
"Mawar, kamu kok disini." Suara kepayahan Kak Melati terdengar menyayat hatiku, begitu aku masuk kedalam sebuah kamar yang di dominasi warna putih dengan aroma khas Rumah Sakit.
Ya, Bang Nusa langsung menyuruhku masuk ke dalam kamar rawat inap Kak Melati, begitu aku datang sesaat tadi. Meski tanya tanya tentang kehadiranku yang tiba tiba, tidak luput Bang Nusa tanyakan. "Siapa yang memberi kabar, kenapa langsung tau jika Melati ada di rumah sakit ini." Itu semua menjadi pertayaan pertama bagi Bang Nusa. Karena, jelas Kak Melati tidak mau sampai aku tau, jika Kak Melati sedang dalam ke adaan yang tidak baik baik saja.
Akupun juga tidak berani mengatakan pada Bang Nusa dan Pak Agung, bahwa yang memberi tahu aku soal keadaan Kak Melati adalah Bu Mega. Dan aku anggap itu wajar, karena diamanapun Ibu pasti ingin anak anaknya baik baik saja. Andai aku juga punya Ibu pasti hal yang sama akan di lakukan olehnya untuk ku.
Ku paksakan senyumku kepada Kak Melati yang tengah berusaha untuk tersenyum juga, apa lagi saat melihat Erik yang juga ikut masuk setelahku, senyumnya lebih lebar lagi. "Kamu kelihatan lebih cantik dengan jilbab kayak gini."
"Berarti sebelumnya tidak cantik ya." Selorohku dengan sudah meraih tangan Kak Melati yang terpasang selang infuse. "Apa ini sakit.?" Lanjut ku lagi.
"Lebih sakit hatiku, saat melihat cintamu dan Erik." Jawab Kak Melati dengan senyum yang di paksa sekali. Aku tau itu pasti sangat sakti, hanya saja Kak Melati tidak ingin aku melihatnya.
"Sudah ku bilang, gua cintanya sama loe, Mel. Mawar tuh bukan selera gua." Erik ikut duduk di kursi dekat bansal sebelah kanan Kak Melati.
"Apa kamu yakin enggak bakal jatuh cinta sama Mawar. Aku saja setelah melihat Mawar yang merubah penampilannya, jadi gemes ingin nyubit pipinya."
Ku tatap Erik dan dapat ku lihat di matanya kegusaran untuk sesaat saja. Dan seketika berubah begitu menyadari aku yang tengah menatapnya. "Gua kan pernah bilang sam loe. Gua lebih milih kambing bengek daripada Mawar."
"Rik, mending kamu keluar saja. Kehadiranmu membuat aku dan Kak Melati tidak bisa ngobrol dengan tenang." Cecarku ke Erik.
"Ogah, gua juga mau dengar apa yang kalian berdua obrolin." Erik beranjak dari tempatnya, tapi tidak keluar melainkan pindah ke sofa panjang dan membaringkan tubuhnya disana. "Dikira enggak capek apa ngojek." Lanjutnya sembari menutup matanya.
Aku kembali fokus ke arah Kak Melati yang tengah sibuk mengalihkan pandangannya dariku. Aku tau apa yang sedang di pikirkan oleh Kak Melati saat ini, dia sedang tak ingin menjelaskan tanya yang tangah ku ajukan lewat tatapan mataku.
"Kak Melati kenapa tidak menghubungi Mawar." Lirihku tanpa mengalihkan tatapanku dair wajah pucat Kak Melati.
"Kak Mel, baik baik saja, War. Percaya sama Kak Mel." Jawab Kak Melati.
Ku hela nafasku dalam dalam, kemudian mengalihkan genggaman tanganku ke kepala Kak Melati. Ku raih rambut Kak Melati yang terjuntai ke depan. Deg, dadaku kembali merasakan nyeri yang teramat sangat, saat helain helain dari rambut Kak Melati ikut terbawa di sela sela jariku.
Kak Melati seolah menyadari akan apa yang aku rasakan, maka dengan cepat Kak Melati berujar pelan. "Efek dari Kemo, nanti akan tumbuh lagi."
"Kak Mel."
"Mawar jangan kwatir, Kak Mel akan baik baik saja. Kak Mel akan tetap cantik kan meski tanpa rambut.?" Aku tak kuasa membendung air mataku dan itu luruh juga, hingga isakan ku juga tidak bisa lagi untuk aku tahan agar tidak keluar. "War, sudah dong jangan nangis."
__ADS_1
"Habisnya Kak Mel nyebelin. Sakit enggak ngabarin Mawar. Kalau udah kayak gini Mawar bisa apa coba. Mawar hanya bisa merepotkan saja buat kelaurga Kak Melati, tanpa bisa ikut andil menemani Kak Melati." Cerocosku di tengah airmata yang masih terus saja keluar.
"Kalau mau ngomong jangan sambil nangis. Nangis aja udah jelek, di tambah sambil ngomel ngomel." Tukas Erik tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya berbaring.
"Diam loe, Rik." Ucapku dengan ketus, bahkan melupakan bahwa aku telah mengubah cara bicaraku dengan Erik menggunakan aku dan kamu. "Ini urusanku dengan Kak Melati." Lanjutku masih dengan menangis.
"Orang sakit kok di omelin, yang ada makin sakit." Lanjut Erik.
"Bener yang di katakan Erik." Ucap Kak Melati, sembari berusaha meraih kepalaku. "Bener bener cantiknya hilang nanti, kalau nangis terus."
"Tuh, dibilangin juga apa." Erik kembali ikut menimpali.
Tangisku malah makin pecah, karan jujur aku tidak tau bagaimana caranya untuk meluapka. emosiku yang tengah begitu kacau oleh pemikiran ku sendiri. Karena, setelah melihat keadaan Kak Melati, aku benar benar sangat kwatir dan bingung harus berbuat apa agar Kak Melati bisa lekas sembuh.
"Merepotkan sekali." Ucap Erik, dan tak lama setelah mengucpakan itu Erik sudah berada di sampingku dan meraih kepalaku menempatkan dada bawahnya sebagai sandaranku. "Pasti tidak akan ada yang percaya, jika Mawar sebenarnya cengeng." Lanjut Erik.
Berangsur angsur airmataku mereda dan masih saja Erik mengelus kepalaku dengan lembut, seperti kebiasannya saat aku tengah menangis karena keadan Kak Melati. Sementara Kak Melati terus saja mengelus punggungku.
"Itu kenapa Kak Mel, tidak ingin Mawar tau. Yang repot pasti Erik, dan lagian ini sudah hampir ujian ahir, Mawar harus banyak belajar." Ucap Kak Melati saat di lihatnya aku sudah tengang.
"Ceklek.." Suara dari pintu yang terbuka, dan nampak Bang Nusa yang berjalan mendekat dengan ponsel Kak Melati menempel di telinganya.
"Bukan gitu, Daf. Melati emang lagi tidur dan ponselnya lagi ada di bawah." Ucap Bang Nusa dengan memberi isyarat mata ke arah aku dan Erik agar diam. Dan Bang Nusa terus saja berbicara dengan seseorang yang aku baru tau itu adalah Bang Daffa.
Aku terus saja memperhatikan Bang Nusa dan Kak Melati secara bergantian. Dan aku bisa menyimpulkan bahwa, Kak Melati juga tidak ingin Bang Daffa tau bahwa Kak Melati sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.
"Kak Mel, Bang Daffa apa ti.." Ucapku begitu Bang Nusa kembali tergesa gesa untuk keluar dari kamar perawatan Kak Melati.
"Kak Mel, tidak ingin Mas Daffa kwatir, War. Dan Kak Mel, pikir. Mas Daffa sangat tidak beruntung bertemu dengan Kak Melati yang penyakitan ini." Mendengar penuturan Kak Melati, dadaku langsung terasa panas. Entah marah seperti apa yang aku rasakan ini. Dan marah untuk siapa.
"Kak Melati tidak boleh ngomong kayak gitu. Kak Melati adalah pahlawan Mawar." Ucapku sepenuh hati. "Pokoknya Kak Mel, harus kasih tau Bang Daffa." Kekeh ku.
"War, Mas Daffa berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Jika Mas Daffa bukanlah takdirku, maka cukup bagiku bahwa Mas Daffa adalah pilihanku." Ucapan Kak Melati terdengar begitu pasrah dan menyakitkan. Menyakitkan lantaran Kak Melati yang seakan menyerah oleh penyakitnya. "Kak Mel, tidak ingin ketika sudah tidak ada harapan, lantas meninggalkanas Daffa dalam kenangan manis. Itu pasti akan menyakitkan baginya."
"Kak Melati pasti akan sembuh. Percayalah Kak Mel, Kak Melati pasti akan menadapatkan obatnya." Ucapku.
__ADS_1
"Kak Mel, mau istirahat dulu. Rik, jangan lupa antar Mawar kembali habis ini."
"Kak Mel, Mawar mau disini menemani Kak Mel." Rengek ku.
"Mawar sudah mau ujian ahir. Kak Mel tidak ingin Mawar gagal. Jika, itu sampai terjadi, Kak Mel tidak punya hak membela Mawar di hadapan Mama dan Papa." Ucap Kak Melati, dan aku tau itu nada bicara yang tidak ingin di bantah.
Aku dan Erik hanya terus bisa diam karena setelah itu, Kak Melati menutup matanya dan berangsur angsur deru nafas teratur yang kelaur menandakan Kak Melati sudah tertidur.
Aku dan Erik bergantian kelaur dari kamar inap Kak Melati. "Gua mau beli minum dulu. Loe mau apa." Aku hanya menggeleng pelan dan larut dalam pikiran ku sendiri. Sementara Erik melangkah pergi entah ke arah mana.
Cukup lama dan tidak ada tanda tanda Erik akan kembali. Aku yang kini merasa haus juga, beranjak dari tempatku dan berjalan mencari dimana letaknya kantin. Langkah yang ku giring pelan terhenti, saat mataku menangkap Pak Agung, Bu Mega dan Bang Nusa tengah berbicara serius di sebuah taman terbuka.
Pipi putih mulus Bu Mega, tampak di aliri oleh airmata, sementara Pak Agung maish serius dengan apa yang di sampaikan kepada kedua orang tersebut. Akupun berlahan mengubah tujuanku, dan berjalan pelan ke arah mereka berada.
"Apa tidak ada cara lain lagi, Pa. Mama tidak tega jika harus melihat Melati lebih lama lagi kesakitan. Papa sama Nusa harus cepat cari pendonor ginjal untuk Melati." Kata kata Bu Mega berhasil menghentikan langkahku dan membuka pikiranku. Lantas dengan cepat aku kembali membalikan badanku dan berjalan cepat menuju tempat yang terbersit dalam otak ku.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Hahaha. Pada nebak kemana mana. Maaf, Emak tentunya tidak akan to the point aja. Bikin drama dulu dung pastinya..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862