Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Demi Aliena.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Bundanya Aliena, Bundanya Aliena." Suara teriakan dari luar rumah membuatku langsung mematikan mesin jahitku. Dan bergegas langsung ke luar menuju teras.


"Ada apa, Mama Aldi." Tanyaku dengan nada kwatir.


Mama Aldi masih menata nafasnya yang ngos ngosan untuk bicara kepadaku. "Itu, itu Aliena."


"Aliena, Aliena kenapa.?" Tanyaku bukan main kagetnya. Bukan tanpa sebab jika aku terlampau kaget, karena kejadian dua bulan lalu sudah cukup menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk ku, dan aku tak ingin kejadian itu terulang lagi. "Ada apa dengan Aliena, Bu." Tanyaku lagi.


"Aliena pingsan dan sekarang sedang di bawa ke Puskesmas." Tanpa bertanya lagi apa yang menjadi penyebabnya, aku langsung masuk kedalam rumah, guna mengambil kunci motor dan langsung melesat menuju tempat yang di katakan dengan perasaan takut sekaligus pikiran macam macam.


Tiba di Puskesmas aku langsung menuju ke IGD yang disana aku langsung di sambut oleh guru Aliena yang aku tau dia juga tidak kalah panik sepertiku.


"Dimana Aliena, Bu guru.?"


"Tenang dulu, Bu." Bu guru mencengkram bahuku sembari menguncangnya lembut. "Aliena sedang di tangani oleh dokter."


Aku terus mondar mandir di depan ruang penanganan, dan ketika namaku di panggil dengan cepat aku menyeruak masuk ke dalam dan, ahh, hatiku serasa remuk redam melihat tubuh kecil Aliena terbaring lemah tak berdaya di atas bangsal dengan selang infuse dan selang oksigen menempel di tubuhnya.


"Alin, Alin. Ini Bunda sayang." Bisikku kepada Aliena yang masih menutup matanya.


Sentuhan di bahuku membuatku memutar kepala dan mendapati wajah yang tidak asing buatku, wajah dari masalalu yang sudah dua tahun ini mengisi hariku dan Aliena. Dia adalah Rendi, bocah tengil keponakan Ibu kostku dulu. Dan siapa yang tau takdir akan membawaku kembali bertemu dengan Rendi.


Sama seperti dulu, Rendi menjadi satu satunya teman saat aku tengah terpuruk, begitupun dengan hari ini sejak dua tahun lalu. Hubungan kami cukup baik, terutama hubungan Rendi dan Aliena. Rendi seperti mampu mengobati kerinduan Aliena dengan Ayahnya.


"Ada yang perlu aku bicarakan, War." Kata Rendi.


"Tunggu sampai Aliena sadar, dr.Rendi." Jawabku masih tak ingin bergeming dari tempatku.


"Alin, tidak akan sadar dengan cepat, karena aku baru memberikannya obat yang efek penenangnya lumayan banyak."


Melihat keseriusan Rendi, ahirnya aku berdiri dan mengikuti langkah Rendi menuju ke ruangannya.


"Seperti yang aku katakan dua bulan lalu, War. Kamu harus cepat mengambil keputusan." Kata Rendi begitu kami duduk saling berhadapan. Di sodorkannya kertas kertas ke arahku, dan tulisan yang tak ku pahami membuatku kembali mengarahkan pandanganku kepada Rendi.


"Ini apa.?" Tanyaku ahirnya.


"Ini hasil observasi, Alin." Jeda Rendi untuk memastikan reaksiku.


"Jadi.?"


"Untuk hasil yang lebih maksimal lagi, seperti saranku. Bawalah Aliena ke Rumah Sakit yang memiliki peralatan memadai." Ucap Rendi dengan pasti. "Tentunya harus keluar dari kota kecil ini, War."


"Kemana.?" Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan bintangku, aku tak ingin bintangju meredup. Jadi apapun itu, akan aku lakukan untuk Alienaku, satu satunya cahaya yang ku miliki.


"Kota G." Deg, mendengar nama kota itu di sebut semangat hatiku seketika luntur. "Untuk saat ini, rumah sakit anak terbaik ada disana, War. Jadi, saranku bawalah Aliena kesana."

__ADS_1


"Selain disana, apa ada yang lain menurut rekomendasimu.?" Tak tau kenapa tanya itu justru yang keluar dari bibirku. Jujur ada rasa takut yang begitu luar biasa saat keadaan harus memaksaku memikirkan tentang kota itu.


Padahal kota G sangatlah luas, kemungkinan untuk bertemu juga hanya nol nol persen, tapi rasa peringatan dengan cepat sudah mendahului di otak ku. Apa mungkin aku trauma. Atau mungkin aku yang terlalu takut teringat akan rasa sakit itu.


"Tidak ada, War." Aku terdiam mendengar jawaban Rendi.


"Sebenernya apa yang terjadi dengan Aliena.?" Tanyaku lagi setelah cukup lama aku berdiam diri.


"Karena minimnya serta keterbatasa alat yang kami miliki, untuk sementara ini diagnosanya adalah ada pengembangan bakteri di tubuh Aliena." Tubuhku lemas seketika dan seakan mendung langsung menutup kepalaku begitu Rendi memberi diagnosis sementara.


"Itu baru dugaan saja, War. Maka dari itu, untuk lebih jelasnya bawa Aliena ke rumah sakit kota G, agar dapat di tangani oleh dokter spesialis." Jelas Rendi. "Jangan kwatir soal biayaya, War. Aku bisa membantumu." Lanjut Rendi yang memang tau posisi keuanganku.


"Akan aku pikirkan. Terima kasih dr.Rendi." Ucapku sembari berdiri dari duduk ku.


"Akan sampai kapan kamu memanggilku seperti itu War, memberi jarak sejauh bermil mil. Ini bukan sehari dua hari, dua tahun lamanya sudah. Seharusnya kamu cukup tau, bahwa aku menaruh respeck kepadamu dan Aliena." Bukan aku tak ingin memikirkan ucapan Rendi, hanya saja benteng ini sudah terlalu kokoh untuk di runtuhkan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sore datang dengan hujan bercampur panas, hingga gradasinya membuat mata silau sekaligus terkesima dengan keindahan alam dengan munculnya pelangi yang terlihat jelas di dekat bangsal Aliena yang tengah menikmati makan sorenya.


Masih dengan selang infuse yang menancap di tangannya, Aliena tampak terbiasa menggerakan tangannya untuk menyendok bubur yang di sediakan oleh pihak Puskesmas. Aliena memang tidak tampak sedang sakit parah, dan itulah yang membuatku di landa kwatir yang teramat sangat.


Bagaimana tidak, Aliena adalah anak yang tidak pernah mengeluh sakit meski sedang sangat kesakitan, dan Aliena lebih memilih memendamnya sendiri dengan menangis sembunyi sembunyi dariku. Hati ibu mana yang tidak tersayat pilu jika sudah seperti itu. Aliena benar benar menjadi obat bagiku dengan segala sikap dan sifat yang serba menerima apapun. Jadi, akankah aku kembali egois.


"Bunda mau." Ucap Aliena begitu sadar aku terus memperhatikannya.


"Tidak. Karena Alin tidak mau lama lama disini. Jadi, Alin harus makan banyak agar cepat sembuh." Jawaban polos Aliena membuat senyum muncul kaku di bibirku.


"Anak pintar." Kembali ku usap kepala Aliena pas berbarengan dengan Rendi menyibak tirai pembatas antara pasien satu dan lainnya.


"Hore, Om dr. Superhero datang." Triak Aliena girang. "Alin sudah habiskan makanya, Om dokter." Lanjut Aliena dengan menunjukan bekas tempat buburnya yang sudah kosong.


"Hebat sekali." Jawab Rendi dengan santai, sesantai pakaian yang di kenakannya, karena sore ini Rendi sudah bebas tugas.


"Om, Aliena sudah boleh pulang belum.?" Tanya Aliena.


"Ini di jawab sebagai Om dokter apa sebagai Oom keren.?" Tanya Rendi.


"Oom keren saja. Kan kalau Oom keren temenan sama Alin." Jawab Aliena antusias.


"Kalau Oom keren, harus atas persetujuan Om dokter. Jadi dua duanya saja ya. Tapi, sebelum itu boleh Oom keren tanya sama Aliena.?" Aliena langsung mengagguk dengan pasti.


"Baiklah, kalau begitu. Bunda bolehka Oom keren duduk di tempat Bunda." Ucap Rendi dan dengan mengulas senyum tipis, akupun berpindah tempat lantas naik di atas bangsal Aliena. Kami sudah tampak seperti keluarga yang sedang bercengkrama santai saja.


"Tadi di sekolah capek sekali ya.?" Tanya pertama Rendi.


"Tidak." Jawab Aliena cepat.


"Oh iya. Bukankah hari ini Aliena ada olehraga ya.? Benarkan Bunda.?" Tanya Rendi kepadaku, sepertinya memang Rendi ingin melibatkan aku dalam perbincangan ini.

__ADS_1


"Iya benar, dokter." Jawabku.


"Apa Aliena tidak sarapan.?" Tanya Rendi lagi.


"Sarapan, iya kan Bunda.?" Aku mengangguk kepada Aliena yang tengah meminta kepastian dariku. "Tuh, Bunda juga buatin jus pisang buat Aliena sebelum berangkat sekolah."


"Oh iya, pasti itu enak sekali." Ucap Rendi dengan nada semangat dan berhasil menggiring pembicaraan ini hidup. "Tapi kok aneh ya. Padahal Aliena sudah sarapan, sudah minum jus, kok bisa pingsan." Lanjut Rendi seolah sedang berpikir keras.


Aliena tidak langsung menjawab justru sedang melihatku seperti meminta ijin kepadaku untuk menjawab ucapan Rendi, dan dengan satu anggukan kepalaku, Aliena langsung menarik tanganku untuk di genggam.


"Tadi, sebenarnya Aliena di sekolah di ejek teman teman." Lirih Aliena berucap. "Teman teman bilang, Aliena tidak punya Ayah." Mendengar penuturan Aliena seketika aku langsung memeluk erat tubuh Aliena.


Saat aku tak bisa berkata apa apa, justru Rendilah yang kembali menjadi orang paling bergerak cepat. "Aliena bisa bilang sama teman Alin, bahwa Oom keren Ayah Alin. Juga boleh ajak Oom ke sekolah Alin, biar teman teman Alin tau kalau Oom Ayah yang keren." Aku hanya bisa terus menatap Rendi tanpa expresi.


"Boleh seperti itu. Aliena kan sudah punya Ayah." Jawab Aliena dengan wajah bingungnya.


"Kalua begitu Oom bisa jadi Papa, Papi, Pipi atau yang lain." Tanpa mau menyerah Rendi tetap bersikeras membujuk Aliena, hingga Aliena ahirnya setuju dan memanggilnya dr.Papa.


Aku dan Aliena pulang ke rumah setelah infuse habis. Dan kembalinya kamipun juga di antar oleh Rendi. Seperti biasa, saat Rendi datang selalunya aku tidak pernah mempersilahkannya masuk, hanya duduk di teras saja. Karena aku tidak ingin tetangga salah paham, mengingat statusku yang seorang janda juga tinggal di desa, jelas suara yang berbisik akan lebih nyaring ketimbang suara toa di masjid.


"Jadi, apa keputusanmu, War.?" Tanya Rendi saat dia sudah pamit untuk pulang.


"Beri aku waktu. Sekurang kurangnya semingguan." Ucapku.


"Lebih cepat lebih baik, War." Balas Rendi. "Jika waktu yang kamu butuhkan terlalu banyak, aku kwatir justru kamu malah akan lama tinggal disana. Makanya kalau bisa hanya periksa kurang lebih cuma butuh waktu seminggu dan kamu bisa kembali lagi kesini." Penjelasan Rendi membuatku merasa lebih lega, dan sekarang setidaknya aku bisa berpikir lebih ringan.


Tidak mungkin ada kebetulan yang terjadi disana jika hanya satu minggu saja. Kecuali, jika memang semesta sengaja ingin mengajak ku untuk bercanda dan masih ingin membariku luka. Tapi, lima tahun bukan waktu yang singkat bagiku untuk menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Aku hanya akan kembali kesana demi Aliena. Ya demi Aliena.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Coment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2