
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Lima tahun berselang.
Mesin jahit terus berderit, memutar benang menjadi lebih sedikit dari sebelumnya. Dan setiap kali melihat baju yang tengah berusaha aku selesaikan, setiap itu pula senyumku akan mengembang dengan sendirinya hanya dengan membayangkan gadis kecilku akan tersenyum bahagia mendapat hadiah baju ulang tahun.
Setiap luka akan menemukan obatnya dan ketika obat itu datang dari malam dimana harga diriku luluh lantak aku bisa apa.? Maka tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menikmatinya. Sifatnya obat selalunya pahit, dengan senyum cerianya yang menjadi obatku, juga sekaligus membebat hatiku tetap mengingat sang pemberi luka. Karena tidak ada sisa tempat di wajahnya untuk ku.
Dia Aliena. Putri kecilku yang menjadi semangatku sekaligus obat bagiku. Meski di setiap senyum serta wajahnya yang tak meninggalkan Ayahnya, dia tetap menjadi tujuanku untuk bertahan di tengah beratnya penghinaan Bang Daffa waktu itu.
Tak di inginkan dan di buang selayaknya sampah, aku tetap bertahan demi janin yang telah hadir dari malam harga diriku di tanggalkan. Tidak perduli harus keluar masuk rumah sakit bahkan sampai menjadi penghuni tetap di salah satu rumah sakit, ahirnya perjuanganku tidak sia sia. Aliena ahirnya bisa terlahir dengan selamat meski aku harus menjalani operasi di usia kandunganku yang baru tujuh bulan. Dan harus berada di rumah sakit selama berbulan bulan setelahnya.
Aliena, hanya nama itu yang bisa aku berikan untuknya. Karena hendak memberi nama belakang Ayahnya, jelas aku tidak berani, karena kehadiran Aliena tidak di harapkan oleh Ayahnya. Karena kehadiran Aliena adalah ketidak sengajaan yang di anggap kesalahan oleh Ayahnya. Tapi, Aliena adalah pelita dan hidupku, dia adalah bintangku.
Menepi jauh dari keramaian kota dan kembali ke kampung halaman orang tuaku, sebenarnya bukan hal mudah sebelumnya. Karena gunjingan serta hinaan orang senantiasa aku dengar meski itu tidak secara langsung. Tapi ya itu tadi, setiap sesuatu yang telah berlalu akan menjadi cerita yang di kenang sebagai pelajaran. Dan saat ini ahirnya aku bisa hidup damai dan bahagia dengan Aliena meski kami tidak hidup dalam kemewahan.
Alienaku, telah menjadi pelajaran yang begitu berharga untukku. Karena di balik tubuhnya yang masih seperti anak usia dua setengah tahun, dia memiliki semangat dan pemikiran posotif yang luas biasa. Semangatnya sudah terlihat dari dia dalam kandunganku, meski sudah berulang ulang dokter mengatakan bahwa Aliena kurang berkembang dan bahkan cendrung tidak sehat, sampai harus di vonis kemungkinan untuk bertahan hidup hanya sekian persen saja. Tapi, buktinya sekarang dia mampu bersinar persis seperti namanya, Aliena bintang yang paling bersinar
"Bunda, Bunda, Alin dapat bintang lima dari Bu Guru." Teriakan Aliena menyadarkan aku tentang betapa penuh perjuangan hidupku selama lima tahun ini.
"Assalamu'alaikum dong sayang." Jawabku sembari mengulurkan tanganku dan di sambut dengan hangat oleh Aliena.
"Asalamu'alaikim Bunda." Ulang Aliena kemudian.
"Wa'alaikumussalam, Bintangnya Bunda." Jawabku lantas berpindah tempat ke sofa tidak jauh dari mesin jahitku. "Coba Bunda mau lihat yang mana bintangnya."
Dengan cepat Aliena sudah menunjukan tiga bukunya sekaligus dan bibir tipisnya langsung lancar sekali menceritakan apa saja yang terjadi di sekolahnya tadi. Dan aku selalu menjadi pendengar setia baginya.
"Nanti kalau Aliena sudah jadi juara, pasti Ayah akan pulang menemui kita ya Bunda." Hal yang paling aku takuti ketika nanti Aliena tau, bahwa aku dan dia tidak di inginkan. Oleh sebab itu, aku selalu menutup kebohongan dengan kebohongan lain.
Aku selalu mengatakan kepada Aliena bahwa Ayahnya sosok yang sangat baik, pekerja keras dan sangat menyayangi Aliena. Karena kerja jauh dan ikut orang, makanya dia tidak bisa pulang. Dan naifnya anak anak, dia percaya akan hal itu, lantas selalu menanti waktu tiba pertemuan yang sebenarnya hanya sebuah kebohongan semata.
__ADS_1
Maafkan Bunda. Kata itu selalu tersisip di hatiku saat aku hanya bisa mengangguk atas pertanyaan dan keinginan Aliena. Tapi, aku juga tidak memiliki pilihan lain waktu itu. Jika, semua baik baik saja, tentu saja aku tidak akan menjauhkan Aliena dari Ayahnya, agar dia tidak perlu kehilangan figur seorang Ayah.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Terus tertawa bahagia dengan memutar tubuh kecilnya agar baju bagian bawahnya yang lebar bergoyang, Aliena tidak henti terus berlagak bak model di depanku. Sederhana sekali keinginannya, ingin di buatkan baju pesta seperti punya Berbie.
"Terima kasih, Bunda. Alin suka bajunya." Satu kecupan di keningku mendarat dengan hangat.
"Di lepas dulu bajunya ya, supaya tidak kotor pas ulang tahun Aliena sebulan lagi."
"Iya." Aliena segera melepas baju yang di cobanya lantas segera menyimpannya. Dan tak lama Aliena kembali muncul dengan boneka kecil kesayangannya yang tak lain itu adalah boneka pisang yang Ayah Aliena berikan kepadaku atas permintaan Adit waktu itu.
"Bunda, Alin mau tidur." Katanya tanpa bisa menyembunyikan wajah kantuknya.
"Sebentar, Bunda rapikan mesin jahit dulu. Alin tunggu Bunda di kamar." Mendengar jawabanku, Aliena langsung bergegas masuk ke kamar.
Begitu penurutnya Aliena kepadaku, membuatku kadang tidak tega harus membawanya hidup dengan keadaan sulit seperti ini. Tapi, sekalipun aku membawa kembali Aliena ke kota dimana Ayahnya berada, belum tentu kami akan sebahagia ini. Karena bahagia kami adalah sederhana, cukup aku memiliki Aliena dan aku menjadi dunia bagi Aliena.
"Bunda, hari ini Alin yang mau cerita." Ucap Aliena saat aku baru saja memasuki kamar.
Bibir kecil Aliena sudah berusaha keras untuk mengeja huruf perhuruf dari buku cerita. Dan sesekali aku akan membenarkannya, ini termasuk cara yang sangat efektif untuk belajar menurutku.
Dengan usaha yang sangat keras, ahirnya buku cerita selesai juga Aliena baca, meski kebanyakan cuma di lihat gambarnya saja, setidaknya aku dan Aliena memiliki waktu untuk berbincang sebelum tidur. Dan bagiku ini cara agar aku dan Aliena saling dekat.
"Bunda, kenapa nama Alin, Aliena.?" Tanya Aliena setelah mengembalikan buku di tempatnya.
"Kenapa ya." Jawabku pura pura berpikir dan menggemaskannya Aliena yang seolah juga ikut berpikir dengan memijit mijit dagunya.
"Kenapa nama Aliena tidak Melati saja." Deg, ucapan Aliena membuatku terkesiap dan kembali ingatan masa lalu tergambar di otak ku. Ingatan yang selalu aku upayakan untuk di kubur dalam. "Kan bisa Mawar dan Melati ya Bunda." Lanjut Aliena.
Aku tersenyum tipis ke arah Aliena dengan membelai lembut pipinya. Lalu, aku dudukan Aliena berhadap hadapan denganku. "Aliena, adalah Bintang yang paling terang di rasi Gemini. Sedangkan dalam sastra Arab, Aliena memiliki arti kemulyaan. Karena itu Bunda memilih nama itu untuk Aliena, agar Aliena menjadi penerang serta membawa kemulyaan."
Apa itu Gemini, apa itu sastra dan apa itu kemulyaan, sederet tanya langsung memenuhi bibir kecil Aliena. Aku lupa kalau aku memiliko anak yang cukup kritis soal kosa kata, jadi harus ada penjelasan detail kalau tidak mau pertanyaan demi pertanyaan terus berlangsung.
__ADS_1
"Pokoknya Bunda suka dengan nama Aliena. Apa Aliena tidak suka dengan nama itu.?" Pungkasku agar tanya Aliena tidak semakin banyak.
"Apa Ayah juga suka dengan nama Aliena.?" Lagi pertanyaan Aliena mencubit dadaku dan aku harus apa, selain dari berbohong kepadanya dengan cara mengangguk tidak pasti di depan Aliena. "Kalau Ayah suka, Bunda suka, Aliena juga suka."
"Sudah malam sayang, besok pagi ada olahraga kan di sekolah." Aku sengaja ingin lekas mengahiri perbincangan malam ini. Bukan karena aku tak ingin Aliena membicarkan Ayahnya, tapi ada sesak yang masih terasa di dada. "Ayo lekas berdo'a."
"Baik Bunda." Ucap Aliena dan langsung menengadahkan tangannya untuk berdo'a lantas memeluk boneka pisang kesayangannya sembari bergumam. "Ya Allah, malam ini Aliena merindukan Ayah, jadi bawa Ayah datang di mimpi Alin. Satu lagi boleh ya, Aliena mau di ulang tahun Aliena nanti Ayah datang."
Luruh airmataku mendengar keinginan putri kecilku. Hancur hatiku, karena harus membohongi Aliena, padahal kenyataannya Ayah Aliena tidak pernah tau kehadiran Aliena. Salahkah aku yang egois dengan ingin menepi dari rasa sakit dengan membawa Aliena pergi, lantas menjadikan Aliena tidak menadapat kasih sayang dari Ayahnya.
Jika di balik, andaipun Aliena ada disana apa mungkin kasih sayang juga di dapatkannya. Jika aku terus bertahan disana, apa mungkin Aliena masih ada. Kemungkinan terbesarnya bisa jadi Aliena tidak akan pernah lahir ke dunia, karena perlakuan Ayah Aliena yang membuatku stres.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862