Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Aku Harus Tenang.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Empat hari berlalu dengan bahagia untukku pribadi dan terutama untuk Aliena juga Adit. Kebersamaan singkat sebagai anggota keluarga lengkap cukup menjadi doping untuk Aliena. Makanya perjalan pulang ke Kota G hari ini terasa menyenangkan dengan candaan Aliena dan Adit di jok belakang.


Bagaimana dengan reaksi Ayah Aliena setelah keinginannya aku tolak dua hari lalu. Sikapnya kembali seperti dulu, dingin. Tapi, sekali lagi aku tak mau ambil pusing soal itu, selama itu tidak berpengaruh bagi anak anak. Hanya saja, Adit sudah cukup besar untuk tau segalanya dengan mengamati.


Apa aku harus mengatakan jika Adit merupakan korban dari perceraian antara aku dan Ayahnya.? Harusnya tidak, tapi apa yang aku lihat dari Adit berbeda. Bagaimana caranya dia menyembunyikan perasaannya, agar kami para orang tua menjadi nyaman, cukup menjadi pukulan tersendiri bagi diriku. Adit terluka dengan perpisahan kami.


Adit tau aku bukan Ibu biologisnya, tapi Adit tumbuh bersama denganku dan kasih sayangku tulus untuknya. Oleh karena itu, jika Adit merasa perasaannya terabaikan atas keegoisan kami orang tua, aku bisa memaklumi itu. Beruntungnya meskipun begitu Adit tidak begitu introvet karena memiliki Om Affin di sampingnya.


"Ayah, kita jadi berhenti di tempat wisata waktu itu kan. Aliena mau main disana." Pekik Aliena begitu mobil yang kami kendarai sudah mulai keluar dari Kota A.


"Boleh." Singkat dan jelas. Bahkan dia tidak sama sekali menoleh ke arahku guna meminta pertimbanganku.


Aku sengaja menatapnya cukup lama, agar dia tau bahwa aku berada di sampingnya sebagai Ibunya Aliena, yang tau bagaimana kondisi Aliena .


"Katakan saja, aku tidak akan bisa mendengar apa yang sedang kamu debatkan di hatimu." Katanya datar tanpa menoleh ke arahku.


Sikapnya yang seperti itu membuatku menggelengkan kepala dan aku mensyukuri keputusanku tempo hari. Karena dari sini semua cukup jelas, apa yang akan terjadi padaku jika menerima ajakannya untuk rujuk. Dia masih egois.


"Tidak bagus bagi Aliena berada di tempat panas terlalu lama." Lirihku.


"Kita bisa cari tempat yang nyaman untuk Aliena." Lagi masih dengan nada cepat. Tidak taukah dia, bahwa itu membuat respeck yang aku bangun susah payah runtuh seketika. Jika aku bisa menekan egoku hanya untuk Aliena, kenapa dia tidak bisa. Masih salahkah penilainku jika dia terlalu memaksakan semuanya agar sesuai keinginannya.


"Tidak perlu lama, asal Aliena sudah tau disana." Lanjutnya masih dengan nada datar. Dia marah padaku, iya itu benar. Tapi, aku juga bisa marah jika aku mau menuruti perasaan, di tambah dengan sikapnya yang semaunya sendiri aku juga bisa meledak kapan saja. Tapi aku menahannya, demi anak anak. Sekali lagi demi anak anak, dan ini sudah untuk yang kesekian kalinya.


"Lama atau sebentar sama saja, ini cuacanya terlalu panas untuk Aliena."


"Jangan kwatir berlebihan." Apa katanya, apa aku tidak salah dengar. "Aku akan siapkan keperluan Aliena agar nyaman. Hanya diam dan ikuti." Ingin sekali aku mendebatnya, andai aku tidak menengok kebelakang dan mendapati wajah Adit yang berubah menegang karena mendengar perdebatan kecil kami.


Ahirnya, setelah berkendara hampir empat puluh menit dengan aku memilih bungkam demi kenyamanan anak anak. Kami sampai juga di tempat wisata yang di tuju. Ini bukan pertama kali aku kesini, karena dulu aku pernah datang kesini dengan Ayah Aliena dan Adit. Yang sempat membuat perasaanku salah paham.


Aku sibuk mempersiapkan Aliena, jaket, syal, kaos kaki, semua telah aku pasangkan. Sementara Ayah Aliena dan Adit tengah menuju tempat penyewaan perlengkapan. Benar, tidak butuh waktu lama semua sudah siap sedia, sampai dengan kereta dorong buat Aliena.


Berajalan santai dengan formasi, Aku, Adit, dan Ayah Aliena yang mendorong kereta Aliena. Kami bak keluarga yang tengah menikmati liburan bersama sama.


"Dulu belum ada mini kebun binatangnya ya Bunda waktu kita kemari." Ucap Adit pelan.


"Bunda dan Abang sudah pernah kesini, curang. Kenapa Aliena tidak di ajak." Protes Aliena begitu ikut mendengar penuturan Adit.


"Abang masih sekecil, Aliena. Jadi Aliena masih belum ada." Jawab Adit.

__ADS_1


"Kenapa Aliena belum ada.?"


"Kenapa ya, karena Abang belum minta sama Bunda." Jawaban Adit membuat Aliena semakin penasaran.


"Burungnya minta makan, Bang." Selaku untuk mengganti topik.


"Yah, Alin juga mau kasih makan Burung Burung."


"Biar Abang bantu." Adit sengaja mengambil ember kecil tempat pakan burung dari tanganku.


Keduanya tertawa bahagia melihat Burung Burung berebut biji bijian yang di lempar oleh Aliena dan Adit. Sementara aku yang berdiri tidak jauh di belakang mereka juga ikut tersenyum melihat kedunya. Andai boleh meminta, aku tak ingin hari ini usai begitu saja, lantaran begitu bahagianya aku melihat Aliena dan Adit bisa tertawa bersama.


Hembusan nafas kasar membuatku memalinglan kepala ke arah suara itu berasal. Tatapannya luris ke depan ke arah Adit dan Aliena. Wajahnya datar dengan tangan yang di lipat didadanya, membuat kesan dingin begitu terasa. Mungkin, itulah daya magicnya ketika berada di dalam ruangan sidang. Intimidasi dengan sikap yang membuat lawan gentar. Dan aku akui itu berhasil kepadaku.


Aku menyimpan senyumku dengan cepat begitu ucapannya meluncur begitu saja tanpa memikirkan bahwa itu menyakitkan.


"Jika tawa mereka sampai hilang, itu salah satu sebabnya adalah kamu." Terdengar tanpa perasaan, tapi aku bisa membenarkan ucapannya.


Namun, tidakkah dia berpikir bahwa keputusan yang aku ambil juga ada sebab darinya. Semakin kesini, aku semakin tidak tau pola pikirnya yang selalu mau menang sendiri. Dan cara terbaik menghadapi Ayah Aliena dengan diam, agar pikiran ini tetap waras.


Berbagai wahana dan tempat sudah kami jelajahi, dan kini tibalah kami di salah satu tempat yang dimana dulu kami bermalam tepat disaat matahari menuju ke senja. Tempatnya sudah banyak berubah, hanya saja Muaranya tetap sama.


Senja yang sama dengan rasa yang berbeda. Ya, semua silih berganti. Karena memang dunia ini hanya tempat persinggahan yang terus akan bergantian.


"Kita akan tidur di tenda kan, Yah.?" Tanya Aliena dengan girang kepada Ayahnya.


"He'em. Aliena senang sekali. Terima kasih Ayah." Tangan kecil Aliena merangkul tubuh Ayahnya.


"Ayah, ayo kita foto bersama di sana." Kembali Aliena berucap sembari bertindak, yakni dengan langsung menarik tangan Ayahnya.


"Sayang, sudah sore. Kita bersih bersih dulu yuk." Bujukku.


"Tidak, mau foto dulu. Sama Ayah sama Bunda, juga Abang." Kekehnya.


Aku dan Ayah Aliena saling pandang. Tatapan canggung lebih tepatnya. Namun, aku juga tidak bisa berkata apa apa kepada Aliena, begitupun dengan Ayah Aliena.


Berjalan pelan kami menuju ke bibir Muara yang kelihatan berkilau oleh cahaya senja. Bola api besar terlihat memerah di balik kami berdiri, memantul dengan berita misterinya yang akan segera hilang bersama pekatnya malam. Berlatar senja, kami mengabadikan moment bersama celoteh riang Aliena.


"Aliena bahagia sekali hari ini. Terima kasih Ayah, terima kasih Bunda, terima kasih Abang." Ucapnya dengan mengecup kami secara bergantian. Satu kebahagiaan kecil bagi Aliena meski itu hanya sebuah keutuhan keluarga lewat foto belaka.


"Kembali kasih, sayangnya Bunda." Jawabku sembari menyentil hidung bangir Aliena. "Sekarang ayo kita bersih bersih." Lanjutku sembari mengulurkan tangan untuk menggendong Aliena.


"Aliena mau gendong di belakang tubuh Abang." Jawabnya.

__ADS_1


"Abang capek, biara gendong Bunda saja. Ayo sini." Aku sudah berjongkok di depan Aliena.


"Ayah gendong Abang ya." Jawab Aliena.


"Abang sudah besar." Potong Adit.


"Tidak apa apa. Kita balapan siapa yang sampai kamar mandi lebih dulu." Timpal Aliena lagi.


"Boleh, ayo. Cepat Bang, naik punggung Ayah." Kata Ayah Aliena dengan bersemangat.


"Ayo cepat Bunda, Aliena mau menang."


"Tidak boleh curang, masak Abang baru mau naik punggung Ayah, Alin sama Bunda sudah jalan dulu." Pekik Adit spontan. Dan derai tawa Aliena semakin keras saja, saat kami hampir sampai di kamar mandi umum dan Adit serta Ayahnya masih tertinggal di belakang. Sengaja mengalah tentunya.


Masih ngos ngosan aku membuka syal Aliena dan seketika mataku membelalak begitu melihat ruam merah yang hampir merata di leher Aliena. Rasa kwatir seketika menghinggapi pikiranku, dan rasanya menunggu kedatangan Ayah Aliena yang hanya berjarak beberapa meter saja seakan membutuhkan waktu berjam jam lamanya.


"Tidak apa apa, Bunda. Ini sudah tidak sakit lagi. Karena Aliena bahagia hari ini. Jadi Bunda juga harus bahagia jangan suka nangis ya, Aliena sudah tidak sakit lagi." Seakan tau apa yang aku pikirkan Aliena langsung menepikan tanganku yang masih menyusuri lehernya.


Tidak lama, masih lama berjalannya Adit dan Ayahnya, hanya dengan hitungan detik setelah mengucapkan itu. Aliena seperti kain yang jatuh dari tempatnya di gantung, lemas dan limbung dalam dekapanku.


"Alin, Aliena sayang. Dengar Bunda." Berupaya setenang yang aku bisa. Aku terus memanggil manggil Aliena yang beransur angsur membiru meski senyum kecil tetap tertinggal di bibirnya.


"Aliena, anak kuat. Aliena anak hebat. Ini lihat Ayah sudah datang." Ucapku begitu Ayah Aliena sampai di tempatku dengan senyum Adit yang langsung menghilang, begitupun dengan Ayah Aliena. Aku tidak bisa berkata apa apa, di tengah situasi panik yang di alami Ayah Aliena. Aku menangis juga tidak bisa, aku hanya merasa harus lebih kuat saat ini dengan senyum kecil Aliena yang tertinggal di bibirnya. Itulah satu satunya alasan kenapa aku harus tenang.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2