Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Adakah Alasan..


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Cinta pertama adalah pengalaman paling indah dan luar biasa yang pernah di rasakan oleh manusia. Namun, juga bisa saja jadi pengalaman paling menyakitkan yang tak pernah bisa di lupakan begitu saja. Terlalu dini memang jika aku menyimpulkan hal ini sekarang, hanya saja saat ini yang aku rasakan benar benar menyakitkan.


Apa lagi saat mataku masih saja tidak bisa berpaling dari dua orang yang tengah di mabuk asmara di depanku. Dan bodohnya hati, karena menikmati nyeri di setiap sudutnya dengan terus membubuhkan garam pada luka yang basah.


Alasannya sederhana. Aku yang tidak bisa menolak keinginan Kak Melati yang mengajak ku untuk ikut pergi bersama dengan Bang Daffa. Itu juga lantaran protes dari Kak Melati selama seminggu ini. Ya, aku terus saja menghindar dari Kak Melati saat mengajak ku untuk duduk bersama dengan Bang Daffa saat sedang berkunjung ke rumah.


Kilatan lampu dari layar besar bioskop yang sedang memainkan film romantis di depan kami semua, membuat sesekali mataku menangkap siluet dari dua orang yang duduk di depanku. Kadang Kak Melati yang berbisik di sertai dengan kikikan manja ataupun sebaliknya, bahkan suapan Popcorn ataupun minuman dingin dari keduanya juga dapat aku lihat dengan jelas. Dan menurutku itu jauh romantis dari film yang terputar di hadapan kami semuanya.


Kembali helaan nafas dalam aku ambil tatkala kenyataan yang lebih romantis terpampang begitu nyata di hadapan ku. Lantas dengan cepat ku colek bahu Kak Melati, guna meminta ijin untuk segera pergi dari tempat ini dengan alasan kamar kecil menanti kedatangan ku. Dan begitu anggukan pelan Kak Melati sebagai tanda setuju aku dapati, akupun bergegas keluar dari ruangan tertutup nan dingin itu yang justru membuat hatiku panas juga sekaligus nyeri.


Sejam lamanya aku menunggu Kak Melati di food corner, dengan sesekali bermain game dalam ponsel bututku. Sejenak memang aku dapat melupakan rasa tidak nyaman di hatiku dengan permainan itu, apa lagi saat aku saling balas pesan olokan dengan Erik. Dan berhasil membuat tawaku kembali terbit, namun tidak lama karena nyeri itu kembali mengahantam dada mana kala, mataku menangkap dua orang yang tengah berjalan beriringan dengan tangan yang saling menaut dan senyum merekah di bibir keduanya.


"War, sudah pesen makan belum.?" Tanya Kak Melati lembut. Aku hanya menggeleng pelan karena kerongkongan ku tiba tiba terasa kering saat ku lihat tautan mereka teurai dan tangan Bang Daffa menarik pelan kursi di depanku untuk Kak Melati. Dan di sambut senyum lembut oleh Kak Melati seraya menggumamkan terima kasih penuh nada manja.


"Terima kasih, Yang." Aku benar benar seperti obat nyamuk bakar di antara keduanya. Cuma bedanya, obat nyamuk bakar tidak merasa kesakitan dan menikmati peranannya sebagai penjaga agar orang yang sedang di lindunginya tidak tergigit nyamuk. Sedangkan diriku, justru berusaha melindungi hatiku sendiri agar tidak sakit melihat kemesraan mereka berdua.


"Mau makan apa..?" Suara Bang Daffa terdengar sangat lembut, bahkan tatapan yang di berikan kepada Kak Melati juga tatapan hangat penuh cinta. Dan itu berhasil mengerdilkan asaku, lantaran tatapan berbeda langsung terlihat jelas saat mata Elang Bang Daffa ikut menatapku.


"Mawar mau makan apa.?" Justru Kak Melati melempar tanya itu kepadaku, dan membuat mata Elang Bang Daffa ikut menyapu ke arahku dengan kernyitan di keningnya.


Ku palingkan tatapan ku dari Bang Daffa dan memilih fokus ke arah Kak Melati yang tengah tersenyum manis ke arahku. "Terserah Kak Melati. Apapun itu Mawar pasti suka asal Kak Melati yang memilih." Ku bubuhkan senyum simpul ke arah Kak Melati.


"Baiklah." Jawab Kak Melati singkat, sejurus kemudian sudah larut mengobrol dengan Bang Daffa soal makanan yang berada di menu tersebut.


"Jangan Iga Lemp, Mawar bisa mabuk kalau makan daging Kambing." Ucap Kak Melati sambil tersenyum penuh arti ke arah ku. Tapi, tidak dengan Bang Daffa. Aku tau alasannya, karena sesunggunya daging Kambing adalah kesukaan Kak Melati, sedangkan aku tidak bisa memakannya. Jangankan memakannya, mencium baunya saat di masak bisa dua hari tidak bisa makan nasi. "Yang ini saja. Ini kesukaan Mawar banget." Lanjut Kak Melati.


Bang Daffa semakin mengerutkan keningnya mendengar penuturan Kak Melati. Dan dengan cepat sudah menyutujui apa yang di katakan oleh Kak Melati dengan senyum setengah tak ikhlas tercetak jelas di wajah machonya.


"War, kamu minumnya mau apa..?" Tanya Kak Melati kepadaku lagi.


Kali ini aku berinisiatif untuk memilih minuman kesukaan Kak Melati agar Bang Daffa tidak merasa aku yang menjadi penganggu di antara keduanya. Sumpah, kalau boleh milih dan tidak di paksa oleh Kak Melati, aku akan memilih ikut Anto anak Pak RT makan di warung tenda, setidaknya di sana aku tidak akan tersiksa batin seperti sekarang.

__ADS_1


"Jus Nanas saja, Kak Mel." Jawabku.


"Hemm, itu minuman buat Kak Mel. Untuk Mawar biar Jus Apel atau Jus Melon." Kak Melati tersenyum kepadaku lantas dengan cepat sudah memesankan minuman yang Kak Melati tau itu kesukanku.


Bang Daffa memanggil pelayan dan dengan cepat sudah menyampaikan pesanan yang kami inginkan, lantas pelayan cepat kembali lagi dengan menu yang sudah kami pilih.


"Rambutnya berantakan, Yang." Ucap Bang Daffa sembari meraih jepit kecil di kepala bagian depan Kak Melati, lantas dengan cepat sudah membenarkan tatanan rambut Kak Melati, sekaligus jepit ramputnya. Dan itu berhasil menggerakan tanganku untuk menyentuh topi yang berada di kepalaku.


Manis, manis sekali perlakuan itu. Harusnya iya, tapi entah kenapa itu membuat hatiku tertusuk dan memilih membuang pandanganku jauh ke lain arah. Meski suara keduanya tidak bisa aku hilangkan begitu saja. Jika di anggap bodoh, memang aku sangat bodoh. Tapi, apa lagi yang bisa aku lakukan selain dari berpura pura tidak terjadi apa apa dengan hatiku.


Sakitnya memang tidak sebanding dengan yang akan di derita Kak Melati, saat tau bahwa kekasih yang di cintainya, aku juga mencintainya. Namun, aku juga bukan manusia kuat yang akan tahan jika terus di hadapkan pada rasa sakit. Tapi, ada yang jauh lebih sakit lagi ku rasakan, yakni ketika mata elang Bang Daffa menatapku tanpa respeck yang baik, dan itu benar benar mampu mengulitiku.


"War, Kak Mel mau ke toilet bentar yah." Ku lihat keringat bertebaran di dahi Kak Melati, dan aku faham akan hal itu. Maka dari itu, akupun segera berdiri dari posisiku. "Kamu mau kemana..?" Lanjut Kak Melati saat melihatku berdiri.


"Nemenin Kak Mel lah." Jawabku dengan cepat.


"Tidak perlu, Kak Mel bukan bayi." Ucap Kak Melati dengan senyum yang memperlihatkan getar di bibirnya. Aku tau itu. Please Tuhan, jangan suguhkan aku dengan pemandangan yang menyakitkan ini. Sesakit sakitnya hatiku karena cinta buta ini, jauh lebih sakit lagi saat melihat Kak Melati menahan sakit dan mengalihkan rasa sakitnya dengan obat obat yang senantiasa di bawanya kemana mana.


"Kak Mel, Mawar harus ikut." Tegas ku dan itu berhasil membuat Bang Daffa memandang heran ke arah kami berdua.


"Tidak perlu kekankan, War." Ucap Bang Daffa sakartis dan itu tidak berhasil mengalihkan rasa kwatir yang sedang menderaku, meski ucapan itu terdengar menohok sekali olehku.


Aku terus saja mengetuk ngetuk meja dengan jari telunjuk dan jari tengahku, tanpa membuang pandangan ku dari arah menuju toilet dimana Kak Melati berada. Sampai sampai aku lupa ada Bang Daffa di depan ku dan membiarkan dia begitu saja dengan tatapan acuhnya terhadapku.


"Itu hanya toilet. Tidak perlu sedrama itu." Ucap Bang Daffa dengan nada kesalnya. Aku melirik sebentar ke arah Bang Daffa, dan aku yakin seratus persen, Bang Daffa jelas tidak tau dengan apa yang terjadi. Jika, Bang Daffa tau apa yang sedang di lakukan Kak Melati jelas sikapnya tidak akan sesantai itu.


"Itu terlihat bukan dirimu, War. Mawar apa akan sepeduli itu kepada orang lain." Lagi ucapan menohok Bang Daffa terdengar menggelitik telingaku. Hingga mau tak mau membuatku menoleh secepatnya ke arah Bang Daffa.


"Melati sangat tau apa yang kamu suka dan tidak suka. Melati sangat mengutamakan segala sesuatu tentang mu. Setidaknya dengan bersikap baik, itu tidak akan mengecewakannya." Ucap Bang Daffa lagi. Apa lagi sih nih orang. Kemana arahnya ucapan itu, baik seperti apa yang di maksud Bang Daffa.


Hanya karena satu perkara yang di lihatnya, dia bisa menyimpulkan begitu saja, tanpa mau mencari tau kebenarannya sebelumnya. Dan itu lumprah bagi lulusan hukum seperti Bang Daffa, karena bukti konkrit di hadapannya jauh lebih benar di banding dengan penjelasan yang hanya akan di anggapnya sebagai alibi semata.


"Baik yang seperti apa..?" Tanyaku dengan nada rendah. Jelas itu aku lakukan, bukan karena agar aku benar benar terlihat bersalah di hadapannya, hanya saja aku ingin dia bisa membaca karakterku sebelum dia menyimpulkan sendiri.


"Baik dalam segala hal. Tidak menutupi borokmu di hasapan Melati, hanya agar menjadi kesayangannya dan prioritasnya." Nada sinis terdengar jelas dari bibir Bang Daffa dan aku hanya tersenyum sumbang ke arah Bang Daffa.

__ADS_1


"Kak Melati jauh lebih tau diriku dari pada aku sendiri. Dan mungkin aku jauh lebih tau Kak Melati di banding Bang Daffa." Jawabku masih dengan nada rendah.


"Maka dari itu biarkan dia memikirkan tentang dirinya, tidak hanya memprioritaskan kebahagiaanmu saja." Ucap Bang Daffa.


Aku menghela nafasku dalam dalam, dan memikirkan ucapan Bang Daffa dengan seksama. Jika mau menelaah lebih lagi, memang benar yang di ucapkan Bang Daffa. Kak Melati selalu memprioritaskan kebahagiaan ku lebih dulu. Bahkan, hal itu juga pernah di sampaikan oleh Bu Mega terhadapku, hanya saja waktu itu aku kurang begitu faham dengan maksud Bu Mega.


Mungkin aku yang terlalu naif dengan sikap baik Kak Melati, hingga aku enggan untuk mencari tau kenapa Kak Melati begitu mencintaiku tanpa pamrih, bahkan sampai rela membagi semua miliknya denganku. Namun, jika ada alasan di balik itu, apa kah yang menjadi alasannya. Dan haruskan ada alasan di balik semua kebaikan Kak Melati selama ini. Aku tidak yakin akan ada alasan yang di sembunyikan Kak Melati dariku.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Ada apakah gerangan, saya ikut bertanya tanya tentang alasan Melati..


Like, Komentnya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2