Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Serba Salah.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pucuk pucuk pohon Pinus berjajar rapi dan sesekali akan bergoyang seiring dengan angin yang menerpanya. Terus melesat dalam mini bus, pohon Pinus kini sudah tertinggal di belakang berganti dengan deretan pohon coklat, lalu tak lama berganti dengan pohon kopi.


Dalam puncak tertinggi di jalan gunung ini, sopir memilih menepikan mobilnya dan melangkah menuju ke warung kopi yang berjajar di pinggiran tebing. Tak ada niatan sama sekali aku hendak ikut turun, meski semua penumpang memilih mengikuti sopir untuk meregangkan otot dengan menikmati secangkir kopi ataupun makanan hangat.


Membuang pandanganku jauh di balik jurang dalam dan perbukitan di baliknya, pikiranku kembali di peristiwa hampir sebulan lalu. Tepat di balik dua bukit di sebrang jurang ini, aku menulis cerita baru untuk sejarah hidupku yang cukup berwarna. Sekaligus, membuat noktah yang meninggalkan penyesalan.


Ada banyak alasan untuk seseorang mencintai, namun hanya butuh satu alasan untuk kemudian mengubah perasaan cinta itu menjadi sakit yang menggiringnya pada kebencian. Aku, tidak ingin membenci Kak Melati, oleh sebab itu aku tak ingin berlama lama berada di rumah.


Kadang dalam hening, aku mengembalikan tanya dalam benak ku. Andai bukan Kak Melati yang menyebabkan segalanya terjadi pada orang tuaku, mungkin aku akan tumbuh dengan kasih sayang sepeunuhnya dari mereka. Namun, kembali lagi ku pertanyakan. Andai, bukan Kak Melati yang berada di posisi itu, akankah aku seberuntung memiliki Kak Melati sebagai peyanggaku.


Perasaan kecewa akan ketidak jujuran yang aku anggap sebagai ketidak tulusan, yang kemudian menjalari ego. Hingga aku butuh waktu untuk melupakan, untuk mempertimbangkan, sekaligus membesarkan hati, lantas menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi yang aku miliki selain mereka sebagai kerabatku.


Lima belas menit berlalu, semua kembali berada di tempat duduknya dan mobil kembali membelah jalan untuk mengikis jarak yang masih tersisa kiloan meter.


Menjadi penumpang pertama yang sampai di tempat tujuan, mobil berlahan berbelok ke jalan yang jauh lebih semput dari jalan nasional. Dan tak lama setelahnya, telah memasuki area persawahan yang kemudian di susul oleh gapura Pesantren.


Mobil travel yang aku tumpangi hanya berhenti tepat di depan Gapura Pesantren. Akupun turun dengan tenang dan mengambil barang bawaanku, tak berapa lama mobilpun beranjak meninggalkan aku yang masih berdiri memandang jauh ke depan.


Menghela nafas dalam, akupun melangkah masuk dengan menjinjing bawaanku sembari menunduk dalam, seakan di ujung sepatu yang tengah ku gunakan terdapat bongkahan intan berlian yang lebih menyilaukan daripada apa yang berada di hadapanku.


Semakin dekat tujuanku dengan gerbang Asrama Putri, semakin tertunduk kepalaku. Apa lagi saat langkahku sudah hampir mendekat di halaman Dhalem. Dan kepalaku seketika terangkat. Bukan terangkat, lebih tepatnya aku berjingkat kaget, saat aku mendengar seseorang tengah bersin.


Senyumnya melengkung saat tatapan kami bertemu, dan semakin melebar saat ku balas senyum itu dengan senyum tipis.


"Dhemm, belum halal Mas Karang." Seperti itulah kata kata Mas Karim yang membuat mataku kembali menatap ke bawah dan tak lama setelahnya segera meneruskan langkahku.


Demi Allah, cinta itu mengalahkan segalanya, termasuk urat malu, juga menutup segala penglihatan lainnya. Begitupun dengan apa yang terjadi padaku barusan. Tapi, adakah orang yang tengah jatuh cinta itu mampu merahasiakan perasaan cintanya.?

__ADS_1


Harusnya, aku mampu menempatkan perasaan ini, bukan malah menuruti godaan masa muda dengan mengulangi dosa yang menakutkan. Padahal aku sadar betul, bahwa setiap hati yang condong pada selain Allah, maka dia akan merasakan sakit serupa dengan kecondongannya tersebut. Namun, sekali lagi aku hanya wanita biasa, yang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Rapuhnya perasaanku, seketika sedikit membaik hanya dengan hadirnya Mas Karang yang bahkan tanpa menyapaku. Dan itulah yang dinamakan kekuatan cinta. Terlalu lebay memang, tapi perasaan cinta itu memang seperti itu, selayaknya mukzijat yang datang kepada seorang buta huruf, namun seketika bisa membaca.


Meninggalkan perasaan sentimentil sejenak mengenai kekecewaan, dan harapan yang di sematkan kepadaku. Aku ingin merangkai hari dengan senyum, agar senyum itu mampu mengikis perasaan kecewa dan menghapus segala noktah noktah hitam yang ada di hati. Membuka lembar perlembar kebaikan Kak Melati dan menutup satu coretan kesalahan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dalam pelukan malam, di bawah sinar bulan dan bintang, juga di antara tarian angin yang mendesau membawa dingin, aku dan Bia duduk dengan kaki yang kami biarkan menjulur ke bawah. Yap, kami berdua sedang duduk di teras kamar kami di lantai tiga dengan meyelipkan kedua kaki kami diantara tralis pagar.


"Kamu yakin tidak ingin menangis, War." Tanya itulah yang kemudian keluar dari Bia begitu aku menceritakan segala yang berkecamuk di dadaku.


"Ingin. Tapi, aku tak bisa melakukannya, Bi."


"Kenapa..?"


Ku tatap Bia dengan tatapan dalam sebelum aku menjawab tanya Bia. "Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat bagi aku dan Kak Melati, Bi. Ada banyak momet yang telah kami ciptakan." Lirihku dan ku rasakan telapak tangan Bia mengelus punggungku.


"Kamu orang yang sangat baik, War. Sungguh andai aku yang berada di posisimu, aku tidak akan sesabar kamu."


"Kak Melati juga orang yang sangat baik, Bi. Apa kamu pernah berpikir, andai bukan Kak Melati yang menjadi penyabab kecelakan orang tuaku, mungkin saja aku tidak akan seberuntung sekarang. Bisa saja mereka tidak bertanggung jawab seperti Kak Melati. Kak Melati mencoba memberikan aku segala yang bisa dia berikan, dan menanggung beban berat rasa bersalah dengan terus membiarkan aku ada di sampingnya. Karena dengan begitu Kak Melati akan terus mengingat akan kesalahnnya. Dan hatiku, hatiku justru tak mau legowo begitu saja." Ucapku panjang lebar.


"Bukankah aku keterlaluan, Bi.?" Lanjutku lagi.


"Tidak, War. Tidak. Perasaan kamu itu tidak salah. Benar aku belum merasakan sakitnya kehilangan orang tua. Tapi, tidak ada keikhlasan cinta itu selain dari orang tua kita. Aku dan kamu itu hanya manusia biasa, jadi selayaknya manusia biasa, ada perasaan egois dan tak terima. Dan tinggal kita mau membawanya kemana setelah kita berpikir dengan jernih."


"Terima kasih, Bi." Ku ulas senyumku untuk Bia.


"Jadi, apa rencanamu kedepan..?" Ucap Bia kemudian.


Aku tau Bia mencoba mengeluarkan kami dari bahasan tentang kesedihan ini. Dan akupun juag berpikir sama, sedih itu tidak perlu di tunjukan dengan terus terusan larut dalam kenestapaan. Suka tidak suka, mau tidak mau, semua akan tetap berjalan sesuai waktunya. Dan menata masa depan, adalah salah satu cara agar terhindar dari penyesalan.

__ADS_1


"Masih dengan misi yang sama. Lulus dalam waktu dua tahun ke depan. Dan sementara aku akan fokus ke pelajaran, serta matur sama Bu Nyai untuk off dulu dari Rumah Laundry." Jawabku.


"Lalu menikah. Hahahahah.." Sahut Bia dengan tawa lebarnya dan tawa itu menular kepadaku.


"Sudah larut, Bi. Ayo istirahat." Ucapku sudah hampir berdiri. Namun pergerakanku terhenti, karena tangan Bia yang meraih ponsel jadul dari tanganku.


"Ya Allah, War. Demi apa kamu kembali makai HP jadul ini." Ucap Bia sambil memperhatikan ponsel yang sudah berpindah di tangannya.


Aku tak langsung menjawab, tapi pikiranku justru kembali ke rumah siang kemarin saat aku mengembalikan ponsel pemberian Kak Melati kepada Bang Daffa. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Bang Daffa untuk ku, hanya tatapan saja sudah cukup mewakili, dan aku aku harus tau diri, bahwa Bang Daffa sangat membenciku.


Tapi, aku sangat ingat kata kata Bang Daffa terahir kali saat aku hendak menidurkan Adit malam kemarin. "Jangan coba coba kamu mengambil keuntungan dan menempati posisi Melati." Satu kalimat itu terus terngiang, dan terus mencoba menelaah maksud dari kalimat Bang Daffa. Sungguh demi apapun, aku tidak pernah sedikitpun terbersit di benak ku, aku akan mengambil apa yang menjadi hak Kak Melati.


"Sudah kembali kepemiknya. Ayo, istirahat." Jawabku, tanpa ingin mengulik tentang sikap Bang Daffa kepadaku. Karena, sejujurnya aku sendiri juga bingung dengan sikap Bang Daffa kepadaku. Jika, memang aku bersalah kepadanya, setidaknya katakatan padaku, agar aku bisa memperbaikinya.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi.

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2