Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Cukup Sadar Diri.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hampir enam jam tenggelam dalam kesibukan hingga melupakan segalanya, aku baru tersadar bahwa aku punya kewajiban lain setelah melihat Gus Karim yang sudah hendak meninggalkan tempat pengungsian. Dan Gus Karim seperti mengerti dengan kesibukanku serta keterbatasan relawan perempuan, oleh sebab itu Gus Karim sengaja menghampiriku sebelum meninggalkan tempat ini.


"Mbak Mawar, sampean tetap disini saja, karena disini masih kekurangan tenaga perempuan. Nanti biar saya ijinkan ke bagian pengurus." Untuk sesaat aku gusar akan ucapan Mas Karim, bukan karena aku ragu akan perkataan Gus Karim. Tapi, lebih karena ketidak nyamanku oleh baju serta kerudung yang aku gunakan dari pagi hingga sore ini.


"Maaf, Gus. Sebenarnya saya mau kembali saja, karena saya kurang nyaman dengan pakaian saya yang sudah kotor." Jawabku jujur meski dengan sedikit nada takut.


"Saya paham, Mbak Mawar. Tapi, ini tidak bagus jika sampean pulang saat ini, mengingat langit sudah akan gelap dan jalan yang harus di lalui adalah hutan sekaligus licin." Gus Karim menjeda ucapannya, dari ekor mataku yang tengah memandang ke bawah, aku bisa melihat Gus Karim tengah melirik ke sebelah kiri dimana Mas Karang tengah beridri. "


"Tenaga sampean di butuhkan disini, jadi saya minta sampean disini beberapa waktu dulu." Aku kaget mendengar kelanjutan Kata Gus Karim, tapi aku juga tidak bisa membantah ucapan Gus Karim, dan aku hanya bisa meremas kedua tanganku bergantian. "Besok pagi pagi sekali sekali saya akan datang lagi kesini, sekalian saya akan bawakan baju ganti sampean. Jadi, sampean tulis saja apa apa yang sampean butuhkan, nanti biar Mbak Bia yang menyiapkan.".


Kali ini aku tidak bisa membantah lagi ucapan Gus Karim, apa lagi saat Gus Karim justru menitipkan aku kepada Mas Karang agar menjaganya.


Taukah kamu, hal yang paling aku takutkan sebenarnya jika tetap disini, adalah rasa tidak pantas yang akan menyubur di tengah penderitaan orang banyak, lantas menjadikan keadaan ini menjadi alasan kenapa aku harus disini dan melupakan tujuan tentang membantu sesama.


Mungkinkah ikhlas akan tercapai, jika ada alasan lain dari sebuah tujuan. Atau akankah tumbuh ikhlas di dada, jika dalam setiap gerak ingin di perhatikan. Allahurobbi, andai aku bisa mengendalikan hati ini agar tak bercabang kemana mana, lantas mengikat segala nafsu cinta yang belum termiliki, maka akan lebih mudah menjalani ini sebagai sebuah tugas panggilan hati.


Kembali dengan secarik kertas yang sudah ku lipat. Aku mendapati Gus Karim dan Mas Karang yang tengah berbicara di samping mobil Gus Karim. Melihat mereka sedang berbicara sedikit serius, kakiku tak ingin melanjutkan langkahnya dan sudah hendak berbalik, namun tidak berlanjut karena Mas Karang menyadari kehadiranku.


"Mawar." Ucap Mas Karang. Akupun memajukan kakiku sembari menunduk.


"Ini Gus." Ucapku singkat ke Gus Karim sembari menyerahkan secarik kertas kepadanya.


"Oh iya." Di raihnya kertas yang ku angsukan dan segera mengantonginya. "Mas Karang, jangan lupa jagain Mbak Mawar. Saya agak sanksi jika sampean sudah sibuk." Mas Karim kembali mengulangi kata katanya tadi. Dan menurutku itu lucu sekali, seperti aku adalah anak kecil yang tida pernah hidup di luaran, andiakan mereka tau, bahwa apa yang pernah aku lakukan lebih dari ini pasti mereka tidak akan percaya.


"Oke, siap siap." Jawab Mas Karang, dan dari nadanya seperti sembari tertawa.


Gus Karim segera berpamitan dan kemudian beranjak meninggalkan lapangan pengungsian dengan segera setelah salamnya kami jawab. Setelah mobil Gus Karim tak lagi terlihat, akupun lekas berbalik, begitupun dengan Mas Karang.


Tidak ada kata yang kami keluarkan meski kami berjalan beriringan, dan akupun memilih untuk kembali berjibaku dengan apa yang di tugaskan terhadapku, dan berusaha sekut tenaga untuk fokus menjalani perananku membantu di bagian medis, meski aku tau itu sama sekali awam buatku.


Langit sudah menggelap dan dua tiga bintang muncul menghiasi gelap malam, saat Mbak Yesha ahirnya menyelesaikan memerban tangan seorang anak perempuan kira kira usia delapan tahunan. Di tengah segala keterbatasan ini, aku terus saja menunggui anak kecil di depanku dengan terus mengenggam tangannya erat.

__ADS_1


Trauma, itulah yang berada di dalam otak bawah sadarnya, hingga dalam pejamnya sesekali dia terus saja berjingkat kaget dan kadang kala berteriak memanggil kedua orang tuanya untuk minta tolong. Hingga tengah malam, suara suara terus silih berganti di tenda khusus orang terluka.


Rintihan, tangisan, kesakitan, dan banyak berbagai lainnya. Namun, bagiku anak kecil di depanku ini sungguh membuatku tak bisa meninggalkannya walau untuk sejenak saja.


"Belum tidur, Mawar.?" Suara Mas Karang tiba tiba mengagetkanku, dan membuatku menoleh ke arah Mas Karang yang sedang mengechek infus di sebrangku duduk.


"Belum ngantuk Mas." Jawabku.


"Istirahatlah, Mawar. Kamu capek sudah kerja seharian. Kamu masih butuh tenaga untuk besok juga." Jawab Mas Karang lagi.


Aku tidak menjawabnya dan hanya terus diam sembari tak ingin melepaskan tangan kecil yang berada dalam genggamanku. "Bolehkah saya tidur disini saja.?" Tanyaku kepada Mas Karang, yang itu lebih tepat di sebut permintaan.


"Disini ada perawat khusus jaga, Mawar. Akan lebih baik kamu beistirahat di tempat yang sudah di sediakan untuk mu. Seperti yang aku bilang tadi, kamu masih membutuhkan tenagamu untuk esok hari." Kata Mas Karang.


Ku hela nafasku dalam dalam. "Mas Karang ada jadwal malamkah saat ini.?" Tanyaku sembari menolehnya, dan ahh, pemandangan apa ini. Kenapa di balik wajahnya yang lelah, Mas Karang justru terlihat semakin manis dengan senyum tipisnya.


"Tidak, hanya saja aku memastikan kamu Istirahat lebih dulu." Jawab Mas Karang kalem.


Hati ini kembali salah paham dengan ucapan Mas Karang yang aku sebut sebagai perhatian, namun pada kenyataanya adalah sebuah tanggung jawab yang di amanahkan kepadanya.


Aku bangkit dari tempatku dan hendak berjalan pelan menuju tempat istirahatku. Namun, saat aku berada di luar tenda, hawa dingin langsung mengigit kulit wajahku, hingga tanpa aku sadari gigiku gemeratakan untuk mengalihkan hawa dingin.


"Sudah mendingan.?" Jas Mas Karang yang menyampir di kedua bahuku seketika menghangatkan tidak hanya dengan tubuhku, tapi juga dengan hatiku. Dan itu berhasil membuat langkahku tertahan untuk menoleh ke samping dimana Mas Karang berada.


"Mas. Hachu."


"Kamu alergi dingin sepertinya, Mawar." Ucap Mas Karang. "Ayo lekaslah, jangan sampai kamu hepotermia." Lanjut Mas Karang sembari hendak menarik tanganku, namun segera aku menghindarinya.


"Saya bisa sendiri, Mas." Jawabku lantas mempercepat langkahku.


"Maaf, Mawar. Aku tidak bermaksud seperti itu tadi." Ucapan Mas Karang membuatku memelankan langkahku. "Maaf, karen."


"Tidak apa apa Mas Karang. Saya paham." Ucapku sembari berbalik dan segera meraih jas Mas Karang yang meyampir di tubuhmu.


"Ini kamu pakai saja." Mas Karang segera berucap saat aku mengangsukan jasnya.

__ADS_1


Aku menggeleng pelan. "Saya ada jaket di dalam. Saya tadi hanya lupa memakainya." Jawabku.


"Mawar, saya sungguh tidak ada maksud apa apa.."


"Saya tau Mas Karang. Saya juga tidak akan salah paham. Ini." Ucapku sembari mengulas senyum tipisku untuk Mas Karang.


"Baiklah." Jawab Mas Karang pelan dan ada tatapan mata yang entah aku harus mengaritkan seperti apa. Itu seperti tidak rela, seperti kwatir dan ada juga tatapan hangat. Tapi, apa aku cukup pantas untuk di tatapnya seperti itu. Siapa diriku hingga aku layak mendapatkannya.


"Mawar. Hati kamu lembut sekali." Aku harus bagaimana. Katakan aku harus bagaimana dengan ucapan Mas Karang, ini sungguh membuatku melambung ke udara, tapi tidak lama karena terusan kata kata Mas Karang membuatku sadar, bahwa itu hanya berupa pujian yang tak sepatutnya aku dapatkan.


"Anak itu akan baik baik saja besok. Melihat kegigihanmu berada di sampingnya, membuatku sadar, bahwa tidak hanya obat yang di butuhkan, melainkan juga perhatian."


"Itu tidak pantas aku dapatkan, Mas." Jawabku lirih. "Kenapa saya se care itu terhadap anak kecil itu, karena saya bisa merasakan hal yang seperti dia rasakan, kehilangan orang yang mencintainya secara bersamaan. Saya pernah berada di posisinya, dan menjadi yatim piatu secara bersamaan. Jadi, saya bukan orang yang seperti sampean pikirkan. Selamat malam, Mas." Ku tinggalkan Mas Karang yang masih tak bergeming dari tempatnya saat mendengar ucapanku.


Ya, aku bukan orang yang seperti dia bayangkan. Aku bukan orang yang baik, akau hanyalah orang yang berusaha untuk menjadi baik, mudah mudahan dengan Mas Karang tau siapa diriku, Mas Karang tidak akan lagi membuat hatiku melambung dengan kebaikannya, pujiannya dan akan membuat jarak bagi kami. Karena aku cukup sadar diri.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2