Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Kebenaran yang salah.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tiga bulan telah berlalu dan meninggalkan segalanya di belakang begitupun termasuk dengan cita citaku, kenapa.? Karena semenjak pasca operasi penondonoran Ginjal yang aku lakukan untuk Kak Melati tiga bulan lalu, kondisiku masih belum bisa stabil. Dan itu, membuatku tidak bisa mengikuti serangkaian ujian yang di adakan sekolah, yang puncaknya baru selesai seminggu yang lalu.


Kondisiku seharusnya tidak seperti sekarang ini, dan harusnya bisa lebih baik dari Kak Melati andai saja sel darah putih yang terkandung di tubuhku tidaklah bermasalah. Sehingga membutku harus terus menjaga kesetabilannya agar tidak kembali terinfeksi sepertu bulan lalu.


Dari segala keruwetan yang terjadi padaku, ada yang membuatku terus bersemangat untuk kembali bangkit dan segera kembali ke rumah. Yakni, kabar gembira dari kesembuhan Kak Melati yang pulih dengan begitu cepat. Tapi, itu tidaklah mudah. Buktinya sudah seminggu ini, aku masih setia dengan kasur dan bantalku setiap kali berusaha untuk kembali beraktifitas.


Bekas sayatan dan jahitan di pertuku, masih belum pulih sempurna, sehingga itu membuatku harus banyak banyak istirahat. Dan peran Rendi di kostan benar benar membantuku dalam setiap hal, meski aku harus berkuping tebal mendengar bualannya. Bahkan saat ini, juga Rendi yang berada di dekatku.


"Sudah agak panas, War. Masuk dulu gih." Ucap Rendi di tengah tengah sesi berjemur yang aku lakukan, dan Rendilah yang selalu menyiapkan kursi untuk ku di taman belakang dari kostan.


Ku toleh Rendi sekilas. "Pergilah, Ren." Lirihku. "Aku masih mau disini."


"Baiklah, aku akan siap siap untuk latihan. Tunggu aku akan kembali dengan cepat. Kamu jangan kemana mana." Tegas Rendi dan segera berbalik meninggalkan aku seorang diri.


Tiga bulan telah berlalu, dan sejak malam dimana aku memutuskan untuk mendonorkan Ginjalku ke Kak Melati dan berdebat hebat dengan Erik, selama itu pula Erik sama sekali tidak menengok ku ataupun memberi kabar kepadaku. Dan akupun juga tidak ingin menghubunginya lebih dulu. Bukan karena aku juga marah, tapi lebih karena aku tak ingin berkeluh kesah terhadap Erik.


Matahari sudah naik sejengkal lebih tinggi, dan sinar hangatnya menyentuh kulitku yang memutih pucat. Ku tengadahkan kepalaku menyambut sinar hangat mentari sembari menutup rapat mataku untuk menikmati belaian hangat si bola raksasa. Setiap sinarnya menyentuh permukaan pori pori wajahku dengan sempurna.


"Ren, sudah kubilang pergilah. Aku bisa kembali ke kamar sendiri." Ucapku pelan saat telingaku mendengar suara langkah yang mendekat.


"Apa yang kamu lakukan, Mawar." Mataku langsung membelalak dengan sempurna, bahkan punggungku langsung duduk menegak saat suara Bang Nusa menyentuh gendang telingaku.


Dengan spontan aku berdiri, meski remasan di perutku serasa menusuk hinga ke daging perut. "Bang Nusa." Lirihku, sembari berusaha menyungingkan senyum terbaik ku. Namun, seketika senyum ku lenyap, saat ku lihat siapa yang berjalan pelan menuju ke arah kami.


"Mawar cintaku, calon Ibu dari anak anak ku." Pekik Rendi yang terhenti begitu melihat wajha pucat pasiku yang menegang. Dan cepat berlari ke arahku dengan mengalungkan sepatu sepak bola di lehernya. "Kamu kenapa berdiri seperti ini. Ini akan tidak baik untuk luka di perutmu." Cerocos Rendi tanpa memerdulikan wajah heran dari kedua orang yang tengah menatapku penuh selidik.


"Ayo lekaslah duduk. Maaf, kalau mau ngobrol dengan bidadariku harus sambil duduk dulu. Karena luk.."

__ADS_1


"Pergilah, Ren." Ku potong ucapan Rendi dengan cepat. Karena aku sadar akan tatapan Bang Nusa yang di tujukan kepadaku, terlebih picingan mata Bang Daffa membuat oksigen di sekitarku terasa menipis.


"Iya, aku akan pergi. Tapi, aku mau kamu duduk dulu. Ayo biar aku papah." Ngeyel Rendi.


"Aku bisa sendiri." Jawab ku dan berjalan pelan menuju ke teras, dan rasanya aduhai sekali. Karena aku berusaha berjalan biasa agar nampak baik baik saja, meski jatuhnya cara jalanlu lebih persis seperti orang habis melahirkan.


Aku masih membisu begitu bokongku sudah menyentuh kursi kayu yang memanjang. Sementara Rendi sibuk bertanya kepadaku meski aku sama sekali tidak menghiraukannya. Sedangkan dua orang yang baru saja duduk di sebrangku, terus menatap intraksiku dan Rendi tanpa kedip.


"Bergegaslah, Ren. Jangan sampai pelatihmu menunggu kedatanganmu." Ucapku, begitu ku lihat tidak ada tanda tanda Rendi akan segera pergi.


"Iya, aku akan pergi. Biar aku cuma mainan Bola saat ini, aku yakin itu nanti akan berguna untuk membeli beras bagi anak anak kita." Ucap Rendi sambil terkekeh dan itu membuat tangan Bang Nusa mengepal sempurna karena menahan amarah.


"Ya udah aku pergi dulu. Bro titip Mawar nanti antarkan ke kamarnya." Lagi kata Rendi sembari memandang ke arah Bang Daffa dengan tatapan tidak senang.


Bang Nusa berdiri begitu Rendi sudah menghilang di balik tembok dan seketika menggeprak meja yang berada di hadapanku seraya berucap tanpa memerdulikan kekagetanku dan Bang Daffa. "Apa apaan ini, War.?" Suara Bang Nusa terdengar begitu menakutkan, hingga nyaliku benar benar menciut.


"Tiga bulan kamu tidak sekolah tanpa ijin, sampai sampai tidak ikut ujian ahir. Dan apa yang Abang lihat ini. Sungguh memalukan." Aku menunduk dalam dengan remasan kedua tanganku yang tiada henti, takut jika Bang Nusa mampu mencari kebenaran soal alasanku.


"Kwatiran kami setelah mendapat telfon dari pihak Sekolahmu sungguh sia sia. Dan kamu tau persis siapa yang lebih kwatir dari kami semuanya. Kamu, ahhh.." Bang Nusa menjambak rambutnya dengan frustasi.


Ku agkat kepalaku karena masih bingung dengan apa yang di maksud dengan Bang Nusa bertanggung jawab, sementara dua orang di depanku sibuk memperhatikan perutku yang tertutup gamis longgar. "Bang ini buk.."


"Sudah berapa bulan, atau kamu sudah membunuhnya." Deg. Kata pelan Bang Nusa membuatku menelan salivaku dengan susah payah dan ada yang tiba tiba menusuk di dadaku, ketika tanpa sengaja mataku yang sedang bergerak gelisah bertemu pandang dengan netra tajam Bang Daffa, yang menyrototiku sarat akan kejijikan.


"Bang, Bang Nusa salah paham. Mawar tidak mungkin seperti itu." Tukasku dengan nada bergetar menahan tangis.


"Terus Abang harus membohongi penglihatan yang ada di depan mata Abang. Bukan kah Abang pernah memperingatkan itu kepadamu, War."


"Tapi, Mawar sungguh.." Suaraku tiba tiba menghilang begitu saja berganti dengan isakan yang sudah tidak mampu untuk aku bendung. Bahkan jahitan di perutku, seolah ikut bergejolak dengan mengirim ngilu seiring dengan semakin derasnya air mataku.


"Papa dan Mama harus tau kelakuanmu di sini. Agar mereka bisa mempertimbangkan kelanjutan studimu kedepannya. Abang rasa, cukup sudah Abang menutupi kesalahan mu selama ini. Dan Abang menyesal kenapa tidak dari awal saja Abang melakukan itu." Kembali Bang Nusa berucap dengan nada tegas. "Ayo pulang sekarang."

__ADS_1


"Enggak bisa sekarang, Sa. Pikirin Melati juga. Jangan samapi semuanya berantakan karena ada masalah dengan Mawar." Potong Bang Daffa yang sedari tadi diam.


Bang Nusa terus menatapku dan aku tau arti dari tatapan itu, tapi aku juga tidak bisa menyampaikan kebenaran ini kepadanya. Lantaran ada perasaan Kak Melati yang aku jaga, ada kesehatan Kak Melati yang aku inginkan baik baik saja.


"Seminggu Bang, beri waktu seminggu bagi Mawar." Lirihku setelah berdiam cukup lama. " Bang Nusa boleh memberi tau Bapak sama Ibu, tapi Mawar mohon, jangan beri tau Kak Melati hal ini." Lanjutku dan di angguki oleh Bang Nusa.


"Abang bawakan sebagian barang barangmu yang sudah tidak di perlukan disini." Lirih Bang Nusa, dan akupun berjalan dengan tertatih menuju kamar ku guna mengemasi barang barangku.


Tidak ada yang salah dengan mengorbakan sesuatu untuk seseorang yang berarti bagi hidup kita, bukan hanya untuk di hargai ataupun agar terlihat berarti di depan orang yang kita sayangi. Bagiku, pengorbananku kepada Kak Melati karena cintaku untuk Kak Melati yang telah bersedia membagi cintanya dengan ku. Dan cinta itu tidak menuntut apapun, karena sejatinya cinta itu sudah cukup bagi cinta.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Ada misteri apa di balik kepergian Erik. Kok tetiba dia menghilang begitu saja dari hidup Mawar. Bukannya Erik yang harus ada di samping Mawar. Kok malah Rendi.


Like, koment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2