Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Tidak Cukup Pantas.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Senja. Senja dengan segala misterinya, dan aku duduk termenung menungguinya. Hal yang sepertinya telah begitu lama tidak aku lakukan, namun juga tidak bisa aku ingat pastinya apa aku sering melakukan ini atau tidak. Hanya saja terbersit di hati, aku akan sedikit tenang jika berada di rooftop untuk menunggui matahari kembali ke peraduan.


Sinarnya sudah tak sepanas ketika dia berada di puncak, namun cukup menghangatkan pipiku dengan sentuhan lembut meremang yang mengintip di balik pohon palem menjulang.


Seberapa jauh usaha yang di lakukan, tidak akan membuahkan hasil jika yang berkehendak tidak mengijinkan untuk itu. Begitupun dengan serpihan memoriku yang tak ingin kembali, meski tadi aku telah mendengar sepenggal kisah yang tak mengenakan tentangku dan Bang Daffa.


Aku tak ingin membenci, hanya kata itu yang selalu terbersit di otakku ketika mengingat setiap ucapan Bang Daffa, dan mungkin dengan begini semua akan lebih baik untuk kami semua, terlebih lagi untuk aku. Soal Aliena, biarpun aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas, aku tau di dasar hatiku ada Aliena bersama denganku.


Senja sudah semakin menggelap, mega mega ikut menjingga seiring surya yang semakin dekat tertelan bumi. Dan aku masih duduk seorang diri disini, hingga suara pintu yang berdentam membuatku menolehkan kepala ke arah belakang, dan mendapati Erik yang tengah berjalan mendekatiku.


"Loe, kelihatan baik baik saja War." Duduk dengan santainya tanpa permisi, Erik seenaknya justru meraih cup yang berada di samping tanganku dan masih tanpa permisi juga di sruputnya tehku. "Busyet, ini teh apa racun. Pait bener." Lanjut Erik.


"Makanya jangan suka main srobot. Kena karmakan." Jawabku santai, dan entah aku merasa ucapanku sangat ringan seperti tanpa beban.


"Karma loe enggak mungkin mempan ke gua." Dalam sekali teguk, Erik langsung menandaskan sisa teh yang berada di cupku.


Aku tersenyum ringan, lantas kembali memandang jauh ke arah semula, begitupun dengan Erik yang juga ikut menyelaraskan arah pandangnya denganku. Cukup lama kami sama sama diam, menikmati belaian angin sore yang sudah mulai dingin.


"Alice tidak ikut.?" Tanyaku ahirnya.


"Tidak di ijinkan sama Emaknya, karena kalau habis ketemu kamu pasti di rumah rewel terus." Jawab Erik. "Bella cemburu kayaknya."


"Sudah pasti, Bella akan seperti itu."


"Tapi, lusa pas liburan gua butuh loe untuk jagain Alice." Sergah Erik.


Memutar kepala juga badanku, aku langsung dapat melihat seringai nakal Erik. "Kamu mau kemana.?" Ku tautkan alisku, untuk memastikan tanyaku kepada Erik.


"Halah, pakek nanya juga. Ya gua mau lembur buat adik untuk Alice lah."


"Suruh saja baby sitter, kenapa aku yang harus jadi korbannya." Jawabku sembari melempar Erik dengan kotak tisu.


"Au, sakit tau War." Ucap Erik. "Loe tuh jadi temen pengertian dikit napa." Erik terus mengelus lengannya sembari sok kesakitan.


"Berani bayar berapa.?" Ucapku ahirnya.


"Gitu dong." Erik terlihat sumrigah. "Karena gua tau loe orang yang baik, maka terima kasih saja cukup pantaslah."


"Gila, kamu anggap aku murah banget apa."


"Emang, kamu mahal.?"

__ADS_1


"Jelaslah." Erik tertawa tertawa terbahak bahak mendengar jawabanku, dan aku yang merasa pelik dengan Erik hanya semakin menyipitkan mataku untuk menunggunya berhenti tertawa.


"Apa, gua ganteng banget ya.? Jangan jangan loe terpesona sama gua." Tanya Erik dengan lagak narsisnya.


"Hadeh, bikin soreku yang indah langsung tak bermakna saja." Aku menepuk keningku, lantas sudah hendak mengangkat bokongku hendak berdiri namun lekas di cegak oleh Erik.


"Mau kemana loe, gua belum kelar ngomong sama loe."


"Males, denger ucapan unfaedahmu." Jawabku tanpa menghiraukan Erik.


"War, gua bilang belum kelar juga." Erik langsung menarik tanganku, dan mau tak mau aku kembali terduduk di tempatku.


"Apaan sih, sakit tau. Minta maaf dulu kek." Ucapku.


"Iya, sorry." Ucapan maaf yang meluncur dengan mudah dari Erik membuat aku menatap ke arah Erik, dan tatapan Erik terlihat serius terarah kepadaku.


"Apa.?" Tanyaku.


Terlihat Erik mengehela nafasnya dalam sebelum ahirnya berucap lirih tapi cukup pasti untuk ku dengar. "Kamu yakin baik baik saja.?" Tanya Erik.


"Maksudnya. Tentu saja aku baik baik saja.?" Ucapku dengan yakin.


"Meski loe udah tau kebenarannya.?" Erik mencoba menyakinkan jawabanku.


"Mungkin akan sedikit jahat kenengarannya. Tapi, emang gua jahat pada kenyataannya." Erik membenarkan cara duduknya lurus menatapku dan tersirat sebuah harapan besar dari caranya menatapku. "Gua berharap loe bisa mengingatnya, agar loe bisa membalas dendam terhadap Daffa. Jujur, War. Andai bukan karena terpikir soal loe, gua tuh sebenarnya males banget ketemu sama si Daffa. Gua enggak ingin, Daffa kayak di atas angin karena loe sama sekali tidak membencinya."


Ganti aku yang menghela nafas dalam mendengar ucapan Erik. "Entahlah, Rik. Semakin aku pikir dan pikir lagi, mungkin ada baiknya jika itu memang harus terhapus saja. Karena jujur, aku lebih tenang seperti ini." Ucapku pelan. Bukan alu pesimis, hanya saja mungkin memang harus seperti ini.


"Andai, hari ini aku mengingatnya dan tumbuh kebencian di hatiku, maka selamanya bukan hanya Bang Daffa yang tidak akan bahagia, aku juga akan merasakan hal yang sama karena hidup di penuhi kebencian dan dendam." Lanjutku dengan nada serius. "Jikalau, suatu saat ingatan itu akan kembali dan aku boleh meminta. Aku ingin saat itu, aku sudah benar benar bahagia."


"Dengan cara.?" Tanya Erik.


"Entahlah, bisa jadi dengan merecoki hidupmu."


"Gua sumpahin bisulan di hidung loe, biar semua orang tau kalau itu karma dari gua." Erik tertawa terbahak bahak setelah mengucapkannya.


"Jelek bener kutukanmu, Rik. Dan ganti kamu yang aku kutuk seumur hidup tetap sipit, sampai anak cucu kamu." Balasku.


"Itu bukan kutukan, Neng. Itu fakta." Kembali tawa Erik berderai keras. "Apapun keputusan loe War. Gua sebagai sahabat loe, akan ikut senang jika kamu bahagia." Lanjut Erik sembari berdiri.


"Gua udah lega, gua mau balik dulu. Tadi, gua cuma mau mastiin itu." Erik melangkah tanpa beban meninggalkan aku yang masih duduk di tempatku.


"Eh, War. Satu lagi yang belum gua pastiin ke loe." Ucap Erik sebelum membuka handle pintu di depannya.


"Apa lagi." Aku ikut berdiri dan sudah mau menyusul ke tempat Erik.

__ADS_1


"Diam di tempat loe bentar." Spontan saja aku mengikuti ucapan Erik dengan berhenti di tempatku. "Soal Rendi. Gua lihat kalian makin deket kayaknya ahir ahir ini."


Blus, wajahku seketika menghangat mendengar ucapan Erik. Bukan karena ucapan Erik yang biasanya saja, melainkan dengan nama yang di sebut oleh Erik. Rendi, entah bagaimana awalnya Rendi bisa mencuri pikiranku hanya dengan sikapnya yang tiba tiba acuh terhadapku.


"Lah, malah ngelamun." Ucap Erik lagi. "Udah, enggak usah di jawab. Gua udah tau dari muka loe." Lanjut Erik sambil cekikikan.


"Dasar." Aku langsung saja meraih bantal sofa yang berada di belakangku dan langsung melemparnya ke arah muka Erik yang sedang mengejekku.


"Sayang sekali, wajah gua terlalu ganteng untuk bantal itu." Ucap Erik ketika lemparanku meleset. "Asli, gua pingin muntah lihat muka loe yang merah sok malu malu gitu." Lagi Erik memprovokasiku dengan ucapannya, hingga mau tak mau aku terus membrondongnya karena malu oleh ucapan Erik yang berhasil menjebakku.


"Ingat umur, War." Erik berhasil kabur dari jangkauanku dengan menghilang di balik pintu dan tak lama berselang kembali muncul saat aku tengah merapikan bantal yang berserakan.


"Kayak gadis perawan saja muka loe, padahal juga sudah janda. Ceklek." Pintu kembali tertutup begitu aku membalikan badanku dan di sertai dengan bantal di tanganku yang ikut luruh dari genggamanku.


Seperti kepercayaan diriku yang ikut luruh dalam sekejap, saat mengingat statusku bukan lagi di usia yang harusnya berbunga oleh perhatian seseorang, dan aku tak seharusnya merasa sedikit kehilangan saat seseorang yang mendekatiku tiba tiba menjauh, terlebih sampai merasa ada yang tiba tiba perih di ulu hati. Karena aku tidak cukup pantas untuk itu.


Ini hanya sebuah perasaan semu saja. Seperti keinginan hari ini untuk memiliki jiwa seseorang, lantas esoknya, aku semakin serakah dengan menginginkan memiliki raganya. Dan kemudian aku semakin tidak tau diri dengan mengharap memiliki keduanya utuh hanya milikku seorang.


Lantas, setelah semua kembali pada kenyataan yang tersisa adalah ceceran rasa yang berserakan, dan merata menjadi serpihan. Lalu, kobar di dada melantak seluruh dunia, bak bola api yang bergulir panas menbakar seluruh jiwaku.


Maka, sebelum itu terjadi. Sadar diri adalah pencegahnya. Karena aku tak cukup pantas untuk berada di dekatnya, terlebih mendampinginya. Mungkin saja dia hanya menganggap semua seperti sebuah chat yang hanya menggunakan jari, sementara aku terlalu mengukirnya di hati. Memang, kadang mencintai itu lebih menyakitkan daripada kehilangan.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2