sakitnya. Apa aku terlalu membenci, padahal aku tak ingin kebencian itu bersarang di dada.


Aliena sudah bersih dan saatnya menyegarkan diri di taman, dan selama ini setiap kali menginap di rumah sakit hanya itu yang bisa aku lalukan untuk Aliena setiap sore datang. Kali ini aku biarkan dia tau bagaimana sore yang di jalani oleh Aliena di rumah sakit.


Menolak ajakan Aliena, aku tau dia ingin bicara denganku. Dan tanpa berbasa basi panjang aku langsung mengatakan apa yang ingin dia ketahui, tentu juga menyerahkan Aliena kepadanya yang lebih mampu secara finansial dan ternyata itu tidak mudah, karena airmataku dengan tiba tiba sudah berjatuhan tanpa aku bisa melanjutkan kata kataku.


"Usaplah airmatamu, War." Terukur sapu tangan kepadaku bersama dengan kata lembut yang mungkin saja itu kalimat kasihan untuk padaku. "Lupakan soal keinginanku untuk membawa Aliena. Karena sekarang aku tau, Aliena tergantung padamu dan kamu yang lebih berhak dari aku." Lanjutan katanya membuat kepalaku terangkat untuk memastikan ucapannya.


Anggukan kecilnya membuat aku merasa oksigen di dadaku mengalir lancar. Dan tanpa berkata lagi aku kembali merapikan tempat tidur yang tadi sempat terhenti.


"Lekas selesaikan, War. Aku akan menunggumu di bawah bersama Aliena." Katanya lagi sebelum melangkah pergi menuju ke tempat Aliena berada.


Sengja berlama lama membereskan segala sesuatunya, aku memang ingin tinggal lebih lama disini agar tidak perlu berada di satu tempat dengan Ayah Aliena. Mustahil memang setelah ini, tapi setidaknya aku butuh mempersiapkan diri serta menatanya segala setelah hari ini.


Tidak akan mungkin semua kembali seperti duku, atau seperti tidak terjadi apa apa. Canggung, sudah pasti. Untuk itulah, aku butuh beberapa waktu lagi agar rasa perih, sesak, sakit di dada tidak menjadi pemicu bagiku untuk berkata yang tidak baik kepadanya terlebih di hadapan Aliena.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Alasan yang aku buat untuk berlama lama di dalam kamar rawat Aliena tidak ada lagi. Apa lagi setelah Aliena dan Ayahnya melihatku yang memperhatikan mereka dari jendela, membuat aku tidak bisa lagi tetap tinggal disini melihat Aliena melambaikan tangan meminta aku datang kepada mereka.


Mau cepat, mau lambat, langkah itu pasti sampai di tujuan, karena langkah itu tak ubahnya seperti do'a. Selama konsisten langkah ke tujuan, akan sampai juga pada ahirnya. Seperti langkahku yang aku buat sepelan mungkin, ahirnya tetap sampai kepada Aliena dan Ayahnya.


"Bunda, lihat burungnya berterbangan." Sambut Aliena begitu melihatku semakin dekat kepadanya.


Menoleh ke arah Aliena menunjuk, dengan cepat senyum dengan terampil tersunging dibibirku. "Banyak sekali burungnya hari ini." Jawbaku.


"Mungkin burungnya habis piknik bersama." Kata Ayah Aliena yang itu sukse membuat Aliena terkikik bahagia.


"Burung juga piknik, Yah. Apa benar itu Bunda.?" Tanya Aliena sembari menatap kami berdua bergantian. Aku memilih mengangkat bahuku sebagai jawbana tidak jelasku.


"Bisa jadi iya, bisa jadi karena mereka memang senang bergerombol." Ayah Aliena membari jawaban.


"Kalau burung saja piknik, berarti hanya Aliena yang tidak pernah piknik." Tatapan Ayah Aliena langsung tertuju kepadaku dan tertinggal hingga beberapa detik lamanya, sebelum ahirnya aku memilih memutus tatapan rendomnya kepadaku.


"Kan dulu pernah, bersama dokter Papa. Aliena ingat.?" Hawa dingin seketika aku rasakan membelai tengkukku begitu aku selesai dengan ucapanku. Dan setelah aku memastikan, aku tau penyebabnya. Yakni tatapan yang tak terbaca dari Ayah Aliena kepadaku.

__ADS_1


"Itu beda, Bun. Aliena mau sama Ayah dan Bunda, juga Abang. Bolehnya ya, Yah.?" Aliena meraih tangan Ayahnya yang membuat Ayah Aliena mau tak mau memutar kepalanya meninggalkan tatapan ambigunya dariku.


"Nanti setelah Aliena baikan dan Abang libur sekolah." Jawab Ayah Aliena.


"Asik, Alin akan cepat baik." Kata Aliena girang. Dan setelahnya begitu banyak kata yang di tanyakan Aliena, hingga membuat Ayah Aliena merasa cukup heran dengan banyaknya diksi yang dimiliki Aliena.


Tatapan minta tolong Ayah Aliena lontarkan kepadaku, setelah cukup lelah menjawab pertanyaan Aliena.


"Burungnya sudah sibuk kembali ke sarang, saatnya Alin juga kembali ke kamar. Ayo." Ucapku pelan.


"Sebentar lagi ya Bunda." Aku menggeleng dengan ucapan Aliena dan dengan cemberut lucu Aliena membuang pandangannya kepada Ayahnya.


"Ayah tidak bisa membantu, kan Bunda yang punya perintah." Jawab Ayah Aliena yang pahan dengan tatapan yang di tujukan padanya.


"Baiklah, Alin akan jadi seperti anak burung yang baik. Tapi, Alin mau Ayah yang mendorong kursi rodanya."


"Siap, Kapten." Sikap hormat langsung di tunjukan Ayah Aliena, lantas dengan sigap kursi roda sudah berjalan pelan dengan aku yang mengiringi mereka berdua dari belakang.


"Dia sama cerewetnya seperti kamu." Selarik kata Ayah Aliena membuat aku memandangnya yang tengah tersenyum setelah membaringkan Aliena di bangsalnya.


"Setidaknya masih ada yang tersisa bagiku, karena semua sudah kamu ambil sendiri di wajah Aliena." Aku tidak bermaksud apa apa dengan ucapanku, itu hanya ucapan spontan saja.


Kami sama sama diam, dan hanya sesekali bersuara jika Aliena bertanya. Tapi, tak jarang mata kami bersirobrak dan aku tidak tau harus mengartikan apa dengan tatapannya itu, ketika matanya tertinggal cukup lama menatapku.


"Maaf, Papa datangnya... agak kesorean." Kata kata Rendi tiba tiba menjadi cukup pelan saat melihat ada orang asing yang berada bersama kami. "War, ini baju ganti kamu dari Erik."


"Senang sekali pasti Aliena. Sini bagi bagi senangnya sama Papa." Jawab Rendi sambil menyodorkan pipinya kepada Aliena.


Kecupan sayang Aliena untuk Rendi membuat senyumku terbit dengan ranumnya di bibirku. Tanpa ada perasaan was was, tanpa ada perasaan takut terampas, aku menikmati pemandangan di depanku, tanpa berpikir bahwa ada orang yang lebih berhak mendapat kasih sayang Aliena daripada Rendi.


Deheman pelan Ayah Aliena, membuat aku tersadar. "Ren, kenalkan ini Ayah Aliena." Ucapku.


"Rendi." Rendi dengan cepat mengulurkan tangannya bersama dengan senyum ramah khas Rendi. Tapi, tidak dengan Ayah Aliena. Tatapannya dingin, geraknya kaku dan wajahnya menunjukan ketidak sukaan terhadap Rendi. Aku bisa maklum dengan itu, tapi tidak bisakah itu dia tunjukan kepadaku saja.


"Aku akan mengurus perpindahan kamar Aliena." Ucap Ayah Aliena, setelah melepaskan jabatan tangannya dari Rendi, yang aku rasa itu terjadi cukup lama.


"Eh, apa itu perlu.?" Jawabku cukup kaget.


"Aku rasa itu perlu, War." Dingin, nada itu kembali terdengar. Tapi kenapa..??


"Ayah akan segera kembali." Pamit Ayah Aliena hanya kepada Aliena saja. Ada apa dengan orang ini.


Aku menyusul langkah tergesa Ayah Aliena, bukan apa apa, aku hanya perlu ikut bersama dengannya menentukan kamar rawat untuk Aliena. Mau bagaimanapun, dan tidak berkontribusi apapun aku, setidaknya dia harus melibatkan aku di dalamnya.


"Kenapa kamu ikut keluar.?"

__ADS_1


"Kenapa.?" Ulangku dengan bingung.


"Iya kenapa.?"


"Kenapa apanya, bukankah kamu ingin menemui perawat.?" Tanyaku balik.


"Seharusnya kamu tetap disana, mengawasi Aliena."


"Sudah ada Rendi. Rendi jauh lebih tau apa apa yang boleh dan tidak boleh untuk Aliena." Jawabku masih realistis.


"Kamu kan Ibunya, kenapa harus Rendi yang lebih tau." Aku tau yang aku dengar ini adalah nada marah Ayah Aliena. Tapi sekali lagi ada pertanyaan di dadaku, kenapa..?


"Karena Rendi adalah dokter Aliena dari awal." Jawabku mencoba meluruskan.


"Dokter.?"


"Iya."


"Hanya dokter.?" Mata, ada apa dengan mata Ayah Aliena yang tiba tiba membesar.


"Maksudnya.?" Tanyaku heran.


"Tanyakan sendiri padamu, apa ada seorang dokter mengantarkan baju ganti untuk ibu pasiennya. Aku tidak sebodoh itu, War.!" Langkahku terhenti dengan seketika, bahkan aku sampai menelan salivaku dengan susah payah, mendengar ucapan Ayah Aliena.


Bukan tanya mengenai Rendi yang berada di otakku, melainkan tanya mengenai sikap Ayah Alina yang berubah dengan cepat hanya dengan kehadiran Rendi. Jika itu soal Aliena aku bisa paham, tapi itu menyangkut aku. Ada apa dengannya yang repot sekali mengurusi sikap Rendi kepadaku. Harusnya dia tidak perlu berlebihan seperti itu. Ada apa dengannya..?


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Koment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi.

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2