Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
POV Daffa Part 2


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Lanjut POV Daffa.


Egoku tercabar dengan diamnya, tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya untuk menjelaskan kepadaku tentang Aliena, dan dia cendrung memilih menepi dariku dan Aliena untuk memberi ruang yang seharusnya itu dari dulu dia berikan. Hingga aku masuk ke kamar yang serba sederhana guna untuk menidurkan Aliena dia juga diam saja.


"Apa pekerjaan Ayah tidak terganggu. Apa Ayah dapat cuti, apa Ayah akan terus di rumah.?" Aku tersentak dengan sederet tanya Aliena. Ini tanya yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, dan menurutku ini adalah kebohongan yang sengaja sekali di ciptakan oleh Mawar untuk Aliena agar tak perlu banyak tau tentang aku. Dasar egois.


"Ayah akan dekat dengan Aliena." Jawabku sembari mengelus kepalanya yang masih tertutup jilbab.


"Aliena sayang Ayah. Ayah jangan pergi lagi."


Untuk sesaat aku masih diam dan tetap mengelus pucuk kepala Aliena hingga mataku memandang jauh keluar jendela dan menangkap bangunan tinggi dimana dulu aku pernah tinggal dan menghabiskan malam bersama Mawar hingga hadir Aliena.


"Apa Aliena mau ikut bersama Ayah.?" Tanya itu tiba tiba terbersit di kepalaku, dan aku rasa wajar jika aku berkeinginan untuk membawa Aliena tinggal bersamaku, karena jelas aku tidak akan membiarkan darah dagingku berada di tempat yang jauh dari kata mewah seperti tempat tinggalku dan Adit.


"Iya, asal bersama Bunda." Jawaban Aliena membuatku kembali terdiam dan dengan cepat lantas menyuruhnya agar cepat istirahat.


Setelah Aliena terlelap, aku bergegas keluar dari kamar Aliena dan mendapatinya yang tengah berdiri tidak jauh dari pintu, dari gelagatnya sepertinya dia sengaja menungguku, dan memang itu yang aku tunggu.


Ingin aku bicara baik baik dan terperinci, tapi mendengar satu jawabannya membuatku tersulut api amarah. Bagaimana tidak, dia tidak mau mengatakan apapun dan hanya terus mengatakan bahwa Aliena adalah anaknya sementara aku tak memiliki hak atas Aliena.


Aku marah dan semakin marah saat Mawar mengusirku. Aku merasa tidak terima, karena menurutku aku berhak atas Aliena. Aliena bisa jauh dariku itu karena Mawar, jika Mawar tidak menjauhkannya dariku saat itu pasti saat ini Aliena akan memiliki pendidikan serta kehidupan yang lebih baik lagi.


"Kamu Ibu yang Egois, Ma." Pipiku terasa panas oleh tamparan tangan Mawar dan lebih panas lagi hatiku, karena tepat saat itu Aliena berada di ambang pintu menyaksikan apa yang di lakukan Mawar terhadapku.


"Bunda jahat.!" Pekik Aliena dan langsung menubruk tubuh Mawar lantas meraih tangannya mengusapnya berulang ulang. "Bunda harus minta maaf sama Ayah." Ucap Aliena lagi dan aku sama sekali tak bergeming justru sedang asik menikmati wajah Mawar yang tengah menegang serta sibuk menjelaskan kepada Aliena.


Aku menikmati setiap tangis Mawar yang di balut dengan senyum, dan kali ini kepuasan itu semakin aku rasakan saat Mawar yang terus menahan airmatanya guna membujuk Aliena agar tidak ikut denganku.


"Tidak apa sayang, nanti Ayah dan Abang akan datang menjemput Aliena." Wajah Mawar semakin pucat pasi mendengar aku menyebut Abang yang tak lain adalah Adit.


Urusan Adit akan ketemu Mawar aku tidak terlalu kwatir, toh Adit sekarang sudah umur sepuluh tahun, aku rasa dia bukan anak yang akan mudah luluh hanya karena mainan serta kata kata manis Mawar. Dan aku rasa, kesal Adit karena merasa di bohongi oleh Mawar tidak akan mudah di hapus begitu saja, buktinya dia tidak pernah sama sekali menyebut Mawar, bahkan pernah sampai marah besar karena Ibu yang menyebut Mawar sebagai Bundanya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hampir sebulan, aku terus mengumpulkan bukti agar aku bisa mengambil alih hak asuh Aliena dan Mawar, dan lumayan cukup alot karena Aliena yang masih di bawah umur juga Aliena yang lahir setelah kami resmi bercerai. Mengulik setiap berkas yang ada di depanku, aku cukup puas dengan satu hal, yakni akta lahir Aliena.


Daffa Rendra Bakti, itulah nama yang tercantum di akta Aliena sebagai Ayahnya. Dan menurutku apa yang di lakukan Mawar cukup benar kali ini. Setidaknya, meskipun dia menjauhkan aku dan Aliena, tapi dia tidak menutupi bahwa Aliena adalah darah dagingku.


Berkas sudah terkirim lusa, dan harusnya hari ini Mawar sudah menerima surat panggilan dari pengadilan. Aku sudah berjanji tidak akan mundur dan mengalah dari Mawar, sebelum nanti pada ahirnya aku akan membawa Aliena untuk menemui keluargaku terutama Adit.


Sebulan lamanya tak bertemu Aliena dan hanya melihatnya dari jauh itupun seminggu yang lalu, membuatku merasa rindu yang teramat sangat. Dan untuk itu, hari ini aku lekas menyelesaikan pekerjaanku lebih awal agar aku bisa menemuinya sore ini.

__ADS_1


Baru aku ingin beranjak dari kursiku, tiba tiba pintu ruanganku terbuka dengan kasar di sertai dengan suara sekertarisku yang panik mencegah seseorang yang datang main nyelonong masuk ke ruanganku.


"Tidak apa apa, Rin. Dia salah satu teman lama saya."


"Baik Pak." Ucap Sekertarisku lantas segera beranjak dari ruanganku.


Kembang kembis nafas Erik menunjukan bahwa dia sedang emosi, dan jika meraba pasti ini ada hubungannya dengan surat dari pengadilan. Akupun tersenyum miring, karena pada ahirnya Mawar menunjukan kelemahannya dengan mendatangkan Erik. Aku puas.


"Loe bener bener brengsek. Tidak cuma brengsek sebagai laki laki, tapi loe juga brengsek sebagai Bapak." Ucap Erik dengan bersungut sungut menahan amarah.


"Kalau maksud loe soal tuntutan gua ke Mawar. Gua rasa itu tidak ada sangkut pautnya sama loe. Dan itu hak gua juga.."


"Bug, bug, bug." Kepalan tinju Erik mendarat di wajahku, dan aku masih tersenyum kecut penuh remeh ke arah Erik, mengolok kepadanya.


"Loe bener bener biadab. Gua rasa Mawar ada benernya juga memilih diam dan menyembunyikan Aliena dari laki laki brengsek seperti loe. Karena loe tidak punya hati." Ucap Erik dengan nada yang masih di kendalikan emosi. Dan aku yang akan di untungkan dengan itu.


"Gua nyesel ngebujuk Mawar buat ngabarin loe. Percuma saja, karena Bapak Aliena lebih perduli dengan gugatan hak asuh daripada perduli dengan Aliena sendiri yang tengah sekarat di rumah sakit. Loe tidak pantes di sebut Bapak buat dia."


"Apa maksud loe, Rik. Aliena baik baik saja seminggu yang lalu." Erik tak memerdulikan perkataanku dan justru melenggang pergi dari ruanganku.


"Rik, Erik." Aku terus mengejar Erik dan Erik malah lebih cepat memacu langkahnya dan begitu aku berhasil meraih bahunya Erik berbalik dengan langsung memberiku kepalan tangannya hingga aku tersungkur.


Kepalaku masih terasa pusing akibat pukulan Erik, hingga aku butuh beberapa waktu untuk menetralkannya. Dan saat aku sudah bangkit dari tempatku, Erik sudah tak terlihat lagi.


Polisitemia. Tubuhku seketika bergetar hebat saat aku membaca riwayat kesehatan Aliena. Dan sekarang aku tau kenapa uang sebayak itu di rekening Mawar dalam sekejab raib. Tidak perduli dengan penolakan Mawar, saat ini juga aku harus bertemu dengan Aliena dan mengusahakan pengobatan yang terbaik untuknya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah berkutat dengan beberapa suster jaga, ahirnya aku sampai juga di ruangan besar dimana Aliena berada. Ini bukan kamar VIP, tapi cukup sepi lantaran dari enam bansal yang terisi hanya dua saja, dan salah satunya Aliena.


Selimut tebal warna putih motif pisang membungkus dua orang yang tengah terlelap di bangsal yang sama. Jika Aliena tampak damai dengan tidurnya, maka lain halnya dengan Mawar yang tampak tidur karena kelelahan.


Aku terus memperhatikan mereka berdua yang tengah tidur dengan posisi saling memeluk. Dan tangan Mawar sesekali masih bergerak guna mengusap lengan Aliena. Aku terus duduk di samping bangsal hingga Aliena yang terbangun lebih dulu.


"Sesttt, jangan berisik nanti Bunda kebangun." Ucapku dengan cepat saat Aliena sudah hendak berteriak.


Setelah Aliena mengangguk, pelan Aliena berusaha melepaskan diri dari Mawar dan itu berhasil. Hingga aku menggendongnya dan mendudukannya di pangkuanku. Aku dan Aliena terus bercengkrama dengan saling berbisik, hingga ahirnya Mawar terbangun dengan linglung mencari Aliena.


Tidak terlihat raut kaget di wajah Mawar justru wajah santai di perlihatkan kepadaku. Dan tanpa banyak kata seperti gayanya, dia lekas turun dari bangsal dan berbicara basa basi dengan Aliena.


"Sudah sore, saatnya di seka ya. Bunda ambilkan air hangat dulu, Alin kembali ke bangsal." Ucap Mawar.


"Baik Bunda." Jawab Aliena dan dengan cepat menuruti permintaan Mawar.


Gesit gerak Mawar melakukan tugasnya, dan aku hanya sesekali membantunya dengan mengambilkan sesuatu ataupun mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Ada rasa nyeri di dada saat setiap bantuanku di balas dengan ucapan terima kasih oleh Mawar secara lirih. Kenapa, ada apa denganku.?

__ADS_1


"Sudah cantik, saatnya keluar ke taman." Kata Mawar setelah selesai memakaikan jilbab Aliena.


"Asik, bersama Ayah dan Bunda." Girang Aliena.


"Sama Ayah dulu, nanti Bunda nyusul." Mawar mengaturkan kursi roda Aliena dan memberikan kepadaku tanpa berkata apa apa. Aku cukup tau maksud Mawar.


"Aliena ke bawah dulu sama suster, Ayah akan bantu Bunda beres beres dulu. Oke." Jawabku sepontan, karena ada yang perlu aku bicarakan dengan Mawar.


Anggukan kecil Aliena membuat aku dan Mawar hanya tinggal berdua. "Maafkan aku, Mawar." Suara lirihku membuat gerak tangan Mawar yang sedang melipat selimut terhenti.


"Namanya Aliena." Suara Mawar keluar tak kalah lirih dariku. "Umurnya baru menginjak lima tahun beberapa bulan lalu."


"Aku tau itu."


"Dia mengidap Polisitemia." Suaranya mulai bergetar di iringin dengan kepala yang tertunduk. Kedua tangannya mencengkram ujung jilbabnya dengan kuat dan aku tau itu ia lakukan untuk menahan bahunya agar tak berguncang. "Kamu benar, aku ibu yang egois. Bawalah dia, aku tau kamu akan mampu memberi pengobatan yang terbaik untuk Aliena. Tapi, ijinkan aku bertemu dia biarpun itu seminggu sekali. Bawalah dia." Katanya terputus dan tetes demi tetes air tiba tiba berjatuh membasahi tangannya tanpa suara.


Kenapa aku merasa sesak melihat itu, padahal sebulan lalu aku masih sangat menikmati setiap tatapn tak berdayanya. Kini saat dia benar benar menunjuka ketidak mampuannya, rasa menyerahnya, tapi aku justru ingin merengkuhnya memberinya bahu untuk bersandar. Apa yang terjadi denganku. Apa karena Mawar adalah Ibu dari anakku, atau karena dia jandaku...


POV Daffa End.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Like, Coment and Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi.


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2