
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tujuh bulan berlalu, aku tidak tau pasti apa yang terjadi denganku, karena aku tidak bisa mengingat apapun dengan benar. Setauku, aku semakin dekat dengan Rendi dan hubunganku dengan keluargaku semakin terjaga baik.
Ibu yang pengertian, Bapak yang selalu menjagaku, serta Abang Abangku dan sahabat terbaikku Erik. Ada hal hal yang mungkin akan lebih baik jika aku tak mengingatnya sama sekali, karena oleh sebab itulah mungkin saja Allah sengaja menghapusnya agar aku tidak menyimpan kebencian.
Tujuh bulan ini, selain aku habiskan untuk berobat juga ku biasakan diriku kembali menekuni hobi lamaku, yakni menggambar desain baju sekaligus menjahitnya. Dan selalu, yang jadi korban adalah Erik dan anaknya. Ya, aku sedang rajin sekali menggambar baju couplenan. Apa lagi di tambah anak Erik lucu sekali dengan wajah oreintalnya.
Dan satu yang ada di benakku, itu sangat familiar juga ada sesuatu yang menyentuh sekali di dadaku. Meski berulang ulang mencoba untuk mengingatnya, nyatanya sama saja. Aku tidak bisa mendapat jawaban kenapa desain baju pesta ala princess begitu dekat di hatiku. Seolah itu ada satu ikatan yang erat denganku.
Sekali lagi, mungkin karena Allah terlalu menyanyangiku, sehingga tidak mengijinkan aku untuk mengingat peristiwa yang telah lalu agar aku bisa damai melanjutkan hidupku. Dan benar sekali, hidup yang singkat dengan segala kebahagiaan ini bisa aku nikmati tanpa harus terbebani dengan masalalu.
Aku tidak kehilangan sepenuhnya ingatan masalaluku, bahkan aku masih hafal siapa siapa saja anggota keluargaku. Dan, yang menurutku asing tapi juga akrab adalah Rendi.
Rendi, tidak ada kenangan yang muncul antara aku dan Rendi, hanya sebuah cerita kecil saat aku masih kost di luar kota. Rendi, si bocah kecil nan tengil yang selalu berusaha untuk memacariku. Dan anehnya, masih saja dia melakukan hal itu meski sudah kali ke dua aku menolaknya dua bulan lalu.
Sejak saat ini memang dia tidak langsung menemuiku, tapi dia justru semakin intens mendekati keluargaku. Terutama kedekatannya dengan Erik, si tukang kompor.
Setelah aku pikir pikir, dua pekan tanpa di ganggu Rendi duniaku terasa sepi juga. Dan entah kenapa, aku merindukan kehadiran dia saat berkunjung ke rumah dengan segudang kata unfaedahnya yang mampu membuat seisi rumah tertawa dengan banyolannya.
Sepertinya minggu ini, juga bakalan tidak ketemu lagi. Karena setelah chek up terahirku besok, Bang Nusa dan Bang Daffa mengajak kami jalan jalan. Kami, iya dong kami. Karena akan ada Erik serta anak dan istrinya. Bang Nusa dan keluarga. Bang Daffa dan Adit, serta Mas Karang dan teman dekatnya.
Bang Nusa bilang, aku akan menikmati tempat yang telah di pesan olehnya. Kata Bang Nusa, meski aku tidak bisa mengingat peristiwa yang di alam bawah sadarku sengaja menguncinya agar aku lupa, tapi tentu saja soal selera liburan aku akan tetap merasa akrab dan nyaman.
Itu benar terjadi, karena setelah Bang Nusa berkata demikian. Aku sangat excited menanti ahir pekan ini. Begitupun dengan pemeriksaan terahirku lusa. Dan apapun hasilnya soal pemeriksaan, aku selalu berpikir positif saja. Karena menurutku, apapun rencana Allah mengenai apa yang aku alami, adalah sebuah teguran agar aku menjadi seorang yang qona'ah dalam menerima setiap sekenario yang telah di buatkan terhadapku.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ku usap berkali kali bingkai foto lengkap dengan isinya. Senyum manisnya tak mampu aku ingat, tapi senyum itu terasa dekat sekali di hatiku. Senyumnya mampu membariku ketenangan, senyum gadis kecil bernama Aliena.
Aliena. Dokter mengatakan dia adalah putriku yang telah meninggal tujuh bulan lalu, tapi aku sama sekali tak mengingat apapun soal Aliena. Meskipun demikian, hatiku menghangat karena tau memiliki putri secantik Aliena. Soal kenapa dan apa penyebabnya Aliena meninggal, dokter mengatakan segalanya terhadapku. Namun, sekali lagi aku sama sekali tidak bisa mengingatnya.
Usai dari pemeriksaan ke dokter, Bang Nusa mengajakku mengunjun makam Aliena. Rumput jepang telah menutup seluruh permukaan tanahnya, berbagai bunga dan seikat bunga Mawar putih yang masih terlihat baru tertabur di atas hingga sampai di samping pusaranya.
__ADS_1
Antara terharu dan sedih, karena aku masih tak mampu mengingatnya. Dan jauh di lubuk hatiku, seakan mendengar bisikan bahwa terlarang bagiku meneteskan airmata.
Bersimpuh di sebelah pusaranya, ku lantun do'a panjang untuk putriku, putri yang tak bisa aku ingat namun terasa dekat di hatiku. Terasa besarnya cintaku padanya, saat setiap dari bait do'a yang aku rapal tak meninggalkan tempatan syurga baginya.
"Maafkan Bunda. Karena tidak pernah datang kesini." Ucapku sembari mengelus pusaranya.
Aliena, hanya nama itu yang tersemat disana. Namun nama dari Bapaknyalah yang membuat aku harus benar benar menyakinkan bahwa itu tidak salah tulis dan benar adanya.
Daffa Rendra Bakti. Itu adalah nama dari suami Kak Melati, nama iparku. Namun, kenapa itu juga tertulis disana. Kembali, ada rahasia yang sengaja Allah tak ingin aku ingat. Dan ketika aku meminta kejelasan terhadap Bang Nusa, Bang Nusa mengagguk sebagai jawaban. Aku paham, dan semakin kesini aku sadar aku tidak bisa menuntut apa apa, karena aku juga tidak bisa mengingatnya.
Kami baru saja berjalan beberapa langkah dan kembali terhenti, saat di ujung jalan kami melihat Rendi tengah berjalan ke arah tujuan yang baru saja kami tinggalkan. Seikat Mawar putih menemani langkah Rendi. Mawar itu sama persis yang terletak di dekat pusara Aliena. Berarti, Rendilah yang sering datang kemari.
Lalu, sedekat apakah hubungan Rendi dan Aliena. Atau sebenarnya yang ingin aku ingat, sedekat apa hubunganku dan Rendi, sehingga Rendi menyempatkan sering datang ke makam Aliena. Jika, tidak ada hubungan spesial, apa itu mungkin kedatangan Rendi kesini hanya karena dokter pribadi Aliena.? Entahlah. Hanya satu yang pasti, hatiku menghangat oleh sikap Rendi.
Setelah saling basa basi menyapa sebentar, Bang Nusa mengajakku untuk keluar dari area pemakaman terlebih dulu. Dan seperti sengaja, Bang Nusa tidak lansung mengajaku pergi guna menunggu Rendi. Benar saja, tak begitu lama Rendi keluar dengan wajah datarnya. Datar yang membuatku was was.
"Ren, kita cari minum bareng di sekitar sini." Ajak Bang Nusa santai.
"Boleh juga, Bang. Tapi, tidak bisa lama lama Bang." Jawab Rendi dengan melirik jam yang melingkar di tangannya.
"War, setuju kan.?" Tanya Bang Nusa tiba tiba.
"Apa.?" Tanyaku heran, yang lebih heran lagi adalah Bang Nusa dan Rendi, karena aku ada di antara mereka berdua, tapi aku sama sekali tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, justru malah sibuk mencari jawaban atas apa yang aku pikirkan.
"Hari ini cukup terlalu melelahkan untukmu, War." Kata Bang Nusa lagi dengan tersenyum tipis, begitupun dengan Rendi.
Rendi, melihat senyum tipis bocah tengik itu membuat dadaku berkobar. Karena, senyum itu seakan mengejek kepadaku. Lihatlah, ahirnya kamu merindukan aku. Arti dari senyum Rendi jika boleh aku artikan. Di tambah dengan rautnya yang kembali datar, membuat aku di dera rasa gelisah, hatiku ambyar.
Tanpa kata lagi, Rendi memilih melangkah lebih dulu. Lagi, aku merasa tak rela punggung itu mejauh tanpa mengajakku. Dan aku tak bisa berbuat apa apa selain dari mengikuti langkah Bang Nusa yang berjalan berlawanan arah dari Rendi.
"Kamu baik baik saja, War.?" Tanya Bang Nusa, saat mobil bergerak meninggalkan area parkir pemakaman.
"Tentu, Bang." Jawabku ragu. Aku tidak tau pasti apa yang sedang mengagguku. Kebenaran soal Alienakah, atau kebenaran siapa Bapak Aliena, dan yang jauh lebih tidak pasti adalah, apa karena sikap Rendi yang tiba tiba datar terhadapku.?
"Nanti, saat sampai di rumah dan Daffa juga disana, kamu akan mendapat jawabannya." Ujar Bang Nusa.
__ADS_1
"Bang, apa boleh aku tanya satu hal saja." Entah, setan mana yang berhasil membujukku untuk menyampaikan suara kepada Bang Nusa, dan itu murni cuma soal urusan hati.
"Katakan." Jawab Bang Nusa.
Aku meremas jemariku berulang ulang. "Apa hubunganku dan Bang Daffa telah usai saat ini." Katakan saja, aku terlalu kurang ajar. Karena di tahap ini, aku berpikir ke arah lain, yang tak lain dan tak bukan mengenai perasaan aneh.
Bang Nusa, seperti sedang kesusahan mencari jawaban atas tanyaku. Dan sebisa mungkin, terlihat tenang dengan fokus ke arah depan sebagai pengemudi. Begitupun diriku, aku terus menajamkan pendengaranku.
"Hubungan kalian telah berahir lama, sebelum Aliena ada." Bukan suatu yang menyakitkan untuk di dengar, dan aku justru merasa lega karena itu. Karena ternyata, perasaanku tidak kurang ajar. Tapi, hatiku terlanjur ambyar dengan sikap datar Rendi.
Hingga tanya sempat mencuat di hati. Cukup pantaskah perasaan yang belum temu pasti ini. Pada cerita yang belum tentu terjadi. Sedangkan logikaku menggebu, dan hati terlanjur mendayu pilu. Lantas tercecerlah rasa, saat sadar diri tak begitu sempurna untuk bersama. Kobar melantak semua duniaku, saat panas apinya justru membuatku membeku. Hatiku ambyar oleh kenyataan.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Oteweh bahagia ya Mawar.
Like, Koment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
__ADS_1
@maydina862