
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Cinta, satu kata itu mampu membuat berjuta makna dengan memompa dadaku menggila bahagia di tengah suasana yang harusnya penuh prihatin. Melangkah ringan kembali ke tenda, kakiku seakan terbang bersama dengan indahnya oase cintaku yang kemungkinan tak berahir sendiri.
Apa itu bisa di pastikan.? Belum pasti juga. Tapi, jika mengingat perbincanganku sebentar tadi dengan Mas Karang, membuatku berani merenda asa tentang rasa yang kemungkinan akan segera tersemai. Dan aku yakin seratus persen ini akan membuatku terjaga sepanjang malam, karena kenyataan akan lebih mengasikan di banding mimpi yang menghampiri.
Tetap mematri senyum di setiap langkah, aku sama sekali tak berani menoleh kebelakang dimana aku yakin saat ini Mas Karang tengah berdiri memandang kepergianku yang masih terngiang akan ucapannya.
"Jika menurutmu mencintai dan di cintai itu harus memiliki kwalifikasi khusus, serta pontensi untuk kesetaraan. Maka, selama kamu mau memepersiapkan diri untuk itu, akupun akan melakukan hal yang sama." Ingin aku tidak percaya, tapi nyatanya senyum yang di bubuhkan penuh penyakinan oleh Mas Karang setelahnya mampu menghapus raguku.
Seperti bukan diriku, karena setelahnya aku hanya terus menunduk dengan dada yang bertalu talu penuh bahagia. Apa lagi saat jari telunjuk Mas Karang yang tanpa sengaja menyentuh ujung jariku. Dan dosa itu memang terasa begitu nikmat.
Duduk berdua di batang kayu dibawah langit yang berhias bintang, nyatanya mampu melupakan segala hiruk pikuk serta lelah seharian yang kami rasakan. Hanya duduk dan mengobrol kesana kemari mengenal satu sama lain. Dan lucunya, kami berdua tidak pernah tau asal masing masing, cukup hanya tau bahwa kami saat ini berada di kota yang sama, di bawah langit yang sama serta menghirup udara yang sama pula.
Namun, kami berani saling terjatuh dan menikmati kebersamaan singkat ini dengan perasaan berbunga. Dan, apakah ketika ini semua usai maka akan usai pula rasa ini..? Jika, harapan bolehlah terkabul dan segala keinginan dapat di capai tanpa ada campur tangan dari Tuhan, maka aku ingin serakah dengan meminta Mas Karang manjadi pelabuhan terahirku dari takdir yang di berikan oleh Tuhan.
Langit di atas sana memang gelap, hingga bintang datang yang menjadi perhiasannya, sehingga kelap kelipnya menjadi pelengkap sekaligus pemandangan yang tak pernah membosankan. Begitupun yang aku inginkan dalam hidupku, jika suata saat nanti Mas Karang yang menjadi takdirku, maka aku ingin menjadikan dia sebagai langit yang seperti kanvas bagi bintang.
Sampai di tenda, wajahku masih saja menghangat dan memilih segera membaringkan diri di atas matras, karena aku sangat takut ketika ikut mengobrol sebentar dengan dr.Chika dan Bia, mereka akan menyadari mimik ku yang belum mampu menyembunyikan rasa bahagiaku.
"War, maaf yang tadi. Aku benar benar tidak tau kalau kamu takut sama kucing. Habisnya kamu enggak pernah ngomongin itu." Cerocos Bia saat bersiap membaringkan dirinya di sampingku.
"Iya, enggak apa apa." Jawabku lirih.
"Dingin banget ya, sampai kamu harus membungkus seluruh tubuhmu seperti itu." Aku semakin merapatkan selimut tipis di tubuhku mendengar ucapan Bia.
"War, kamu sudah bisa menghubungi Kak Melati.?" Tanya Bia tiba tiba, dan seketika perkataan Bia langsung membuatku tersentak dan meluruhkan rasa bahagia yang sebentar tadi aku rasakan.
"Belum." Jawabku sembari langsung duduk dan mencari cari benda pipih yang sedari Bia membarikan kepadaku beberapa bari lalu justru aku lupakan.
"Ini sudah malam, War. Pasti Kak Melati sudah tidur." Ucap Bia saat melihat aku sudah bersiap untuk kembali keluar dari tenda.
"Aku akan mengirim pesan singkat ke Kak Melati." Jawabku tanpa memerdulikan keberatan dari Bia yang kini juga mengikuti di belakangku.
Merapatkan jaket yang ku kenakan, aku dan Bia berjalan beriringan dengan tanganku yang terus mengacung keudara guna mencari jaringan untuk ponsel yang aku pegang.
"War. Jangan jauh jauh gelap kalau kesana sana." Bia mencekal tanganku agar aku tak melangkah lagi.
"Iya, ini sudah bisa ke kirim." Jawabku pelan. "Besok pasti akan di baca oleh Kak Melati. Ya sudah ayo kembali ke Tenda."
"Sayang, War. Dari sini bagus banget tau." Terlihat mata belok Bia melebar penuh kagum saat tampak jauh di bawah sana pemandangan kota dengan lampu lampunya yang berkelap kelip bak Bintang.
Aku ikut menatap jauh ke depan seperti Bia, akupun juga kagum dengan pemandangan nan jauh disana. Tapi, pikiranku tak sepenuhnya berada disana. Pikiranku terbelah antara bahagia dan sedih yang tidak tau sebabnya apa. Yang aku tau, pikiranku saat ini di penuhi oleh Kak Melati.
Ingin aku menolak dan menganggap semua mustahil, tapi suara yang berbisik di otakku membuatku tak mampu mengeyahkan pikiran tentang sakit yang pernah di rasakan oleh Kak Melati dulu. Perasaan takut akan kejadian itu terulang membuat ku tak bisa tenang.
"War kamu kenapa.?" Pertanyaan Bia membuatku tersadar bahwa aku tidak sendirian saat ini.
__ADS_1
"Kak Melati pasti baik baik saja kan, Bi.?" Ucapku ambigu yang membuat Bia bingung dengan tanyaku.
"Maksudmu.?"
Ku hela nafasku dalam dan ku alihkan pandanganku jauh ke atas menembus bintang. "Aku takut sekali, Bi. Firasatku mengatakan Kak Melati tidak baik baik saja saat ini." Jawabku pelan.
"Itu hanya firasat saja, War. Kamu tau di rumah sana semua sayang dengan Kak Melati, andaipun sesuatu terjadi dengan Kak Melati pasti bukan Kak Melati sendiri yang mengabarimu." Ku alihkan tatapan ku ke arah Bia dan ingin menyetujui ucapan Bia, tapi sisi hatiku tetap tak ingin tenang.
"Jangan terlalu berpikir yang tidak tidak. Lagian Kak Melati sudah di nyatakan sembuh kan, dan tidak pernah kambuh lagi sakitnya. Jadi kamu stop terlalu parno dengan kesehatan Kak Melati. Saat ini waktunya mikirin bagaimana dengan kamu dan Mas Karang." Bluss, mendengar ucapan Bia paling ahir membuat wajahku seketika mengahangat dan menggiring tanganku menutupi wajahku.
Dan perbincangan dengan Bia sungguh berhasil membuat hatiku fluktuatif tak karuan, nano nano seperti rasa permen, ada asem, asin dan manis yang berlebih.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Saling melempar senyum tipis sebagai penyemangat setiap kali berpapasan atau sekedar saling pandang dengan tatapan hangat sering aku dan Mas Karang lakukan, setelah malam itu. Dan dua hari sudah berlalu, tidak ada perbincangan lanjutan, tapi lewat tatapan dan senyuman sudah cukup mewakili kami, hingga itu mampu di baca oleh Bia.
"Kamu dan Mas Karang ada sesuatu ya, War." Tanya Bia saat kami sedang istirahat makan siang dan itu sukses membuatku terbatuk batuk hebat. "Itu hanya kesimpulanku sendiri, War. Jangan di ambil hati." Lanjut Bia saat aku tidak menjawabnya.
"Aku cuma merasa cara tersenyum kalian dan arti tatapan Mas Karang untuk mu berbeda." Sekali lagi aku tak menjawab ucapan Bia. Dan berusaha untuk tetap fokus dengan makanan di depanku. "Jangan marah, War." Aku menggeleng pelan sembari menempelkan sendok makan di bibirku.
"Dhemm." Aku dan Bia bersamaan menoleh ke belakang dan mendapati Mas Karang yang sudah berdiri di belakang kami.
Sumpah, seumur umur baru kali ini aku merasa gugub dengan kahadiran orang. Bahkan aku sampai membenarkan caraku duduk, juga merapikan jilbabku, dan yang lebih parah lagi aku malah berpikir ingin terlihat memesona. Dasar otak orang jatuh cinta itu memang suka konslet. Makanya bisa bisanya aku berpikir seperti itu.
"Mas Karang sudah dari tadi." Ucap Bia dan menggeser tubuhnya mendekat di sampingku.
"Lumayan." Jawab Mas Karang sembari duduk di tempat Bia duduk tadi.
"Kenapa mesti bisik bisik." Ucap Mas Karang dengan senyum yang di bubuhkan di bibirnya dan itu juga menular kepadaku, bibirku juga menyunggingkan senyum tipis ke arah Mas Karang yang kini tengah menatapku.
"Maaf Mas Karang, Bia tidak ada maksud jelak." Lirih Bia.
"Tidak apa, Bi." Singkat Mas Karang. "Kalian sudah selesai makannya.?" Tanya Mas Karang yang jelas tau bahwa piringku masih separo isinya, sedang milik Bia sudah bersih.
"Sudah." Jawab Bia singkat.
"Itu punya Mawar masih separo." Ucap Mas Karang. "Bi, kamu tau obat sakit gigi tidak.?" Aku melirik ke arah Mas Karang sebentar, karena merasa aneh dengan pertanyaannya untuk Bia.
"Mas Karang aneh sekali, orang Mas Karang yang dokter kok malah nayanya sama Bia." Jawab Bia dengan nada herannya. "Lagian siapa yang sedang sakit gigi.?"
"Tuh, Mawar. Dari tadi diem aja bukannya lagi sakit gigi.." Jawab Mas Karang santai.
"Huhahaha, ternyata Mas Karang bisa juga bercanda. Mawar bukan lagi sakit gigi tapi lagi puasa bicara." Timpal Bia.
"Gitu." Tatapan kami bertemu dan ahh, ada apa dengan Mas Karang yang tiba tiba mengedipkan sebelah matanya ke arahku hingga membuatku hampir menyemburkan makanan yang sudah sampai di tenggorokanku.
"War, aku duluan yah." Bisik Bia dan langsung berdiri. "Mas titip Mawar yah." Pamit Bia ke Mas Karang dan langsung bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Mas Karang ataupun dariku.
Ini terasa canggung bagiku, yang kini hanya tinggal berdua saja dengan Mas Karang. Dan Mas Karang justru terlihat sangat santai dengan terus menikmati hidangan di piringnya.
__ADS_1
"Besok Mas Karim tidak bisa menjemput, dan beliau memasrahkan kamu dan Bia untuk aku antarkan ke Pesantren." Buka Mas Karang dan membuatku mendongakkan kepalaku sekilas.
"Sebenarnya saya dan Bia bisa pulang bareng tim relawan lainnya, Mas." Jawabku pelan, lantas kembali fokus ke makananku.
"Bisa saja, tapi aku sudah terlanjur berjanji kepada Mas Karim. Bukannya janji itu adalah hutang yang harus di bayar. Jadi, itu adalah tanggung jawabku untuk mengantarkan kamu kembali sampai di Pesantren." Jawab Mas Karang.
"Apa tidak akan menganggu waktu sampean.?"
"Menggangu itu pasti, dan aku tidak keberatan untuk itu. Ada yang jauh merepotkan lagi, apa kamu mau tau.?"
Aku menautkan kedua alisku mencoba menebak apa yang sedang di pikirkan oleh Mas Karang. "Apa.?" Tanyaku ahirnya..
"Kamu, karena kamu benar benar membuatku kerepotan dengan terus terusan berputar putar di otakku." Ujung bibirku tertarik dengan sempurna mendengar ucapan Mas Karang, hanya sedikit tidak menyangka bahwa Mas Karang ternyata orang yang tidak seserius dugaanku.
"Apa lagi kalau lagi malu malu kayak gitu." Lanjut Mas Karang dan itu sukses membuatku makin menunduk dalam.
"Setiap wanita akan merasa malu jika di perlakukan seperti itu, Mas." Jawabku singkat.
"Hemm, semoga hanya aku yang bisa melihat wajahmu yang malu malu itu." Ucap Mas Karang lagi. "Well, sudah saatnya kembali bekerja." Lanjut Mas Karang sembari berdiri.
"Kenapa tidak rela aku pergi." Telak Mas Karang saat aku menatapnya, padahal rasa tak rela itu hanya terbersit di hatiku saja tapi lagi lagi Mas Karang seakan tau apa yang sedang aku pikirkan.
"Jika kurang puas, aku tunggu nanti malam di tempat kemarin setelah tugas kita usai." Aku sama sekali tidak bereaksi, bukan karena apa melainkan karena terlalu kaget dengan perubahan sikap Mas Karang yang seakan bukan dirinya yang aku kenal sebelumnya.
Dan tubuhku semakin kaku di tempatnya, lantas tak mampu menanggalkan pandangan mataku dari punggung yang kini tengah berjalan tegak menjauh dariku setelah mengucapkan kata yang tak keluar suara tapi mampu aku mengerti apa yang di katakannya, kalau tidak salah itu adalah kata. "Love you."
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Sah, sah, sah, sah......😅😅😅😅
Like, Koment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love....
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862