
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sore telah berganti dengan malam, dan segala persiapan sudah selesai di lakukan begitupun denganku dan keluarga kecilku. Bolehkan kalau aku menyebutnya seperti itu, setidaknya sekali ini saja dan sebelum semuanya benar benar berahir aku ingin menikmati dan melakoni sandiwara ini dengan sempurna.
Menggunakan baju couple seragam, semua tampak serasi, Ibu dan Ayah, Devi dan Mas Karang, mungkin juga aku, Adit dan Bang Daffa juga akan terlihat serasi di mata orang. Memang kami tidak menyamakan model yang di gunakan, tapi ini cukup serasi bila di lihat sesuai range umur masing masing.
Jika Devi memilih model kebaya modis khas anak muda di tambah dengan sanggulan kecil dari rambut Devi, maka lain denganku. Aku memilih gayaku sendiri, dengan masih bernuansa kebaya tapi ku buat gamis.
"Mbak Mawar cantik banget sih." Ucap Devi saat aku baru berjalan mendekat. "Bener apa yang Devi bilang kan, Buk. Mbak Mawar makin anggun kalau di make upin." Cerocos Devi dan membuatku salah tinggkah karena semua mata sedang fokus menatap ke arahku. Tidak termasuk Mas Karang.
"Ehemm, dia sudah ada yang memiliki surat berhak kuasa." Kata Bang Daffa dan segera melepas Adit dari tangannya agar berlari ke arahku.
"Dengan kata lain, Mas Daffa mau menegaskan kalau surat itu yang memiliki kuasa Mas Daffa sebagai suaminya." Balas Devi dan di sambut tawa oleh semuanya.
"Sudah, sudah. Ayo lekas bersiap di mobil." Timpal Bu Asri begitu tawa semuanya reda.
Melakoni sandiwara sebagai Istri yang baik dan drama keluarga dalam keadaan baik baik saja mudah sekali, karena Bang Daffa juga melakukan peranannya dengan sangat manis. Tidak ada yang menaruh curiga apapun terhadap kami berdua, lagi memang aku tidak mengijikan orang untuk tau saol itu.
"Kamu baik baik saja, War.?" Tanya Bang Daffa saat Mas Karang tengah melakukan prosesi tukar cincin.
Menoleh sekilas ke arah Bang Daffa aku cukup menangkap bahwa terlihat raut berbeda dari Bang Daffa yang di tunjukan padaku. Perduli. "Tentu." Jawabku sembari mengagguk pasti dengan menambah senyum tipis kepada Bang Daffa.
"Baiklah aku percaya." Bang Daffa meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku tau ini pasti berat untukmu."
"Tidak akan, karena aku punya teman sekarang." Jawabku masih dengan nada tenang dan menikmati genggam Bang Daffa bukan karena rasa ibanya kepadaku, melainkan karena aku menikmati perananku sebagai pelakon sandiwara.
Acara berlangsung dengan sukses dan tidak terjadi kendala apapun. Dan di balik kebahagiaan ini, juga ada sedih yang berat di rasa, yakni melepas kepergiaan Adit.
Mungkin caraku suatu saat akan salah bagi Adit untuk membujuk agar tinggal bersama Pak Agung dan keluarga, tapi demi sumpah demi apapun, apa yang aku lakukan demi agar semua kembali pada tempatnya dan aku tidak mengubah sedikitpun tempat orang lain.
Dengan Adit di bawa Pak Agung, bukankah aku tidak perlu kwatir apapun lagi dengan pertanyaan tentang keadaanku nanti, atau aku juga tidak perlu memberi penjelasan kepadanya soal alasanku meninggalkan rumah, dan apapun itu soal perpisahan yang telah kami sepakati sebelumnya.
Dan dua tahun kepergiaan Adit, aku rasa sudah cukup untuk mencari obat bagi hati, lantas kembali lagi saat Adit sudah datang dengan keadaan baik baik saja sekaligus Adit juga pasti akan paham tentang keputusanku.
"Bunda janji akan menjemput Adit nanti ya." Ucap Adit sebelum mau masuk ke dalam mobil Pak Agung.
__ADS_1
"Tentu sayang."
"Adit janji akan jadi anak yang menurut sama Opa dan Oma dan Adit akan sangat merindukan Bunda." Lanjut Adit dengan memeluk ku erat. "Nanti kalau Adit kangen Bunda bagaimana."
"Sebut Bunda dalam do'a Adit, Bunda akan datang menemui Adit dalam mimpi." Ku balas pelukan Adit dengan erat sebelum ahirnya mengangkat tubuh kecil Adit dan memasukannya ke dalam mobil Pak Agung.
"Terima kasih, Pak, Buk, juga Bang Nusa dan Kak Ima. Maaf, Mawar belum bisa memberi apa apa buat kalian." Ucapku pelan.
"Kamu ini kayak kita mau pergi kemana saja. Ini sudah lebih dari cukup, War." Jawab Pak Agung dengan meraih tubuh Adit. "Adit kami bawa dulu, Fa. Juga titip Mawar." Lanjut Pak Agung.
"Adit pamit sama Bunda gih." Timpal Bu Mega.
"Adit sayang Bunda dan Ayah." Kecupan kecil mendarat di kening juga pipiku dari Adit begitupun dengan Bang Daffa. "Janji Bunda nanti segera jemput Adit ya. Kalau Bunda tidak datang untuk menjemput Adit, Adit tidak akan bersedia pulang." Aku hanya terus menyungingkan senyum tipis sembari menjawab perkataan Adit dengan satu jawaban yang sama yakni Insya'Allah.
Melambai pelan tidak sama dengan airmataku yang justru jatuh dengan cepatnya, bahkan saat mobil yang membawa Adit belum sampai di pintu gerbang airmataku sudah jatuh jauh meninggalkan gerbangnya.
"Dia akan baik baik saja, War." Ucap Bang Daffa sembari mengusap punggungku pelan.
Masuk ke dalam rumah, aku terus lurus tak ingin bersitatap dengan orang lain, karena aku takut mereka salah mengartikan airmataku yang jatuh tulus untuk Adit. Hingga sampai di depan pintu kamar kami Bang Daffa masih senantiasa mengukuti langkahku tanpa suara.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi datang kembali dengan masih rasa sedihku akan kepergiaan Adit. Dan pagi ini aku rasa sudah waktunya semua kembali pada tempatnya, oleh sebab itu aku sengaja pergi sangat pagi ke acara pemberkatan nikah Erik yang baru akan di gelar nanti selepas dzuhur tanpa Bang Daffa tau.
Dengan alasan bahwa aku akan membantu bantu di rumah Erik, Bu Asri ahirnya melepasku pergi juga, meski dengan koperku yang sengaja aku seret keluar dan memberi alasan bahwa itu karena baju sragam yang di berikan Erik cukup ribet jika tidak di taruh tempat yang tepat.
"Sudah gua bilang, gua tidak menerima tamu sendirian. Enak saja Daffa tidak loe ajak. Itu pengaruh sama pendapatan amplop gua, War." Cerocos Erik begitu melihat aku datang seorang diri ke rumahnya.
"Dehh, kalau cuma amplop nanti tak kasih lebih buat kamu." Jawabku santai sekali.
"Gua amplop banyak kale. Yang gua butuhkan isi delamnya."
"Perhitungan banget. Calon mertuamu kan kaya raya Rik. Nanti aku tambahin lima puluh ribu dah buat kamu." Tawarku dengan nada canda.
"Miskin banget sih loe." Aku nyengir ke arah Erik. "Gua enggak mau tau, Daffa suami loe itu harus ada nanti malam, titik. Kalau tidak, loe hadir atau enggak juga tidak ada gunanya buat gua.
"Dia sibuk, Rik. Heran deh, yang temen kamu itu aku atau dia sih." Ucapku dengan mencebikkan bibirku. "Emm, berarti aku memilih tidak datang saja kalua gitu, kan aman untuk isi amplop."
__ADS_1
"Dasar teman tidak punya harga diri, loe." Pekik Erik sembari hendak mengusap kepalaku namun seketika berhenti di udara saat ingat bahwa kami sudah lama sekali tidak melakukan itu.
"Tidak apa apa, kamu bisa melakukannya. Pasti suatu saat aku akan merindukan hari yang seperti ini, Rik." Pelan tangan Erik jatuh di kepalaku lantas mengusak jilbabku pelan. "Terima kasih ya, Rik. Sudah selalu ada untuk ku." Lanjutku dengan senyum tipis.
Siang merambat dengan cepat menuju malam, berada di sebuah kamar hotel tempat acara Erik berlangsung, aku di sibukkan dengan Erik yang justru lebih sering meminta pendapat dan bantuanku ketimbang istrinya. Hingga aku harus menjelaskan kepada Bella Istri Erik bahwa kami memang keterlaluan, dan justru tanggapan Bella kepada kami cukup sadar dengan kedekatan kami.
"Kamu sudah menghubungi Daffa lagi, apa kesibukannya belum selesai.?" Tanya Erik untuk yang kesekian kalinya. Dan lagi hanya ku jawab dengan gelengan kepala. Jelas aku tidak akan memintanya untuk menemaniku di acara Erik meski itu sudah jadi kesepakatan kami sebelumnya, tapi kesepakatanku dengan Bang Daffa sebelum Adit pergi. Jadi saat ini aku rasa tidak ada alasan bagiku untuk kembali bersandiwara, lantas memberikan hadiah kepada Erik dengan kebohongan.
Erik sudah bersiap siap akan keluar bersama pengantinnya dan sementara aku juga sudah bersiap di tempatku sebagai seorang sahabat yang setia mendampinginya. Berjalan lebih dulu memasuki tempat acara, aku cukup di buat kaget dengan Bang Daffa yang sudah berada di depan pintu besar dengan setelan jas senada dengan baju yang aku gunakan.
"Kenapa kamu meninggalkan aku." Bisik Bang Daffa saat ahirnya kami di dapuk untuk berjalan berdua sebelum Erik masuk ke Ballroom.
"Aku kira Bang Daffa sedang sibuk." Jawabku tak kalah berbisik. Jika orang yang melihat, pasti di kira kami adalah sepasang kekasih yang sedang malu malu.
"Aku kan sudah janji, dan aku sebut ini sebagai konpensasi." Jawaban Bang Daffa membuat bibirku bungkam seketika, karena sudah di pastikan apa yang di lakukan Bang Daffa hanya berupa tanggung jawab atas apa yang aku lakukan sebelumnya untuknya. Jelas jika ini adalah sebuah sandiwara yang di lakoninya dengan apik, yang aku kira telah berahir kemarin di pertunangan Mas Karang.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1