Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Biarlah Menjadi Rahasia


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ciluk Ba., Ba, Ba, Ba, Bababababa.." Dengan menutup wajahku menggunakan kedua tanganku, begitu tanganku terbuka tawa Adit terdengar menggema di seluruh ruang keluarga yang tengah sepi.


Nampaknya tawa Adit begitu murah di berikan kepadaku, buktinya hanya dengan melihatku menutup kepalaku dengan selimut kecilnya hingga menutupi punggungku lantas mengoyang goyangkan kepalaku seraya bernyanyi lagu anak anak, Adit sudah tertawa tanpa henti. Sampai sampai air liur Adit ikut keluar, dan itu membuatku tertawa lepas.


Adit terus saja menatapku dengan mata indahnya, posisinya yang tengah tengkurap dengan senyum tanpa henti, membuatku gemas setengah mati, hingga tanpa sadar gigiku gemeretakan menahan ingin mencubit serta mengigitnya.



Dan itu jelas akan aku lalukan andai aku tidak mengingat Kak Melati yang sedang mandi dan memintaku menjaga Adit.


Kami berdua terus bersanda gurau hingga cegukan dari Aditlah yang membuatku berhenti, lantas mengangkat tubuh Adit dalam dekapanku dengan masih lengkap beserta selimut Adit yang aku gunakan sebagai penutup tubuh hingga kepalaku.


Benar adanya, Adit begitu murah tawa padaku. Buktinya, hanya melihatku membuat gerak bibir saja Adit langsung tertawa dengan nyaringnya. Hingga seseorang yang baru saja mengucap salam meresponnya dengan cepat.


Belum sempat aku berbalik, orang itu sudah mendekapku kami dari belakang dengan penuh perasaan sayang. Dan aku tak bisa bergeming ataupun sekedar bersuara lantaran terlalu kaget. Kalaupun aku langsung membuat gerakan maka ada dua resiko yang harus aku hadapi. Pertama, pipi Bang Daffa yang akan bersentuhan dengan pipiku, atau Adit yang akan jatuh dari dekapanku.


"Jagoan Papa bahagia bener." Aku memejamkan mataku dalam dalam, seiring dengan suara Bang Daffa yang seolah berbisik di telingaku, hingga membuat sekujur tubuhku panas dingin olehnya. Dalam mimpi sekalipun, aku sama sekali tidak pernah ingin bermimpi seperti ini.


Suara yang hendak aku keluarkan tercekat di tenggorokan, ketika Bang Daffa kembali berujar seraya mengesekkan dagunya di leherku. "Mama juga sudah harum. Harumnya beda pula."


"Glukkk." Salivaku seolah ada batunya, sampai untuk menelannya saja aku harus berusaha keras. Panas dari tubuhku membuatku semakin gemetaran dan Adit justru tampak kelihatan bahagia dengan terus terseyum ke arah kepalaku dan Bang Daffa yang sejajar.


"Ba.." Kataku baru saja hendak keluar agar Bang Daffa tau bahwa aku bukan Kak Melati, tentu juga untuk menghindari salah faham bagi siapa saja yang melihat kami saat ini. Namun semua terlambat, karena Bu Mega sudah menyerukan namaku dengan lantang.


"Mawar, apa yang kamu lalukan." Begitu Bu Mega usai dengan ucapanya ku rasakan tangan Bang Daffa terurai, dan membuatku menarik nafasku dalam dalam seraya menutup mata. Lantas kelibatan kemarahan Bu Mega yang sesaat lagi akan di semburkan segera berseliweran di kepalaku.


"Mawar.?" Desis lirih Bang Daffa yang mungkin saat ini sudah berada di hadapanku.


"Ada apa, Ma." Terdengar suara berat Bang Nusa yang di sertai dengan derap kaki beberapa orang tergesa menuju ke asal suara. "Mawar.?" Nada suara Bang Nusa berubah menjadi keheranan.


Aku masih terus menutup mataku, seraya menunduk meski ku rasakan tangan mungil Adit meraup pipiku. "Sini Adit." Barulah ku buka mataku saat Bu Mega menarik paksa Adit yang membuat Adit meronta tak ingin lepas dariku.


"Kamu tuh baru juga pulang beberpa jam, sudah mau merayu suami Kakakmu." Sinis Bu Mega tanpa perduli suara tangis Adit.


"War, ada apa sama Adit.?" Kak Melati memuruni tangga dengan cepat. "Sini, sini, sayang, sama Mama." Lanjut Kak Melati dan segera meraih Adit dari Bu Mega lantas menyusuinya.

__ADS_1


Kami semua diam, meski aura yang tercipta di ruangan ini tidaklah sedingin sikap semua orang kepadaku. Lagi, lagi Kak Melatilah yang mencairkan suasana.


"Eh, iya War. Itu Kak Risma, Istrinya Bang Nusa." Aku berusaha menyungkingkan senyum kaku ke arah Kak Risma yang tengah menatapku dengan tatapan bingungnya.


"Ada apa dengan semuanya. Kenapa semuanya kaku gini.?" Lanjut Kak Melati dengan memandang kami satu persatu secara bergantian. Dan tak satupun dari kami mencoba menjawab tanya Kak Melati.


"Mas Daffa buruan bersih bersih, baju ganti sudah aku siapkan di atas tempat tidur." Ucap Kak Melati lagi dengan memandang Bang Daffa heran. Dan tak lama Bang Daffa langsung pamit menuju kamarnya.


Aku masih terus saja menunduk sibuk dengan pikiranku sendiri tanpa menghiraukan di sekitarku, sampai sampai aku tidak sadar jika Kak Melati sedang mengajak ku bicara.


"War, kamu dengar apa tidak Kak Mel ngomong apa.?


"Heh, iya Kak Mel." Jawabku dengan tergagap.


"Berikan selimut Adit." Aku hafal betul dengan nada suara Kak Melati yang ini. Aku yakin setelah ini Kak Melati akan mengajak ku untuk berbicara empat mata, begitupun dengan Bu Mega yang aku yakin saat ini tengah menahan gondok, karena tidak bisa menyalurkan kemarahannya kepadaku. Dan itu samata mata lantaran ada Kak Risma.


Meraih selimut di kepalaku ke angsukan segera ke arah Kak Melati dan Kak Melati segera menyelimutkan ke Adit yang sudah hendak tertidur. "Kak Ima bakal ada teman hobi di dapur, iya kan War.?" Ucap Kak Melati mencairkan suasana yang sedikit membeku sebentar tadi.


Ku tolehkan kepalaku ke arah Kak Risma dan menyungingkan senyum tipisku untum Kak Risma. "Iya Kak Mel."


"Dan aku sebagai tim periviewnya." Timpal Kak Melati lagi. "Eh, udah tidur Aditnya. War, Adit biar tidur di kamar kamu dulu ya. Yuk." Aku tau, Kak Melati sengaja mengajak ku menghindar dari Bu Mega yang tengah menatapku dengan tatapan tak sukanya.


"Tutup pintunya, War. Dan duduklah disini." Ucap Kak Melati sembari menepuk nepuk tempat tidur dimana Adit juga tengah berbaring disana.


Menuruti ucapan Kak Melati, akupun duduk di samping Kak Melati. "Sungguh Kak Mel, Mawar sama sekali tidak bermaksud sep.."


"Sstttss, Kak Mel tau. Kak Mel percaya sama Mawar juga Mas Daffa. Kamu tidak akan mungkin melakukan hal rendah seperti itu." Kak Melati meraih ku dalam pelukannya dengan erat. "Aku merindukanmu, War. Sangat merindukanmu." Bisik Kak Melati.


"Mawar juga Kak Mel." Lirihku dan membalas pelukan Kak Melati.


Cukup lama kami hanya berpelukan tanpa mengeluarkan kata barang sepatah saja. Dan seakan pelukan kami telah menyampaikan segala perasaan yang tak mampu di ucap oleh lisan kami. Ya, inilah sebenarnya cinta itu. Cintaku untuk Kak Melati.


"Maafkan Mama yah."


"Kak Mel, apaan sih. Ibu enggak ad.."


"War, Kak Mel tau. Mama tidak menyukaimu dari awal dulu. Dan sangat berlebih sejak dua tahun lalu. Lalu kalian sepakat diam semua tanpa memberi tau aku, apa yang menjaid alasan di balik itu." Kak Melati menangkup wajahku mencari jawaban lewat mataku yang terus bergerak gelisah oleh tatapan intens Kak Melati.


Aku menggeleng pelan, dan Kak Melati semakin menajamkan pandangannya ke arahku. "Katakan, apa itu ada sangkut pautnya dengan kepergianmu yang tergesa gesa malam itu. Tanpa pamitan kepadaku juga Erik..?" Tanya Kak Melati dengan nada penakanan.

__ADS_1


"Tidak." Ku jeda ucapanku sembari berpikir untuk mencari kata kata yang pas untuk Kak Melati. "Itu hanya karena Mawar tidak mau menganggu pengantin baru." Kilahku.


"Alasan.!" Sergah Kak Melati dengan cepat, lantas segera berdiri dari tempanya duduk. "Mungkin alasan itu tepat untuk ku, tapi bagaimana dengan Erik.?"


"Erik, Mawar hanya tidak terlalu tega jika harus pamit sama Erik."


"Atau karena sore dimana Erik menyatakan perasaannya. Atau karena memang ada hal lain yang sengaja kamu tidak mau aku tau.?"


Ku lingkarkan tanganku ke tubuh Kak Melati dari belakang. "Sungguh tidak ada apa apa, Kak Mel. Soal Erik, iya itu yang menjadi alasannya. Mawar hanya tidak suka Erik seperti itu. Mawar lebih suka jika Erik tetap menjadi Eriknya Mawar seperti dulu."


"Semenjak kalain beranjak dewasa dan menjalin kedekatan yang membuat orang lain iri, termasuk denganku. Hubungan kalian sudah tidak sama lagi." Jawab Kak Melati sembari mengelus tanganku pelan. "Jangan sembunyikan apapun terhadapku, War. Apa lagi jika itu ada sangkut pautnya denganku dan kamu memilih untuk diam memendam segala perasaanmu." Lanjut Kak Melati berbarengan dengan Adzan Mahrib yang terdengar sayup sayup dan itu berhasil menyelamatkan aku dari introgasi Kak Melati.


Tidak akan selamanya bau bangkai akan dapat di sembunyikan, dan hingga dua tahun lamanya Bu Mega masih tidak mengungkap kesalah fahaman yang terjadi antara aku dan keluarga itu sudah cukup membuatku lega. Dan juga kunci utamanya ada pada Erik, selama Erik tidak mengungkapkan segalanya. Aku akan lebih tenang lagi, karena dengan begitu Kak Melati tidak perlu merasa berhutang kepadaku. Dan biarkan itu menjadi rahasia, kalau bisa selamanya.


Makan malam berlangsung dengan hangat, meski aku tidak banyak terlibat di dalamnya. Karena aku memilih mencari jalan aman dengan banyak diam, berbicara jika di tanya. Dan sesekali pandanganku bertemu dengan mata tajam Bang Daffa. Cukup melegakan, karena ternyata itu sudah tidak berpengaruh lagi dengan dadaku.


Ternyata aku telah benar benar ikhlas melepas Bang Daffa berbahagia dengan Kak Melati, dua orang yang sama sama kau cintai. Dan itu jauh lebih terasa ringan dan menyenangkan. Semoga hubungan yang sebelumnya di awali dengan baik baik, kemudian terjadi kesalah pahaman akan lekas membaik. Seiring dengan rencana besok liburan bersama sama dan Bu Mega sendiri yang menawarkan aku ikut di dalamnya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dna Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2