Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Mawar Milik Rendi.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Harum dari melati yang menjuntai dari atas kepala memenuhi indra penciumanku. Kebaya putih bersih bertabur swaroski membuat kesan mewah pada tubuhku. Duduk di atas ranjang yang telah di hias sedemikian indah, membuat dadaku terus bertalu talu menunggu kedatangan sang pangeran yang berhasil meluluhkan hatiku.


Dua bulan, dari aku mengangguk sebagai jawaban iya untuk Rendi. Rendi benar benar menyipakan segalanya dengan detail dan bisa aku bilang sangat wah bagiku. Benar aku tidak bisa mengingat moment pernikahanku dahulu dengan Bang Daffa, tapi deg degannya, gugubnya seolah baru pertama kali ini aku rasakan.


Tidak ada yang akan tau dengan tulisan takdir tentang masa depan. Dan jika aku mengingat kembali kesan pertamaku dengan Rendi, aku tidak mengira bahwa ucapan yang aku anggap hanya candaan saja, semua berangsur angsur Rendi jadikan kenyataan.


Sesalku, hanya aku tidak bisa mengingat apa apa mengenai pertama hubunganku dan Bang Daffa bermula sampai berahir. Atau sebenarnya otakku tak menginginkan untuk aku mengingatnya. Entahlah. Kata Erik, akan lebih baik jika aku tidak mengingat itu selamanya. Karena, kadang sesuatu kebenaran harus tidak perlu di ungkapkan agar semuanya baik baik saja.


Lupakanlah hal itu hari ini, karena hari ini adalah hari bahagiaku. Sudah sedari subuh tadi semua sibuk menata segalanya, begitupun denganku yang sibuk dengan riasan serta menata perasaanku.


Tepat di pukul 08.25. Riasanku telah selesai di kerjakan oleh MUA dan kini mereka meninggalkan aku sendirian di kamar pengantin dengan pikiran melanglang buana menyemai setiap kenangan yang di ciptakan oleh Rendi bersamaku.


Sesekali aku akan tersenyum tidak percaya bahwa laki laki sekonyol Rendi bisa serius terhadapku yang tuga tahun lebih tua darinya. Dan senyumku semakin mengembang saat setiap kata rayuannya tersisip dengan sengaja mengelitik otakku. Hingga seluruh lamunanku harus berahir dengan ketukan pintu kamar secara pelan.


"Masuk saja, tidak di kunci." Ucapku dengan sedikit mengeraskan suaraku.


"Ceklek." Suara dari pintu yang terbuka dan aku menanti lumayan lama hingga pintu terdorong pelan.


Aku menajamkan pandanganku melihat seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum yang kaku membingkai bibirnya. Wajahnya terlihat sendu, meski dengan susah payah dia sembunyikan.


"Bang Daffa." Lirih aku menyebut namanya.


"Boleh aku masuk." Pamit Bang Daffa. Ini kali pertama aku melihat Bang Daffa setelah dua bulan lamanya. Terkejut sudah pasti, apa lagi Bang Daffa terlihat sangat menyedihkan.


Tidak menjawab aku hanya mengangguk pelan lantas berdiri dari tempatku duduk menuju ke arah kursi panjang di depan ranjang.


"Satu lagi, apa boleh menutup pintunya.?" Pinta Bang Daffa lagi.


Untuk sesaat aku bingung, namun setelah mengingat bahwa hubungan Bang Daffa dengan yang lainnya sedang tidak baik baik saja, akupun menyetujuinya. Karena aku yakin, tujuan Bang Daffa menemuiku tidaklah jahat, dan sudah barang tentu jika Bang Daffa ingin berbicara secara khusus denganku.


"Iya." Jawabku singkat.


"Terima kasih." Usai dengan ucapannya, Bang Daffa segera menutup pintu di belakangnya dan melangkah menuju ke arahku.


Duduk di tepi terjauh dariku, Bang Daffa tampak menghela nafas dalamnya berulang ulang. Lantas menyunging senyum tipis ke arahku yang masih menunggu apa yang hendak dia bicarakan denganku.


"Kamu terlihat cantik menggunakan gaun itu, War." Lirih Bang Daffa memulai kata dengan pujian.


"Terima kasih, Bang."


"Pernikahan impian. Itu adalah mimpi setiap wanita. Maafkan aku karena telah merampas itu darimu dulu." Ini bukan gaya Bang Daffa, karena Bang Daffa akan menatap lawan bicaranya hingga gentar, ini alih alih menatapku Bang Daffa justru tertunduk sembari berucap pelan.


"Aku ingin menebus semua kesalahanku terhadapmu, Mawar. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa mengampuniku." Dadaku menyempit mendengar penuturan Bang Daffa.


Mungkinkah dua bulan ini keluarga benar benar mengabaikannya dan membuatnya tertekan hebat. Karena, aku yakin air mata seorang laki laki tidak akan mudah luruh hanya karena emosional berupa perasaan hati karena seorang saja, terlebih itu perempuan dan perempuannya adalah aku. Nonsens.


"Dengan Allah mengambil ingatanku tentang Bang Daffa, sudah seharusnya tidak perlu ada lagi yang harus meminta maaf terlebih memaafkan." Ucapku lirih dengan mengulas senyum tipis kepada Bang Daffa. "Semua telah berlalu, Bang. Hanya Bang Daffa saja yang terlalu memikirkan hal itu dengan serius."


"Tapi, keluarga mengacuhkan aku. Aku merasa sendirian, War." Aku kembali tersenyum kepada Bang Daffa, sebagai bentuk suport untuknya.

__ADS_1


"Setiap luka akan menemukan obatnya, Bang. Hari ini mereka masih kecewa dengan Bang Daffa, tapi percayalah dengan tekat Bang Daffa membasuh luka, luka itu akan sembuh pada saatnya. Bang Daffa hanya butuh bersabar menerima perih sebelum berbuah manis." Bang Daffa mengangkat wajahnya, dan netra yang biasanya tajam menabrak pandangannya denganku lembut.


"Aku akan membantu sebisa yang aku bisa, Bang." Lanjutku dengan menambah volume senyum di bibirku lebih merekah lagi.


Bang Daffa justru memalingkan wajahnya dan sejurus kemudian lekas berdiri dari tempatnya duduk. Melangkah dengan tenang mendekat ke arahku, tangan Bang Daffa lebih dulu sampai di kepalaku dan mengusapnya dengan pelan.


"Langkahku melenceng jauh meninggalkan permata yang telah di siapkan untukku, dan saat ini aku harus menerima ganjarannya." Gumam Bang Daffa dengan nada penuh sesal di sertai dengan tarikan nafas dalam setelahnya.


Nalarku mencoba waras mendengar penuturan Bang Daffa dan mengahadirkan sosok Rendi dengan susah payah, agar apa yang telah di rencanakan jauh jauh hari berjalan dengan lancar.


Dalam kebekuan dan diam yang perkapanjangan ini, beruntung Allah memberi jalan bagiku. Pintu berderit terbuka, dan serta merta membawa langkah Bang Daffa kembali mundur berbarengan dengan langkah yang lain mendekat.


"War. Eh, Daffa." Nada kaget jelas terdengar dari Bu Mega, dan suara teguran tegas langsung Bu Asri layangkan kepada Bang Daffa.


"Apa yang kamu lakukan disini, Fa.?"


"Bang Daffa kesini karena Mawar yang meminta, Bu." Seperti janjiku tadi, bahwa aku akan membantu sebisa yang aku mampu, dan inilah salah satu upayaku.


Bu Asri memandangku lekat begitupun dengan Bu Mega. "Kamu tidak bohong.?" Tanya Bu Mega penuh selidik.


"Tidak, Bu. Sungguh, Mawar yang minta Bang Daffa datang kesini. Itu perihal Adit." Jawabku dan tak lupa menambh bubuhan senyum tipis, agar tampak meyakinkan.


"Keluarlah lebih dulu, Fa." Ketus Bu Asri.


Aku memberi isyarat agar Bang Daffa menyetujui permintaan Bu Asri, supaya semuanya lebih mudah. Mau bohong seperti apa, Bang Daffa adalah anak kandung Bu Asri, sebenci apapun Bu Asri kepada Bang Daffa tetap akan terlihat rasa ibanya. Dan aku melihat itu di mata Bu Asri, yang tampak berkaca kaca setelah mengucapkan itu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Saya terima nikah dan kawinnya, Mawar Ayudia Gayatri dengan mas kawin tersebut. Tunai. Nada tegas dan yakin Rendi, membuat airmata menyusuri pipiku secara pelan, berbaur dengan amin panjang dari do'a do'a para tamu udangan. Hingga ahirnya kami saling berhadapan dengan tangan Rendi yang terulur kepadaku.


Meraih tangan Rendi dalam genggamanku, lalu aku membawa tangan Rendi dalam ciumanku. Airmata bukan makin berkurang, justru semakin deras mengalir dari mataku. Dan ahh, manisnya perlakuan Rendi, di susutnya airmataku dengan ujung jarinya setelah mengangkat daguku.


Haru bercampur bahagia, kian semakin lengkap disaat semua memberi selamat kepada kami berdua yang kini telah berada di singgasana pengantin. Tangis haru, kini telah berubah dengan tawa nan malu malu. Apa lagi saat jemari Rendi yang seakan terkena lem, hingga sedari tadi terus menempel di ruas ruas jariku. Sukses membuat dadaku semakin menggebu.


"Kenapa belum selesai juga." Bisik Rendi pelan.


"Harus menyalahkan pada siapa, kebanyakan tamumu." Jawabku.


"Tau gini, mending bikin acara yang sederhana saja." Ucap Rendi lagi, sembari menarik tanganku mendekati bibirnya. "Menikah itu capek sekali, sumpah aku kapok. Tidak akan ada untuk yang kedua kali." Lanjut Rendi setelah mencium punggung tanganku.


Langsung aku tarik tangganku dengan paksa, dan seolah mengerti dengan apa yang aku pikirkan, Rendi sengaja menggegamnya lebih erat seraya berkata. "Aku kan bilang tidak akan ada yang kedua kali."


"Gerah tau tangannya." Kilahku.


"Manis banget deh, beneran." Kata Rendi lagi dengan langsung memandang mataku. Mendapat serangan mendadak dari Rendi sontak wajahku menghangat, dan bingung membuang arah pandangku darinya.


Serasa dunia milik berdua. Mungkin itulah yang di lihat oleh orang orang. Dan aku bisa apa coba, karena Rendi benar benar membuat aku kehilangan kata kata dengan tingkah konyolnya. Rendi seperti sedang memamerkan pada dunia, bahwa aku miliknya, padahal tanpa dia melakukan itu orang juga tau bahwa aku kini milik Rendi.


Puncak acara telah berahir, dengan tetatih merasakan pegal di kaki, pegal di bahu, sampai juga aku kembali ke kamar tempat ternyamanku.


Usai melepas baju yang lumayan berat, aku bergeser ke meja rias guna menghapus make up yang menempel dari sore tadi. Belum selesai aku membersihkannya, suara deritan pintu membuat gerak tanganku seketika berhenti.


Kini tanganku berubah gemetaran, saat tapak demi tapak semakin mendekat. Dan dari cermin di hadapanku dapat aku lihat Rendi berjalan mendekati ke arahku dengan jasnya yang disampirkan di tangannya.

__ADS_1


"Belum selesai, aku kira sudah mandi." Ucap Rendi sembari meletakkan tangannya di kedua bahuku.


Pijatan pelan Rendi di bahuku bukan membuatku nyaman, tapi malah menyulut sesuatu yang seperti terbakar dan jempalitan dadaku tidak bisa aku hindari lagi.


"Mandilah lebih dulu, habis ini kita sholat bareng yuk." Rendi berbisik masih tetap mengunci pandangan kami lewat kaca besar di depanku.


Tanpa menjawab Rendi, aku memilih bangkit dan melangkah tergesa menuju kamar mandi.


"Apa mau aku mandikan.?" Aku langsung menghadiahi Rendi delikan mata tajam, sementara Rendi malah terkikik seolah begitu geli melihat reaksiku. "Jangan lama lama mandinya. Aku beri waktu sepuluh menit, selesai tidak selesai aku akan masuk ke kamar mandi." Lanjut Rendi.


Aku membelalakan mataku oleh ucapan Rendi, dan tanpa menjawabnya aku memilih langsung masuk ke kamar mandi agar jangan sampai sepuluh menitku berkurang dengan cepat.


Tanpa ada gangguan, aku berhasil menyelesaikan ritual mandiku dengan cepat. Dan kini gantian Rendi yang berada di dalam kamar mandi.


Dadaku makin tak karuan, saat Rendi keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Dan pergerakan santai Rendi tanpa sadar terus aku ikuti hingga dia mengenakan baju kokonya, lantas mengambil tempat di depanku.


Ada rasa tentram yang tidak bisa aku jabarkan, saat usai salam tangan Rendi terulur kepadaku dan aku sambut dengan mencium punggung tangannya dengan takdzim. Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang, itu terbukti dari sikap Rendi yang berhasil menyakinkan aku dengan kegigihannya.


"Mawar tidak akan kehilangan jati dirinya sebagai bunga tanda cinta, hanya karena satu orang yang tak menginginkannya." Masih terngiang di ingatanku. Kini, aku membenarkan ucapan Rendi itu. Tidak harus banyak yang mencintai, karena satu cinta lantas mendapat balasan sudah cukup bagi cinta itu sendiri.


Rendi telah berhasil menumpulkan duri yang membelengguku, mengeluarkan aku dari nestapa, mengangkatku dari kubangan derita, menerbangkan aku menembus gelapnya mega melukis pelangi di angkasa. Kini, aku bukan lagi Mawar yang tak di cinta. Ada Rendi yang membasuh setiap kepedihanku dengan cinta yang di semai dengan ketulusan dan keikhlasan berdasarkan niatan ibadah.


"Akan sampai kapan kamu disitu. Ini sudah larut malam. Ayo tidur." Rendi menyadarkan aku dari lamunan panjangku.


Menarik tanganku agar bangkit dari sajadah yang masih membentang, Rendi membawaku ke peraduan. Lantas menarik turun mukena yang masih aku kenakan, hingga benar benar lolos dari kepalaku.


Tidak berkata apa apa, Rendi terus memindai setiap inci dari wajahku dengan tatapan memuja. Tangannya juga tidak tinggal diam, pelan nan hangat tangan besarnya telah menyusuri wajahku sembari menyibakan anak anak rambut yang jatuh di keningku.


Mataku tak sanggup terus terbuka tatkala Rendi sengaja mengikis jarak di antara kami, meninggalkan jejak hangat dan lama di keningku. Tetes demi tetes air mata kami membaur jadi satu. Ini bukan air mata kesedihan, ini adalah air mata bahagia kami. Betapa cinta telah memberkahi kami, dan cerita panjang kami telah bermula meninggalkan kenangan masa lalu penuh kepahitan.


Dalam rangkulannya, kini gelap malam tidak menakutkan lagi. Dalam dekapannya, tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi. Dan oleh cintanya, tidak ada lagi Mawar yang tak di cinta. Dengan gengaman erat tangan hangatnya, dunia bukan lagi tempat menakutkan bagiku. Karena aku adalah Mawar. Mawar milik Rendi.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...The End...


####


Alhamdulillah, ahirnya happy ending juga.


Terima kasih untuk pembaca setia Mak May yang telah mensuport Mawar. Dan tak lupa maaf beribu maaf, sering sekali saya sok sibuk dengan dunia nyata hingga harus di cari cari dulu. Sampai jumpa lagi di Lily dan Bang Iyud yah...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2