
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sejauh jauhnya burung terbang pasti akan kembali juga ke sarangnya. Kata kata ini aku rasa tepat sekali untuk aku tunjukan kepada diriku saat ini. Dua tas besar sudah tertata rapi di samping pintu kamar kami. Khadijah 12, tulisan yang tertera di pintu kamar kayu jati yang telah aku huni selama dua tahun ini.
Banyak cerita yang andai kata di tulis, itu mungkin akan jadi berbab bab sebuah Novel. Suka, duka kebersamaan, tangis dan tawa kerinduan semua kami rasakan bersama. Namun, sesuka sukanya kami disini, ada tempat dimana rindu tetap tertanam. Dan seperti layaknya burung yang akan kembali ke sarangnya, kami juga merindukan tempat ternyaman kami untuk kembali.
Kembali pulang, berarti sudah siap dengan segala konsekuensi yang harus di terima. Tapi, aku sama sekali tidak ingin perduli dan tetap memilih kembali dimana ternyaman tempatku berada. Rumah. Antara asing dan tidak, tapi disanalah tempatku berada, dimana lebih dari separuh hidupku aku habiskan bersama orang asing yang menjadikan aku keluarga.
Apa tidak ada kerinduan di hatiku akan tempat dimana aku di lahirkan.? Jelas ada, tapi kali ini saja, biarkan aku membumbung tingikan anganku, membawa kepulanganku kali ini di sambut oleh rasa yang sama. Biarkan rasa ini miliki tempat yang tepat.
Cukup lama memang aku pergi dari tanah kelahiranku, dan meninggalkan gundukan tanah dimana kedua orang tuaku berada. Sekali lagi, bukan aku tak merindukan mereka, aku hanya tak ingin kembali karena merasa tidak di inginkan lantas menggiring opini banyak orang dan menyisakan tatapan kasihan. Aku ingin ketika aku kembali kesana, orang melihatku bukan sebagai yatim piatu yang lemah.
Meski aku tidak pulang kesana, tapi ada tempat yang paling nyaman untuk menyampaikan rinduku kepada mereka berdua, yakni lewat bait do'a yang senantiasa aku lantunkan, semoga syurga tempat terahir mereka berada serta bersama sama dan kelak disana pula aku akan menyusulnya.
Setengah jam yang lalu di kamar ini masih ramai, sebelum santri santri yang lain di jemput oleh orang tua ataupun wali masing masing. Begitupun dengan Bia yang sekarang sedang menikmati perjalan kembali ke rumahnya dengan kedua orang tua serta adik adiknya.
Bagaimana denganku.? Sama, aku juga sedang menunggu jemputan, tapi bukan orang tua, saudara terlebih waliku, melainkan travel yang aku pesan dua hari yang lalu. Jangankan untuk meminta jemput pulang, kepulanganku saja tidak aku kabarkan kepada mereka. Aku hanya menelfon nomer ponsel Kak Melati dan menanyakan kabar mereka seminggu yang lalu.
Aku menyadari beberapa hal setelah aku menelfon Kak Melati tempo hari, ternyata dua tahun itu bukanlah waktu yang singkat selayaknya yang kami rasakan disini. Semua telah berlalu dan berganti dengan beberapa anggota baru.
Adit, seperti itu Kak Melati memanggilanya. Dan karena suara tangisnya yang masuk ke panggilan kami membuatku tak sabar untuk lekas kembali dan bertemu dengan keponakanku.
Bayangan wajah mungil dengan pipi gembil dan tentu saja lucu memenuhi seluruh rongga otak ku, hingga sebuah suara panggilan yang menyerukan namaku dari pengeras suaralah yang menyadarkan aku, lantas membawa tubuhku menuju pintu gerbang yang terbuka lebar.
Menjijing tas besarku menuju ke Travel setelah berpamitan dengan para pengurus serta keluarga Dhalem, aku melangkah mantap selayaknya kemantapanku dua tahun silam meninggalkan rumah. Seperti pula keinginanku nanti saat kembali kesini.
Ada hal hal yang terlalu aku kwatirkan sebelumnya saat aku kembali, salah satunya adalah tentang perasaanku terhadap Bang Daffa tentunya. Namun, setelah mendengar suara Adit, seluruh keraguanku sirna. Tidak ada lagi rasa yang tersisa, seperti keputusanku untuk melepas semuanya dan menginginkan kebahagiaan Bang Daffa bersama Kak Melati. Dan kehadiran Aditlah puncak dari kebahagian mereka.
Perlahan dan pasti jarak semakin terkikis seiring dengan berputarnya detik ke menit, menit ke jam, hingga tidak terasa sudah lebih dari enam jam lamanya aku duduk di mini bus yang membawaku membelah jalanan kembali ke Ibu kota Propinsi. Kepadatan dari jalan raya sudah terlihat seiring dengan berjubalnya kendaraan yang memburu waktu agar sampai di rumah dengan cepat.
__ADS_1
Ya, ini adalah jam pulang kerja. Jadi, akan sangat wajar jika voleme kendaraan di jalan raya meningkat, hingga menyebabkan kemacetan panjang. Di tambah lampu lalu lintas yang seperti lebih banyak merahnya dari pada hijaunya, membuatku ikut menghela nafas dalam selayaknya sopir yang seakan begitu jenggah dengan kemacetan yang terjadi.
Meninggalkan jalanan kota yang padat beberapa menit lalu, perlahan mini bus yang aku tumpangi sudah mulai memasuki areal perumahan elit setelah melawati ijin pos penjagaan terlebih dahulu. Dan disinilah sekarang mobil benar benar berhenti dengan senyum ku yang semakin melebar.
Aku masih berdiri di depan pagar rumah yang tak tertutup ini dengan masih menyungingkan senyum ku, memindai setiap sudut dari bangunan dari rumah yang senantiasa aku rindukan. Dan, senyumku semakin merekah di saat bersamaan sebuah motor besar datang dengan suaranya yang meraung berhenti tepat di pintu gerbang sebalah rumah ini.
Erik, ya dia adalah Erik sahabatku. Mengangkat kaca helmnya, Erik memandangku dengan tatapan yang tak bisa untuk ku jabarkan maknanya. Wajah yang juga aku rindukan itu terlihat datar, meski terlihat jelas di mataku bahwa ada keterkejutan disana. Bahkan senyum yang aku sungingkan untuknyapun sama sekali tak di hiraukannya begitu pintu gerbangnya terbuka. Dan Erik memilih memacu pedal gasnya memasuki halaman rumahnya. Kami seperti orang asing.
Menghela nafas dalam, aku ikut melangkah memasuki halaman yang masih sama seperti dua tahun lalu. Dan memacu langkahku agar lekas sampai ke dalam rumah, saat terdengar di runguku suara tangis bayi. Pintu yang terbuka lebar membuatku dengan leluasa memasukinya dan mencari sumber suara tersebut.
Di sana di dalam ruang keluarga, dalam dekapan Kak Melati yang tengah panik, tengah menangis seorang bayi dengan pipi gembilnya yang mulai memerah. Tidak jauh dari Kak Melati yang tengah berusaha menenangkan tangis Adit, ikut juga Bu Mega yang menawarkan beberapa mainan kepada Adit yang sama sekali tak menghiarukannya.
Meletakan tasku di sembarang tempat ku hampiri mereka dan dengan cepat mengulurkan tanganku ke arah Adit yang entah karena kebetulan atau karena memang naluri saja, Adit langsung menerima uluran tanganku di sertai dengan wajah kaget sekaligus heran Kak Melati dan Bu Mega.
"Anak pintar, cup cup sanyang." Ucapku sembari menyeka keringat serta air mata Adit yang tumpah jadi satu.
"Mawarrrr..." Pekik Kak Melati seraya merangkulku dan membuat Adit yang sudah sedikit tenang tiba tiba kembali menangis lagi.
"Anak nakal, anak bandel. Berani beraninga pulang tidak kasih kabar dulu." Cecar Kak Melati. "Adit tau ya, kalau Aunty Mawar mau pulang makanya rewel." Lanjut Kak Melati seraya mencubit pipi Adit gemas yang sekarang sudah tersenyum manis dalam gendonganku.
"Bu." Ucapku seraya mengulurkan tanganku menyalami Bu Mega yang sama sekali tak mengeluarkan kata katanya.
Meraih jabatan tanganku, ku rasakan sedikit keterpaksaan disana. "Apa kabar, Bu.?" Tanyaku.
"Seperti yang kamu lihat, baik baik saja." Jawab ketus Bu Mega seperti biasa gaya bicaranya denganku.
Ku balas kata kata ketusnya dengan ulasan senyum seraya berucap syukur. "Alhamdulillah."
"Eh, Adit pewe banget deh. Kayak udah biasa saja sama kamu, War." Ucap Kak Melati memperhatikan Adit yang menikmati gendonganku.
"Adit tau kalau Mawar Auntynya. Iyakan sayang.?"
__ADS_1
"Gitu ya sayang. Duh, anak Mama udah pinter milih milih ya. Padahal di gendong Oma saja jarang mau." Ucapan Kak Melati membuatku menoleh ke arah Bu Mega yang terlihat tidak menyukai situasi ini.
"Ayo sini sama Mama, Aunty baru sampai masih capek." Kata Kak Melati lagi sembari mengulurkan tangannya ke arah Adit.
"Harusnya kamu itu bersih bersih dulu, baru pegang Bayi. Kamu tau kan kalau Bayi itu sensitif." Timpal Bu Mega.
"Mama apaain sih, orang tadi Aditnya yang rewel dan justru karena Mawar dia bisa tenang kok." Sahut Kak Melati. "Sudah War. Jangan hiraukan Mama. Sana kamu bersih bersih dulu sebelum Papa sama Mas Daffa sampai rumah habis itu kita makan bareng kayaknya tadi Bang Nusa bilang mau mampir. Nanti sekalian kamu bisa kenalan sama Istri Bang Nusa." Ucap Kak Melati lagi, sembari mendorong tubuhku agar menjauh dari tempatnya.
Aku tau, itu Kak Melati lakukan agar aku tidak perlu mendengarkan kata kata pedas Bu Mega yang sering sekali di lontarkan padaku. Dan aku masih tidak bisa mengambil hati Bu Mega meski sudah cukup lama aku menjadi bagian dari keluarga ini.
Perih, getir, sedih, sakit hati akan ucapan Bu Mega, sudah sering aku lalui dan alasanku tetap tabah dan tenang adalah Kak Melati. Tidak akan mungkin selamanya Bu Mega tetap seperti itu, akan tiba nanti dia juga pasti akan menganggap keberadaanku di dekatnya juga penting. Batu saja yang setiap hari tertetesi air akan lubang juga, begitupun dengan hati Bu Mega, yang aku yakin suatu saat nanti akan melembut bagiku. Meski untuk itu aku harus lebih bersabar.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862