
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Kamar luas dengan dua tempat tidur dan juga segala perabot di dalamnya yang berjumlah dua, tapi dengan corak yang sangat berbeda memenuhi ruangan yang baru saja aku masuki. Ranjang queen size dengan sepray pink soft bergambar animasi terkenal Hello Kitty merupakan ranjang milik Kak Melati, sedang punya ku berada di sampingnya dengan motif lain sesuai karakterku yang tomboy.
Kamar mewah ini menjadi saksi betapa Kak Melati sangat menyayangiku seperti adik kandungnya sendiri. Dan rela memberikan apa saja yang aku minta darinya, meski itu barang yang sangat dia sukai sekalipun, jika aku mau meminta. Namun, tanpa aku berucapun Kak Melati sudah cukup tau apa yang aku mau.
"War, yuk ikut makan malam diluar." Ucap Kak Melati membuyarkan lamunanku.
"Mawar di rumah saja Kak Mel. Lagi PMS." Aku membuat alasan. Sesunggunya, alasanku hanya tidak ingin berada di antara Kak Melati dan Bang Daffa. Aku takut hatiku yang tidak ada persiapan sebelumnya akan tidak sanggup jika melihat kedekatan mereka berdua nanti.
Tadi saja aku sudah berusaha sangat keras untuk tidak terlihat canggung. Dan malah Bang Daffa mengatakan bahwa kami saling mengenal dan satu kost juga. Hingga membuat Kak Melati menanggapi penuh semangat dengan ucapan Bang Daffa tersebut. Pertanyaan tentang ku bagaimana di kostan juga tidak luput Bang Nusa tanyakan sebagai Abang yang protectif kepada adiknya.
Dan jawaban Bang Daffa mengenai perangaiku cukup berbelit belit namun juga tidak menyudutkan aku. Mungkin ini masih tentang kejadian terahir kali sebelum Bang Daffa pindah ke Kota ini.
"Apa kamu sakit, War." Kata Kak Melati lagi mengembalikan pikiranku yang sempat kabur.
"Tidak Kak Mel, hanya lagi males saja. Percaya deh." Jawabku dengan meraih tangan Kak Melati dan menaruhnya di dahiku. "Tuh kan enggak panas." Lanjutku.
Kak Melati manggut manggut. "Baiklah nanti Kak Mel bungkuskan." Ucap Kak Melati. "Kamu bilangin Bang Nusa, Kak Mel ke kamar mandi dulu." Lanjut Kak Melati sembari berjalan ke arah kamar mandi kami.
Setelah memberi jawaban ke Kak Melati, akupun berjalan kelaur kamar dan mencari kebreradaan Bang Nusa. Setelah keluar dari ruang keluarga, aku mendapati Bang Daffa yang tengah berdiri di dekat sofa seperti sedang mengobrol dan aku yakin itu pasti Bang Nusa, karena untuk mengobrol dengan Mbak Toriqoh jelas tidak mungkin, karena Kak Melati tadi bilang Mbak Toriqoh sedang pulang kampung.
Aku sudah mendekat ke arah keduanya, dan mulutku juga sudah terbuka untuk memanggil Bang Nusa. Namun, kembali terkatup rapat, saat aku mendengar ucapan lirih Bang Daffa mengenai diriku.
Sakit dengan ucapan Bang Daffa menganaiku yang tidak di kenalnya dengan baik, tidak sebanding dengan sakit hatiku saat mengetahui bahwa Bang Daffa memang sedang memiliki hubungan khusus dengan Kak Melati. Salahku juga, tidak pernah menunjukan sikap baikku sebelumnya kepada setiap orang. Hanya karena pikiran picik, bahwa tidak setiap orang itu menilai orang lain dari penampilan luarnya saja.
Aku tidak bilang bahwa aku orang yang baik. Tapi, setidaknya Erik dan teman yang mengenal baik dengan diriku, selalu bilang bahwa "Kamu lebih baik dari penampilanmu." Dan tidak pernah menyangka bahwa orang seperti ku masih sangat taat dan tau tentang hukum hukum agama, meski itu tidak bisa di katankan banyak juga.
"War, kok masih disini." Ucapan Kak Melati sontak membuat kedua orang yang tengah terlibat obrolan rahasia itu menoleh ke arah kami dan tatapan berbeda yang Bang Nusa tunjukan kepadaku cukup menjadi bukti bahwa apa yang di sampaikan Bang Daffa kepada Bang Nusa mempengaruhi pemikiran Bang Nusa terhadapku.
"Eh, iya Kak Mel. Maaf." Ucapku.
"War, kamu tidak ikut." Tanya Bang Nusa dengan nada datar. Dan Bang Nusa sama sekali tidak membujuk ku untuk ikut seperti biasanya, saat melihat aku menggelengkan kepalaku pelan.
"Nanti di bungkuskan saja. Mawar mau apa.?" Kata Kak Melati dengan nada lembut khasnya.
"Apa saja yang Kak Melati bawa pasti enak di lidah Mawar." Ku sungingkan senyum kaku ke arah Kak Melati.
"Baiklah, nanti kami tidak akan lama, jadi tunggu kami pulang." Dari ucapan Bang Nusa aku dapat mengerti, bahwa Bang Nusa menyuruhku untuk menunggunya. Dan itu jelas ada sangkut pautnya dengan ucapan Bang Daffa kepada Bang Nusa tentang ku.
__ADS_1
Dengan terus mengigit bibir bawahku untuk menolak sakit yang di rasakan oleh hati, aku terus menatap ketiga punggung yang tengah pergi meninggalkan aku seorang diri di rumah. Sakitnya itu bukan lantaran aku tidak ikut bersama dengan mereka, melainkan karena tautan tangan kedua anak manusia yang di liputi dengan penuh cinta, dan senyum kecil malu malu dari keduanya menjadi air lemon yang memerasi hatiku oleh cabikan luka seorang diri.
Satu jam sudah berlalu, dan aku masih tetap setia di ruang tamu, sembari terus menatap cangkir teh bekas Bang Daffa yang belum aku bersihkan. Ku putar segala otak ku untuk berfikir posotif tentang segalanya, agar rasa sakit hati ini tidak terbaca oleh Kak Melati.
"War, ini titipan dari Melati. Cepat makan, habis itu Abang tunggu di ruang tengah." Suara tegas Bang Nusa mengembalikan kesadaranku dari pikiran panjang, hingga tak menyadari kedatangan Bang Nusa.
"Kak Melati belum pulang.?" Pertayaan bodoh itu kenapa malah keluar dari bibirku. Ini malem minggu, jelas mereka menghabiskan waktu bersama sama. Dan aku justru menanti jawaban dari Bang Nusa dengan pemikiran bodoh.
"Mereka langsung pergi nonton. Melati nyuruh Abang pulang duluan, takut kamu kelaparan." Jlep, ucapan Bang Nusa benar benar mematahkan hatiku menjadi berkeping keping. Dan itu sudah menjadi jawaban bahwa hubungan yang terjalin diantara keduanya sudah mencapai mufakat bersama. Bahkan mungkin dari keluarga kedua belah pihak.
Harum dari Nasi Iga Panggang yang berada di hadapanku sama sekali tidak mampu menggugah lidahku yang seakan mati rasa dan yang lebih parah lagi lambungku juga sama sekali tidak memberi respon saat suapan demi suapan sendok beralih ke mulutku. Itu semua aku lakukan karena Kak Melati, agar saat pulang nanti Kak Melati tidak cemas terhadapku.
Suapan terahir meluncur menuju ke lambungku, berbarengan dengan Bang Nusa yang masuk ke dapur menyeduh teh hijau kesukaannya. "Jangan lupa Abang tunggu di ruang tengah, War." Ucap Bang Nusa begitu sudah berada di ambang pintu dengan cangkir teh di tangannya.
Aku bergegas mencuci piring bekasku makan, dan sejurus kemudian sudah menyusul Bang Nusa. Kertas kertas bertebaran di meja, bahkan ada beberapa di antaranya masih berada dalam alat prin yang terconeksi dengan Laptop Bang Nusa yang penuh dengan huruf huruf berjajar.
"Sibuk apa sih, Bang. Kok ada banyak banget surat surat penting. Enggak sekalian surat tanah." Ucapku sembari mendudukan diriku di karpet bludru tidak jauh dari Bang Nusa yang saat ini tengah beralih menatapku.
"Abang mau daftar CPNS Kejagung." Jawab Bang Nusa santai, namun tidak dengan tatapan mata Bang Nusa yang menyorot penuh tanya kepadaku.
"Wah, Bang Nusa keren banget. Mawar do'ain ke terima." Ucapku penuh bahagia tanpa ku buat buat.
"Makasih, War." Bang Nusa menghela nafasnya dalam dalam sembari mengusap ujung cupnya pelan. "Pahit teh hijau ini, tidak akan sepahit seseorang yang tanpa masa depan, War." Lanjut Bang Nusa pelan namun penuh penegasan.
"Apa yang kamu lakukan selama di Kostan.?" Bang Nusa balik bertanya padaku dengan nada selidik.
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan cerita Bang Daffa tadi.?" Kembali, kalimat tanyalah yang keluar.
Bang Nusa menarik cup tehnya, dan sejenak menikmati teh yang mengepul itu. "Seorang gadis itu, seperti cup teh milik orang lain, War. Sekali orang yang memiliki teh itu meminumnya, maka orang lain akan jijik untuk mengambilnya."
"Mawar tidak serendah itu, Bang." Jawabku lirih.
"Papa dan Mama melepas kamu pergi jauh, semua karena Melati. Dan kepercayaan mereka akan mudah runtuh jika kamu tidak bisa mempertahankan itu." Lanjut Bang Nusa dengan tidak memberiku kepercayaan diri. "Apa benar yang di katakan Daffa, kalau kamu sering tidur sekamar dengan laki laki, dan itu tidak cuma satu orang saja.?" Ahirnya keluar juga kata itu.
"Itu benar, Bang. Tapi, itu juga bukan orang lain, itu Erik." Jawabku.
Bang Nusa menatapku dengan pandangan tidak percaya. "Erik juga laki laki, War."
"Tapi, kami memang benar benar hanya tidur Bang. Bang Nusa tau sendiri gimana Mawar sama Erik. Ayolah, Bang. Masak Bang Nusa enggak percaya sama Mawar."
"Terus, yang Daffa lihat kamu lagi pelukan di tempat tidur sama laki laki yang sedang bertelanjang dada itu siapa, Erik juga.?" Kembali tanya Bang Nusa.
__ADS_1
Aku menggeleng pelan. "Itu Rendi. Ponakan Bu Kost. Dia itu masih bocah Bang, karena badanya saja yang bongsor makanya Bang Daffa salah faham." Jawab ku dengan memohon kepercayaan kepada Bang Nusa.
"Apa itu nanti bisa Abang pertanyakan sama Erik.?" Ucapan Bang Nusa kali ini sudah terdengar melunak.
"Bisa banget." Jawab ku dengan menyungingkan senyum simpul ke arah Bang Nusa.
"Ya sudah istirahat sana gih. Kelihatan banget kalau capek." Ucap Bang Nusa dengan melebarkan senyumnya ke arahku.
"Bang, Kak Melati dan Bang Daf.." Kata kata ku terpotong begitu saja. Sementara di dalam hati, aku merutuki kebodohanku yang telah mengikuti perasaan ingin tahu yang menggebu gebu.
"Do'akan saja untuk kebahagian Melati, War. Abang tidak pernah melihat Melati bahagia dan begitu bersemangat saat bersama Daffa." Jawaban Bang Nusa bagus, tapi itu membuat ruang ngilu di hatiku. Dan harus aku sadarkan diriku, bahwa dia cinta sepihak ku. Jadi, tidak ada tempat menuntut untuk rasa yang sakit, kecuali dari mengobatinya sendiri.
Benar yang di katakan Bang Nusa, bahwa Kak Melati tidak pernah terlihat begitu bahagia dan bersemangat. Baru kali inilah aku melihatnya, dan tidak di benarkan untuk ku merusak bahagia Kak Melati demi perasaan sepihak ku, yang telah memberikan segalanya untuk ku.
Dan semua usahaku sia sia belaka untuk agar terlihat berbeda di hadapan Bang Daffa. Nyatanya, benar yang di katakan Erik, kalau memang cinta itu tidak memerlukan perubahan apapun. Tapi, sepertinya aku sudah nyaman dengan penampilanku saat ini. Jadi, tidak ada salahnya jika aku benar benar merubah penampilanku untuk kenyamanan diri sendiri bukan agar menjadi tempat nyaman bagi orang lain..
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Motif pean itu apa tho Bang Daffa kok ngadu ngadu sama Bang Nusa. Untung ae Bang Nusa enggak main emosi.
Like, Komentnya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862