Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Rapuh.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dua bulan berlalu dengan kesibukan yang tidak pernah terbayangkan sebelummya. Mahad, Pesantren tempat Prakerin, sudah seperti putaran yang terus kami lewati. Bahkan kami sampai melupakan hal yang paling manusiawi dari manusia. Yup, Healing. Kami melupakan itu, dan hanya fokus pada kertas dan bala tentaranya saja.


Ponsel juga seakan menjadi benda pasif bagi kami, terutama ponselku yang memang tidak memiliki filtur penunjang bagi kegiatan belajar kami. Dan selama dua bulan ini, Ponselku memang lebih banyak menganggur, karena si pembuat sibuknya sedang sibuk sendiri di dunianya. Biasanya, dia hanya akan mengirimiku pesan saat tengah malam buta dan saat aku membalasanya di pagi harinya itu sudah kadalwarsa.


Ahirnya, kesibukan berahir hari ini begitu stampel Mahad memberi kami cuti untuk menikmati liburan. Melangkah penuh bahagia, aku dan Bia telah menyusun rencana liburan kali ini dengan ikut pulang di salah satu teman sekamar kami yang itu tidak jauh dan tidak pula sampai ke luar kota.


Kebahagiaanku semakin bertambah, dengan bergetarnya ponselku dan menampilkan sebuah gambar amplop terbang dengan nama dia yang sengaja aku samarkan. Pamit kepada Bia, aku menepi di tempat yang cukup teduh dan mulai membalas pesannya, yang sesungguhnya itu tidaklah spesial.


Menanyakan kabar dengan sedikit gombalan itu biasnya yang terjadi. Namun, kali ini sungguh di luar expectasi. Karena, kalimatnya cukup singkat dan jelas, bahwa dia mengajakku untuk bertemu besok di tempat dan jam yang sudah di tetapkannya. Dan setelah aku membalasanya dengan kalimat seadanya pula. Pesan hanya berahir sampai di situ. Dan mungkin karena dia masih sibuk.


Kembali berkumpul bersama teman temanku, kami membahas hal hal mengenai libur seminggu yang di berikan, dan akan mengisi dengan apa saja. Serta hal apa yang tidak boleh terlupakan saat libur berahir, itu yang paling penting tentunya.


Waktu seakan berputar dengan lambat, saat tengah menantikan sesuatu yang istimewa. Begitupun denganku yang tidak sabar menantikan hari esok tiba untuk berjumpa dengan dia yang membawa hati ini bersamanya. Cih, lebay sekali kata kataku.


Menginjak sore hari, libur benar benar telah di mulai. Dan banyak dari kami yang memilih untuk pulang atau ikut pulang ke rumah teman. Berhubung rencanaku menikmati libur adalah besok, maka aku memilih menyibukan diri di ruang jahit dan memanfaatkan kain sisa, hingga jadi sebuah kemeja kecil untuk Adit.


Tersenyum puas dengan hasil karyaku, pikiranku di penuhi dengan bayangan Adit yang tengah terseyum sembari memanggil namaku. Entahlah, rasa rinduku dengan anak itu kian membuncah ahir ahir. Sesungguhnya itu bukan tanpa alasan terjadi, lantaran akulah yang sengaja menghindari Adit.


Sejatinya, bukan Adit yang aku hindari, melainkan Bu Mega. Aku sengaja tidak ingin memangkat panggilan telfon dari Bu Mega, lantaran beliau seakan menekan untuk jawabanku, sehingga selama sebulan ini aku sengaja tak ingin berkomunikasi dengan Bu Mega, dan itu berimbas dengan Adit juga.


"Mawar..!" Bia berlari lari sembari mengacungkan ponselnya.


"Ada apa, Bi." Ucapku acuh sembari merapikan beberapa benang. Aku sengaja melakukan itu, karena kadang Bia suka mengaggetkanku dengan hal yang tidak penting.


Bia menata nafasnya yang sedang ngos ngosan dan kemudian lekas kembali berbicara. "Adit, Adit vidio call."


"Ehh, bagaimana bisa.?" Tanyaku kaget, karena aku tidak pernah merasa memberikan nomer ponsel Bia kepada siapapun orang di rumah.


"Ya jelas bukan Adit sendiri yang telfon."

__ADS_1


"Tau, Bi. Cuma aku tidak pernah memberikan nomer ponselmu ke orang rumah." Jawabku dan hanya di jawab Bia dengan mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa dia juga tidak tau menau.


"Nah ini dia." Kata Bia dengan tiba tiba saat ponselnya bergetar.


"Ini foto Adit kan.?" Kata Bia lagi sembari memberikan ponselnya kepadaku.


Tanpa menjawab Bia, aku memilih menggeser tombol hijau ke atas dengan cepat wajah manis Adit sudah memenuhi layar dan di sertai dengan senyumnya pula. "Ti, Ti Wa." Ucapnya dengan aksen cedalnya.


"Assalamu'alaikum.." Sapaku sembari melambaikan tanganku.


"Ikum alam ikum." Jawab Adit menggemaskan dengan di bantu orang yang membisikinta dari belakang. Siapa.? Tentu saja Bu Mega.


"Adit lagi apa. Udah mamam belum.?" Pertanyaan biasa yang aku ajukan saat bertelfon dengan Adit.


"Mamam ****."


"Adit suka banget sama tempe, kalau di ganti tahu mau.?"


"Hu, tak nak. Asin." Jawabnya dan itu sukses membuatku tertawa dan hingga hampir setengah jam lamanya aku dan Adit terus saja bercanda, sampai pada ahirnya ponsel berpindah ke Bu Mega dan aku sedikit merasa canggung.


"Mawar, Mawar hanya libur beberapa hari, Buk. Jadi, Mawar rasa jika di buat pulang akan capek di jalannya." Jawabku membuat alasan.


Terlihat Bu Mega menghela nafas dalamnya sebelum ahirnya berucap kembali. "Kamu sengaja menghindari Ibu kan, Mawar.?".


Deg, Aku seketika menunduk mendengar penuturan Bu Mega, ingin aku menjawabnya tidak, namun itulah yang aku lakukan sesungguhnya.


"Ibu mengerti, War. Maafkan Ibu, karena telah terlalu menekanmu." Ucap Bu Mega sembari memindah kamera ponsel hingga layar kini di penuhi oleh Adit yang sedang berjalan kesana kemari sembari menyeret boneka Teddy bear.


"Ibu melakukan semua itu karena Adit. Lihatlah, kamu bisa lihatkan, bagaimana Adit jika sampai salah asuh atau mendapat Ibu yang tidak menyayanginya, atau yang lebih parah akan menyiksanya. Ibu takut, karma Ibu yang kurang baik dulu terhadapmu akan menimpa Adit."


Ingin sekali aku abai dengan ucapan Bu Mega, hanya saja sisi hatiku tak menginginkan hal itu, hingga mau tak mau ucapan Bu Mega seakan menggerakan hatiku agar memikirkan permintaan Bu Mega dengan sungguh sungguh.


"Beri waktu Mawar sampai lulus, Buk." Ucapku singkat dan ini kali pertama aku memberi jawaban untuk Bu Mega setelah usahanya membujuk ku untuk menjadi Ibu sambung bagi Adit.

__ADS_1


"Itu artinya setahun lagi.?"


"Iya." Jawabku singkat. Ya, setidaknya dengan mengatakan kepada Bu mega hingga setahun kedepan, kemungkinan hubunganku dengan Mas Karang akan semakin dekat dan bisa jadi hubungan kami juga sudah memiliki nama yang benar.


Bukankah menjadi Ibu sambung bagi Adit tidak harus menikah dengan Ayahnya Adit, dengan aku menikah aku juga bisa membawa Adit bersamaku. Tapi, itu jika di ijinkan oleh Ayahnya. Pada intinya, waktu setahun yang aku pinta kepada Bu Mega adalah waktu mengulur hingga sampai hubunganku dan Mas Karang sama sama di ketahui oleh masing masing keluarga.


"Ibu tidak pernah tau kamu dekat dengan siapa, atau siapa yang mendekatimu kecuali Erik. Sehingga Ibu berharap banyak dari setahun itu War. Dan semoga itu memang benar benar waktu yang kamu pinta bukan alasan yang kamu buat buat. Jika itu berat bagimu, maka ingatlah Melati." Ucapan Bu Mega berhasil membuatku mengangkat kepalaku kembali.


Melati, entah kenapa hanya dengan satu nama itu membuat aku tak bisa berkutik. Mungkin benar, tersisa rasa kecewa di dada dengan Kak Melati. Tapi, rasa nyaman, rasa sayang yang tumbuh di dadaku masih sama suburnya dengan kecewaku. Bukankah, satu kesalahan Kak Melati telah di tebus dengan seumur hidupnya memberi cinta untuk ku.


Lalu, apa pantas jika aku masih kecewa dengannya. Apa aku pantas untuk merasa kecewa kepada dia yang telah mempertanggung jawabkan segalanya di hadapan maha pengampun dosa. Dan mungkin saja itu bukan kesalahan melainkan musibah yang sengaja di berikan kepadaku agar aku mengenal sosok Kak Melati. Sekali lagi hatiku terlalu rapuh agar untuk tidak perduli.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2