Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Perasaan yang terkendali.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Memilih menghindar adalah salah satu jalan bagi pengecut. Tapi, justru jalan itulah yang aku ambil sejak peristiwa malam itu. Merasa begitu bodoh dan terhina dengan ucapan Mas Karang sekaligus Bang Daffa, aku memilih pulang ke rumah Pak Agung tanpa Adit ikut bersamaku.


Tiga hari sudah aku berada di rumah Pak Agung, dan tidak ada tanda tanda Bang Daffa akan menjemputku. Bahkan menelfonku juga tidak. Hanya Bu Asri yang sesekali menelfon Bu Mega guna menanyakan keadaanku.


Selalu menghindari Bu Mega dan Kak Risma ketika menanyakan kenapa aku pulang tanpa Adit ataupun Bang Daffa, sekali dua kali berhasil. Tapi, aku rasa itu tidak akan berhasil kali ini. Karena sore ini, semua telah berkumpul dan memandangku dengan tatapan tanya mereka.


"Sebanarnya ini tidak pantas saya tanyakan, Mawar. Karena saya pikir kamu adalah wanita yang bijak. Tapi, ini sudah tiga hari, dan kamu belum kembali ke rumah suamimu. Sebenarnya ada apa.?" Ucap Pak Agung.


"Sungguh kami tidak apa apa kamu pulang, Mawar. Tapi, alangkah lebih baiknya jika pulangmu itu hanya mengunjungi kami. Juga tidak sendirian." Timpal Bu Mega. "Jeng Asri sampai kaget dan mendadak sakit karena kamu pamit pulang kesini lantas tidak lekas kembali kesana."


"Katakanlah, War. Kita bicarakan bersama dan mencari solusinya jika memungkinkan." Bang Nusa angkat bicara.


"Mawar hanya butuh sendirian untuk beberapa waktu." Lirihku.


"Tapi kenapa, beri kami alasan agar tidak menjadi menduga duga yang kemudian menggiring salah paham." Ucap Pak Agung.


"Karena Mawar melakukan kesalahan, dan Mawar perlu intropeksi diri." Jawabku.


"Nak Daffa tau kalau kamu kesini.?" Aku mengangguk mendengar pertanyaan Bu Mega kepadaku.


"Dia memberimu ijin." Lagi aku menganggukan kepala sebagai jawaban benar. "Jadi kapan Daffa akan menjemputmu.?" Lanjut Bu Mega.


"Mawar, menunggu Bang Daffa menelfon." Aku tidak sepenuhnya menjawab benar, karena sejujurnya saat aku berbicara kepada Bang Daffa akan keinginanku menepi sejenak, Bang Daffa tidak menjawab apapun, apa lagi sampai mengatakan bahwa akan menjemputku.


"Nanti Abang antar sekalian Abang ada perlu." Potong Bang Nusa.


"Nanti sekalian Papa ikut, Sa. Mama mau ikut juga.?" Tanya Pak Agung kepada Bu Mega.


"Tentu Pa, Mama kangen sama Adit. Lagi pula, Mawar harus segara di kembalikan ke keluarga Pak Bakti, agar tidak menjadi omongan orang." Jawaban Bu Mega cukup mengenai hatimu, hingga membuatku mengangkat kepalaku untuk menatap Bu Mega yang seolah tanpa beban berbicara seperti itu.


"Tapi, Mawar sudah ada janji akan ketemu sama Erik nanti." Jawabku pelan. "Mawar minta di antar besok saja bolehkah." Tawarku.


"Tidak. Membiarkan masalah berlarut larut itu tidak baik." Jawab Bu Mega dengan cepat. "Sudah pulang ke rumah, malah mau keluyuran sama laki laki lain. Apa itu pantas.?" Ketus Bu Mega yang mengingatkan aku akan sikap Bu Mega dahulu.


"Warrr...?" Aku tau dengan satu kata panjang yang keluar dari Bang Nusa untuk ku.


"Mawar tidak kemana mana, Bang. Mawar hanya menunggu Erik pulang saja. Mumpung Mawar ada disini."


"Sama saja itu menemui laki laki lain."

__ADS_1


"Ma, sudah jangan terlalu menekan Mawar." Bentak Pak Agung terhadap Bu Mega. "Apa Erik sudah menuju pulang saat ini, War.?"


"Sudah, Pak." Jawabku pelan.


"Tidak masalah, temui dulu Erik, mengingat kalian dulu sangat dekat. Nanti setelah itu baru kami antar kamu kerumah Pak Bakti." Putus Pak Agung. "Pergilah, War." Lanjut Pak Agung dan akupun bergegas meninggalkalkan ruang keluarga guna menuju kamarku. Tidak sebenarnya dulu adalah kamarku dan Kak Melati.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Suara burung di taman belakang rumah Erik menambah indah sore dengan senja yang sempurna. Duduk di bawah pohon Kelengkeng, dengan dua cangkir kopi menambah nikmat suasana yang justru berbanding terbalik dengan hatiku.


"Jadi, Loe mulai ingat sama gua setelah sekian purnama." Buka Erik setelah cukup lama kami diam.


"Andro kelihatan sehat, Rik." Justru kata yang lain keluar dari bibirku.


"Jangan ngalihin pembicaraan, War. Gua tau loe cari gua karena butuh sesuatu. Bukan karena merindukan gua." Skak Erik.


"Ketahuan banget yah." Ku buat wajahku selucu mungkin di depan Erik.


"Jijik banget gua lihat muka loe." Aku justru menyunggingkan senyum mendengar penuturan Erik. Jijik, kata itu kenapa lain rasanya ketika Erik yang mengatakannya.


"Katakan loe mau apa maksa maksa gua pulang, padahal nanti malam waktunya ngapel." Kata Erik lagi dengab wajah berbinar.


"Halah kayak yang punya gebetan aja. Padahal juga status masih jomblo abadi."


"Kiakk, percaya diri banget. Siapa tau nanti cuma di PHP."


"Kagak mungkin neng. Karena gua kenal dia di jemaat. Gua tau dia cewek yang baik. Dan benar kata loe, mencintai orang karena melihat Tuhan ada pada dirinya itu sesuatu sekali." Binar bahagia tampak jelas di wajah Erik. Dan aku tidak tega jika harus menceritakan masalahku padanya.


"Aku ikut senang Rik mendengarnya." Ucapku tulus.


"Gimana sama loe. Bukannya Daffa cinta pertama loe, jadi pasti hidup loe fine fine aja kan.?" Tanya Erik serius.


"Ya, seperti yang kamu lihat. Aku baik baik saja." Ucapku dengan membubuhkan senyum tipis.


"Itu berat buat loe.?" Aku menggeleng pelan sebagai jawaban. "Adit bagaimana.?" Lanjut Erik.


"Adit cukup manis, kamu tau sendiri kalau Adit lengket banget sama aku." Jawabku.


"Bapaknya Adit gimana.?" Tanya Erik sarat akan kekwatiran. "Dari sikap dia yang sebelumnya sama loe, gua jadi kepikiran mungkin saja dia.."


"Dihh, apapan coba. Orang buntutnya saja udah aku pegang, otomatia Bapaknya ngikutilah. kamu aja yang terlalu parno, Rik." Erik menggaruk bagian belakang kepalanya tak beraturan. "Aku jadi curiga sama kamu, jangan jangan kamu pulang bukan karena terpaksa seperti katamu, tapi emang kamu sudah tidak tahan mau cerita sama aku soal cewek yang lagi kamu taksir." Lanjutku yang itu sukses membuat Erik salah tingkah.


"Jadi, kapan kamu mau ngenalin cewek itu sama Mami dan Papi kamu. Lebihnya sih kenalin dulu sama aku, apa dia benar benar masuk seleksi sebagai kandidat calon iparku." Kataku lagi membuat Erik semakin salah tingkah.

__ADS_1


"Gua, gua bel.."


"Stop, kayaknya waktu ku terbatas dah, Rik." Ucapku sengaja memotong perkatataan gugub Erik, dan langsung berdiri membuat wajah Erik yang tadinya tidak menentu berubah penuh kejengkelan.


"Mau kemana loe.?" Tanya Erik dengan nada lucu.


"Mau pulang, aku belum mandi, dan lupa sedaei pagi belum gosok gigi."


"Jorok banget sih loe." Umpat Erik sembari lekas menghindariku. "Sial banget gua punya teman kayak loe." Lanjut Erik.


"Kamu tau mau nyari aku dimana kan." Ucapku asal saja dan mulai berjalan menjuahi Erik.


"Enggak butuh gua sama loe."


"Tidak masalah kamu tidak butuh aku. Yang pasti kamu akan butuh nasehatku, Rik. Jadi, jangan di kejar mulu anak orang. Dia akan lebih senang di kasih kepastian. Nikah sana woy, udah tua juga." Kataku sebelum menghilang di balik pintu belakang tempat membuang sampah, akses pintas untuk menunu rumah Pak Agung.


Erik terus saja mengumpat dan berucap sumpah serapah yang selalu dilakukan ketika kami sedang dalam keadaan normal. Dan ini kali pertama sejak pernikahan Kak Melati, hubunganku dan Erik kembali seperti sedia kala. Tidak apa, tidak jadi membagi beban dengan Erik, sertidaknya mendengar kabar bahagia Erik sudah bisa mengurangi bebanku sendiri.


Aku rasa tidak kali ini, bukan jalan bagiku untuk menyerah begitu saja dengan hubunganku dan Bang Daffa. Seperti Erik yang ahirnya menemukan alasan baginya untuk mendekati wanita, begitupun denganku yang akan merebut kembali kepercayaan Bang Daffa yang untuk sebentar lalu pernah di berikan kepadaku.


Setidaknya aku harus punya alasan yang kuat ketika aku memutuskan untuk menyerah. Soal ketidak nyaman perasaan dengan hadirnya Mas Karang mau tidak mau, suka tidak suka, pasti akan berdampak juga. Tapi, yang punya tali kekangnya adalah aku, maka akulah yang harus mengendalikan perasaanku.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2