Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Aku Tak Ingin Membenci.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kamar luas dengan tempat tidur cukup lebar di banding bangsal Aliena sebelumnya, menjadi pemandangan yang mencolok karena warna sepreynya serta selimut tebal yang berada di atas bangsal tersebut. Aksen tokoh kartun tikus manis dengan bandananya yang lucu, membuat aku tersenyum kecut teringat siapa orang yang begitu menyukai tokoh kartun tersebut. Dan dia ingin Aliena juga menyukai tokoh kartun itu, seperti orang yang di cintainya.


"Kamu baik baik saja, War.?" Tanya Rendi lirih, lebih tepatnya seperti berbisik.


"Tentu saja." Kalem aku menjawab tanya Rendi.


"Berarti aku yang tidak baik baik saja." Ucap Rendi santai dan seperti tidak berkata apa apa sebelumnya, karena dia langsung menyibukan diri merebut perhatian Aliena dari Ayahnya.


Aku sendiri memilih menata barangku dan Aliena yang tidak seberapa ke dalam lemari yang berada tidak jauh dari bangsal Aliena. Sofa ukuran sedang menjadi tempat Rendi mendudukan dirinya setelah Aliena lebih memilih berada di pangkuan Ayahnya.


"Tehnya, Ren." Aku mengangsukan teh yang baru saja aku buat untuk Rendi. Kamar VIP itu benar benar membuat hal mudah, dengan segala fasilitasnya yang serba wah dan seperti di rumah mewah.


"Terima kasih, War." Rendi sama sekali tidak membuang pandangannya dari Ayah Aliena. "Aku seperti pernah melihat Ayah Aliena, tapi aku lupa dimana." Gumam Rendi.


Aku ikut menoleh ke arah Aliena dan Ayahnya dan pelan aku menyahuti gumaman Rendi. "Dulu mungkin, waktu aku masih kost."


"Apa mungkin iya." Kata Rendi seperti tidak yakin sembari tangannya meraih cangkir di depannya. "Ahh, panas War."


"Baru aku mau bilang, itu masih panas. Kamu sih tergesa gesa meminumnya." Aku langsung spontan meraih tangan Rendi yang ketumpahan teh panas buatanku dan mengusapnya pelan dengan ujung jilbabku serta meniupinya pelan pelan tepat di tempat terdapat ruam merah di tangan Rendi yang putih.


"Ada apa.?" Tanyaku heran saat Rendi yang terus menerus menatapku dan saat aku menanyakan hal itu, Rendi justru sibuk mencari ponselnya. "Ada apa.?" Ulangku.


"Mau cari ponsel buat dokumentasi." Jawabnya kalem sembari tersenyum penuh misterius.


"Untuk.?" Tanyaku makin heran.


"Buat bukti saja kepada orang orang, kalau bidadari itu benar benar ada." Aku langsung melepaskan tangan Rendi begitu saja dan kembali ke tempatku serta langsung memutar badanku membelakangi Rendi.


"Aku baru tau, bidadari makin cantik kalau marah." Ucap Rendi lagi sambil cengengesan.


"Stop it, Ren. Apa hidupmu terlalu membosankankah, sampai sampai kamu harus mengatakan itu kepada seorang janda." Kataku dengan nada tegas.


"Duh, salah ngomong nih kayaknya. Jangan sampai bidadari kembali ke langit mending tak umpetin cepetan deh selendangnya." Ucap Rendi masa bodoh dengan ultimatumku dan memilih menarik selendang yang biasnya aku gunakan untuk mengendong Aliena ketika rewel.


"Ren."


"Dhemm. Aliena sudah tidur." Nada dingin terdengar dari kata singkat Ayah Aliena.


"Biar aku tatakan bantalnya." Ucapku dengan cepat dan berjalan pelan ke arah Ayah Aliena yang tengah memangku Aliena.


"Saya bantu membaringkan." Rendi ikut bersuara.


"Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri." Aku rasa sikap Ayah Aliena wajar, tapi tidak benar menurutku. Karena harusnya, Ayah Aliena cukup paham, bahwa Rendilah yang selama ini berada di dekat Aliena.


Malam belum terlalu larut sebenarnya, tapi aku rasa mataku sudah ingin sekali tertutup, terlebih karena setelah Aliena tidur kami bertiga lebih banyak diam. Rendi juga tidak banyak bicara seperti biasanya, kalau Ayah Aliena memang dia tidak suka berbicara denganku. Lalu kenapa keduanya tidak pergi saja, dan membiarkan aku istirahat sebelum nanti malam aku harus bergadang saat Aliena mulai gelisah dengan tidurnya.

__ADS_1


Dua orang laki laki ini malah asik berdiam diri dengan duduk saling berjauhan. Dan seperti sedang terlibat perang dingin yang aku tidak tau apa yang menjadi alasannya. Katakan saja aku terlalu bodoh, tapi ya memang seperti itulah aku. Aku malas menebak nebak apa yang mereka berdua pikirkan.


"Kalian berdua kapan berencana akan pulang.?" Kataku setelah aku cukup bersabar menahan diri, juga menahan kantuk ku.


"Aku akan tinggal disini." Ucap Ayah Aliena dengan cepat dan seperti sengaja mendahului Rendi.


Aku memutar kepalaku ke arah Rendi untuk memastikan jawaban Rendi. Helaan nafas berat Rendi di sertai dengan bangkitnya dia dari duduknya membuatku juga ikut bangun dari tempatku duduk.


"Aku besok ada shif pagi di rumah sakit. Jadi, maaf malam ini aku tidak bisa menemanimu War."


"Tidak apa, aku sudah terbiasa sendiri. Ayo aku antar sampai depan." Rendi membalas ucapanku dengan senyum simpulnya. Dan setelah pamitan dengan Ayah Aliena, kami berduapun berjalan beriringan menuju pintu.


"Kamu yakin hanya akan berduaan saja dengannya.?" Kata Rendi begitu pintu di belakangku tertutup.


"Maksudmu, Ayah Aliena.?" Rendi mengangguk pasti.


"Iya." Senyap, hanya ada tatapan kami berdua yang bertemu. Jika tatapan Rendi terlihat penuh kegelisahan, maka lain halnya denganku. Karena, aku justru menatap Rendi penuh dengan tanda tanya.


"Dia mantan suamimu, War. Setidaknya akan ada kenangan yang bisa kalian ingat bersama."


"Hubungan kami tidak seperti yang kamu banyangkan, Ren. Pulanglah, hati hati di jalan." Kataku dan langsung berbalik untuk kembali membuka pintu, namun terhenti karena ucapan Rendi.


"Aku percaya, War. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku, aku cemburu." Perasaanku seketika campur aduk. "Sampai jumpa besok, Assalamu'alaikum." Sampai saat ini, Aliena masih prioritasku. Dan aku tidak pernah berpikir apapun mengenai perasaan. Apapun itu, tidak pernah.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Dia sudah pergi.?" Tanya Ayah Aliena begitu aku kembali masuk.


"Apa dia sering datang menemuimu dan Aliena.?" Aku merasa pertanyaan Ayah Aliena terlalu tidak enak di dengar karena nada itu terdengar kesal di telingaku.


"Ya bisa di bilang begitu. Aku akan istirahat lebih dulu. Selamat malam." Putusku dan dengan cepat lekas naik ke bangsal Aliena dan menarik Aliena dalam dekapanku.


"War, apa kamu sudah tidur.?" Ucap Ayah Aliena lagi.


"Ada apa.?" Jawabku singkat.


"Aku ingin membawa Adit besok kesini." Ayah Aliena menjeda kalimatnya, lantas apa aku bisa menjawab tidak, karena yang dia katakan bukan pertanyaan melainkan pernyataan. "Jika kamu mengijinkan." Lanjutnya lirih.


"Adit pasti mirip sekali dengan Kak Melati sekarang. Apa kabar dia.?" Ucapku tanpa menoleh ke arah orang yang aku ajak bicara.


"Adit anakmu, War." Aku menghela nafasku dalam dalam, mengisi setiap paru paruku dengan oksigent.


Satu kesalahan yang terus membayang saat aku menjuah untuk menyembuhkan lukaku, adalah Adit. Aku melupakan tanggung jawab yang di amanahkan kepadaku, karena sibuk menyembuhkan luka hati karena Ayah Adit. Kini, saat aku harus kembali bertatap dengannya, apa aku cukup memiliki muka untuk mengingatkan kepada Adit bahwa aku adalah Bundanya.


"Apa dia masih ingat kepadaku.?" Lirih ahirnya kata itu keluar dari bibirku. Dan aku memasang telingaku tajam tajam, agar aku tidak salah dengar dengan jawabannya.


"Entahlah. Adit memang tidak pernah menanyakanmu." Katanya yang tak pasti membuat senyum terbit di ujung bibirku, senyum mencemo'oh.


"Aku pantas mendapatkannya. Karena aku bukan ibu yang bertanggung jawab terhadapnya." Kataku lirih.

__ADS_1


"Adit memang tidak pernah menanyakan keberadaanmu kepadaku, tapi setiap ajaranmu, setiap prilakumu semua ada pada Adit. Dan Aku hanya memiliki raga Adit, karena jiwanya ikut pergi bersama dengamu." Katanya dengan mada sedih tanpa di buat buat.


Tak ingin terbawa suasana, aku memilih ingin menyudahi pembicaraan ini. Tapi, belum mulutku terbuka untuk bicara, Ayah Aliena kembali mendahuluiku berbicara.


"Sebelumnya, aku tidak pernah menyadari jika itu semua karma untuk ku." Aku masih memilih di tempatku dan senantiasa membelakangi dia yang tengah menjeda ucapannya dengan helaan nafas dalam.


"Setelah kepergianmu, semua meninggalkan aku. Seperti Adit, aku juga hanya memiliki status sebagai Anak dan Abang dalam keluarga, karena semua pikiran mereka tertuju padamu. Aku hanya memiliki raga mereka saja. Setiap perbuatan, setiap kesakitan, semua aku dapat balasan setimpal dengan tidak pernah bahagianya aku, dengan tidak pernah terpuasnya aku. Aku hanya pura pura bahagia." Kata panjangnya justru membuat aku teringat dengan setiap sayatan yang dia tinggalkan di hatiku.


"Hentikan, jangan katakan apa apa lagi." Kataku dengan nada pasti.


"Aku minta maaf, War. Aku meminta ampunanmu." Katanya lagi. Dan kata maaf itu terus di ulang ulangnya hingga beberapa kali.


"Memaafkan mungkin saja iya, tapi untuk lupa aku butuh waktu. Jangan ulangi lagi kata maaf itu, karena aku sudah berusaha sebisaku agar tak membenci." Jawabku lirih. "Aku mau istirahat."


"War. Ada satu lagi." Katanya penuh pengharapan.


"Katakan."


"Ini soal Daffin."


"Aku tidak memiliki sangkut paut dengan dia." Jawabku dengan nada pasti.


"Ada, karena aku penyebab ceritamu berahir tidak sempurna."


"Jangan bahas apapun lagi soal itu. Karena itu bukan lagi prioritasku, hanya soal Aliena tidak perlu melebar kemana mana. Selamat malam." Aku sengaja menutup telingaku dengan rapat, agar aku tidak perlu mendengar apa yang di ucapkan Ayah Aliena. Tapi, apa yang berisik di hatiku jauh lebih nyaring daripada apa yang aku dengar dengan telingaku.


Apapun itu, aku tak ingin membenci, karena aku ingin berdamai dengan masalalu. Dan itu tidak cukup dengan Ayah Aliena saja, tapi juga dengan seluruh keluarga Ayah Aliena, terlebih dengan orang yang terlibat langsung denganku. Itu termasuk dengan orang yang pernah membuat rasa maluku hilang, dengan memintanya untuk memilihku meski aku sedang bersama dengan Abangnya. Mas Karang.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2