Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Keputusan Final.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sepi, itulah kesan pertama yang aku dapati ketika sampai di rumah. Waktu dua tahun mengubah segalanya, termasuk keadaan rumah yang dulu selalu ramai. Bukan tanpa sebab aku memilih kembali bersama Erik kemarin siang, semua aku lakukan karena Adit yang katanya Erik membutuhkan aku. Dan benar adanya, Adit membutuhkan aku karena Bu Mega yang sedang sakit, begitupun dengan Bu Asri Ibunya Bang Daffa.


Jika boleh aku mengatakan menyesal aku ikut pulang bersama Erik, ya aku menyesalinya. Dan rasa menyesal ini semakin mendalam, saat ku ingat perkataan Bu Mega siang tadi.


"Ibu mohon kemurahan hati kamu, War. Tolong jadilah ibu sambung Adit, dengan begitu Ibu akan tenang melepas Adit di bawa Ayahnya." Aku tidak punya jawaban spontan untuk permintaan Bu Mega. Namun, jika boleh aku menjadi seorang yang tak tau balas budi, maka ingin sekali aku menolak permintaan Bu Mega.


"Ini bukan semata mata permintaan pribadi Ibu, War. Tapi, juga amanah Melati sebelum meninggal." Aku semakin mengatupkan rapat rapat bibirku, bahkan susunan kata yang hendak aku keluarkan terhempas begitu saja saat nama Kak Melati di sebut Bu Mega. Suaraku tercekat di tenggorokan yang serasa mengering.


Mengusap tengkukku dengan gelisah, ku alihkan tatapanku yang tak tentu arah kepada Adit yang tengah tertidur di ranjangku dengan botol susu yang telah kosong di tangannya. Tidur dengan tenang, anak umur tiga tahun itu membuatku semakin bingung dengan keputusan yang harus aku ambil.


Tidak tega jika harus meninggalkan Adit dan membiarkan Bang Daffa membesarkan seorang diri di kota asing. Namun, apa harus menjadi Ibu sambung Adit agar bisa mengasuhnya. Andai saja, satu tahun lalu Mas Karang mau datang menemui keluarga Pak Agung, maka semua akan terasa lebih mudah. Dan tidak ada yang membuatku terpaksa seperti saat sekarang ini.


Bang Nusa dan Kak Risma sampai ikut angkat suara mengenai rencana Bu Mega ini. Bahkan, Pak Agung yang biasanya akan diam dan mengambil jalan tengah, hari ini juga ikut berkomentar, sampai sampai memanggilku dan menanyaiku secara pribadi. Dan lagi, aku tidak bisa berkutik sama sekali saat Pak Agung menyangkut pautkan kesalahan Kak Melati di dalamnya.


"Bapak tau, War. Akan tidak pantas jika Bapak meminta kerelaanmu menerima Daffa sebagai pemdampingmu, karena Bapak tau itu tidak mudah untuk mu. Tapi, mohon pertimbangkan. Bapak sadar keterlibatanmu di dalam keluarga kami, sejatinya karena kesalahan Melati. Tapi, bukankah Melati sudah membayarnya seumur hidup dengan terus membawa rasa bersalahnya tinggal bersama, agar setiap waktu setiap detik, Melati ingat bahwa telah merenggut kebahagiaanmu." Aku tak dapat berkata kata dan hanya bisa terus menunduk dalam mendengar penuturan Pak Agung.


"Ini semua memang kemauan Melati pada awalnya, tapi melihat kedekatanmu dengan Adit dan ketulusanmu kepada Adit, Bapak yakin hanya kamu seorang yang bisa menjadi Ibu sambung Adit. Pikirkanlah Mawar." Pak Agung belum pernah memintaku melakukan apa apa. Dan apa aku akan abai, ketika orang yang telah sudah ku anggap seperti Bapak kandungku sendiri sampai bersimpuh dikakiku untuk pesan terahir anak perempuannya.


Pelan sekali, ku singkirkan botol susu Adit, lantas membelai pipi tembemnya seraya berucap kalem. "Apa Adit menginginkan Aunty Mawar jadi Ibu Adit.?" Entah itu sebuah kebetulan atau hanya karena tidur Adit yang terganggu, Adit semakin menduselkan kepalanya di tanganku dengan senyum yang tiba tiba muncul di bibirnya.


"Aunty Mawar tidak bisa mengambil keputusan sendiri." Ucapku lagi. Dan memang benar adanya, aku tidak bisa mengambil keputusan seorang diri, karena yang akan membina rumah tangga bukan aku seorang, melainkan juga Bang Daffa. Jadi, kartu utama akan ada pada Bang Daffa.


Aku tau Bang Daffa sangat menbenciku, oleh sebab itu Bang Daffa, pasti akan menolak mentah mentah rencana perjodohan keluarga Pak Agung. Ya, kini aku sudah tau jawabannya, aku tidak perlu risau lagi, cukup dengan melempar pelurunya kepada Bang Daffa dan aku tidak perlu menjadi kunci dari jawaban yang terus terusan di tanya. Degan kealpaan Bang Daffa di rumah hingga dua hari lamanya, aku sadar itu semua karena kehadiranku, dan itu cukup menjadi bukti.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Siang ini datang dengan senyum bahagia Bu Mega yang sudah kembali membaik, pasca beberapa hari terus terbaring di tempat tidur. Bahkan siang ini, beliau sudah bisa ke dapur dan memasak makan malam berbagai jenis dengan Kak Risma yang memang datang sedari pagi tadi.

__ADS_1


Alasan utama Bu Mega tiba tiba membaik pagi ini, hanya karena aku yang menjawab permintaanya. Bukan berupa persetujuan untuk menikah dengan Bang Daffa, seperti permintannya kemarin kemarin. Aku hanya bilang, bahwa semua tergantung dari Bang Daffa.


Apa kau yakin dengan jawabanku itu, sejujurnya tidak terlalu yakin. Aku berani mengambil keputusan besar itu, lantaran jawaban Istiharahku. Dan kalaupuan istiharahku ternyata tidak semanis inginku, ya memang berarti harus seprti itulah takdir yang harus aku jalani. Karena kita ini hanya berupa wayang yang harus mengikuti skenario Dalang.


Menemani Adit bermain di ruang tengah, aku di buat capek menjawab semua tanya Adit yang serba ingin tau. Dan baru saja aku hendak mengajak Adit untuk mandi sore saat Bang Daffa datang. Wajahnya datar dan terlihat menyeramkan dengan tatapannya yang masih sama kepadaku, yakni tatapan benci juga jijik.


"Yah, Yah. Adit buat robot robotan." Pamer Adit menyodorkan sebuah lego yang aku susun seperti robot animasi.


"Iya, bagus." Tegas, lugas dan dingin. Itulah jawaban Bang Daffa kepada Adit. Tidak ada sekedar senyum yang di ulas untuk usaha yang telah Adit lakukan, setidaknya berikan senyum itu untuk Adit sebagai anak yang melibatkan dia sebagai hal terpenting baginya. Alih alih itu di berikan, Bang Daffa malah lekas meninggalkan ruang keluarga tanpa memerdulikan Adit yang masih menginginkannya berada di dekatnya.


Siang merambat ke sore, dan sore di gantikan dengan malam. Malam hangat kekeluargaan. Kenapa aku menyebutnya begitu, karena ternyata Bu Mega masak tadi untuk menyambut tamu malam ini.


Duduk melingkar di ruang tengah yang sengaja oleh Bang Nusa sofanya di pinggirkan lantas membentangkan karpet setelahnya, ruang keluarga tampak luas, apa lagi di tengah tengahnya terdapat bermacam kudapan dan buah buahan, membuat suasana semakin kental dan akrab.


Semua tampak bahagia, tidak terkecuali orang tua Bang Daffa dan adik perempuannya. Orang tua Kak Risma, juga Adit yang sibuk berlari kesana kemari, hingga baju tidurnya basah oleh keringat.


"Jadi Mawar sudah wisuda..?" Tanya Pak Bakti Ayah Bang Daffa.


"Makin cantik ya Yah, Kak Mawar. Apa sih rahasianya Kak Mawar.?" Aku menggeleng pelan mendengar pertayaan Devi.


"Memang dasarnya sudah cantik, Vi. Kamu nanti juga akan makin cantik." Timpal Kak Risma.


"Sudah cantik, baik pula." Kembali Devi memujiku.


Semua larut dalam obrolan hangat, sambil menikmati makan malam, sementara aku sibuk menyuapi Adit yang malam ini kelihatannya lebih manja kepadaku dari pada beberapa hari lalu. Sesekali Ibu Bang Daffa mengelus lenganku dengan penuh perhatian, sembari tersenyum ramah sekaligus menawarkan diri ingin menyuapi Adit. Namun, Adit dengab terang terangan menolak, malah sampai tidak mau duduk sendiri.


Malam semakin melarut, dan mata Adit sudah antara di ambang sadar dan tidak. Namun, setiap kali aku berusaha untuk memindahkannya Adit malah merengek, dan tidak mau di pangku dengan yang lain.


Aku tidak tau, akan sampai kapan pembicaraan ini akan berlangsung. Karena hingga jam tidur Adit hampir lewat, mereka masih terus mengobrol kesana kemari. Para perempuan asik dengan temanya sendiri, begitupun dengan para laki laki.


Aku baru saja hendak membuka mulutku untuk pamit menidurkan Adit, namun mulutku yang terbuka tetap terbuka saat Pak Bakti mulai berbicara dengan menyuruh semua orang mendengarkannya. Dan mulutku semakin melebar lagi, saat ucapan Pak Bakti di tujukan khusus untuk ku.

__ADS_1


"Mawar, kami melihat kedekatan Adit denganmu. Dan kamu melengkapi figur Ibu bagi Adit. Jadi, maukah kamu menjadi Ibu sambung Adit.?" Deg, dadaku bergemuruh. Alu tidak tau, atau lebih tepatnya tidak menyangka jika berkumpulnya semua keluarga hari ini karena alasan yang sama seperti kepulanganku.


Aku merasakan hening yang teramat saat Pak Bakti selesai dengan ucapannya, dan aku tidak tau harus berbuat apa. Karena ini tekanan terbesar untuk ku. Jika sebelumnya hanya ada keluarga Pak Agung yang menanyakan kesedianku, meski tanpa memberiku pilihan atau pertanyaan tentang pendapatku. Kali ini, hal serupa datang dari keluarga Bang Daffa. Lalu, kenapa harus aku yang menjadi kunci jawabannya. Bukankah Bang Daffa juga sama denganku.


Ku tatap satu persatu semua orang yang hadir, dan rata rata sama memiliki pandangan yang yakni penuh pengaharapan. Namun, ada satu yang untuk menatapnya, aku butuh keberanian khusus. Dia adalah Bang Daffa, yang saat ini tengah menatapku penuh benci.


"Mawar, apa kamu bersedia.?" Ulang Pak Bakti.


Aku masih tak bergeming, dan berusaha mengumpulkan keberanianku untuk mengemukaan pendapatku. Setidaknya, jika mereka tak menanyakannya padaku inginku, setidaknya mereka akan mendengarnya. Namun belum kata itu keluar dari bibirku, aku kembali harus di buat bungkam dengan kata kata Bang Daffa yang bahkan dalam mimpi sekalipun tidak pernah aku bayangkan.


"Adit membutuhkanmu, maka dari itu. Jadilah Ibu untuk Adit." Aku tidak memiliki jawaban pilihan selain dari mengguk, karena tataoan Bang Daffa untuk ku penuh intimidasi yang tak ingin aku membantahnya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, coment dan votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2