Mawar Tak Di Cinta

Mawar Tak Di Cinta
Hatiku Mudah Baper.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


*Sesulit apapun jalannya.


Sepahit apapun cobaannya.


Allah selalu peduli.


Allah hanya sejauh do'a.


Yakinlah..


Rencana Allah jauh lebih indah dari rencana kita.


Hanya..


Perlu menunduk untuk berdo'a dan menengadah untuk bersyukur.


Lalu..


Allahpun menjadikan hatinya ridho dengan keindahan takdirnya*.


Tulisana pertama yang aku buat di akun sosial mediaku untuk mengalihkan perasaan yang entah aku harus menyebutnya seperti apa. Galaukah atau sedang Baperkah.? Sepertinya keduanya sedang aku rasakan. Perasaan ini tiba tiba saja mendominasiku, seakan langit sedang kelam tanpa perhiasan. Sedangkan sesungguhnya malam sedang bertebaran bintang bintang dengan Bulan yang tengah benerang dengan bentuk sabitnya.


Tinggal beberapa menit lagi, dua puluh satu sudah usiaku. Transisi dari remaja menjadi gadis dewasa. Dan masih tidak aku minta apa apa selain dari keridhaan hati akan semua tulisan takdir yang di gariskan padaku, agar aku bisa selalu menjadi orang yang bersyukur tanpa harus merasa cemburu dengan bahagia orang lain.


Jam pesantren tepat berbunyi dua belas kali. Menggumam ucapan syukur akupun berjalan pelan meninggalkan atap, sembari berharap hari esok kegaluanku akan berganti dengan kebahagiaan. Melangkah masuk ke dalam kamar, sebisa mungkin ku redam suara langkahku, agar tidak menganggu teman teman yang lain. Lantas ku baringkan diriku di samping Bia untuk menjemput mimpi indahku.


Seakan baru beberapa menit aku tertidur, hingga Bia harus membangunkan aku untuk


qiyamul lail yang memang di lakukan secara berjama'ah. Dan itu di lakukan untuk melatih kedisiplinan bagi kami semua disini.


Masih setengah melek merem, akupun duduk sembari mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Namun, belum aku sadar seutuhnya, Bia sudah terlebih dulu menyiramku dengan air dan kemudian di ikuti suara gelak tawa oleh teman yang lain.


"Bii.." Pekik ku kaget. Dan baru saja hendak melanjutkan ucapanku, lagi lagi Bia sudah bertindak dengan cepat. Sebutir telur sudah pecah di atas kepalaku, lantas bergantian entah apa saja yang sudah mendarat di kepalaku. Seolah olah mereka sedang membuat omlet dengan media kepalaku.


Air mata haru terus luruh dari pelupuk mataku seiring dengan ucapan selamat serta pelukan hangat bergantian yang taman tamanku berikan padaku. Dan dari semua itu, jelas untaian do'a merekalah yang senantiasa aku aminkan. Hingga kami terlambat untuk melakukan kegiatan rutinan kami.


Disinilah kami sekarang, di bawah sinar matahari pagi yang sedang hangat hangatnya, kami berdelapan di beri hukuman untuk membersihkan kolam ikan milik Ndalem. Dan seolah tanpa jera dengan hukuman kami, teman temanku masih saja asik menjahiliku terutama Bia.


"Luluran lumpur itu bagus buat kulit, War." Kata Bia sembari menempelkan lumpur dari kolam ke wajahku.


"Iya, apa lagi kalau kulitnya putih kayak punya kamu.!" Kataku dengan langsung membalas perbuatan Bia.


"Setahun sekali kan bagus, Mbak Mawar." Kata temanku yang lain dan juga sudah mengoleskan lumpur di keningku.

__ADS_1


"Baiklah, aku pasrah kali ini. Tapi, tidak tau sama yang di atas sana." Jawabku sembari menunjuk salah seorang pengurus yang susah siap siap menegur kami.


Ahirnya hukuman kali ini terus di lanjutkan oleh mereka semua, tanpa harus melibatkan ku lagi. Karena, tepat pukul sembilan aku sudah harus berangkat ke rumah Laundry. Kenapa aku berangkat pagi kali ini, lantaran hari ini tepat hari gajian, sehingga mengharuskanku mengambil uang lebih dulu serta memberi laporan kepada Ibu Nyai.


Hari ini, seakan bukan hanya Bia dan kawan kawan yang bercanda denganku. Ban motorpun juga ikut bercanda denganku. Dalam perjalan yang harusnya aku tempuh cukup setengah jam, aku harus mundur kurang lebih satu jam lamanya. Karena aku harus menuntun motor untuk mencari bengkel.


Wal hasil, setelah berjalan kurang lebih satu kilo jauhnya sampai juga aku di bengkel. Menunggu ban di tambal akupun memilih melihat tanaman obat dalam pot yang kemungkinan di tanam oleh Istri dari Mas tambal Ban. Selesai dengan urusan Ban, akupun segera meluncur ke tempat tujuanku, yakni ruamh Laundry.


Di sambut senyum ramah Mbak Shasa akupun bergegas masuk ke dalam setelah menyapa satu persatu teman kerjaku. Akupun bergegas langsung menuju ruanganku, menyiapkan pembukuan serta uang gajian teman temanku, hingga akupun larut didalam sini tanpa tau apa yang terjadi di luar sana.


Ketukan pintu ruanganku dan di sertai dengan pintu terbuka setelahnya, membuatku mengangkat kepalaku melihat siapa yang tengah datang ke ruanganku. Dan ku lihat Mbak Shasa yang tengah beridiri di ambang pintu lengkap dengan senyum manisnya.


"Mbak, ada yang mau ketemu." Kata Mbak Shasa masih dengan mengulum senyumnya.


"Siapa Mbak." Tanyaku dengan kembali melihat data yang sedang aku input.


"Pelanggan." Jawab Mbak Shasa. "Gak pake lama ya, Mbak." Lanjut Mbak Shasa dengan langsung meninggalkan ruanganku.


Menghela nafas sesaat, akupun memilih menyimpan dataku terlebih duku, sebelum ahirnya akupun beranjak menuruni tangga untuk sampai di lantai bawah.


"Mbak Shasa, mana yang mencari saya.?" Tanyaku kepada Mbak Shasa yang sedang berada di pintu pantry beserta ketiga teman yang lainnya.


"Ada di ruang tamu, Mbak." Jawab Mbak Shasa dan nampak tidak enak hati saat melihatku menatap piring yang dibawanya.


"Kok pada ngumpul disini ada apa.?" Tanyaku heran sekalogus kwatir bila terjadi sesuatu, apa lagi jika itu berkaitan dengan keselamatan pekerja.


"Iya, bener Mbak. Itu tamunya sudah nunggu dari tadi, enggak enak kalau lebih lama lagi nunggunya." Timpal Mbak Shasa seolah sengaja sekali segera mengusirku.


Menuruti kemauan Mbak Shasa yang sedang main rahasia rahasian, akupun memilih untuk melangkah menuju ruang tamu. Dan saat kakiku baru saja menapak di pintu ruang tamu, aku sudah tau siapa yang sedang duduk menungguku.


Hampir seminggu setelah makan siang bersama sama kemarin, aku memang memilih menghindar dari Mas Karang, dan sekarang justru dia datang kesini dengan tujuan menemuiku. Apa aku boleh melambungkan perasaanku sesaat saja.?


"Assalamu'alaikum, Mas Karang." Sapaku pelan sembari mengambil tempat duduk terjauh dari Mas Karang.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Mas Karang sembari mengulas senyum tipisnya.


Membuang pandanganku aku mulai menata kata, agar tidak tampak sombong di hadaoan pelanggan kami. "Apa yang hendak Mas Karang sampaikan. Semoga itu bukan berupa ketidak puasana dari layanan yang kami berikan."


Mas Karang tertawa mendengar ucapanku, sejurus kemudian segera menatapku dari yang bisa aku lihat dari ekor mataku, itu cukup intens di lakukannya. "Aku kira kita sudah menjadi teman, Mawar. Tapi, melihat kehati hatianmu dalam berucap, sepertinya aku memang hanya kamu anggap sebagai pelanggan usaha yang kamu jalankan."


Ku angkat kepalaku menatap Mas Karang yang masih menyisakan senyum di bibirnya meski itu sudah tidak selebar tadi. "Maaf, bukan seperti itu, hanya saja sampean datangnya tiba tiba dan mencari saya secara langsung. Jadi, saya mengira itu karena urusan pelanggan dan pengelola." Jawabku, dan jujur aku memang tidak bermaksud sama sekali, aku hanya menjaga sikapku agar sopan di depan pelanggan.


"Yang salah aku juga sih." Ucap Mas Karang sembari melihat jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya. "Ini belum waktunya istirahat juga. Tapi, aku bisanya saat ini. Makanya, aku cepat datang." Lanjut Mas Karang.


"Jadi, apa yang bisa saya bantu, Mas Karang..?" Kataku dengan cepat.


"Ayo makan siang bareng." Kata Mas Karang tidak kalah cepat.

__ADS_1


Aku menggeleng pelan sembari tersenyum kaku ke arah Mas Karang. "Maaf." Ucapku pelan.


"Aku sudah tau, akan kamu jawab seperti itu. Makanya makan siangnya tak bawa kesini." Ucap Mas Karang dengan senyum yang kembali terbit seiring dengan datangnya Mbak Shasa dengan teman teman yang lain dengan nyanyian selamat ulang tahun yang menggema di ruangan.


Menutup mulut dengan kedua tanganku, aku menatap Mas Karang yang kini tengah berdiri mengambil alih kotak kecil yang di terangi oleh lilin lilin kecil. Kembali, lelehan air mata haru jatuh menyusuri pipiku, seiring dengan semakin mendekatnya Mas Karang ke arahku.


"Ayo, di tiup lilinya, Mawar." Ucap Mas Karang.


Ku tatap Mas Karang yang ikut bercahaya oleh sinar lilin. Dan entah kenapa Mas Karang tampak jauh lebih menarik dari hari kemarin, dan dada ini terus saja menghangat di buatnya.


"Buruan, Mawar." Kembali Mas Karang berucap.


Lilin lilin kecil sudah mati dengan usaha keras yang aku lalukan untuk meniupnya. Dan tampak sudah isi dari kotak kecil itu yang merupakan donat dengan berbagai toping.


"Selamat ulang tahun, Mawar. Semoga selalu di limpahi keberkahan, umur yang barokah dan juga di dekatkan jodohnya." Amin amin dari arah belakang Mas Karang terdengar begitu kencang terdengar. Apa lagi saat jari telunjuk Mas Karang mampir ke hidungku, dan meninggalkan coklat dari donat sebagai jejaknya.


Andai bisa menghindar dengan cepat maka aku akan memilih tidak tersentuh oleh jari Mas Karang, yang itu berhasil membuatku menerbangkan rasaku mengudara bebas serta meruntuhkan pertahanan benteng hatiku yang kini sedang loncat loncat gembira.


Kenapa hatiku begitu lemah, dan mudah sekali menghangat oleh sikap baik seseorang. Dan seseorang itu, jelas jelas tidaklah sepadan denganku. Dan hatiku sukar sekali untuk di ingatkan apa lagi di bujuk agar tidak mudah baper dengan orang yang baik terhadapku. Bisa jadi Mas Karang melalukan ini, lantaran dia teringat dengan saudara perempuannya yang fi kota sana.


Tapi, hatiku sudah terlanjur Baper. Andai aku bisa berucap. Mas Karang, please jangan terlalu baik kepadaku, karena aku takut hatiku salah mengenali kebaikanmu dan justru mengira itu sebuah perasaan khusus untuk ku. Hatiku mudah Baper.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Iya loh ya. Aslinya Mas Karang itu gimana sama Mawar. Ghosting duang kah..?


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi.


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2