
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Ini menggodaku." Satu usapan lembut ibu jari Bang Daffa di bibirku membuatku menegakkan punggungku yang tadinya bersandar di jok mobil dengan santai. Apa lagi saat Bang Daffa semakin mendekatkan wajahnya dan berahir menyatukan bibir kami berdua dadaku rasanya ingin meledak.
Aku meraup udara sebayak yang ku bisa begitu Bang Daffa melepas pangutannya di bibirku, persis seperti ikan yang di keluarkan dari kolam. Dan rasa rasanya, AC mobil Bang Daffa juga mati, karena tiba tiba aku merasakan panas di sekujur tubuhku.
Menahan malu yang teramat sangat dengan apa yang kami lakukan barusan, aku sudah hendak keluar lebih dulu dari mobil Bang Daffa, tapi Bang Daffa kembali mencekal tanganku.
"Biar ku bukakan pintunya." Ucapan lembut Bang Daffa membuatku semakin menunduk malu.
Tidak menunggu lama, Bang Daffa sudah memutari mobilnya dan benar benar membukakan pintu mobilnya untuk ku. Aku menggigit bibirku salah tingkah dengan perlakuan Bang Daffa, meksi ragu di hatiku sudah memberiku peringatan bahwa mungkin saja Bang Daffa hanya terbawa suasana seperti malam itu pas di Camping Ground. Tapi, tetap saja ini terlalu manis buatku.
"Terim kasih, Bang." Ucapku dengan menunduk dalam di hadapan Bang Daffa, lantas langsung hendak berjalan masuk terlebih dulu.
"War." Kata Bang Daffa lirih yang sudah berada tepat di sampingku, aku yang sedang mencari kunci rumah di tempat biasanya aku menaruhnya hanya menyahutinya pelan tanpa berani melihatnya. "Kamu marah.?"
Aku tak menjawab pertanyaan Bang Daffa. Jujur aku bingung dengan pertanyaan Bang Daffa, sekaligus bingung dengan perasaanku sendiri. Di saat semua sudah berjalan sesuai rencanaku, seakan takdir menyuruhku untuk menyerah dengan janjiku. Apa lagi dengan sikap Bang Daffa yang berubah manis dan baik membuatku memikirkan ulang apakah alasanku untuk menyingkir telah tepat.
"War." Ulang Bang Daffa masih membuntutiku hingga sampai di depan pintu kamarku. "Kamu marah.?"
"Tidak." Lirih aku mengeluarkan juga suaraku sembari menarik knop pintu dan berbarengan dengan tangan Bang Daffa yang bukan malah melepaskannya, Bang Daffa justru meremas tanganku dengan lembut.
Tanpa kata Bang Daffa mengenggam hangat tanganku lantas menariknya lembut untuk mengikuti langkahnya dan anehnya aku juga tak ingin memprotesnya karena hatiku ikut terbawa hangat oleh sikap Bang Daffa sehingga itu berakibat kelu pada bibirku.
"Di kamarmu tidak ada air hangat bukan, mandilah disini." Ucap Bang Daffa begitu kami memasuki kamar Bang Daffa.
Aku yang bingung hendak menjawab apa, karena bibir Bang Daffa berkata demikian, tapi tidak dengan bahasa tubuhnya yang terus mendekat ke arahku. Setiap centi dari jarak kami, membuat bulu bulu halusku meremang, di tambah dengan tatapan Bang Daffa yang berkabut membuatku semakin ingin masuk kedalam kabut bersamanya.
Sumpah, aku tidak tau perasaan apa ini, yang aku tau aku menginginkan lebih dari sekedar berdekatan dengan Bang Daffa. Apa lagi saat Bang Daffa kembali mengulangi apa yang terjadi di barusan di dalam mobil, membuatku hanya bisa pasrah karena panas ini kini telah berhasil membakarku dan membuatku meleleh seperti lilin.
Sentuhan demi sentuhan ikut menemani kegiatan Bang Daffa, hingga entah bagaimana caranya aku yang terlalu mabuk tak menyadari bahwa aku kini telah berada di bawah kungkungan Bang Daffa dengan baju yang telah hampir separuh luruh dari tubuhku.
Kami lupa daratan, dan kami tidak ingat bahwa lautan ternyata memiliki tepi, sehingga saat suara Adit berteriak mencariku, membuat kami sadar dengan suasana yang tidak tepat untuk di lakukan.
"Maaf, maafkan aku." Ucap Bang Daffa sembari menutupi tubuhku dengan selimut sementara Bang Daffa sendiri sibuk merapikan dirinya dan meraup wajahnya kasar sembari menyahuti Adit.
__ADS_1
Menggulung diriku di bawah selimut, aku terus merutuki kejadian barusan yang telah membuatku sangat malu, karena telah begitu lupa diri, dan andai saja tidak ada Adit yang menjadi pengingat untuk kami, bisa saja anggapan Bang Daffa menganai aku yang memiliki citra wanita penggoda akan kembali di sematkan untuk ku.
Bagaimana mungkin ada seorang laki laki akan bercinta dengan perempuan lain, sementara foto wanita yang di cintainya tepat berada di atas ranjangnya. Aku telah berani memandang tinggi diriku malam ini. Nyatanya, Bang Daffa hanya terbawa suasa dan aku menanggapinya tanpa menanyainya apakah dia benar benar mengnginkanku.
"Aku tidak menggodamu, sungguh." Lirihku kemudian beranjak merapikan pakaianku.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seminggu berlalu, aku dan Bang Daffa seperti orang asing. Aku dengan rasa canggung dan maluku, sementara Bang Daffa dengan sikap acuh dan menghindariku, meski sikapnya tetap baik tidak dingin seperti dulu.
Bahkan dalam perjalanan kami menuju rumah orang tua Bang Daffa, kami hanya berbicara seperlunya saja. Dan sesekali terlibat omongan serius hanya untuk membahas soal Adit yang akan di jemput oleh keluarga Pak Agung esok setelah acara Mas Karang selesai.
Suasana rumah keluarga Bang Daffa nampak biasa saja, karena memang acara yang di gelar menyewa gedung. Jadi, hanya ada persiapan khusus keluarga dan orang terdekat saja yang membantu.
Hal yang aku senangi dan takut tidak dapat ku temui lagi selamanya saat aku konsisten dengan persiapanku adalah kebaikan keluarga Bang Daffa, mereka selalu menunjukan kasih sayangnya dan tidak ada beda antara siapapun terlebih menganggap aku orang luar. Nanti pasti aku akan merindukannya.
Lihatlah, bahkan mereka menyambut kedatanganku dengan suka cita, dan cendrung biasa saja dengan Bang Daffa. Ciumana hangat, pelukan penuh cinta dan berondongan pertayaan selalu pertama aku dapatkan. Dan mungkin inilah yang di inginkan oleh Kak Melati ketika menginginkan aku menempati posisinya, bukan karena Adit belaka tapi juga karena rasa kasih sayang tulus dari keluarga Pak Bakti yang Kak Melati inginkan untuk aku rasakan dan miliki.
"Bu, kemeja Daffin agak kebesaran sedikit." Ucapan Mas Karang sontak membuat obrolan seru antara Bu Asri, aku dan Devi langsung berubah haluan, terutama Devi.
"Bawa kesini biar Ibu lihat." Jawab Bu Asri.
Aku memilih diam bahkan aku tak mau ikut dalam obrolan mereka, meski aku tau di balik tubuh jangkung yang sedang menjawab tanya itu matanya tengah mengawasiku.
Bagiku, semua mata itu sama, memiliki fungsi untuk melihat dan hatilah yang memberi prasangka, sementara otak yang sibuk menerka. Dan aku tak ingin memberi ruang untuk itu, karena seluruhnya telah usai dengannya.
"Biar Mbak Mawar yang menjahitnya." Ucap Mas Karang begitu Bu Asri memberi sarannya.
"Ehh, Mawar bisa menjahit.?" Tanya Bu Asri dengan nada kaget.
"Hanya sekedarnya saja." Jawabku sembari mengulas senyum tipisku untuk Bu Asri.
"Kalau begitu Ibu minta tolong sama kamu, War. Tolong buat baju Daffin lebih baik. Karena Ibu mau di acara nanti malam Daffin benar benar terlihat sempurna." Pinta Bu Asri.
"Bukan bajunya, Bu. Tapi harusnya Mas Daffinnya." Jawab Devi yang itu membuat Bu Asri menanyakan maksud Devi.
"Memang kenapa dengan Masmu, Vi.?"
__ADS_1
"Ini ngomong fakta dulu ya, Bu. Dulu, waktu Mas Daffa mau tunangan sama Mbak Melati kelihatan banget bahagia, padahal Mas Daffa bukan orang yang seperti itu . Ini justru kebalikannya, padahal Mas Daffin bukan orang seperti Mas Daffa." Jawab Devi. "Mas Daffin, kepaksa ya."
Mas Karang terbatuk hebat dan tanpa sengaja tatapan kami bertemu sekilas. "Gugub mungkin, Vi." Jawabku.
"Memang gitu yah kalau mau Tunangan.?" Tanya Devi kepadaku sembari berpikir keras. "Lah, Devi kok tanyanya sama Mbak Mawar. Mbak Mawarkan enggak tunangan dulu sama Mas Daffa." Deg, ucapan Devi seketika menggiring mataku memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisku.
Jangankan cincin pertunangan, bahkan cincin pernikahan yang melingkar di jariku juga bukan milikku. Lalu, memiliki arti apakah aku ini, kenapa baru aku sadari hari ini setelah drama panjang ini. Semua kebahagiaan yang aku rasa, pada ahirnya juga hanya sandiwara. Dan aku rasa mengabulkan permintaan Bang Daffa waktu itu tepat adanya, bahwa semua milik Kak Melati dan aku harus mengembalikan semua miliknya utuh, penuh dan tak tersentuh.
"Sakit, Buk." Pekikan Devi membuat mataku beralih ke arah Bu Asri yang seperti tidak membuat kesalahan.
"War, ini kemeja Daffin kamu benarkan. Mesin jahitnya ada di Paviliun Daffin. Ikutlah dengannya." Ucap Bu Asri. "Tidak apa, nanti Ibu kesana temani kamu." Lanjut Bu Asri dengan nada penuh pengertian.
Aku sadar bukan perkara mudah untuk mengembalikan segalanya pada tempatnya, termasuk hatiku yang selalu di buat bingung oleh Bang Daffa. Tapi bukan pula aku akan terus bertahan dengan cinta lama, karena semuanya telah ku buat usai. Meski tidak tau akan ada cinta lain yang bisa aku dapat setelahnya nanti, setidaknya aku percaya, masih ada cinta sang pencipta setelah semua cinta itu usai.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like , Coment dan Votenta di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
@maydina862
__ADS_1