
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Waktu, hal yang paling menakutkan ketika tertinggal. Apa lagi tertinggal dengan penyesalan. Tidak terasa waktu bergulir dengan begitu cepatnya, meninggalkan segala sesuatu yang telah berlalu, namun tidak bagi kenangannya.
Sebulan telah berlalu, dan selama itu pula aku masih mencoba keluar dari duka akan kehilangan Kak Melati, atau lebih tepatnya adalah menyembuhkan duka atas kebenaran setelah kepergian Kak Melati.
Tetap selalu tersenyum, tetap menjalani rutinatas selayaknya biasa kecuali kegiatan keluar Pesantren, semua menjadi bungkus bagiku dan yang pasti adalah menata kembali perasaan yang terasa terhianati.
Kadang terasa nyaman, namun kadang ada yang mengganjal ketika ingatanku tertumpu akan sosok Mas Karang. Katakanlah aku egois, karena membiarkan hubunganku dengan Mas Karang tanpa ada kejelasan. Tapi, aku bisa berbuat apa.
Jika boleh jujur menyikapi keadan serta keberadaanku, hubunganku dan Mas Karang tidaklah benar. Karena, tidak ada satupun Pesantren yang membolehkan santrinya memiliki hubungan dengan lawan jenis. Apapun itu alasannya. Dan aku termasuk tergolong salah satu yang nekat, karena menuruti nafsu.
Tidak tau akan sebingung apa saat ini Mas Karang. Karena sejak papasan sewaktu aku datang ke Pesantren, selepas itu pula aku sama sekali tidak berjumpa dengannya. Bagaimana hendak berjumpa, aku memang tidak pernah lagi keluar Pesantren.
Segala akses komunikasi yang kami miliki juga tidak ada fungsinya sama sekali, lantaran kami memang tidak memberi tau satu sama lain baik itu nomer telfon, atau aplikasi aplikasi sosial media yang kami miliki. Lagi pula, untuk saat ini ponsel yang aku pegang juga tidak menunjang aplikasi apapun, kecuali untuk telfon.
Hari ini, adalah hari pertama kali aku keluar dari lingkup Pesantren setelah sebulan lamanya. Bukan karena aku ingin keluar, itu karena aku di suruh oleh Ibu Nyai untuk membelikannya kain. Alasannya karena aku yang menjahit, jadi kemungkinan aku yang paham dengan jenis kain yang cocok dengan model baju yang di inginkan oleh keluarga Ndalem.
Disinilah ahirnya aku dan Bia berada. Duduk bersebelahan di tempat parkir setelah lelah berkeliling dari toko kain satu ke yang lainnya. Dan masih saja ada yang kurang, karena Mas Karim terlalu rewel kali ini, hingga Ibu Nyai saja di buat geram olehnya.
Entah sejak kapan Mas Karim begitu perduli dengan baju yang hendak di buatkan untuknya. Hampir tiga tahun berada di Pesantren dan menjadi langganan tetap penjahit keluarga Ndalem, baru kali inilah Mas Karim ikut andil dalam urusan memilih kain.
"Kurang apa lagi sekarang, War." Ucap Bia sembari meraih botol air yang berada di tanganku, lantas menenggaknya hingga hampir tandas.
"Tinggal titipan ayang mbeb kamu tuh." Jawabku sembari memeriksa kresek besar berisikan kain. "Tumben rewel bener."
"Karena tau aku yang ikut milihin, jadinya bingung mau nyamain sama gamisku. Hahaha.." Kelekar Bia. "Aku tidak keberatan dia sedikit rewel kali ini." Lanjut Bia seakan semangatnya tidak luntur.
"Ayo Bi, kita ke toko sebelah. Disini panas banget." Ucapku hendak mengajak Bia agar lekas bangkit dari duduknya. Namun, belum kami beranjak suara nyaring dari ponsel Bia mengagetkan kami berdua.
"Ibu Nyai." Ucap Bia setengah berbisik kepadaku lantas dengan cepat sudah menempelkan ponsel di telinganya.
"Wa'alaikumussalam. Enggeh Bu." Ucap Bia dengan nada pelan seraya menunduk seolah olah Bu Nyai berada di hadapannya, begitupun denganku yang ikut mendengarkannya.
"Mbak Bia, apa kainnya sudah dapat semuanya." Ucap Bu Nyai di sebrang sana.
"Belum, Bu. Tinggal yang punya Gusse." Jawab Bia.
"Jangan di suruh buru buru, Mi. Nanti kain pesenan Karim tidak sesuai kemauan Karim." Terdengar suara Mas Karim yang ikut bersuara sebelum Ibu Nyai kembali berucap. "Sampean itu, Le. Tumben tumbenan minta beli kain yang aneh aneh. Dan warnanya bikin bingung saja." Aku dan Bia saling pandang, begitu mendengar perdebatan Mas Karim dan Ibu Nyai.
"Mbak Bia dan Mbak Mawar, tolong carikan pesanan Mas Karim dengan teliti, jangan sampai nanti yang di salahkan Umi karena menyuruh sampean berdua lekas kembali. Jangan tergesa gesa, juga jangan terlalu santai, sebisa mungkin Asar nanti sudah jama'ah di Pesantren." Putus Ibu Nyai setelah perdebatan manja antara Mas Karim dan Ibu Nyai singkat tadi.
"Inggeh, Bu."
__ADS_1
"Ya sudah hati hati, jangan lupa perbanyak sholawat di tempat belanja. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab kami berdua.
"Ya Allah, War. Gusse manis banget sih kalau sama Uminya. Itulah ciri ciri laki laki idaman. Laki laki yang menyangi Ibunya, laki laki yang manja dengan Ibunya itu sudah pasti akan jadi suami yang baik untuk Istrinya." Ucap Bia dengan wajah berbianr bahagia.
"Iya, sayangnya Istrinya bukan kamu." Jawabku dengan cepat.
"Mawar, jahat banget sih. Kamu tuh sengaja sekali menebas sayap yang baru saja terkepak dan membuatku jatuh tersungkur ke bumi." Aku menggeleng mendengar ucapan Bia.
"Siapa suruh terbangnya terlalu tinggi." Jawabku ahirnya.
"Selagi berkhayal dan bermimpi tidak di pungut biayaya, tidak masalahkan ya. Siapa tau khayalannya tetiba di ijabah sama Allah dan nanti aku akan naik kasta jadi Ningmu." Cerocos Bia. Aku semakin menggeleng keras oleh ucapan Bia.
"Baiklah, baiklah di bungkus saja yang rapet, atau perlu di laminating setelah itu foto kopi atas bawah sepuluh lembar." Jawabku sekenanya, lantas segera menarik tangan Bia agar bergegas masuk ke salah satu toko.
"Jangan buru buru, War. Ini masih jam sebelas kurang." Protes Bia.
"Panas, Bi. Mending di dalam ada ACnya. Lagian kamu tidak dengar apa dawuhnya calon mertuamu. Bayakin sholawat kalau di area perbelanjaan biar enggak kebujuk sama setan Zalaytun, dan khilaf sana sini." Dengan masih menjawab Biapun ahirnya ikut dengan pasrah saat aku terus menyeret tangannya untuk masuk ke salah satu toko kain.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sejam berlalu dan ahirnya kain yang di minta Mas Karim dapat juga. Begitupun dengan Bia yang juga ikut memilih kain serupa dengan warna serupa pula, dan alasannya sungguh membuatku geleng geleng.
"Biar couplean, War." Begitulah ucapan Bia saat aku menanyainya.
Kain berwana Blue Ice aku rasa sangat cocok bila ku buat kemeja untuknya, dan akan lebih cocok lagi saat di padukan dengan jas dokternya. Membayangkan itu, membuat hatiku membuncah penuh bahagia, padahal aku sama sekali tidak tau ukuran bajunya. Tapi, itulah cinta buta. Sulit untuk memahami hakikatnya, baik dekat ataupun jauh tak satupun yang mengerti.
Cinta itu bagaikan matahari yang tampak kecil dari kajauhan, padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan. Dan ahirnya kaupun ketularan Bia menggunakan kata kata lebay, meski itu hanya dalam hatiku, tapi cukup berpengaruh dengan menjalarkan senyum ke senyum ku, setiap kali terbayang akan kain Blue Ice yang ikut ku bawa keluar dari toko.
Dan senyum ku semakin bertambah melebar yang di ikuti dengan wajahku yang aku rasa kini sudah sedikit memerah, saat mataku menangkap seseorang yang baru saja berseliweran di benak ku tengah berdiri dengan gagahnya di parkiran, tepatnya berdiri tidak jauh dari motor yang aku bawa ku parkirakan.
Senyumnya juga ikut mengembang saat langkah kami semakin terkikis. Dan bertambah melebar saat Bia menyapanya lebih dulu dengan cerianya.
"Mas Karang. Apa kabar.?"
"Baik, Bi. Kamu apa kabar.?" Tanya Mas Karang dan menjeda ucapannya sebelum ahirnya melempar pandangannya ke arahku. "Mawar apa kabar.?" Lanjut Mas Karang.
"Kami baik baik saja, Mas. Kok Mas Karang ada di sekitar sini. Lagi cari apa." Tanya Bia kepada Mas Karang yang tengah memandangku.
"Mencari serpihan hatiku." Jawab Mas Karang yang berhasil membuat wajahku menghangat, hingga tanpa sadar itu membuatku tersipu malu sampai aku harus menundukkan kepalaku.
"Dimana, dimana Mas.?" Bia pura pura kebingan dengan memutar mutar badannya.
"Sudah ketemu." Singkat Mas Karang.
__ADS_1
"Cepet bener. Padahal aku mau ikut nyariin." Jawab Bia dengan nada sedikit kecewa yang di buat buat.
"Aku takut kalau tidak segera di ketemuin, keburu di temuin orang lain, Bi. Makanya harus ada usaha keras." Ucap Mas Karang, dan sedikit aku paham dengan maksud Mas Karang barusan. Dan bisa jadi kerewelan Mas Karim hari ini ada sangkut pautnya sama Mas Karang.
"Bener banget, Mas. Bukan begitu, War."
"Ehh, aku tidak tau Bi." Ucapku sedikit tergagap lantaran Bia yang tiba tiba membuyarkan perasaan campur aduk ku.
"Karena sudah ketemu disini, dan apa yang aku cari juga sudah ketemu. Akan lebih enak kalau kita ngobrol sambil makan siang, gimana.?" Tawar Mas Karang. "Jujur, aku masih sedikit trauma kalau mengingat reaksi Bia yang kelaparan. Hahahaha." Lanjut Mas Karang dengan nada canda, dan aku tau ajakan Mas Karang untuk makan siang bersama bukan bercanda. Karena, tatapan yang di tujukan padaku seakan berbicara tak ingin di tolak.
"Gimana, War."
"Aku terserah kamu, Bi. Jujur, aku juga takut kalau kamu kelaparan." Maafkan aku Bi, telah mengkambing hitamkan kamu, lirihku dalam hati.
"Baiklah, Mas Karang. Asal dengan satu syarat." Ucap Bia.
Aku dan Mas Karang sama sama memandang Bia yang tengaj bergantian menatap aku dan Mas Karang dengan wajah jenakanya. "Tolong jangan sampai Mas Karim tau soal kelemahanku ini." Kelekar Bia yang membuat aku bernafas lega sekaligus merasa tertipu oleh Bia.
"Beres kalau itu. Kalau gitu ayo." Ucap Mas Karang.
"Kita bawa Motor saja, Mas Karang. Dan sebelumnya kami ke Masjid dulu, karena kami belum shalat dzuhur." Ucapku.
"Bener, kami belum shalat Dzuhur." Timpal Bia.
"Sama, aku juga. Ya sudah kalau gitu aku ngikutin kalian dari belakang, ya." Jawab Mas Karang. Dan sebelum Mas Karang berbalik menuju kendaraannya sempat terlihat olehku gerak bibirnya yang tanpa suara berucap.
"Miss you more."
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862