
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Angin berhembus cukup kencang di sertai dengan rintik rintik air yang sebentar lagi akan menjadi hujan. Duduk di bangku kecil dalam kelasku yang berada di lantai tiga, ku layangkan tatapanku ke arah luar jendela dimana hanya ada hamparan persawahan yang terlihat sudah mulai menampakan sebiji dua biji bulir padi yang sudah mulai menguning.
Dan artinya sudah enam bulan lamanya sejak kembalinya aku Pesantren meninggalkan orang orang yang aku sayangi di rumah. Ingin sekali libur semester kali ini aku juga pulang seperti santri santri lain. Tapi apa boleh buat, kesibukan di Ma'had Aly sekaligus di rumah Laundry membuatku harus menahan rinduku untuk pulang.
Rinduku kali ini tidak untuk Kak Melati lagi sepenuhnya, melainkan untuk Adit yang sudah mulai bisa bicara satu dua kata, dan juga sudah membuat Kak Melati juga Bu Mega mengeluh pegal di kaki karena terus terusan mengikuti langkah Adit yang tak ingin diam.
Seperti lusa lalu aku yang sedang Vidio call dengan Kak Melati dan Adit tiba tiba sudah mengambil ponsel Kak Melati dan di bawanya jalan kesana kemari tanpa boleh untuk ku matikan. Pamer mainan ini, mainan itu, juga Adit lakukan. Dan yang terahir menyuruhku untuk bernyanyi tanpa boleh berhenti sampai dia tertidur.
"Tii Wa. Kapi kapi." Seperti itulah katanya waktu itu. Yang maksudnya adalah "Aunty Mawar, Allahul Kafi." Dan seolah tanpa lelah, biar aku mengulanginya sampai sepuluh kali Adit akan tetap menggoyangkan tangan dan bokongnya kekiri dan kekanan. Persis tokoh fiktif anak anak Teletubies.
"Ehem, ehem." Suara deheman Bia menyadarkan aku akan lamunan panjang mengenai kelucuan Adit. Menggiring kepalaku menoleh ke arah Bia, ku dapati wajah Bia yang tengah berseri dengan bertumpu tangan kanannya.
Ku lebarkan mataku sebagai tanda tanya untuk Bia yang masih tak ingin membuang tatapannya dariku, justru menambahkan gerakan alis ke atas dan ke bawah.
"Apa.?" Tanyaku ahirnya.
Bia cekikikan sesaat sebelum ahirnya membuka suaranya. "Lagi mikirin yang kasih Bakpia kemarin yah." Ku pukul tangan Bia pelan, tapi itu cukup membuat Bia mengaduh lantaran wajahnya ikut terjatuh di atas meja kayu.
"Sembarangan saja kamu itu." Ucapku dengan cepat sembari menggelengkan kepalaku pelan mengingat kebaikan Mas Karang kepadaku setiap kali bertemu. Dan Bakpia yang aku bawa dari rumah Laundry kemarin juga merupakan pemberian dari Mas Karang yang baru saja kembali dari luar kota.
Dan selama hampir lima bulan ini, meski kami tidak intens betemu. Mas Karang acap kali mengingatkan aku akan hutangnya untuk mengajak ku makan siang bersamanya setiap pertemuan singkat kami di rumah Laundry. Namun, hingga saat ini aku masih tidak berani untuk mengiyakannya, karena aku tidak memiliki alasan yang spesifik untuk menerima tawaran itu. Juga, karena aku tak ingin di repotkan dengan alasan yang sudah pasti menggiring kepada kebohongan.
"Nah kan bengong lagi. Cekep yah yang ngasih Bakpia kemarin." Ucap Bia lagi.
Aku semakin menggelengkan kepalaku mendengar ucapan Bia. "Secakep cakepnya dia, masih cakep ikhwan yang sedang aku pikirkan." Sengaja sekali aku membisikkan itu kepada Bia.
"Wahh. Siapa ikhwan beruntung itu." Jawab Bia tak kalah lirih. Karena jelas akan timbul masalah jika yang lain mendengar kami membahas tentang ikhwan.
"Mau tau aja, atau mau tau banget." Godaku lagi kepada Bia, yang kini tengah mengangguk dengan pasti ke arahku, hingga aku tak kuasa untuk menahan tawaku lagi.
"Sudah tidak perlu di lanjutkan. Aku tau kamu hanya bercanda. Muka kamu itu enggak bisa bohong." Ucap Bia dengan tiba tiba saat aku sudah mulai tertawa.
"Lah, karena aku tidak bisa bohong sama kamu, makanya aku akan kasih tau siapa yang sedang aku pikirkan." Jawabku dengan setengah menutup mulutku.
"Pasti juga Kak Melati, kalau enggak gitu Adit." Aku mengedipkan sebelah mataku ke arah Bia sebagai bertanda bahwa tebakan Bia benar adanya. "Tuh kan bener."
Kami kembali diam dan sama sama memperhatikan mendung yang menggantung hitam pekat di sisi selatan tepat di area Pegunungan. Seolah olah disana badai tengah mengamuk, hingga hembusan angin kencang yang membawa serta hawa dingin seperti mengabarkan keadaan disana.
"Jujur aku penasaran sama orang yang ngasih kamu Bakpia, War." Kata Bia memulai kembali obrolan kami.
"Aku bukannya sudah pernah cerita ke kamu yah soal siapa dia." Jawabku kalem, sembari membuat lukisan di kaca yang tengah di penuhi oleh embun.
"Tau. Aku tuh penasaran sama orangnya saja." Jawab Bia lagi.
__ADS_1
"Ikut saja ke rumah Laundry kapan kapan kalau pas dia nyuciin baju." Jawabku enteng saja.
Aku terus menarikan jariku di atas kaca jendela, dan lambat laun sketsa yang ku buat sudah jelas gambarnya. Dan entah kenapa tiba tiba terbersit di otak ku senyum Mas Karang yang seperti tidak asing pernah aku lihat sebelumnya.
"Liburan depan tak ikut ke rumah Laundry." Jawab Bia menyentakkan bayangan senyum tipis Mas Karang.
"Boleh, asal disana bantu bantu bekerja biar manfaat keberadanmu disana." Kataku dengan tidak mau menghiraukan wajah keberatan Bia.
"Boleh, boleh sekali membuatku bekerja disana. Asal gantinya gambar dua gamis kemarin buat aku. Besok siap beli kainnya."
"Mana bisa seperti itu. Itu desain khusus untuk Ning Ruha dan satunya buat Kak Melati."
"Kalau begitu buatkan aku satu, sebelum desain kamu jadi mahal." Ucap Bia dengan nada khasnya. "Please. Yah, yah." Aku menggeleng lagi melihat tingkah Bia. Dan soal rayu emrayu aku harus mengakui Bia jago sekali melakulannya terhadapku tanpa aku bisa menolaknya juga tidak ada unsur keterpaksaan setelahnya.
"Lihat saha nanti." Ucapku ahirnya yang itu berhasil membuat senyum Bia melebar.
"Makasih, Mawar cantik." Di ciumnya pipiku betulang ulang oleh Bia hingga membuatku mangaduh karena sakit juga sekaligus risih. Dan nyatanya hujan kali ini membuat kami tetap tinggal di dalam kelas tanpa ada Ustadz atau Ustadzah yang hadir dan hanya tugasnya saja yang datang untuk di kerjakan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seminggu telah berlalu, libur sepuluh hari semester telah di mulai. Baik itu untuk Madrasah ataupun Diniyyahnya, tapi itu hanya berlaku untuk kelas kelas di bawahku. Untuk kelas ku ke atas, ada liburnya tapi tugasnya juga banyak. Jadi, akan sama saja ahirnya, karena kami juga sibuk riwa riwi mempersiapkan bahan tugas dan sebagainya.
Menggunakan jas almamater Pesantren lengkap dengan tag name. Aku dan Bia sudah siap untuk keluar mencari reverensi untuk Makalah yang sedang kami kerjakan. Dan sudah berulang ulang kali Bia mengingatkan aku agar jangan memboncengnya ngebut ngebut.
"Jangan ngebut ya, War." Kata Bia lagi saat aku baru akan mengenakan helmku.
"Jangan cuma hemm dong, War. Aku tuh beneran takut tau." Ucap Bia dengan nada melas.
"Iya, aku tau. Kalau kamu terus cerewet bisa bisa aku malah lupa." Ucapku sekenanya hingga aku di buat mengaduh oleh tangan Bia yang sudah mencubit lenganku. "Sakit, Bi."
"Makanya, jangan bercanda. Kamu tau kalau aku beneran takut naik motor." Sergah Bia.
"Iya, iya. Kayak kamu belum pernah bonceng aku saja. Udah ayuk keburu panas." Ucapku saat motor sudah aku starter. "Nanti mampir sebentar di suatu tempat ngambil belanjaan keperluan Laundry."
"Terus kita kemana mana bawa itu gitu."
"Pelan pelan Bi naiknya." Pekikku kaget saat Bia yang tiba tiba naik dengan pundak ku sebagai pegangan, hingga motor sedikit goyang. "Makanya biasakan dengerin dulu, kalau aku ngomong. Pulangnya ngambilnya, jadi kita ke tempat tujuan kita dulu." Lanjutku dan tak ku dengar suara dari Bia di belakang.
Kami sudah seperti orang bisu, karena sepanjang perjalanan Bia sama sekali tidak membolehkan aku untuk bicara dengan alasan konyol sekali, yakni agar aku lebih konsentrasi. Ya, itu memang benar, tapi bukan berarti aku tidak boleh sama sekali protes terhadap Bia yang berpegangan erat selayaknya anak kecil yang takut terjatuh dari boncengan Bapaknya.
Dan ini masih tetap berlanjut saat aku mengambil barang keperluan Laundry, dan barang yang harus bawa cukup banyak. Protes kwatir dengan keras Bia layangkan. Gimana bawanya, nanti kalau ajtuu bagaimana dan lain sebagainya hingga aku menyuruh Bia untuk diam dan menurut kepadaku.
Bia tidak tau saja, kalau aku dulunya suka ikut balapan liar Erik, jadi sedikit banyak aku tau tehnik naik motor dan dapat mengatur kecepatan sesuai waktunya. Lagi aku juga tau mesin, jadi bukan hal baru lagi bagiku untuk mengenal kendarana yang aku naiki dalam keadaan stabil atau tidak.
Setelah kurang lebih setengah jam lamanya berkendara, kami sampai juga di ruamh Laundry dengan tubuh Bia yang gemetaran. Bahkan sampai hampir terjatuh saat berjalan memasuki teras rumah Laundry. Keringat dingin yang keluar dari beberapa sudut tubuh Bia membuatku kwatir saja.
Beruntung sekali bagiku, karena tidak lama setelah aku dan Bia datang, mobil Mas Karang ikut masuk ke halaman rumah Laundry.
__ADS_1
"Mas, tolong periksa teman saya." Ucapku dengan panik begitu Mas Karang keluar dari mobilnya tanpa menunggu Mas Karang menyampaikan maksud kedatangannya kemari. Meski, jawabannya sudah pasti karena ingin mencuci.
Mas Karang bergegas mengikuti langkah tergesaku setelah mengambil peralatan dalam tas kecilnya dan berhenti di ruang tamu, dimana Bia sedang duduk di sofa dengan wajah memucat dan tubuh masih senantiasa bergetar.
Ku perhatikan Mas Karang yang sedang fokus memeriksa Bia, dan entah setan darimana yang membisiki pikiranku. Hingga tanpa sadar aku membuat spikulasi dengan pikiranku sendiri bahwa Mas Karang cukup tampan saat sedang berkalung Stetoskop. Dan itu menbuat dadaku menghangat.
"Bagaimana Mas.?" Tanyaku masih dengan nada kwatir, tapi melihat senyum Mas Karang yang mengukir di bibir tebalnya membuatku sedikit lega. Dan semakin aneh lagi saat Mas Karang melebarkan senyumnya sembari mengemasi peralatannya.
"Mas, teman saya kenapa.?" Tanyaku lagi, sata Mas Karang tidak segera menjawab tanyaku.
"Kali ini kamu tidak memiliki alasan untuk menolak ajakanku makan siang, Mawar." Ucap Mas Karang menjeda ucapannya sembari menunggu reaksiku yang bingung dengan perkataannya.
"Teman kamu hanya terlalu lapar, karena ketakutan berlebihan." Lanjut Mas Karang.
Ku tatap Bia yang tengah berusaha untuk menyeringai ke arahku, dan ingin sekali aku berteriak memanggil namanya dengan kencang. Kenapa aku tadi percaya dengan Bia yang mengatakan masih kenyang saat aku ajak makan siang.
"Ya sudah ayo, takutnya temanmu nanti keburu pingsan, Mawar." Ucap Mas Karang lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Mawar, mesti lengkap gitu yah manggilnya Mas Karang. Tapi, kok kayak e manis yah..
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1