
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Papa, Papa, dokter Papa." Teriak Aliena girang dan begitu aku memutar kepalaku, aku melihat Rendi berjalan pelan menghampiri kami di taman.
"Assalamu'alaikum, Bintang kecil. Assalamu'alaikum, Bundanya Bintang kecil." Sapa Rendi.
"Wa'alaikumussalam." Jawabku singkat saja, karena aku sudah tau tidak akan dapat tempat untuk mereka berdua.
Banyak yang berkata, Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Dan mungkin bagi Aliena juga sama, tapi cintanya tidaklah nyata. Bisa jadi, nanti suatu hari saat Aliena tahu kebenarannya, Ayahnya pasti akan menjadi patah hati terbesarnya untuk pertama kalinya. Jangankan jauh jauh nanti, sekarang saja cinta itu telah di rebut oleh Rendi.
Membiarkan mereka berdua terus bercengkrama tentang beberapa hari yang terlewati tanpa bersama, aku memilih menepi dengan pamit untuk membereskan barang yang hendak di bawa kembali ke rumah sementara waktu.
Memang, dokter tidak mengharuskan bagi Aliena untuk tetap tinggal di rumah sakit, tapi setengah bulan sekali harus kembali untuk mendapat anti biotik aku rasa bukan waktu yang lama juga, sekaligus akan sangat melelahkan. Pun juga membutuhkan biayaya yang tidak sedikit pula. Oleh sebab itu, aku berpikir untuk segera menjual aset terahir orang tuaku untuk keperluan menutup biayaya Aliena selama disini.
Berpikir pula untuk mencari penghasilan juga terbersit di hatiku, tapi mengingat bahwa Aliena butuh pengawasan yang sangat extra, jelas tidak mungkin jika aku harus bekerja di luar rumah. Jadi, kembali ke jarum serta benang adalah jalan terbaik, meski harus tertatih sebelumnya dengan mencari pelanggan baru.
Setengah jam berlalu, ku lihat kembali Aliena dan Rendi melalui jendela dan ternyata mereka sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin mereka sedang menuju kembali ke sini. Benar, tak lama berselang mereka kembali dengan tawa yang masih sama seperti saat aku tinggalkan tadi.
"Semua sudah siap.?" Tanya Rendi setelah melihat beberapa barang yang telah tertata rapi. "Aliena sudah siap pulang.?" Lanjut Rendi.
"Sudah, sudah sekali." Jawab Aliena.
"Oke kita pulang sekarang. Tapi harus tetap ingat pesan Papa ya.!"
Aku memperhatikan mereka berdua yang tengah menautkan kelingkingnya, itu membuatku penasaran dan lekas membuka mulutku untuk bertanya. "Pesan apa.?"
"Rahasia, namanya rahasia ya tidak boleh di kasih tau, iya kan dr.Papa." Ucap Aliena.
"Betul, pinter sekali Aliena." Jawaban Rendi benar benar membuatku merasa menjadi orang asing saja buat keduanya. Padahal akulah Bundanya Aliena dan Rendi yang bukan siapa siapa buat kami.
"Kenapa banyak rahasia hari ini. Tadi dengan dr.Karang sekarang sama dr.Papa. Dan tidak ada yang mau terbuka dengan Bunda." Ucapku spontan.
"Bunda kok tau tadi Aliena ada janji sama Om dokter." Dengan kritis Aliena langsung memberi komentar, sementara Rendi menatapku dengan tatapan bingungnya.
"Em, itu tadi Bunda tidak sengaja ketemu sama dr.Karang. dr.Rendi sekarang apa lagi yang di tunggu agar boleh pulang." Sengaja sekali aku mengalihkan pembicaraan yang sesungguhnya Rendi tidak akan tau soal kapan boleh pulang atau tidak.
"Biar Bunda tanya saja sama suster." Ucapku dengan salah tingkah yang itu tidak luput dari perhatian Rendi, sampai sampai Rendi harus mengerutkan keningnya melihat tingkahku.
Setelah seluruh prosedur di lakukan, ahirnya kami bisa pulang dari tempat yang bagus tapi tidak ada bagus bagusnya jika sudah datang kesini. Dengan di temani celotehan Aliena, aku dan Rendi tampak seperti sebuah keluarga yang harmonis sekali.
"Bunda, tadi ya pas di taman Alin ketemu sama Abang yang kakinya habis di operasi."
"Oh iya, katanya kenapa kok bisa di operasi.?" Tanyaku memberi respon untuk cerita Aliena.
"Katanya kakinya patah, tapi kok kakinya masih bisa tersambung lagi.?"
Rendi tertawa mendengar kata kata Aliena. "Yang patah bukan kakinya sayang, tapi tulang kaki Abangnya. Abang yang tadi pakai kursi rodakan.?" Jawab Rendi sekaligus bertanya.
__ADS_1
"Oh tulangnya." Aliena manggut manggut seolah paham dan kemudian berondongan pertanyaan langsung keluar dari bibir Aliena dan itu membuat Rendi kewalahan menjawabnya.
"Dokter itu banyak ya ternyata. Kalau dr.Papa juga bisa menembel tulang.?" Tanya Aliena.
"Belum sayang. Papa mau jadi dokter terbaik untuk Aliena saja." Kata Rendi tepat kami tiba di rumah kontrakan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kamu cukup hafal daerah sini, War." Kata Rendi begitu aku menyuguhkan secangkir teh hangat di teras.
"Kan aku dulu pernah tinggal disini, Ren. Kamu tau itu kan." Jawabku tidak sepenuhnya berbohong pada Rendi.
"Sayangnya, tidak ada peristiwa yang bagus untuk di kenang antara aku dan kamu." Ucap Rendi yang lebih seperti gumaman, lantas segara menyeruput tehnya tanpa mau mengulang katanya tentang apa yang baru saja di ucapkannya begitu aku ingin kejelasannya.
"Aku masih heran, apa yang dr.Karang lakukan di ruamh sakit itu." Kata Rendi yang itu sukses memantik tanya dalam hatiku juga.
"Kamu kenal dengan dr.Karang.?" Tanyaku.
"Pernah beberapa kali bertemu di seminar, dia dokter yang hebat. Setauku dia bertugas di rumah sakit umum dan rumah sakit yang di dirikan sendiri olehnya." Jelas Rendi.
Aku rasa sudah yang ingin aku ketahui dan aku ingin memindah bahasan tentang dia yang berasal dari masalalu. "Dia bukan dokter spesialis anak sebenernya, War. Tapi dia cukup mumpuni kalau saol penyakit dalam." Rendi masih saja berlanjut.
"Ren, kamu kenapa tiba tiba tadi sudah berada disini tanpa memberi kabar dulu, bagaimana dengan pekerjaanmu.?" Potongku dengan cepat ucapan Rendi begitu dia ingin membahas kembali soal dr.Karang.
"Tidak juga kalau tiba tiba." Wajah Rendi berubah serius begitu menjeda ucapannya. "Aku tau kabar Aliena dari dr.Ria, kalau kamu mau tau Ibu dr.Ria adalah adik Ayahku." Rendi kembali mengulas apa yang di katakan oleh dr.Ria siang tadi kepadaku. Dan kembali airmata merebak di pelupuk mataku.
"Apa yang harus aku lakukan untuk kesembuhan Aliena, Ren.?" Tanyaku yang sesungguhnya adalah tanya kepusasaan.
Diam seribu bahasa membiarkan airmata yang berbicara, sungguh masihkah aku harus seperti ini. Sanggupkah aku bertahan jika hal terburuk terjadi pada Aliena, dan bisakah aku mengabulkan permintaan Aliena untuk bertemu dengan Ayahnya di ulang tahunnya ahir bulan ini. Apa aku sanggup.
Masalalu, kenapa tidak biar jadi masalalu saja dan tak perlu membayang kemasa depan. Andai masalalu itu adalah hal yang bagus untuk di kenang, seperti yang aku usahakan waktu itu saat ingin mengahiri kisah bersama Bang Daffa, tentu saat ini bertemu dengan Bang Daffa ataupun Mas Karang tidak akan sesulit ini.
Pertimbangan demi pertimbangan menyudut pada keterpaksaan dan pada ujungnya akan tetap sama, yakni aku harus mengalahkan segala egoisme di hati demi Aliena. Tapi, tidak bisakah aku tetap egois. Toh, ada serta tidak Aliena sudah mendapat pengganti yang aku rasa tidak perlu di ragukan kasihnya untuk Aliena. Erik dan Rendi.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ahir bulan datang dengan cepat, seperti baru kemarin aku merencanakan ulang tahun Aliena. Tidak pernah terbayang sedikitpun bagiku, bahwa ulang tahun Aliena kali ini akan di rayakan di rumah sakit. Menyedihkannya, Aliena tetap mau memakai baju Berbienya meski kesusahan.
Ada yang jauh membuat hatiku teriris saat Aliena bertanya. "Bunda kenapa rambut Aliena tidak bergerombol lagi." Sebisa yang aku bisa, aku menjawabnya meski harus berusaha tetpa tersenyum agar Aliena tetap semangat.
"Utu tandanya Aliena harus sering pakai jilbab seperti Bunda."
"Aliena mau pakai jilbab seperti Bunda. Bunda cantik pakai jilbab." Jawab Aliena dengan senyum tulusnya.
"Baik Bunda pakaikan ya." Memalingkan wajahku setelah memakaikan jilbab di kepala Aliena, aku mengusap airmata yang hampir saja kembali menetes.
"Wah, wah. Ada Princess muslimah. Cantik sekali kesayangan Mimi. Pi, lihat deh Alin cantik banget." Ucap Bella begitu masuk.
"Pipi hampir ketukar ngenali mana yang Bunda dan mana yang Alin." Timpal Erik.
__ADS_1
Aliena tertawa girang, apa lagi saat melihat kado yang di bawa oleh Bella, Aliena langsung menaruhnya di pangkuannya.
"Kuenya mana katanya mau ulang tahun.?" Tanya Erik setelah beberapa menit berlalu.
"dr.Papa yang bawa. Habis ini pasti datang." Jawab Aliena.
"Dia lumayan deket dengan dr.Papa itu.?" Erik berbisik ke telingaku yang hanya aku jawab dengan anggukan kepala.
Benar kata Aliena, tak lama berselang Rendi datang. "Maaf, Papa agak telat." Ucap Rendi dan sedikit kaget dengan adanya Bella serta Erik. Tapi, yang makin kaget adalah Erik, karena Erik jelas tidak menyangka bahwa yang selalu Aliena bicarakan dengannya adalah Rendi, bocah tengil yang membuat segala kekcauan terjadi di kostan.
Sesi introgasi langsung Erik lakukan terhadap Rendi, dan entah apa yang mereka bicarakan sampai sampai Bella harus memanggil mereka berdua agar kembali ke dalam ruangan.
"Ayo sayang, kok masih lihatin pintu saja." Ucap Bella saat Aliena terus menatap ke arah pintu.
"Aliena nunggu Ayah datang." Semua terkejut dengan ucapan Aliena dan langsung menatap ke arahku tak terkecuali Rendi.
"Ayah masih sibuk sayang. Mungkin besok besok Ayah akan datang, Bunda tadi sudah berusaha untuk menelfonnya, tapi tidak bisa terhubung." Kembali kebohongan aku ciptakan. "Kan disini sudah ada Pipi Erik dan Papa dokter." Bujuk ku ke Aliena di tengah keheningan yang langsung merambat.
Memandang kedua laki laki yang tengah berdiri dengan senyum kaku, Aliena ahirnya mengangguk pelan dan kembali senyum terukir di wajah Aliena. Benar bukan, cinta itu telah terganti. Karana Aliena hanya mengingatnya sesat sebagai perasaan ingin memiliki.
Setalah Aliena tidur, Erik sengaja menyeretku dan mengajakku menepi yang aku tau di balik cekalan tangannya ada amarah yang di tahannya.
"Tega kamu membohongi Aliena, kamu tidak menelfonya kan.?" Aku diam seribu bahasa, aku hanya tak ingin Erik tau bahwa Aliena tidak pernah di ketahui olehnya. "Kalau kamu tidak ingin memberi tahunya, biar aku saja yang kesana."
Aku langsung mencekal lengan Erik. "Jangan. Ku mohon jangan libatkan dia."
"Demi Tuhan Mawar. Demi Tuhan. Tidak bisakah kamu melihat keadaan Aliena, tidak bisakah kamu paham kerinduan Aliena terhadapnya. Orang itu juga brengsek sekali, sudah tau anaknya ulang tahun hari ini masih sibuk saja dengan urusananya. Tidak bisakah dia meluangkan waktu sebentar saja." Cecar Erik sembari mondar mandir khas Erik yang sedang menahan emosi.
"Aku mohon jangan katakan apapun terhadapnya jika kamu bertemu, karena Aliena adalah rahasiaku." Erik tercengang mendengar ucapaku dan semakin birbicara tidak jelas arahnya kemana, hanya untuk meluapkan emosinya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862