Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Mawar Tak Di Cinta.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Benar takdir itu penuh kejutan dan aku merasakannya sendiri untuk beberapa hari kedepan ini. Baru lima belas hari yang lalu, Aliena harus di larikan ke rumah sakit dan dokter juga menyampaikan struktur pengobatan Aliena. Ajaibnya, Aliena menunjukan tanda tanda kesembuhannya dengan membaik setiap waktu, padahal pengobatan itu belum terealisasikan.


Lupakan saja bagaimana sibuknya hati bertanya tanya, karena yang terpenting tetaplah kejutan dari Tuhan yang maha rahasia di atas segala rahasia. "Hanya karena kalian tersesat di dalam ke akuan yang sempit, maka kalian mencari hingga ke langit. Dan saat jawaban yang di dapat tidak sesuai dengan apa yang di inginkan, sehingga kalian mungkin akan semakin sibuk dan menutupi jalan sejati yang tak lain adalah jalan menuju Tuhan."


Aku tak ingin seperti orang yang tersesat, karena terlalu sibuk menyimpan dendam. Oleh sebab itu, aku tidak pernah sekalipun membatasi Aliena untuk bertemu dengan keluarganya terutama Ayahnya, meski dengan itu aku harus menelan seluruh rasaku bulat bulat. Termasuk hari ini.


"Ahirnya sudah siap." Ucapku begitu jilbab warna biru muda aku kenakan di kepala Aliena.


"Terima kasih, Bunda." Jawab Aliean sembari mencium pipiku.


"Sama sama. Tinggal nunggu Ayah datang menjemput Aliena." Ku sentil hidung proposional Aliena.


"He'eh. Aliena senang sekali di rumah Ayah." Tidak apa, itu hanya ucapan anak kecil. Dan itu wajar, karena anak kecil akan jujur dengan apapun.


"Aliena mau tinggal dengan Ayah.?" Tanyaku.


Aliena tidak langsung menjawab, melainkan memandangku dengan lekat, lantas tangan kecilnya sudah terulur menyentuh pelupuk mataku. "Bunda jangan sedih." Ucap Aliena setelah diam beberapa saat. "Aliena, suka di rumah Ayah, tapi Alin lebih suka lagi kalau Bunda juga disana." Lanjutnya yang membuatku terkejut.


"Bunda jangan nangis. Maafkan Aliena." Ucap Aliena dengan nada hampir menangis.


"Sayang, Bunda tidak menangis. Lihat." Dengan cepat ku raih tubuh kecil Aliena dalam dekapanku. Mustahil memang menyembunyikan perasaan di hadapan anak yang masih polos, terlebih Aliena selain polos dia juga sangat kritis terhadap situasi yang berlaku di dekatnya.


"Alin, janji tidak akan nakal. Alin, akan jadi anak yang patuh. Asal Bunda janji tidak akan bersedih lagi."


"Alin, selalu menjadi anak yang baik untuk Bunda." Ku usap mata Aliena yang penuh dengan airmata. "Bedaknya jadi hilang, karena bedaknya hilang cantiknya juga ikut hilang. Ayo bedakan lagi, sebelum Ayah datang." Lanjutku.


Kembali ku bersihkan wajah Aliena dengan tisu basah, lantas kembali menaburi wajahnya dengan bedak bayi. Meski masih terlihat wajah sedih Aliena, tapi Aliena terlihat berusaha untuk menyuguhkan senyumnya setiap kali aku ajak untuk berbicara.


"Aliena mau di rumah saja hari ini." Katanya setelah cukup lama diam.


"Eh, kenapa.?" Aliena menggeleng pelan mendengar tanyaku. "Tidak boleh seperti itu sayang. Ayah sudah mau datang, kan kasihan Ayah sudah jauh jauh datang kesini mau menjemput Alin."


"Aliena tidak mau Bunda jadi sedih, karena Aliena pergi ke rumah Ayah."


"Siapa bilang Bunda sedih. Tadi kan Aliena yang nangis, kok jadi Bunda yang kena." Ku angkat tubuh Aliena di pangkuanku. Menumpuk tangan kami, aku mulai mengajaknya bicara panjang lebar sesuai karakter Aliena yang semua butuh jelas.


"Jadi janji itu tidak boleh di ingkari ya Bunda." Aku langsung mengagguk dengan cepat begitu Aliena merespon dengan baik ucapanku dengan cepat. "Kalau begitu, Aliena mau Bunda janji sama Alin, kalau Bunda tidak akan nangis lagi dan sedih saat Aliena tidak bersama Bunda."

__ADS_1


"Bunda berjanji untuk Aliena." Kembali ku sentil hidung Aliena tepat ketika pintu rumah di ketuk. "Nah, itu sepertinya Ayah sudah datang." Aliena lekas berlari lebih dulu guna membukakan pintu sedang aku mengikutinya pelan tepat di belakangnya.


"Assalamu'alaikum. Wah cantik sekali gadis kecil Papa." Begitu pintu terbuka dan bukan Ayah Aliena yang datang melainkan Rendi.


"Wa'alaikumussalam, Papa dokter." Jawab Aliena sembari meraih tangan Rendi. "Hari ini Aliena akan pergi ke rumah Ayah." Lanjut Aliena.


"Oh iya. Kenapa Papa dokter tidak tau ya. Untung Papa dokter cepet kesini, jadi kangennya sama Aliena tidak menumpuk banyak sampai hari senin lusa." Jawab Rendi dengan nada ceria seperti biasanya.


"Aliena juga akan kangen sama Papa dokter. Kalau begitu, ayo kita bermain di depan." Aliena langsung menarik tangan Rendi menuju ke tenda besar di halaman. Tanpa penolakan Rendi mengikuti saja kemana langkah Aliena membawanya.


"Ratu tidak membolehkan aku masuk dulu." Kata Rendi begitu menoleh ke arahku.


Tersenyum tipis, akupun menjawab ucapan Rendi dengan pertanyaan. "Mau kopi apa teh.?"


"Apapun itu akan nikmat di tenggorokanku, jika kamu yang membuatkannya." Aku hanya meenggeleng pelan mendengar ucapan Rendi, lantas dengan cepat berbalik menuju dapur dan tak lama aku kembali lagi ke teras dengan nampan berisikan secangkir teh untuk Rendi.


"Aku taruh sini tehnya Ren." Ucapku sedikit keras, karena Rendi tengah asik tetawa dengan Aliena di dalam tenda.


"Iya, makasih." Jawab Rendi.


"Bunda ikut ke sini." Panggil Aliena. "Sebentar saja." Lanjut Aliena begitu melihat aku yang sedang berpikir untuk tidak menyetujui permintaan Aliena.


"Baiklah, hanya sebentar saja kan." Aliena segera bersorak girang mendengar jawaban dariku.


"Ren, tehmu sudah mendingin." Ucapku di sela sela kami tengah bercanda.


"Tidak apa apa, nanti tinggal kamu buatkan lagi." Jawab Rendi santai dan kembali mendominasi Aliena serta mengendalikan suasana.


"Aliena mau pipis." Teriak Aliena dengan tiba tiba dan langsung bergegas berlari keluar dari tenda menyisakan aku dan Rendi.


"Jangan lupa cuci tangan dengan sabun setelahnya, sayang." Aku ikut berteriak sebelum Aliena menghilang di balik pintu rumah.


"Aliena semakin membaik." Ucap Rendi.


"Begitulah. Ini sangat mengejutkan buatku." Jawabku sembari tanganmu membereskan mainan Aliena.


"Aku sudah mendengar kisahmu dan Ayah Aliena dari Erik." Lirih Rendi bersuara.


"Lekas minum tehmu, Ren." Sengaja. Sengaja sekali, karena aku tak ingin membahas soal masalalu, oleh sebab itu aku tak ingin merspon ucapan Rendi.


"War, seperti apapun masalalumu, aku memiliki keyakinan dan harapan, jika aku yang akan menjalin masa depan denganmu." Tak ku gubris ucapan Rendi. Aku memilih keluar dari tenda dengan keranjang mainan Aliena.

__ADS_1


"Tapi jika, prioritasmu adalah Aliena dan memilih kembali dengan Ayah Aliena sebagai bentuk cintamu kepada Aliena, aku bersedia mundur. Karena dalam mencintai itu yang terpenting adalah kebahagian. Dan menurutku, jika kamu bahagia itu sudah cukup bagiku." Apakah bisa ku katakan ini terlalu drama bagi Rendi.


Rendi bukan sosok yang tidak laku, hingga harus menempel terus kepada seorang janda. Murnikah perasaan suka atau hanya rasa belas kasihan dan yang lebih parah lagi apakah perasaan itu hanya karena merasa tertantang.


"Mawar tidak akan kehilangan citranya sebagai bunga tanda cinta, hanya karena beberapa orang yang tak menginginkannya." Lanjut Rendi lagi saat aku masih tak bergeming dari tempatku berdiri.


"Aku tau konsekwensi terbesar dari berharap kepada manusia, Ren. Dan karena aku tak ingin kembali kecewa, oleh sebab itu biarlah semuanya kembali kepada sang pemilik skenario sekaligus pemilik cinta." Jawabku ahirnya.


"Berarti, kamu memberikan aku kesempatan.?" Tanya Rendi.


"Biar apa kata Allah saja. Tapi, yang pasti untuk saat ini, aku belum berpikiran selebih dari kesembuhan Aliena. Karena tujuanku berada disini, karena Aliena." Rendi tersenyum tipis mendengar ucapanku.


"Tidak masalah, pelan pelan saja. Seperti pelan aku marayu pemilik hati, sebelum aku mengambil tanggung jawab dari hati yang ku pinta."


Harus bahagiakah aku mendengar ucapan Rendi, atau aku malah sedihkah karena itu. Karena, aku sadar betul ini bukan lagi usiaku untuk berbunga oleh ucapan manis seseorang. Meski, sebelumnya hanya ada satu orang saja yang selalu bersikap manis terhadapku. Sebelum ahirnya manis itu berubah menjadi pahit, lantaran harapan yang di sandarkan salah. Dan aku tak ingin mengulangi hal itu kembali.


Benar kata Rendi. Mawar tidak akan kehilangan citranya sebagai bunga tanda cinta, hanya karena beberapa orang yang tak menginginkannya. Tapi, aku bukan bunga Mawar yang tak memiliki perasaan serta trauma oleb perlakuan seseorang. Aku hanyalah Mawar yang tak memiliki duri untuk melindungi dirinya, oleh sebab itu aku menjadi Mawar yang tak di cinta, karena aku tak memiliki tempat untuk menunjukan perasaanku, hanya karena terbebani rasa balas budi.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2