
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pandanganku semakin mengabur, seiring dengan kepalaku yang berdenyut denyut dan ini sudah hampir empat hari aku abaikan karena kesibukan yang seakan bertubi tubi datang, di tambah dengan beberapa tekanan yang aku rasa sedikit demi sedikit Bu Mega selalu ingatkan kepadaku, meski itu tidak di sampaikan secara gamblang.
Ya, ini sudah enam bulan berlalu sejak Bu Mega dan Ayah juga Ibunya Bang Daffa datang berkunjung ke Pesantren. Dan mulai saat itu, hampir setiap minggunya Bu Mega akan mengabarkan keadaan Adit, juga sekaligus berbicara panjang lebar mengenai peranan Ibu sambung bagi Adit.
Puncaknya adalah minggu lalu, saat Bu Mega dengan terang terangan meminta kesediaanku untuk menjadi Ibu sambung bagi Adit, dengan alasan karena Adit yang begitu menyayangiku ataupun sebaliknya. Memang Bu Mega tak memintaku untuk menjawabnya saat ini, tapi dari nad abicaranya meminta padaku itu seakan tidak menginginkan jawabanku adalah tidak.
Dan karena perkataan Bu Mega inilah yang membuatku beberapa hari ini terus berpikir keras, sampai sampai aku di omeli oleh Bia karena makananku sering hanya tersentuh sedikit ataupun utuh di piringnya. Ingin aku menceritakan kepada Bia soal permintaan Bu Mega, tapi saat aku kembali mengingat kebaikan Bia kepadaku, aku takut jika Bia akan terlarut memikirkan ini.
Ingin juga aku mengatakan kepada Mas Karang mengenai hal ini, namun aku takut jika Mas Karang berpikir aku terlalu agresif menjadi seorang perempuan. Tapi, jika aku tak membicarakan ini dengan Mas Karang, aku juga tidak akan bisa mengambil keputusan untuk Bu Mega.
"War, kamu baik baik saja." Ucap Bia saat langkahku tidak lagi setabil, karena denyut di kepalaku yang semakin menjadi, bahkan lantai di depanku seakan ikut berputar putar. "Ya Allah, War. Badan kamu panas banget." Histeris Bia dan segera memapahku menuju arah yang berlawanan dari tujuan kami semula.
"Bi, kita mau kemana.?" Tanyaku ke Bia di sela sela langkah kami.
"Ke Rumah Sakit terdekat." Jawab Bia dengan cepat sembari sibuk menghubungi seseroang lewat ponselnya.
"Bi, tidak perlu sedrama itu. Kita kembali ke Pesantren saja, setelah istirahat pasti aku akan baikan."
"Kali ini saja jangan ngeyel. Kamu tuh udah lemes kayak gini. Dari kemarin sih makan suka telat telat." Oceh Bia.
"Bi, aku ma.."
"Tidak, aku tidak dengar apa apa. Kamu nurut sama aku. Titik." Potong Bia.
Bia mendudukan aku di depan minimarket dan bergegas masuk kedalam. Tak lama setelahnya Bia kembali dengan air mineral yang sudah di bukanya dan menyodorkan kepadaku.
"Pahit." Ucapku sembari menggeleng.
"Ya emang pahit, kamu harus banyak minum air putih biar tidak dehidrasi." Ngeyel Bia dan tetap mengangsukan botol berisi air kepadaku.
Dengan tangan bergetar hebat dan kepala yang semakin berat, aku menerima juga air dari Bia dan meneguknya beberapa kali karena pelototan mata Bia.
"Huk, huek." Air yang masih berada di kerongkonganku sudah kembali aku muntahkan dengan di sertai keringat dingin yang berderedesan di wajahku bahkan terasa dingin di punggungku.
"War, kamu masih bisa bertahan sebentar lagi kan." Panik Bia sembari menepuk nepuk pipiku.
"Hemmm." Jawabku
"Jangan merem dulu, War. Buka matamu, jangan pingsan dulu." Panik Bia.
Di tengah tengan antara sadar dan tidak aku terus menjawab ucapan Bia, tapi entah kata kata apa yang aku ucapkan kepada Bia. Karena suara Bia semakin lirih terdengar dan pada ahirnya aku menyerah dengan menutup mataku setelah berusaha sekuat tenaga agar terus terjaga.
Sebelum aku benar benar pulas tertidur, sayup sayup seperti aku mendengar suara Mas Karang dan tak lama setelah itu aku seperti meringan dengan terbang dalam keheningan.
Setelah gelap panjang dan sunyi senyap yang menemani, ahirnya kembali aku mendengar gumaman atau lebih tepatnya seseorang tengah berbicara. Membuka mata perlahan, aku mengedarkan tatapan ke semua arah dan mendapati ruangan putih bersih dengan aroma khasnya yang membuatku hendak muntah kembali.
"Jangan di tahan. Di keluarkan saja." Ucap Mas Karang pelan.
"Masih mual.?" Tanya Mas Karang lagi yang hanya ku jawab dengan gelengan kepala pelan.
__ADS_1
"Bia dimana.?" Tanyaku kepada Mas Karang.
"Tak suruh pergi makan." Jawab Mas Karang pelan. "Apa kamu mau sesuatu.?" Tanya Mas Karang.
"Mau air." Jawabku lemah.
Tanpa bicara lagi, Mas Karang segera mengambilkan air mineral dan meminumkannya kepadaku.
"Terima kasih." Senyum tipis Mas Karang coba ukir untuk ku. Aku tau Mas Karang sedang capek, itu dapat terlihat dari wajahnya yang terliaht kusut, di tambah sorot matanya yang entah seperti apa aku harus mengutarkannya, karena disana terlihat kwatir sekaligus sesak juga lelah.
Ada banyak tanya dari sorotnya, tapi sorot kwatir dan takut jauh lebih dominan. Bahkan dari helaan nafasnya juga terlihat bahwa gejolak di dadanya sedang diliputi delema. Mungkinkah itu karena aku yang menjadi penyebabnya.
"Mas Karang, kapan aku boleh pulang.?" Tanyaku ahirnya.
"Tergantung dari semangat kamu untuk lekas sembuh."
"Aku tidak suka bau Rumah Sakit."
"Siapapun tidak menginginkannya, Mawar." Jawab Mas Karang pelan yang kini tengah pura pura sibuk memeriksa infuse yang menggantung.
"Sampean tidak sibuk, harusnya Dokter seperti sampean tidak menganggur saja kan atau hanya memiliki satu pasien saja." Ucapku mencoba keluar dari percakapan yang tidak mengenakkan.
"Bisa jadi seperti itu. Apa lagi pasiennya pacar sendiri." Mas Karang ikut berkelakar yang membuat aku sibuk memalingkan wajahku ke lain arah. Entahlah, setiap kali Mas Karang menyebut aku pacaranya, setiap itu pula aku akan merasa sangat malu. Padahal ini bukan kali pertama Mas Karang mengucapkannya.
"Mawar, coba lihat kesini." Kata Mas Karang lagi.
"Kenapa, aku maunya lihat kesana kok." Kilahku.
"Tidak, tidka ada, memang apa yang harus aku jelaskan." Jawabku masih kekeh tak mau melihat ke arah Mas Karang.
"Baiklah, kalau memang kamu tidak mau, akan lebih baik aku kembali ke ruanganku. Istirahatlah. Krekk." Ucap Mas Karang di barengi dengan suara dari kursi yang di gesernya.
Marah, apa Mas Karang marah dengan tingkahku. Tapi, aku tau Mas Karang bukan orang yang lekas marah. Namun, saat tubuh capek dan di tambah dengan pikiran, jelas akan mudah marah.
"Mas, maaf." Ucapku saat ku lihat Mas Karang yang sudah berdiri membelakangi ku dan bersiap untuk menuju pintu keluar.
Aku semakin merasa bersalah saat Mas Karang tidak mengindahkan kata kataku dan malah melangkah menuju pintu. Aku terpekur menatap pintu yang sudah tertutup menelan Mas Karang di baliknya.
Beberapa lamanya aku masih saja menatap pintu yang tertutup rapat, berharap Mas Karang akan kembali dengan senyumnya. Tapi, hingga pintu itu kembali terbuka dan membawa Bia masuk ke dalam ruangan, Mas Karang masih tak kembali lagi.
Dan begitu terdengar pintu kembali terbuka, dengan cepat kepalaku menoleh ke arah sana. Namun, lagi lagi aku harus merasa kecewa oleh perbuatanku sendiri. Karena yang datang bukan Mas Karang melainkan perawat dengan beberapa obat serta jarum suntik yang berada di nampannya.
"Selamat sore, Mbak Mawar." Sapa dua orang suster dengan senyum ramahnya.
"Selamat sore, Sus." Jawabku.
"Apa masih, mual, pusing atau ada keluhan yang lainnya.?" Tanya suster dengan tubuh gempal.
"Sedikit pusing sama lemes saja, Sus." Jawabku.
Dua suster itu terus saja mengajak ku ngobrol sembari melakukan tugasnya, dan saat sudah selesai mereka berdua saling menyikut hendak menyampaikan tapi seakan takut karena Bia yang sedari tadi terus menempel di samping bangsalku.
"Apa masih ada yang perlu di periksa lagi, Sus.?" Tanya Bia.
__ADS_1
"Tidak, tidak ada lagi, Mbak."
"Kalau boleh tau, penyakit apa yang sedang menyerang teman saya, Sus." Tanya Bia.
"Soal itu akan lebih baik anda tanyakan saja langsung dengan Doktet, karena Dokter yang bersangkutan akan menjelasakan dengan gemblang."
"Seperti itu. Kalau begitu biar besok saya ketemu dengan dr.Karang." Jawab Bia dengan menggut manggut.
"Maaf, yang menangani Mbak Mawar bukan dr.Karang, tapi dr.Rissa. Kalau mau bertemu beliau sedang berada di poli saat ini." Ucap suster menjelaskan.
"Eh, iya kah. Saya kira dr.Karang. Kalau begitu saya tak menemui dr.Rissa sekarang saja. War, kamu sendirian dulu yah." Ujar Bia dengan cepat cepat beridiri dan pergi dari kamar inapku dan itu di ikuti salah satu suster.
"Sus, apa masih ada lagi.?" Tanyaku karena melihat satu suster yang belum keluar.
"Oh itu, Mbak. Ada titipan dari dr.Karang. Tapi, masih di loker saya. Sebentar saya ambilkan." Ucapnya dan segera keluar dan tak lama setelah itu kembali lagi dengan sebuah pepper bag kecil di tangannya. "Ini, Mbak."
"Terima kasih, Sus." Ucapku begitu tanganku menyentuh papper bag. Suster pamit pergi dengan senyum manisnya.
Ku tatap sekilas papper bag di pangkuanku, kemudian memeriksa isinya. Sebelum aku fikus pada benda yang berkilau di dalamnya aku lebih dulu menarik secarik kertas yang juga ikut serta di dalam papper bag tersebut.
Tulisan tegak bersambung terjajar rapi di tengah kertas putih tersebut. Dan tulisan ini tidak seperti tulisan seorang Dokter pada umumnya, karena ini terlalu bagus untuk ukuran tulisan Dokter.
Cinta dan rindu itu sama beratnya. Tapi ada yang jauh lebih berat lagi saat menahan rindu dengan segala tanya, apakah orang yang di rindukan memiliki cinta dan rindu yang serupa.
Aku ada tugas beberapa hari ke depan di luar kota. Aku sangat menghargai kejujuranmu, Mawar, andai kamu mau menjelaskan ada apa denganmu meskipun aku sudah tau. Tapi, jika kamu mau mennjelaskan kepadaku, setidaknya aku merasa bahwa hubungan ini tidaklah hanya aku seorang yang berusaha untuk mengenalmu.
Aku menunggumu di tempat biasa seminggu lagi. I Love You.
"Sungguh, aku juga memiliki perasaan yang sama. Hanya saja, aku butuh waktu untuk menceritakan segalanya agar tidak membebanimu. Karena hubungan ini belum memiliki nama yang jelas." Gumamku sembari melipat kertas dan mengembalikan ke dalam papper bag, lantas beralih meraih kristal berbentuk bunga Mawar dalam sebuah kotak kaca.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1