Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Syukur Paling Nyata.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jika ini sebuah kebetulan, kenapa Tuhan tidak memberikan kejutan yang indah saja, kenapa harus dia yang berdiri disana. Tidak cukupkah kejutan hari ini yang telah ku terima, hingga harus bertemu dengan orang yang paling tak ingin aku temui bahkan dalam mimpi sekalipun.


Daffa Rendra Bakti, entah karena maksud apa Tuhan harus mempertemukan aku dengannya hari ini, dan tatapan matanya yang menyorot penuh kaget serta masih sama seperti di tahun tahun yang terbuang bersamanya penuh intimidasi.


Setelah kekagetan ini berahir, aku memilih memutar kakiku untuk kembali darimana pintu aku berasal. Enggan, itukah yang aku rasakan. Atau sesungguhnya lebih tepatnya aku belum siap untuk kembali mengingat setiap sayatan yang pernah di tinggalkan di dada jika aku terus maju. Dan mungkin yang paling tidak masuk akal untuk aku pikirkan adalah ketika dia melihat Aliena lantas menginginkannya, walau jawabnya jelas tak akan mungkin terjadi.


Sampai tepat di ujung tangga, dengan cepat tanganku meraih gagang pintu dan sudah hendak menariknya, namun tiba tiba tangannya sudah terulur untuk kembali menutup pintu yang sudah hampir terbuka di depanku.


"Apapun tujuanmu datang kemari, aku tak ingin kamu bertemu dengan Adit. Sudah cukup kekacauan yang kamu tinggalkan untuk kami." Aku tidak salah, dia masih sama. Karena bukan gayanya, jika tidak meninggalkan luka di setiap katanya, bahkan sampai di tahun yang telah berganti hingga lima kali lamanya.


"Kamu dengar.!" Kembali ucapannya menegaskan bahwa dia tak ingin di bantah.


"Aku tau posisiku. Dan kamu juga harus tau posisimu." Jawabku kembali ingin menarik gagang pintu tanpa mau melihat wajahnya.


"Aku pegang ucapanmu." Desisnya dengan nada sinis.


Harusnya aku dulu percaya jika tidak ada orang yang berubah secara instan, dengan begitu aku tidak akan pernah tertipu dengan sikap baik Bang Daffa kepadaku. Namun, jika di kembalikan lagi, bahwa setiap peristiwa pasti membawa hikmah, maka Aliena yang menjadi hikmah serta pelajaran berharga buatku.


Bergegas meninggalkan seseorang yang masih tak ingin berdamai dengan masa lalu, aku langsung melesat meninggalkan tempat itu dengan arah yang berlawanan dengannya. Dan tak ingin tau pula apa yang membuatnya berada di sini.


Jika itu hanya soal uang yang baru aku tarik dari ATM pagi ini, kenapa harus serepot itu dan harusnya juga tidak perlu sekaget itu pula. Entahlah, aku tak mau tau.


Sampai di ruang rawat Aliena aku kembali harus di beri kejutan dengan orang yang tengah bercanda dengan Aliena. Tidak ada yang banyak berubah dengannya, kecuali jambangnya yang dia biarkan tumbuh dengan di cukur rapi, serta kaca mata yang membingkai mata teduhnya. Dia adalah Mas Karang.


"Aliena tau bagaimana cara mengenalinya. Tapi janji Om dokter tidak boleh kasih tau orang lain, karena ini rahasia perempuan." Aku mampu mendengarnya karena aku memilih bersembunyi di balik tirai pembatas.


"Janji, dan sekarang ini jadi janji Aliena dan Om dokter." Jawab Mas Karang.


"Jadi seperti ini." Entah apa yang di lakukan oelh Aliena kepada Mas Karang, hingga Mas Karang tertawa geli dengannya.


"Baik, besok Om dokter akan lakukan seperti yang Aliena beri tau. Jadi, ingat pesan Om dokter tadi ya. Harus banyak makan dan minum air putih, tidak boleh main di panasan dan tidak."

__ADS_1


"Kenapa banyak tidaknya, pasti Aliena akan bosan di rumah terus." Jawab Aliena dengan nada kesalnya, pasti saat ini bibir kecil itu akan mengerucut lancip dan tentu akan sangat menggemaskan sekali.


Kembali suara tawa Mas Karang terdengar dengan membahana begitupun dengan suara suster yang datang bersama Mas Karang. "Kenapa kamu harus mengemasakan seperti ini, persis seperti seseorang yang lucunya lugu." Gumam Mas Karang sebelum ahirnya melangkah meninggalkan tempat Aliena.


"Oh iya, Sus. Dimana orang tuanya." Mas Karang berhenti tepat di balik tirai tempatku bersembunyi yang itu sukses membuat dadaku berdebar hebat.


"Bundanya sedang bertemu dengan dr.Ria. Dan selama seminggu yang saya lihat Aliena hanya bersama Bundanya saja, Dok."


"Hemm, seperti itu. Sungguh di sayangkan anak sekecil itu harus menderita penyakit langka." Mas Karang berkata lirih. "Baiklah, nanti sembari menyerahkan hasil pemeriksaan saya ke dr.Ria, sampaikan bahwa saya menunggunya untuk diskusi lebih lanjut." Lanjut Mas Karang dan setelahnya memacu langkahnya meninggalkan ruang rawat inap Aliena.


Aku keluar dari tempatku bersembunyi ketika aku rasa sudah aman, dan lekas menemui Aliena yang masih memanyunkan bibirnya sembari menatap ke bawah dimana taman berada.


"Bunda lama sekali, Aliena hampir saja turun sendiri." Ucap Aliena.


Segera ku raih tubuh kecil itu dalam pelukanku dan merasakan detak jantungnya yang beradu dengan jantungku. "Maaf. Maafkan Bunda." Ucapku dengan menahan airmata yang senang sekali berada di pelupuk mataku, padahal sebelumnya aku sudah berjanji tidak akan mengangis di depan Aliena.


"Bunda, kenapa Bunda menangis.? Apa Aliena melakukan kesalahan.?" Cecar Aliena sembari menyeka airmataku dengan tangan kecilnya. Dan saat tangan itu menempel di pelupuk mataku, justru airmataku semakin gencar keluar.


Usapan demi usapan serta kata kata semangat yang di lontarkan oleh Aliena membuat hatiku kembali sadar, bahwa bukan airmata yang menjadi jalan keluar bagiku. Melainkan bagaimana aku terus tetap tegar dan memfokuskan untuk kesehatan Aliena, meski dokter telah memvonis karakter penyakit yang di derita Aliena tidak dapat di sembuhkan, bukan berarti aku lupa, bahwa obat dari segala obat itulah adalah do'a.


"Bunda bohong." Bibir Aliena kembali manyun dengan di barengi menekuk kepalanya serta mensendakepkan kedua tangannya.


"Bukan bohong sayang, tapi ini sudah panas. Nanti sore yah, sebelum pulang." Jawabku.


"Alin sudah boleh pulang.?" Tanya Aliena dengan wajah berbinar.


Aku mengangguk pelan dan sejurus kemudian mendudukan Aliean di pangkuanku. "Kalau seandainya kita harus pindah kesini, dekat dengan Mimi Bella dan Pipi Erik, apa Alin suka.?" Tanyaku pelan ke Aliena.


Aliena tidak langsung menajawab, dia justru menatap ke arahku dengan matanya yang bergerak gerak mencari kepastian dari ucpanku. "Sekolah Alin bagaimana.?" Tanya Aliena.


"Nanti bisa pindah di sini juga." Jawabku.


"Kenapa kita harus pindah kesini, Bun. Nanti kalau Papa dokter kangen sama Alin gimana.?" Tanya Aliena dengan wajah polosnya.


"Karena, kare.." Suara seakan tercekat di tenggorokan ketika hendak mengatakan alasan kepada Aliena. "Jika Bunda jujur, apa Aliena akan paham.?"

__ADS_1


Aliena terlihat bingung. "Apa Bunda pernah bohong sama Alin.?" Mata Aliena terlihat menyelidik mengawasiku.


Andai aku bisa bilang, Bunda sering membohongi Aliena dan semua kebohongan itu tentang Ayahmu. Tapi sampai ahirpun nayatanya aku tidak bisa berkata demikan dan justru mengalihkan pembicaraan.


"Seperti yang di katakan oleh Papa dokter, di tubuh Aliena sedang ada bakteri jahat yang sedang berperang melawan bakteri baik. Jadi untuk sementara waktu, kita harus tetap tinggal di kota ini agar dokter yang baik baik bisa melumpuhkan bakterinya dengan cepat." Jelasku kepada Aliena dengan bahasa simpel agar cepat di pahami oleh Aliena.


"Berapa banyak bakterinya Bunda.?"


Aku tersenyum tipis mendengar pertanyaan Aliena. "Tidak tahu, nanti kita cari tau bersama sama dari dr.Ria. Sekarang sudah jam tidur siang, jadi jika tidak ingin bakteri jahatnya menang ayo lekas tidur.".


"Iya, Alin akan cepat tidur. Aliena tidak mau bakteri jahatnya menang." Ujar Aliena dengan penuh semangat.


Selepas tidur siang yang lumayan lama bagi Aliena, kini dia sudah bangun dengan kembali menagih janjinya. Ahirnya setelah menseka tubuh Aliena agar terlihat segar juga sekaligus memastikan bahwa pakaian yang di kenakan oleh Aliena aman, kamipun melangkah keluar dari kamar dengan Aliena berada di kursi roda.


Dan kami melewati sore ini dengan mengobrol kesana kemari, membahas hal hal yang indah serta yang akan kami lakukan nanti. Karena ada obat yang justru tidak mahal harganya, namun orang cendrung lupa. Yakni dengan terus bersyukur apapun keadaannya. Dan bagiku apapun dan bagiamanapun keadaan Aliena, dia tetap syukurku yang paling nyata.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2