
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Daffa POV.
Pemandangan senja sore ini harusnya sempurna, tapi semua berantakan dan merubah menjadi tidak seindah cuaca sebenarnya, begitu mobil yang aku kemudikan berhenti tepat di samping pagar rumah Mawar. Dan mataku langsung menangkap Mawar yang tengah tertawa lepas, bukan tawa Mawar yang membuat moodku rusak seketika, melainkan orang yang tengah duduk didepannya.
Duduk dengan santai, mereka persis seperti keluarga. Di tambah Aliena juga nyaman duduk dalam pangkuannya, membuat perasaan tak terima langsung mendominasi dadaku. Perasaan aneh ini muncul dengan sendirinya, sekaligus tiba tiba. Apa karena Aliena yang dengan tenangnya memanggilnya papa, atau justru karena tawa Mawar yang tanpa was was seperti denganku.
Aku mempercepat langkahku untuk sampai di teras rumah Mawar dan begitu langkahku sudah mendekat, Alienalah yang tersadar lebih dulu dengan kehadiranku.
"Ayah, Ayah." Teriak Aliena dan langsung turun dari pangkuan Rendi, sekaligus itu membuat Mawar juga Rendi langsung menoleh ke arahku.
Langsung menyongsong tubuh kecil Aliena dalam dekapanku, tak luput juga berondongan tanya langsung menyertai ikut bersuara.
"Princess Ayah apa kabar hari ini..?" Tanyamu sembari mengangkat tubuh kecil Aliena, sejurus kemudian berjalan pelan menuju ke arah dua orang yang tengah menatap ke arahku.
Jika saja ini berada di ruang sidang, ingin sekali aku mengajukan keberatan akan tatapan mereka berdua. Tatapan penuh rasa pengertian terhadap Aliena, dan seolah olah kehadiranku tidak sama sekali menganggu bagi mereka berdua.
"Silahkan duduk Ayah Aliena." Kalimat Mawar biasa dan nada suara Mawar juga biasa. Tapi kenapa, itu terdengar asing dan tidak menyenangkan di hatiku. Ayah Aliena, benar aku Ayah Aliena, bukan berarti Mawar harus memanggilku seperti itu.
Usai mengatakan itu, Mawar sendiri lekas berdiri sembari tangannya menarik satu kursi yang berada di depan Rendi.
"Teh atau kopi..?" Tanyanya lagi begitu aku sudah duduk.
"Teh saja." Jawabku pelan. Mawar berjalan ke dalam begitu mendengar jawabanku.
Aku sibuk menjawab tanya Aliena tanpa berkeinginan untuk menyapa orang yang berada di depanku, meski aku tau dia saat ini sedang memperhatikan aku. Tapi masa bodoh, toh kalau dia ada yang hendak di tanyakan pasti akan langsung bertanya padaku.
"Ayah, Aliena sudah siapkan baju baju." Kata Aliena.
"Iya, coba di hitung ada berapa baju.?" Jawabku.
"Ada lima atau enam."
"Banyak sekali. Apa masih kurang.?" Aliena berpikir keras sebelum ahirnya manggut manggut. "Tidak apa, nanti kalau kurang kita beli sama sama, bareng sama Abang juga."
"Ye, asik." Girang Aliena dengan mengangkat kedua tangannya di udara. "Aliena mau baju ulang tahun yang warnanya biru ya Ayah. Persis seperti baju Papa Dokter." Tunjuk Aliena ke arah Rendi.
"Maniskan warna biru punya Papa." Jawab Rendi dengan gayanya yang sok mengambil simpati Aliena.
"Iya, Aliena suka." Jawaban polos Aliena langsung saja membuatku kesal. Bukan kesal terhadap Aliena, melainkan kesal terhadap Rendi, karena dari senyum Rendi seolah menyepelekan aku sebagai Ayah Aliena. Dan ini tidak bisa untuk aku biarkan, aku harus menegurnya.
__ADS_1
"Aliena masuk dulu bantu Bunda buat teh untuk Ayah." Sepertinya Rendi sadar dengan maksud dari ucapanku terhadap Aliena. Dan manisnya Aliena, karena tanpa membantah ataupun menawar perintahku, Aliena lekas turun dari pangkuanku dan berjalan masuk dengan riangnya.
Untuk sesaat aku masih belum berkata apa apa terhadap Rendi yang terlihat begitu santai dengan terus tersenyum tidak jelas.
"Apa maksudmu barusan.?" Tanyaku terhadap Rendi.
"Maksud yang mana.?" Mau berlagak bodoh, aku sudah hafal orang orang sepertinya.
Aku berdecak kesal. "Maksud dari tawamu yang meremehkan aku, seolah olah kamu yang jauh mengenal Aliena daripada aku."
"Itu fakta, kenapa mesti marah. Karena aku memang tau tumbuh kembang Aliena dari tiga tahun lalu. Jadi, kenapa harus di persoalkan." Jawab Rendi enteng.
"Kamu. Jangan pernah memanfaatkan Aliena karena ingin dekat dengan Ibunya." Ucapanku justru membuat tawa Rendi pecah.
"Ahirnya keluar juga ucapan itu." Rendi membenarkan cara duduknya. "Aku tanya, jawab dengan jujur. Siapa yang sesungguhnya kamu kwatirkan ketika aku semakin di butuhkan disini, anakmu atau jandamu.?"
Aku menelan salivaku dengan kasar, dalam dadaku merasa tidak terima lansung di skak oleh anak ingusan seperti Rendi. Tapi, jika di pikir ulang benar apa yang di tanyakan oleh Rendi, apa sesungguhnya yang aku kwatirkan akan di rebut oleh Rendi dariku, Alienakah atau justru Mawar.
Seharusnya perasaan ini cukup sederhana saja. Aku akan bahagia jika melihat mereka bahagia. Tapi, egoku menginginkan bergerak maju untuk menjadi satu satunya orang terpenting dalam hidup mereka. Tempat dimana mereka merasa nyaman, tempat dimana mereka bisa mendapat ketenangan, tempat dimana mereka menjadikan aku tujuan ahir dari setiap perjalan, selayaknya sebuah rumah.
"Kamu tidak bisa menjawab.?" Ucapan Rendi membuyarakan spekulasi yang tengah terjadi di dadaku. "Biar aku perjelas. Hubunganmu dan Mawar sudah berahir. Aku single, Mawar single, kamu sekarang juga single. Jika pada ahirnya kamu sekarang jatuh cinta lagi dengan jandamu, kenapa kita tidak bersaing untuk mendapatkan Mawar."
"Nonsen. Omongan tidak guna sama sekali." Elak ku dengan cepat. Rendi terlalu melebih lebihkan asumsinya. Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan Mawar. Aku melakukan semua karena Aliena semata, tidak ada sangkut pautnya dengan Mawar.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Akan aku siapkan pakaian Aliena." Ucap Mawar setelah Rendi pamit untuk undur diri sembari hendak masuk ke dalam rumah.
"War, ada yang perlu aku sampaikan kepadamu." Mawar kembali duduk di tempatnya dengan memasang wajah datar siap mendengar apa yang hendak aku sampaikan, tapi justru aku yang merasa tidak enak hati untuk menyampaikan kepadanya.
"Katakan saja." Ucap Mawar datar saat aku hanya diam.
Ku benarkan cara dudukku, sekaligus menyiapkan mentalku. Dalam sejarah hidupku, baru kali inilah aku merasa sangat gugub ingin menyampaikan sesuatu persis saat dulu aku hendak melamar melati. Bedanya dulu, gugubku tidak di barengi dengan perasaan was was.
Mawar masih menatapku datar saat aku masih diam belum bersuara. Ahirnya setelah berdehem pelan untuk membersihkan tenggorokanku, secara pelan suaraku keluar juga.
"Kalau kamu mengijinkan, aku ingin membawa Aliena pulang ke rumah Ibu." Langsung terlihat raut keterkejutan dari wajah Mawar, oleh sebab itu aku buru buru melanjutkan ucapanku. "Jika kamu keberatan, aku tidak akan memaksa."
"Bukan, bukan seperti itu." Jawabnya dengan cepat sembari mengangkat tangannya di udara. "Hanya saja, kamu terlalu mendadak mengatakannya. Akan ku persiapkan apa apa saja yang di butuhkan Aliena selama disana." Lihatlah, betapa baiknya Mawar. Kenapa, aku baru menyadari kebaikan dan ketulusan Mawar saat ini.
"War, apa aku boleh minta satu permintaan lagi." Ucapku ketika Mawar sudah hendak berdiri.
Tidak langsung menjawab, Mawar menatapku dengan tatapan penuh tanya. "Aku akan kesulitan jika membawa Aliena tanpa membawamu." Dan sorot matanya langsung berubah begitu ucapanku usai.
__ADS_1
Mawar kembali terduduk dengan wajah tak menentu, kedua tangannya saling menaut gelisah meski tubuhnya nampak tenang. Dan sejurus kemudian di palingkan tatapannya ke arah Aliena yang tengah bermain tak jauh dari kami. Kini, terlihat jelas di mataku. Pedebatan hebat sedang terjadi di pikiran Mawar mengenai pintaku yang tak tau diri.
"Tidak masalah, aku paham kamu tidak bisa ikut. Aku coba membujuk Mbak Niluh." Ucapku lirih.
"Akan berapa lama disana.?" Kembali seperti ucapan datar saja yang di katakannya, namun ketika ku lihat kedua tangan yang sedang menaut itu, aku sadar betul Mawar penuh pertimbangan yang hebat ketika hendak menanyakan hal itu.
"Tiga atau empat hari."
"Aku akan siap siap." Ucapnya datar sembari berdiri dengan cepat, sampai sampai membuatku ternganga lantaran kaget. Sampai ketika Mawar sudah berada di ambang pintu, aku baru menyampaikan rasa terima kasihku.
"War, terima kasih. Aku ak.."
"Tolong, jangan katakan apapun. Kamu tau ini bukan soal yang mudah bagiku. Sama persis saat aku mengambil keputusan untuk datang kesini, dan kesemua itu aku lakukan demi Aliena. Karena Aliena berhak tau seluruh keluarganya, dan aku tidak ingin menjadi Ibu yang egois." Tanpa menoleh ke arahku, Mawar berucap secara lugas.
Aku, aku tak mampu berkata apa apa hingga sampai Mawar duduk dengan tenang di dalam mobilku dengan terus menjawab tanya Aliena. Kami sudah seperti sebuah keluarga, andai aku juga bisa ikut bergabung dalam perbincangan mereka. Dan akan tambah kesempurnaan keluarga, andai sikap Adit sudah mencair. Itulah tanggung jawab yang harus aku segera selesaikan, agar Adit kembali menerima kehadiran Mawar.
POV Daffa end.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1