
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak pernah ada yang tau akan secepat apa cara kerja do'a kita. Jika, aku boleh jumawa dengan do'aku semalam, maka aku akan menyebut ini sebagai jawaban do'aku. Menggantikan kegalauanku dengan bahagia yang berlebihan. Bahkan sangking berlebihnya, panas matahari siang ini terasa sejuk sampai di dadaku.
Di dalam dadaku sedang bertaburan bunga hingga setiap langkahku terasa ringan, apa lagi di tambah dengan amplop gajiku yang kini sudah aku pindahkan menjadi beberapa bagian amplop untuk rutinanku setiap habis gajian.
Dan setok bahagia didadaku makin bertambah saat menatap depan motorku, disana tergantung beberapa kotak nasi kuning sisa tumpeng yang di bagi bagi tadi. Bukan nasinya yang membuatku terus tersenyum, melainkan orang yang memberi nasi kuning itulah yang menjadi alasan senyum serta dadaku tak ingin berhenti kelojotan.
Ya, seperti yang aku pikirkan tadi, hatiku mudah sekali Baper. Dan aku menikmati ini. Setidaknya akan ku biarkan hatiku berbahagia untuk hari ini saja. Ya, hanya hari ini saja. Setelahnya aku akan membuat sekat untuk perasaan yang tidak tau diri ini.
Kembali ukiran senyumku melebar, saat motor yang aku naiki perlahan ku belokkan ke sebuah rumah yang cat temboknya sudah memudar. Masih lengkap dengan helm dan jaketku, aku berjalan ke arah pintu dan mengetuknya pelan sembari berucap salam dan dari dalam dapat ku dengar jawaban salamku.
"Dari suaranya sepertinya ini Nak Ayu yang datang." Sapa seorang nenek yang membuka pintu dan langsung mengenali suaraku. Yap, sudah hampir dua tahun aku sering mampir ke rumah beliau, biar kata itu cuma semenit atau dua menit.
"Ahh, Nenek kenapa bisa menebak dengan tepat." Jawabku sembari meraih tangan Nenek yang telah kehilangan penglihatannya sedari muda itu.
"Suaranya khas." Ucap Nenek sembari mengajak ku untuk duduk di kursi teras.
Menysuri wajahku dengan kedua tangannya, Nenek tersenyum begitu berhenti tepat di ujung bibirku. "Apa gerangan yang membuat Nak Ayu begitu bahagia sekali hari ini."
Wajahku seketika memerah mendengar ucapan Nenek, lantas segera mengalihkan topik pembicaraan. "Diannya mana, Nek."
"Dian tadi pamit mau latihan Pramuka, Nak." Jawab Nenek.
"Oh, baiklah kalau begitu titip saja buat Dian." Ku ambil kresek berisi beberapa Donat yang di bawakan oleh Mas Karang siang tadi, dan sudah sedikit lumer coklatnya karena kepanasan. "Juga, ini ada sedikit rezeki hari ini, Nek." Lanjutku sembari menyelipkan amplop yang paling tebal di tangan Nenek.
"Alhamdulillah, Nak Ayu. Terima kasih banyak. Kami banyak berhutang budi padamu, Nak." Ucap Nenek di sertai dengan isakan yang membuatku ikut juga berkaca kaca lantas meraih Nenek dalam dekapanku. Yang justru itu membuatnya semakin tergugu.
Sejak mengenal Dian, gadis kecil dengan segala tingkah aktifnya. Aku seakan flasback dengan keadaanku sewaktu kecil. Di tinggal kedua orang tua secara bersama sama. Bedanya, aku tidak memiliki sesiapun setelahnya, sedang Dian memiliki Neneknya sebagai tempat mencurahkan segalanya.
Dan soal keberuntungan, masih banyak pada diriku daripada Dian. Lantaran aku memiliki keluarga Pak Agung yang menunjang segalanya, serta Kak Melati sebagai semangatku. Karena merasa senasib inilah, yang membuatku selalu berusaha keras agar aku bisa membantu meringankan beban kedua orang yang sama sama butuh dukungan.
"Maaf, Nek. Kali ini Ayu tidak bisa lama lama." Ucapku, lantaran aku lihat di ujung sana mendung tengah mengantung hitam dengan tiba tiba, seperti panas sedari tadi tidak pernah terjadi.
"Iya, sepertinya akan segera turun hujan, Nak. Terasa dari angin yang mulai berhenbus dingin."
"Benar. Di sisi gunung mendungnya tebal sekali." Jawabku.
"Semoga hanya hujan biasa saja, dan tidak membawa bencana bagi mereka yang tinggal disana." Aku mengaminkan ucapan Nenek, lantas bergegas pamit.
__ADS_1
Kembali melesat ke jalan hitam yang sedikit bergelombang, aku melanjutkan ke tujuanku berikutnya. Dan masih sama sasarannya, yakni menghabiskan gajiku hari ini.
Berkendara dengan sedikit santai, aku merasa seperti sedang di awasi, hingga aku harus berhenti beberapa kali untuk memastikan bahwa apa yang aku pikirkan tidak benar. Dan benar saja, ternyata itu hanya perasaan ku saja. Karena di belakangku tidak ada apa apa, selain dari kendaraan yang memang tengah berjalan di belakangku.
Melanjutkan tujuanku kali ini, aku harus cukup terburu buru karena langit benar benar menangis dengan cepatnya tepat saat aku selesai dengan amplopku. Angin yang tak beraturan membuat ngeri penglihatan, di tambah dengan pepohonan besar yang seperti menjadi lunak di ombang ambingkan angin.
Menerobos derasnya hujan dan ributnya angin dengan nekat, ahirnya aku sampai juga di Pesantren meski sedikit terlambat beberapa menit dan langsung masuk kamar mandi, lantas bergegas ikut bergabung dengan teman teman yang lain yang sudah khusuk dengan kitabnya.
Setelah kegiatan usai semuanya, kamipun kembali ke asrama masing masing dengan hujan yang seakan tidak punya lelah menjatuhkan dirinya. Dan seperti biasa, aku dan Bialah yang masuk paling ahir ke kamar kami.
Begitu kami masuk, semua mata langsung menatap kami berdua. Tidak, tidak, bukan kami berdua melainkan hanya aku seorang. Karena, Bia juga ikut menatapku penuh tanya setelah melihat kresek berisikan kotak nasi yang aku letakan di sudut kamar beserta air hujannya juga.
"Maaf, tadi buru buru. Tidak sempat keringin dulu." Ucapku sembari menuju arah lokerku untuk menaruh kitab kitabku. "Habis ini tak cariin kain pel." Lanjutku setelah sekian menit tidak ada protes dari teman teman lainnya.
"Ini punya siapa..?" Tanya Bia penasaran.
"Punya kalian semua." Jawabku kalem dan kembali pipiku bersemu merah mengingat si pemberinya.
"Wah, Kulluhum gratisan Mbak Mbak." Triak Bia yang sudah langsung membuka kresek merah yang basah kuyup itu.
Bia membaginya satu satu, lantas salah satu dari teman sekamarku membaca do'a makan yang kemudian di ikuti dengan membuka kotak nasi tersebut.
"Wah nasi kuning, Mawar baik banget deh, enggak beli kue tapi belinya nasi. Kan malah bikin kenyang." Ucap Bia sembari menyendok nasi kemulutnya.
"Bener banget. Ini enak banget tau, War." Ucap Bia.
"Bener, lauknya juga banyak. Ngomong ngomong belinya di deket sini aja." Kata dari yang lainnya, membuat semua kini menatapku.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan kepala yang kini sudah mulai tertunduk untuk menyembunyikan wajahku yang sudah merah jambu. "Tidak tau belinya dimana, itu pemberian salah satu pelanggan."
"Uhuk, uhuk, uhuk." Bia seketika tersedak mendengar jawabanku.
"Wah, baik bener pelanggannya. Alhamdulillah berkah Mbak Mawar ini mah." Ucap salah satu dari kami dan kemudian di ikuti dengan yang lain juga menyampaikan rasa terima kasihnya juga do'a yang baik baik untuk orang baik yang memberikan nasi. Eits, tapi itu tidak berlaku untuk Bia. Karena Bia justru senyum senyum tidak jelas sembari menatapku.
Setelah makan usai, kami sempat untuk Muthola'ah bersama sama sembari berdiskusi mengenai bab bab yang di ajarkan hari ini. Lantas, satu persatu meminta diri untuk istirahat, meninggalkan aku dan Bia berduan saja.
Masih dengan hujan yang deras dan dingin yang mengigit, lama kelamaan akupun ikut menyerah dan ingin menyudahi diskusiku bersama Bia. Namun, Bia seketika menarik tanganku agar keluar dari kamar.
"Ada apa sih, Bi. Dingin tau." Ku rangkulkan kedua tanganku di bahuku untuk menghalau dinginnya malam bersama hujan.
"Aih, aih, yang ingin segera menyentuh bantal, lalu membayangkan wajahnya. Ehem, ehem." Jawab Bia.
__ADS_1
"Apa sih Bi, enggak jelas banget." Jawabku.
" Mau cerita sendiri, atau aku yang maksa buat kamu cerita.?" Kata Bia dengan wajah yang di buat imut di depanku.
"Cerita apa.?"
"Kamu yakin tidak ada yang perlu untuk kamu ceritakan.? Atau memang kamu mau menyimpannya sendiri sampai orang yang ngasih nasi kuning aku temui dan mengintrogasinya sendiri." Ucap Bia santai.
"Sumpah muka kamu lucu banget." Lanjut Bia di ikuti dengan tawa yang di redamnya.
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, dan di dalam tangan itu, senyum ku sedang mengembang di sertai dengan rasa malu yang sungguh luar biasanya.
"Mas Karang yah." Ucapan Bia sukses membuat dadaku membuncah bahagia, lantas menyahuti Bia hanya dengan mengangguk pelan saja.
"Jadi apa yang terjadi tadi." Tanya Bia lagi, dan bibirku dengan sesekali tersungging senyum mulai menceritakan apa yang terjadi tadi siang saat Mas Karang memberiku kejutan ulang tahun hingga Mas Karang pergi setelahnya.
Dan entah kenapa aku malah menceritakan semua kepada Bia. Yang aku tau, Bia pasti akan mengolokku setelah ini, meski itu tidak akan kelewat batas juga tau tempat. Tapi, kenapa hatiku merasa sangat bahagia memberi tau tentang Mas Karang kepada Bia.
Persis, seperti saat Bang Daffa menyapaku, atau sekedar menceritakan Bang Daffa kepada orang lain. Tapi, ini aku hanya menyebut namanya saja sudah membuatku bahagia setengah mati. Hingga melupakan, bahwa aku hanya memberi waktu untuk diriku memikirkannya hingga hari ini usai. Yang artinya esok setelah aku bangun aku sudah harus melupakan tentang Mas Karang. Dan memupus perasaan ini agar tak menetap.
Apakah aku sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya. Jika, iya. Please seseorang ingatkan aku akan menyakitkannya cinta seorang diri. Akan menyedihkannya terbawa perasaan yang hanya di miliki sepihak, itu jauh menyesakkan.
"Tidak ada salahnya jatuh cinta, War. Karena cinta itu fitrah manusia." Bia menjeda ucapanya, kemudian melanjutkan lagi sambil tertawa. "Mungkin, bisa jadi kamu Khadijahnya Mas Karang."
Blusss, wajahku benar benar memerah mendengar ucapan Bia barusan. Dan langsung teringat dengan panggilan Mas Karang untuk ku pertama kali. Khadijah, semoga panggilan itu tidak hanya sebuah kebetulan semata. Semoga, cinta diam diamku akan sampai kepadanya, selayaknya cinta Khadijah kepada Rosululloh.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu ...
__ADS_1
By: Ariz Kopi.
@maydina862