Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Daffa POV.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Daffa POV.


Matahari memancar dengan terik yang sempurna. Kesempurnaan matahari siang ini seakan mampu mengoyak kulit andai seseorang tetap berada di luar ruangan. Namun, di dalam sini tidak demikan suasananya. Disini, masih terasa dingin berkabut dengan selimut kesedihan, terutama bagi dia yang tengah berdiri menghadap jendela menatap jauh entah kemana.


Tidak ada airmata mengaliri pipinya tidak pula ada tawa yang mendiami bibirnya, dan itu terjadi sejak tiga hari lalu. Bahkan ketabahan serta keluasan hatinya tak mampu aku pahami, saat dia tetap tegar tanpa menangis memandikan Aliena sampai mengkafaninya. Tapi, justru itu yang membuatku mengerti satu hal.


Tatapan matanya kosong. Dulu, aku terlalu acuh dan meremehkan tatapan kosongnya, tatapan tak berdayanya. Kini, aku sadar. Betapa tatapan itu sangat menyakitkan bagiku, terlebih untuknya. Aku gagal menjaganya, aku gagal melunasi janjiku terhadap Melati. Aku gagal sebagai laki laki.


Sudah tiga hari, dia terus seperti itu. Menangis tidak, tertawapun juga tidak. Diam tak bicara kepada siapapun. Bahkan, semalam aku melihat Ibu menangis tersedu sedu di hadapannya yang juga tidak tidur. Dia terus seperti itu dan melakukan aktifitas berulang ulang, seperti orang linglung.


"Bujuk Mawar, Fa." Kata Ibu dengan memberikan aku piring berisi nasi serta lauknya.


"Bu.." Kataku panjang. Ibu tau apa yang menjadi alasanku. Bukan aku tidak mau, atau bahkan terlalu lelah dengan Mawar yang seakan kesedihan itu miliknya sendiri. Aku juga sedih, walau bagaimanapun aku juga kehilangan Aliena. Tapi, bukan berarti aku harus terus bermuram durja dengan mengabaikan orang orang di dekat kami.


"Ajak dia bicara. Hanya kamu yang belum pernah mencobanya, lakukan..!" Ibu tidak memberiku pilihan dengan menegaskan kata terahirnya.


Ragu ragu, ahirnya aku mendekatinya yang seakan tak menyadari kehadiranku di sampingnya. Berdehem pelan sengaja aku lakukan, entah untuk apa aku sendiri tidak tau.


"Kata Ibu kamu belum makan dari kemarin, War. Makanlah." Dia hanya menoleh sekilas ke arah piring yang aku sodorkan kemudian kembali menatap jauh ke luar jendela.


"Aku masih kenyang." Lirih sekali jawaban yang keluar.


"Paksalah untuk makan, War." Kembali dia menoleh, tapi tidak ke piring yang aku sodorkan. Melainkan ke arahku. Tatapannya menyorot dingin, dan baru kali ini aku merasa gentar di tatap seseorang, apa lagi itu seorang perempuan.


"Memaksa itu adalah kesukaanmu. Aku tidak mau sepertimu." Kata katanya terdengar seperti desisan kebencian.


Aku tertegun untuk sesaat dan masih berusaha untuk memahami emosi Mawar. "Bukan seperti itu. Aku juga kehilangan, Aliena."


"Aku bilang, aku tidak mau di paksa. Prang.." Di dorongnya piring yang masih aku pegang dan terjatuh berserakan dengan bunyi yang membuat Ibu berlari menemui kami.


"Ada apa." Kata kata Ibu terhenti begitu saja dan langsung menuju ke arah Mawar. "Ayo, duduk dulu."


Ibu memberiku isyarat agar membereskan kekacauan dan mengajak Mawar untuk duduk tidak jauh dariku yang tengah membersihkan pecahan piring.


"Ibu tau, kamu tidak berselera. Tidak apa apa, nanti kalau kamu sudah merasa lapar panggil Ibu." Ibu mengusap kepala Mawar dengan lembut.


Ibu terus saja mengajak Mawar untuk bicara, meski kadang tidak di sahutinya. Dan kembali tatapan itu kosong. Dan itu sukses membuat dadaku nyeri.


"Minumlah." Kata Ibu sembari menyodorkan segelas air yang baru saja aku bawakan dan hanya di sahuti dengan gelengan kepala oleh Mawar.


"Minumlah sedikit biar kamu sedikit tenang." Aku ikut bersuara.


Mata Mawar, seketika langsung bergerak ke arahku dan kembali tatapan itu sama seperti tadi. Penuh kebencian.

__ADS_1


"Aku bilang, aku tidak mau di paksa.!" Bukan lagi kata pelan nan lembut yang keluar dari mulut Mawar, melainkan sebuah kata histeris sembari berdiri dengan cepat.


"Kenapa kamu suka sekali memaksakan kehendakmu." Ucapnya lagi sembari menunjukku. "Semua ini terjadi karena kamu yang senang memaksa."


"Hustt, eling, War. Eling. Astaghfirlloh. Ayo, nyebut." Kata Ibu sembari memeluk Mawar yang tengah meluapkan emosianya.


"Ndhok, Mawar." Tiba tiba Mama sudah berada di ambang pintu dengan di ikuti rantang yang terjatuh setelah melihat Mawar meluapkan emosi yang tak bisa di kendalikan.


"Kalian mau aku makan kan. Baik aku akan makan." Katanya dan langsung berjalan dengan cepat ke arah Mama yang masih terpaku di tempatnya.


Entah karena terlalu syok atau bingung, kami seperti terpaku di tempat saat Mawar mulai bersimpuh mengais makanan yang tumpah dari rantang Bu Mega. Tanpa sadar itu membuat airmataku menetes tanpa bisa aku hentikan saat bulir bulir nasi itu di paksanya untuk masuk ke tenggorokannya.


"Maafkan Ibu, War. Maafkan Ibu." Mama yang tersadar lebih dulu lekas meraih tangan Mawar yang bergerak lebih cepat. "Maafkan Ibu, Ibu yang paling bersalah dan paling memaksamu, hingga kamu berada di posisi seperti ini." Mama berusaha meraih Mawar, namun tatap kalah cepat dengan Mawar.


"Mawar, apa yang kamu lakukan." Erik yang baru masuk juga ikut kaget melihat Mawar, sementara Ibu dan Mama dengan derai airmata terus berusaha untuk meraih Mawar.


Dengan gerakan cepat, Erik segera menarik tangan Mawar dan dengan satu sentakan saja Mawar langsung berdiri. "Kamu juga ikut ikut memaksaku, Rik." Nadanya terdengar menyanyat, sampai sampai juga membuat Erik tak berkutik.


Genggaman tangan Erik terlepas. "Mereka menyuruhku untuk makan." Ucap Mawar sembari menegelilingkan pandangannya ke arah kami semua yang hanya bisa diam. "Dan akupun makan. Lihatlah." Mawar kembali bersimpuh.


"Mawar.." Pekik Ibu dan Mama secara bersamaan, namun juga tidak bisa beranjak dari tempatnya, karena Mawar langsung menatapnya. Dan, ahh. Matanya penuh luka, itu menyakitkan sekali bagiku.


"War, cukup menangislah." Dengan cepat, sebuah tubuh langsung ikut bersimpuh di hadapan Mawar dan menyembunyikan Mawar di pelukannnya.


"Tidak akan ada yang melihatnya. Aku janji." Pelukan Rendi semakin erat saat secara perlahan tangan Mawar berhenti mengais dan mencengkram erat kemeja Rendi.


Senyap itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya isakan pelan Mawar berubah menjadi tangisana pecah, yang membuat semuanya juga ikut menangis pilu. Dalam sepanjang hidupku, baru kali ini aku melihat sebuah kehancuran dalam diri seseorang, keputus asaan dan ketidak berdayaan yang tak mampu di sampaikan kepada orang lain, serta memendamnya sendirian. Dan dalam hal ini, akulah penyumbang terbanyaknya. Aku laki laki gagal.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dua hari sudah Mawar terbaring di bangsal rumah sakit setelah menangis kejer dalam pelukan Rendi. Dan selama dua hari ini, Mawar seakan sibuk dengan alam bawah sadarnya. Aku bisa menyimpulkan itu, karena setiap kali aku datang menjenguknya, ada beberapa expresi di wajahnya yang aku lihat. Kadang muncul senyum di bibirnya, kadang juga muncul airmata dari matanya.


Dokter mengatakan tidak perlu kwatir, karena memang dokter memberikan obat penenang untuk Mawar, agar Mawar bisa beristirahat. Selain Rendi, Daffin juga turut andil merawat Mawar, begitupun denganku dan Adit.


Sore inipun, aku juga mengajak Adit kembali berkunjung. Meski, Adit terang terangan menolakku dan mengutarakan kebenciannya kepadaku, aku tidak ingin membesarkan soal ini tanpa berbicara secara matang matang. Adit, sedang emosi, dan aku tidak ingin sesuatu hang buruk terjadi karena emosi.


"Mas Karang, aku mimpi aneh sekali." Mawsr sudah sadar, pikirku begitu aku baru saja membuka pintu dan mendengar suaranya.


"Mimpi, mimpi apa.?" Balas Daffin.


"Emm, banyak." Mawar menjeda ucapanya dan memandang ke arahku yang sedang berjalan pelan. "Bang Daffa juga datang.? Kok bisa.?" Senyum tipis Mawar sunggingkan kepadaku.


Kebingungan yang aku tunjukan ke arah Daffin, juga sama aku lihat di wajah Daffin. Dan dengan isyarat tangan Daffin memberi tau aku, agar aku mengikuti apa yang di katakan Mawar.


"Mas Karang yang memberi tau Bang Daffa, kalau aku sakit.?" Beralih Mawar menatap, dan terlihat sekali olehku bahwa itu adalah tatapan manja.


"Tidak, Bang Daffa tau sendiri kalau Mawar sedang sakit." Jawab Daffin.

__ADS_1


"Mas Karang sejak kapan punya jenggot.?" Perasan ini asing, aku merasa seperti sedang melihat Mawar dan Daffin pacaran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mawar.?


"Ehh, tapi kalau di lihat lihat, Mas Karang dan Bang Daffa agak mirip ya." Mawar kembali mengulum senyumnya, bak anak baru gede yang sedang jatuh cinta.


"Ceklek." Suara pintu yang terbuka membuat Mawar beralih memandang ke arah pintu dan tatapan matanya langsung berubah saat Adit masuk. Tak lama Mawar memandang kami secara bergantian sembari menggeleng pelan lantas menutup wajahnya.


"Ini bukan mimpi, ini bukan mimpi." Gumamnya.


"Mawar. Mawar." Panggil Daffin berulang ulang.


"Aku tidak mimpi."


"Mawar, lihat aku." Kata Daffin lagi sembari menguncang bahu Mawar, dan Mawar menyentakannya dengan cepat.


"Mawar, Mawar." Daffin tak ingin menyerah dan tak semakin Daffin berusaha, Mawar semakin terlihat seperti bingung dan terus bergumam, aku tidak bermimpi. Hingga kembali, Rendi yang menjadi penenang bagi Mawar, seperti seorang pahlawan.


"Fin, apa yang terjadi dengan Mawar.?" Tanyaku kepada Daffin, saat kami tengah di luar kamar rawat Mawar.


Daffin tidak langsung menjawab, seperti butuh jawaban pasti untuk mengatakannya. "Sepertinya, Mawar mengalami Short term memory loss. Dia bisa mengingat peristiwa tahun tahun yang telah lalu, tapi dia akan kesulitan bahkan cendung lupa dengan kejadian yang baru saja dia alami. Namun, secara tiba tiba ingatannya akan muncul dan setelahnya akan seperti tadi. Tapi, aku akan melakukan kajian ulang."


"Lalu, Rendi.?" Aku tidak melanjutkan ucapanku, karena aku sadar Daffin tengah menatapku dengan tatapan yang aku bisa pahami sebagai sesama laki laki.


Cukup sudah, aku telah gagal menjadi seorang Suami, Ayah serta Abang, setidaknya aku tak ingin gagal menjadi seorang laki laki dengan memaksa keingianku terhadap Mawar. Aku tak ingin menjadi seorang laki laki sejati dengan berjuang, lantas melepaskan jika memang sudah tidak ada harapan. Dan saat ini, itu yang aku lihat dari Daffin terhadap Mawar.


Daffa POV end.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Like, Koment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2