
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku hanya terus diam dan mendengarkan segala keluh kesah Bang Daffa tanpa berani memprotesnya setelah kepergian keluarga Pak Agung. Memilih aman dengan menjadi pendengar setia, adalah cara paling benar saat ini. Karena, tidak akan baik hasilnya jika aku mengajak Bang Daffa diskusi tentang pemikiranku mengenai pemikiran Pak Agung yang ingin membawa Adit.
"Bang, sudah malam aku sudah mengantuk." Ucapku saat Bang Daffa sudah mulai lega dengan unek uneknya.
Bang Daffa menatapku lebih lama. "Temani aku sebentar lagi." Jawab Bang Daffa. "Please." Tak dapat berkata tidak, ahirnya aku hanya bisa mengangguk pelan dengan sedikit terpaksa.
Kembali duduk di samping Bang Daffa perlahan suara Bang Daffa menjadi mengecil dan kemudian hilang sepenuhnya saat gelap memenuhi mataku lantas semua seakan kembali ke masa lalu dengan hadirnya Kak Melati kecil, aku kecil, juga kedua orang tuaku.
Aku sedang bermimpi.
Setelah mimpi panjang yang melelahkan, aku kembali tersadar dan bingung bukan main, karena saat aku bangun aku ternyata sudah berada di tempat tidur Bang Daffa. Aku tidak ingat apa aku yang berjalan kesini, atau Bang Daffa yang membawaku kesini. Tapi, apa mungkin jika itu Bang Daffa yang melakukannya, harusnya jika Bang Daffa tentu akan lebih dekat jika langsung ke kamarku saja.
Malas berpikir sesuatu yang tidak dapat ku ingat, aku memilih menjelajahkan mataku mencari pemilik kamar ini, dan ternyata dia tengah meringkuk di sofa yang tidak sepadan panjangnya dengan tubuhnya berselimut tebal.
Bergerak pelan turun dari tempat tidur begitu pula yang aku lakukan ketika menuju ke arah pintu kamar, lantas bergegas turun menuju kamarku.
Pagi cerah datang, tapi tak secerah wajah Bang Daffa yang lebih kejam daripada singa lapar, atau lebih seram dari kuburan kuno yang tak terawat. Dan aku tau pemicunya tentu adalah kejadian semalam.
"Selamat pagi." Sapaku ke Bang Daffa dengan ulasan senyum tipis.
"Pagi." Jawabnya. "Adit belum bangun.?"
"Belum, kan semalam tidur ahir dia." Jawabku. "Bang Daffa mau pergi pagi pagi banget.?"
"Iya, sepertinya aku akan sibuk sampai sore." Aku manggut manggut mendengar penuturan Bang Daffa.
"Aku akan memikirkan saranmu, War." Ucap Bang Daffa lagi sembari meraih roti panggang yang baru saja aku taruh di piringnya.
"Terima kasih, Bang."
"Aku rasa kamu ada benarnya, mereka juga punya hak atas Adit." Aku manambah senyumku untuk Bang Daffa sebagai ucapan Syukur. "Aku minta kamu bantu aku, War."
"Bantu bagaimana.?" Tanyaku heran.
"Jika keputusanku nanti adalah membiarkan Adit dibawa Papa dan Mama, maka kamu yang harus menyakinkan Adit agar mau berpisah denganmu." Jelas Bang Daffa.
"Tentu saja, aku aka membantu dengan sepenuh hati." Jawabku girang. Kami berdua terus terlibat obrolan, hingga Bang Daffa hendak pergi ke Kantornya.
"Bang, nanti aku akan pergi ke suatu tempat ada perlu bolehkah.?" Kataku meminta ijin ke Bang Daffa.
"Pergilah, selama Adit ada temannya di rumah atau kamu mau membawa Adit bersamamu sekalian." Jawab Bang Daffa dengan nada datar.
"Terima kasih, Bang." Nada gembira seperti anak kecil keluar begitu saja dari bibirku. Hingga untuk sesaat Bang Daffa memandangku dengan tatapan anehnya.
Aku mengantar Bang Daffa sampai ke teras rumah, dan masih stay dengan perasaan gembira menyangkut rencanaku hari ini, hingga senyum itu masih terus tertambat di bibirku.
"War." Panggil Bang Daffa kepadaku yang sudah hendak membalikan badanku setelah Bang Daffa naik ke mobilnya.
"Iya, Bang." Jawabku dengan cepat.
"Tidak jadi." Singkat Bang Daffa dan langsung menutup kaca mobilnya lantas sudah meninggalkan garasi setelah semenit kemudian.
Mengangkat bahuku pelan, aku kembali mengulas senyumku dan melangkah masuk dengan perasaan ringan memikirkan rencana hari ini menghabiskan waktu bersama Adit.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu kenapa ada di Mall.?" Suara Bang Daffa nyaring mengintimidasiku dari ponsel yang menempel di telingaku.
Aku menoleh ke seluruh arah guna mencari Bang Daffa yang mungkin saja sedang berada di tempat yang sama denganku. "Di Caffeshop, Mawar." Aku langsung menajamkan mataku ke arah yang di maksud Bang Daffa dan menemukan Bang Daffa yang tengah duduk di sebuah bartender dengan beberap orang pula di sampingnya.
__ADS_1
"Jawab, kenapa kamu ke Mall.?" Ucap Bang Daffa lagi.
"Ini, kami sedang mencari makan siang, Bang."
"Kami siapa.?"
"Aku dan Adit serta Mbak Niluh." Jawabku. "Bang Daffa tidak perlu kwatir, aku pastikan Adit tidak melihat Bang Daffa." Lanjutku.
"Tunggu aku selesai meeting, kalian pilih makanan dulu." Putus Bang Daffa sekalian memutus panggilannya.
Setelah memilih tempat duduk yang sesuai di area food corner, aku baru memilih makanan yang tepat untuk Adit.
"Ayah.." Pekik Adit dengan girang begitu melihat sosok Bang Daffa yang tengah berjalan ke arah kami.
"Jalan jalan, Ayah di tinggal suruh kerja." Ucap Bang Daffa sembari mencium kepala Adit.
"Ini rencana Bunda." Jawab Adit polos.
"Jadi ini urusanmu, War.?" Kata Bang Daffa pelan.
Aku terkikik sembari menutup mulutku mendengar penuturan Bang Daffa. "Harusnya ini jadi rahasia, Bang. Bukan begitu Bang Adit."
"Iya, rahasia." Adit membeo.
"Baiklah. Jadi, mana makan siang buat Ayah." Aku dan Adit saling pandang.
"Tidak ada." Jawab Adit. "Tapi Adit bisa berbagi untuk Ayah. Bukan begitu Bunda." Lanjut Adit yang membuatku bangga serta menambah senyumku untuk Adit.
"Benar sayang."
"Tidak usah, biar Ayah minta punya Bunda." Timpal Bang Daffa sembari manerik piring yang ada di depanku.
"Tidak boleh. Nanti Bunda akan sakit kalau Bunda tidak makan." Protes Adit dengan langsung menarik kembali piringku.
Makan siang berlalu dengan penuh bahagia yang tak di rencana, begitupun dengan jalan jalan sore ini yang juga tak di rencana. Senyum bahagia Adit, senyum bahagia Bang Daffa juga senyumku, semua memiliki arti yang mungkin akan segera menjadi kenangan bagi kami. Bahkan boneka pisang kecil seukuran lenganku yang di berikan Bang Daffa kepadaku atas permintaan Adit, juga akan menjadi kenangan nantinya buat kami.
Setidaknya ada kenangan indah dan baik dari Bang Daffa yang bisa untuk aku ingat setelah ini. Andaipun ini akan terus seperti ini, aku juga tidak akan keberatan. Tapi, jujur aku sudah siap segalanya sebelum aku menerima tawaran Bang Daffa untuk berdamai dengan kenyataan.
"Bang Adit pulang dulu sama Mbak Niluh ya. Ayah masih ada sedikit urusan sama Bunda." Ucap Bang Daffa saat sore sudah terlalu sore untuk Adit.
"Adit mau ikut." Rengek Adit.
Aku menoleh ke arah Bang Daffa yang jujur saja aku tidak tau apa yang sedang di pikirkan oleh Bang Daffa.
"Ayah sama Bunda tidak akan lama. Bukan begitu Bunda." Kata Bang Daffa.
Aku tersenyum tipis ke arah Adit. "Benar yang di katakan Ayah. Adit anak baik yang sellau nurut sama Ayah kan.?"
"Iya, tapi Adit akan terpikir Bunda nanti pas sampai di rumah." Jawab Adit dengan nada sedih.
"Kan ada Ayah yang menjaga Bunda." Timpal Bang Daffa. Ahirnya dengan berat hati Aditpun mau pulang ke lebih dulu, asal Bang Daffa berjanji akan manjagaku. Ahh, manisnya anak itu yang menjadikan aku cinta pertamanya.
Sepeninggal Adit, Bang Daffa lantas kembali menggerakan kakinya kembali ke lantai paling atas tanpa bicara barang sepatah katapun.
"Temani aku sebentar." Ucap Bang Daffa pelan, tepat kami berada di depan kawasan cinplex dan langsung melangkah lagi tanpa menunggu persetujuanku.
Asal membeli tiket untuk pintu teather yang sedang terbuka, ahirnya kamipun masuk di ruangan dingin nan gelap. Hanya berisikan glintir orang, kami berdua seakan sedang menyewa tempat pribadi buat kami.
Sesekali kami akan berbisik mengenai film yang sedang kami tonton, selebihnya Bang Daffa lebih sering membahas soal Adit yang hendak di bawa oleh Pak Agung. Dan dari yang aku tangkap Bang Daffa memberi sinyal setuju soal itu.
Dua jam berlalu, film yang kami tonton berahir, kami berdua keluar beriringan sudah seperti pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara, saling berpegangan tangan karena kedinginan itulah sebab tangan kami menaut.
Dalam perjalan pulang, aku lebih banyak diam. Bukan karena aku ingin, tapi aku terlalu baper dengan film yang aku tonton tadi.
__ADS_1
"War, apa kamu baik baik saja.?" Tanya Bang Daffa.
Aku mengangguk pelan. "Aku kepikiran pemeran wanita tadi."
Bang Daffa tertawa terbahak bahak. "Demi apapun, War. Aku kira kamu sedang kepikiran hal sedih yang lain."
Aku tidak menjawab aku hanya menempatkan posisiku, andai saja cerita hidupku di angkat menjadi sebuah film layar lebar, mungkin akan jauh lebih menyakitkan dari tokoh protogonis tadi. Tapi, aku juga tidak berharap bahwa kisahku akan membuat orang iba terhadapku.
"Oke, aku minta maaf. Jadi apa yang harus aku lakukan untuk menebusanya." Ucap Bang Daffa.
"Serius.?" Tanyaku.
"Katakan saja." Kata Bang Daffa. "Lekas katakan Mawar, ini sudah hampir sampai di rumah. Kalau sudah sampai rumah aku tidak mau keluar lagi."
"Es krim." Datar aku bersuara.
"Es krim.? Kamu tau Adit tidak boleh makan itu. Masak kamu mau bawa pulang."
"Siapa bilang mau ku bawa pulang." Ucapku.
"Childesh." Ucap Bang Daffa sebelum tertawa lebar dan pada ahirnya tetap menghentikan mobilnya di mini market dekat rumah kami.
Bang Daffa tak henti hentinya tertawa melihatku yang menyampaikan aspirasiku penuh berapi api dengan sogokan Es Krim berbagai rasa. Dan tinggal satu cone saja Es Krim yang tersisa begitu mobil Bang Daffa sudah memasuki kawasan perumahan kami.
"Bayi banget kamu tuh, War. Masak makan aja belepotan." Ucap Bang Daffa.
"Masak sih." Jawabku sembari berusaha menjilati bibirku.
"Hentikan, War." Ucap Bang Daffa.
"Ehhh.." Bang Daffa merebut Es Krim dari tanganku.
"Sudah aku bilang jangan lakukan itu." Ucap Bang Daffa, dan langsung membuang sisa Es Krimku begitu saja tanpa penjelasan.
"Apaan sih Bang Daffa ini." Aku ngedumel sembari berusaha membersihkan bibirku dengan sesekali mengigitinya.
"Jangan lakukan itu, War." Ucap Bang Daffa pas bertepatan kami sampai di depan rumah.
"Melakukan apa." Aku yang masih tidak tau menau apa yang di maksud Bang Daffa masih saja sibuk membersihkan bibirku dengan tisu.
"Ini." Ucap Bang Daffa sembari meraih tisu di tanganku yang sedang aku gunakan untuk mengusap bibirku. "Ini menggodaku."
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862