
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu darimana..?" Suara berbas milik Bang Daffa menggelegar begitu kakiku melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bukan urusanmu." Jawabku pendek saja dan sudah sebulan ini aku sengaja melakukan segalanya sesukaku dari hari sejak Bang Daffa memintaku untuk mengembalikan semua milik Kak Melati.
"Jawab, kamu habis keluyuran darimana." Suara Bang Daffa jauh lebih keras lagi.
"Sedang mencari jalan untuk mengembalikan semua milik Kak Melati. Apa puas." Balasku dengan nada sengit. Jujur aku tidak menyukai sikapku yang seperti ini, tapi keadaan yang membuatku terpaksa melakukannya.
"Setelah melakukan ulah kemarin dan sekarang pergi tanpa pamit sekaligus seenaknya sendiri. Apa pantas kamu di sebut seorang perempuan berhati." Kebal akan perkataan Bang Daffa aku memilih mengacuhkannya dan melenggang pergi ke arah kamar yang aku tinggali selama sebulan ini.
"Kamu tau Adit sakit karena kamu ajak main hujan kemarin. Dan kamu malah keluyuran sampai tidak ingat pulang, hebat ya kamu." Kalimat Bang Daffa yang ini membuatku membalikan badanku, lantas lurus menatapnya.
"Terus apa mau kamu, untuk aku lakukan terhadap Adit." Dengan nada rendah seperti biasa.
"Rawat dia, karena dia terus mencarimu seharian ini." Enteng sekali ucapan Bang Daffa terhadapku seakan dia lupa bagaimana sikapku sebelumnya terhadap Adit dan dirinya.
"Bukankah kamu adalah Ayahnya. Lagian sudah ada Mbak Niluh yang menjaganya. Lalu untuk apa lagi aku harus berada di samping Adit." Jawabku membohongi perasaanku sendiri. Aku kwatir dengan Adit itu sudah pasti. Tapi, demi semua bisa kembali kepada Kak Melati, aku harus melakukan ini. Menjadi seorang yang egois memikirkan kebahagian sendiri.
"Karena dia nanyain kamu terus, dan tidak mau makan serta minum obat jika bukan kamu yang menyuapinya."
"Kamu kan bisa membujuknya, masak kamu kalah sama anak kecil." Ucapku dan sudah kembali membalik tubuhku, namun dengan cepat cekalan tangan Bang Daffa ke pundakku menghentikan pergerakanku.
"Cukup perdebatannya, War. Cepat temui dia."
"Kenapa aku harus. Bukankah sudah kita sepakati sebelumnya, bahwa kamu menyuruhku mengembalikan semua milik Kak Melati. Dan itu aku pikir termasuk Adit. Jadi, aku sudah berlahan menjauhi Adit, maka ini kesempatan bagimu menjadi Ayah yang baik untuk Adit."
"Sumpah demi apapun, buang egomu sesaat Mawar. Adit sedang sakit, temui dia." Terdengar nada geram di suara Bang Daffa. Ego seperti apa yang di maksud Bang Daffa, aku tak paham sama sekali, persis seperti sikapnya yang seenaknya.
"Kamu minta tolong kepadaku.? Atau kamu hendak menyuruhku lalu kemudian mengata ngataiku lagi.?" Tak ada jawaban dari Bang Daffa, dia hanya langsung mencekal pergelangan tanganku erat lantas menyeretku naik ke lantai dua dimana kamar Adit berada.
"Lepaskan, ini sakit." Aku terus menarik tanganku yang terasa perih oleh tusukan kuku Bang Daffa.
"Hanya luka kecil. Jangan ribut lagi."Ucap Bang Daffa begitu tangannya melepaskan tanganku.
"Benar ini hanya luka kecil, ini juga, dan ini juga." Jawabku sembari menunjukan beberapa luka yang di hasilkan oleh tindakan Bang Daffa. "Tapi kamu lupa, ada luka besar yang terus terasa perih setiap melihat luka kecil ini. Ini disini." Lanjutku dengan menepuk nepuk dadaku.
"Nanti itu kita bahas lagi, sekarang yang terpenting adalah Adit." Jawab Bang Daffa tanpa memikirkan perasaanku, dan langsung mendorong pintu di depan kami. Mau tak mau senyumkupun langsung ku paksa untuk tersungging di tempatnya.
"Bunda sudah datang dong. Jadi Adit mau apa sekarang." Manis sekali nada Bang Daffa di depan Adit.
"Maaf ya sayang, ahir ahir ini Bunda sedang sibuk." Jelasku ke Adit sambil meminta Mbak Niluh memberikan mangkuk berisi bubur dengan isyarat mataku. Adit mengangguk dengan senyum yang mulai terbit.
__ADS_1
"Adit sudah mau masuk sekolah kan bulan depan. Jadi, Adit harus jadi anak kuat dan hebat." Ucapku lagi setelah suapan demi suapan berhasil meluncur di lambung Adit.
"Untuk usaha agar cepat kuat, ayo lekas di minum obatnya." Timpal Bang Daffa. "Mau Ayah yang suap atau Bunda.?"
"Ayah." Jawab Adit Lemah. Aku menepi memberi ruang untuk Bang Daffa mengambil tempat, dan aku rasa kehadiranku sudah lagi tidak perlukan disini. Pelan aku bergeser menjauhi tempat tidur Adit.
"Bunda mau kemana.?" Tanya Adit begitu aku baru melangkah menuju pintu.
"Sebentar sayang, Bunda lupa belum merapikan ba.."
"Adit mau tidur dengan Bunda." Ucap Adit lagi sembari sudah hendak beranjak dari tempat tidurnya.
"Tetap disitu, Bunda yang akan ke situ." Jawabku dan berjalan ke arah lain dari keberadaan Bang Daffa, lantas segera merebahkan tubuhku di samping kanannya dengan mengeloninya.
"Ayah juga, tidur disini." Kata Adit lagi dengan menepuk nepuk tempat kosong di samping kiri Adit.
"Ayah. Ayah masih ada sesuatu yang harus di kerjakan." Tolak Bang Daffa.
"Sebentar hanya sampai Adit tidur." Tak dapat berkutik pula, Bang Daffa memilih merebahkan dirinya dengan terlentang.
"Ayah juga keloni Adit seperti Bunda." Adit menarik tangan Bang Daffa sehingga sekarang kami berhadapan dengan Adit berada di tengah tengah kami tersenyum merekah.
"Nanti Adit setiap hari mau di buatkan bekal untuk sekolah Bunda." Ucap Adit sembari menumpuk tangan kami berdua.
"Insya'Allah, sayang." Jawabku. Banyak kata yang di sampaikan oleh Adit yang hanya ku jawab dengan jabawab Insya'Allah, hingga satu pertayaan yang membuat Bang Daffa menarik tangannya dari atas tanganku dengan segera, dan lekas memberi ultimatum kepada Adit agar tidak bicara terus.
Ku tarik tanganku pelan dari kepala Adit setelah terdengar nafas teraturnya, yang manandakan bahwa Adit telah tertidur, begitupun dengan Bang Daffa yang juga ikut terlelap dengan menegeloni Adit.
Ku tatap sesaat wajah keduanya yang tak ada mirip miripnya sama sekali, karena Adit lebih banyak mirip Kak Melati. Dan sepersekian menit tatapanku terpaku kepada wajah Bang Daffa. Wajah maskulinnya terlihat kalem saat sedang tidur, dan aku seakan tidak percaya bahwa wajah seteduh itu bisa menyakitiku hingga aku memilih untuk menyerah mendampinginya.
Menggeleng dengan pelan, ku paksa kakiku beranjak dan kembali di tempatku agar hati tidak goyah dengan apa yang telah aku pilih. Masuk ke dalam kamar, ku raih tas yang beberapa minggu terahir ini selalu menemaniku.
Larikan tulisan dan angka berjajar begitu ku buka kertas yang sudah hampir dua minggu aku perjuangkan. Menghela nafas dalam, ku taruh kembali kertas yang kini telah bermatrai lengkap dengan tanda tangan serta akta Notaris. "Aku akan kembali kesana." Ucapku lirih sembari menutup kembali map di tanganku dan beranjak menuju kamar mandi.
Menenangkan diri dengan dzikir dan bacaan Al-Qur'an, adalah terapi gratis yang sering aku lakukan. Dan kembali, malam ini aku melebur diriku dengan tafakur di atas sajadahku, meminta kelapangan hati agar mampu bersyukur dengan takdir indah ini.
Bukankah acap kali hidup itu adalah the true plot twist, jadi penuh kejutan itu wajar. Sudah bukan hal yang asing, karena apa yang baik dan benar menurut kita belum tentu bagi orang lain. Itu saja masih orang lain, bagaimana menurut Allah akan jauh lagi berbeda jawabnya tentunya.
Ketukan pintu pelan membuatku menyudahi kegiatanku dan tanpa melepas mukenaku, aku berjalan ke arah pintu. Bang Daffa berdiri tegak di depan pintu kamarku begitu aku membuka pintu kamar.
"Bisa kita bicara sebentar." Ucap Bang Daffa pelan sembari membenarkan rambutnya yang berantakan.
Ku hela nafasku dalam dalam, karena jujur kata bicara dari Bang Daffa membuatku sedikit malas menganggapinya, lantaran ahir dari pembicaraan selalu aku yang di salahkan dan di hina. "Aku capek." Kilahku, sembari hendak menutup pintu kamarku yang kemudian di halangi dengan tangan Bang Daffa.
"Tidak akan lama. Lima menit akan cukup." Kata Bang Daffa lagi. "Jadi dimana, di kamarmu.?"
__ADS_1
"Tidak, di luar saja." Jawabku dan langsung melangkah mendahului Bang Daffa.
Sampai di ruang keluarga aku memilih tempat duduk dengan sofa single dan menjatuhkan bobotku disana. "Apa yang mau kamu bicarakan denganku." Aku sengaja sekali membuka kata lebih dulu agar tidak perlu ada basa basi dengan Bang Daffa.
"Maafkan aku." Tanpa mengangkat kepalaku, ku tatap Bang Daffa dengan menajamkan mataku. "Aku tadi sedang bingung karena Adit. Dan aku tidak sadar kalau kamu capek. Apa masih sakit tanganmu." Lanjut Bang Daffa dengan langsung mendekat ke arahku.
Tangan Bang Daffa sudah terulur hendak meraih tanganku namun segera aku tepis. "Lukanya tidak seberapa, tapi bagaimana luka itu ada yang akan segar di ingatan." Ucapku datar. "Apa hanya itu yang ingin kamu katakan kepadaku.?"
Kulihat wajah terkejut Bang Daffa begitu mendengar ucapanku, mungkin dia tidak menyangka bahwa aku bisa berucap begitu lugas kepadanya tanpa terbebani rasa takut seperti biasanya.
Membersihkan tenggorokannya dengan berdehem pelan Bang Daffa kembali membuka kata. "Tidak. Aku ingin memberi tau bahwa keluarga sudah menemukan gadis yang cocok dengan Daffin. Dan Daffin juga sudah setuju."
"Bagus, kalau begitu semakin cepat semakin baik lagi." Ucapku lirih tanpa berniat apa apa. Apa hatiku tidak sakit mendengar penuturan Bang Daffa. Tidak, karena hatiku sudah terlanjur mati rasa.
"Tidak itu saja, Mawar." Bang Daffa berdiri dan berjalan ke arah meja kerjanya dan tak lama kembali dengan undangan di tangannya. "Ini tadi Mbak Niluh yang terima." Bang Daffa menyodorkannya kepadaku.
"Erik." Ucapku dan bergegas membuka undangan tersebut.
"Kemungkinan, acara lamarannya Daffin akan di gelar sehari sebelum hari Hnya Erik." Jeda Bang Daffa. "Jika kamu mau, aku bisa menemanimu hadir di acara Erik seperti kamu menemaniku bertemu dengan keluargaku." Ku angkat kepalaku memindai wajah Bang Daffa yang serius dengan ucapannya, dan artinya dia menawarkan sandiwara bersamanya.
"Akan aku pikirkan. Apa sudah itu saja." Ucapku dan langsung berdiri ketika Bang Daffa hanya diam sembari mengangguk.
"War, bisakah mulai besok kita berteman dan akur. Maafkan aku." Ingin aku percaya dengan ucapan Maaf Bang Daffa, tapi saat ini hatiku terlalu sakit untuk menerima kata maafnya yang seringnya hanya di bibir saja.
"Kita lihat saja nanti." Tanpa menoleh aku ahirnya menjawab ucap Bang Daffa dan lekas pergi meninggalkan Bang Daffa tanpa ada keinginan untuk menolehnya lagi.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862