
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Langit tak selamanya biru dan mendung tak selamanya juga membawa hujan. Tapi, yang pasti bahwa setiap hujan akan membawa air bersamanya. Mungkin saja pelangi akan datang setelahnya, andai matahari mau menyapa sesudah itu. Karena semua tetap rahasia. Seperti rahasiaku yang terungkap hari ini. Dan aku tidak punya waktu untuk merenunginya, karena panggilan dokter Aliena yang tiba tiba.
Duduk bersebelahan dengan Ayah Aliena mendengarkan setiap detail dari perkembangan kesehatan Aliena serta pengobatan yang harus di jalani membuat kami berdua hanya terus diam terpaku. Satu dua kalimat terdengar biasa, karena sangking seringnya aku mendengarnya. Namun, selarik kalimat pernyatan dokter mengenai pengobatan Aliena membuatku mau tak mau memutar kepalaku untuk melihat reaksi orang yang tengah duduk di kursi sebelahku.
"Ada satu cara yang kemungkinan berhasilnya bisa tujuh lima persen, yakni dengan melahirkan kembali dan mengambil plasenta dari tali pusat." Expresinya cukup terbaca olehku dan itu sama denganku. Kaget.
"Maksudnya bisa di perjelas lagi dok.?" Kalimat yang keluar dari Ayah Aliena juga sudah dapat alu prediksi, dan tepat sekali.
"Yakni, Ayah dan Bunda Aliena harus memiliki anal kembali. Dan cara ini yang paling berhasil dari sekian pengobatan serupa seperti Aliena." Yakin dokter kepada kami berdua.
"Saya percaya, anda berdua pasti juga akan memperhitungkan apa yang saya sampaikan, mengingat Aliena juga sudah waktunya memiliki adik." Kami berdua masih tetap diam hingga dokter mempersilahkan kami untuk meninggalkan ruangannya.
Memilih memacu langkahku agar tidak perlu menyamai langkah Ayah Aliena, aku juga menulikan telingaku dari panggilan Ayah Aliena. Karena aku butuh waktu untuk berpikir, terlebih mengenai saran dokter.
Sampai di kamar Aliena, disana kembali pikiranku tak bisa tenang. Bahkan senyum merekah Aliena tidak memberiku kekuatan seperti biasanya. Kehadiran Erik yang selalunya memberiku semangat, juga tidak mampu membangkitkan gairah semangat di dada. Hanya karena ucapan dokter Aliena juga karena Mas Karang yang masih berada di sini.
Bukan soal sulit mengambil hati Aliena, apa lagi jika itu yang melakukan adalah Mas Karang. Karena aku tau persis karakter Mas Karang hampir mirip dengan Rendi, jadi aku tau betul usaha membujuknya sungguh luar biasa. Apa lagi di tambah Adit di tengah tengah mereka berdua, tentu saja membuat semua semakin mudah.
"Apa kata dokter.?" Tanya Rendi seperti biasa setiap kali aku baru menjumpai dokyer, tapi kali ini tanya itu terdengar tidak biasadi telingaku, dan cendung membuatku enggan untuk menjawannya.
"War.?" Ulang Erik sembari menyentuh bahuku.
"Sudah sore, Bella pasti menunggumu pulang." Jawabku asal.
Erik menautkan kedua alisnya seraya memandangku dengan lekat. "Ada yang belum bisa loe katakan ke gua." Telak Erik, dan dengan cepat aku mengangguk sebagai jawaban untuknya.
"Baiklah, gua akan tunggu paling lama besok." Kata Erik memberi ultimatum dengan nada suaranya serta tatapan matanya. "Gua percaya sama loe, War. Gua harap tidak akan lagi ada loe yang main kucing kucingan sama gua lagi, meski itu sudah jadi hobi loe sejak tumbuh gede dulu." Kata Erik lagi sebelum ahirnya berdiri dan pamit kepada Adit dan Aliena.
Adit, bisa bisanya aku melupakan kehadiran Adit, hanya karena Adit yang tak membalas sapaanku dan tak ingin sama sekali aku sentuh. Namun,di balik sikapnya yang dingin kepadaku, aku tau Adit diam diam curi pandang terhadapku. Dan akan langsung membuang pandangannya, begitu aku memergokinya.
"Bunda, Alin mau Bunda di samping sini." Ucap Aliena sembari melambaikan tangannya kepadaku.
"Sebentar sayang." Jawabku sembari sengaja mengulur waktu, agar Mas Karang tau bahwa aku tidak akan nyaman jika harus berada terlalu dekat dengannya. Beruntung sekali ponsel Mas Karang berbunyi yang itu sudah untuk kesekian kalinya sejak aku disini tadi.
Begitu Mas Karang menjauh dari bangsal Aliena, akupun bergegas mendekati Aliena dan Adit yang tengah asik betcengkrama. Sengaja, aku memang mengambil momen ini agar Adit tidak bisa kabur begitu saja.
__ADS_1
"Coba besar mana tangan Abang sama tangan Bunda." Ucapku sengaja.
"Iya, iya Abang, Alin mau lihat." Jawab Aliena antusias.
Sejenak Adit terlihat gusar sembari memutar kepalanya ke arah Mas Karang. Dan tak lama setelah itu Adit menyambut tanganku yang terulur di depannya sembari setengah berbisik kepadaku. "Antuy Mawar bukan bukan Bunda Adit." Dadaku terasa sesak, tapi apa boleh buat. Karena memang itu salahku yang melupakan perananku untuk Adit lantaran sibuk menyembuhkan luka.
"Alin juga mau." Kata Aliena yang langsung menumpuk tangannya di atas tangan kami, hingga membuat Adit semakin tak berkutik.
Tidak apa, hari ini aku belum bisa memeluk Adit, dan hanya bisa mengenggam tangannya. Karena aku sadar, aku telah menjadi patah hati pertamanya setelah memberikan seluruh cinta pertamanya bagiku. Seperti kataku dulu, setiap luka pasti akan menemukan obatnya, begitupun dengan Adit Dan kembali, pasti Aliena juga yang akan menjadi obat untuk kami nanti.
"Mawar." Ucap Mas Karang pelan berbarengan dengan pintu terbuka yang membawa Ayah Aliena masuk ke dalam.
"War, bisa kita bicara sebentar." Ucap Ayah Aliena dengan nada cepat seperti sedang terburu buru. Ku alihkan pandanganku secara bergantian ke arah dua orang yang seakan sedang bersitegang. Mungkin aku bisa meraba apa yang membuat Mas Karang melakukan itu, tapi Ayah Aliena.? Kenapa.? Tanya itu menjadi tanda yang cukup besar di otakku.
"Ada salam dari Ibu." Ucap Mas Karang dengan cepat. Ini bukan sikap Mas Karang yang aku kenal dulu, karena Mas Karang yang aku kenal sangat menghormati Ayah Aliena. Ini apa, apa sebenarnya yang terjadi lima tahun ini hingga mampu merubah sikap dan perangai Mas Karang dengan srastisnya.
"Perihal itu juga yang ingin aku sampaikan kepadamu, War." Lanjut Ayah Aliena.
Ku tarik nafasku dalam sembari menutup mataku rapat rapat, sementara otak ku tengah sibuk memilih kata yang hendak aku keluarkan tanpa harus menjawab keduanya. Bukankah jika ingin membenahi dan berdamai dengan masalalu harus totalitas. Oleh sebab itu, apa yang terbersit di otak ku tidak ragu aku keluarkan kepada Aliena.
"Aliena, mau ketemu sama Oma dan Uti.?" Ucapku pelan.
"Tidak hanya Oma dan Uti, ada Om juga, Tante dan Kakak Cantika." Jawab Adit dengan antusias tanpa di buat buat.
"Wah, Alin suka banyak orang. Bunda dan Alin tidak akan sepi sepi lagi." Bibir kecil Aliena sudah berbicara tanpa henti meminta Adit menceritakan sesiapa saja yang merupakan keluarganya. Mungkin, jika Aliena adalah anak yang pendendam mewarisi sikapku yang berat berdamai dengan masalalu, pasti Aliena akan membenciku yang telah menyembunyikan dia dari keluarganya. Dengan alasan apapun, apa yang aku lakukan terhadap Aliena tetap salah.
"Terima kasih, Mawar." Lirih Mas Karang begitu suasana kembali mencair dengan keceriaan Aliena serta ketelatenan Adit terhadap antusias Aliena.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Malam merambat dengan cepat, secepat angin yang membawa perubahan musim, juga perubahan kesehatan Aliena yang seolah memiliki kekuatan lebih hanya dengan mendengar cerita Adit mengenai keluarga besarnya. Bahkan malam ini, Aliena tak henti hentinya terus menunjukan reaksi baiknya dengan memberi kejutan kepada suster dengan laporan baiknya.
Tidur berjubelan di bangsal yang di beri extra bangsal setelah drama ingin tidur bersama oleh Aliena. Ahirnya, inilah kami berempat. Dalam posisi Aliena dan Adit berada ditengah tengah antara aku dan Ayah Aliena.
"Sudah minum obat dan sekarang waktunya tidur." Ucapku pelan saat Aliena yang masih asik ingin mendengarkan cerita.
"Sebentar lagi Bunda." Bantah Aliena sembari menarik tanganku agar mengeloninya.
"Lima menit lagi yah, itu lihat Abang sudah mengantuk. Bukankah besok Abang harus sekolah.?" Entah sudah keberapa kalinya, aku bertanya kepada Adit yang tak mendapat jawaban darinya. Dan kali ini, Adit tak bisa berkutik dengan tanyaku meski hanya mengagguk sebagai jawaban, itu sudah lebih cukup bagiku.
__ADS_1
"Abang lihat sini, Ayah juga." Ucap Aliena dan plek. Seketika mataku dan mata Ayah Aliena bertubrukan. "Ayah, tanganya mana." Lanjut Aliena dan tak lama tangan besar Ayah Aliena sudah menumpuk di atas tangan kami semua.
"Aliena suka seperti ini. Aliena mau seperti ini terus." Ucap Aliena lagi tanpa tau bahwa ada sesuatu yang mencubit dadaku dengan keras hingga aku memilih menarik tanganku dengan cepat.
"Bunda, Alin ma.."
"Sudah lima menit, cepatlah tidur." Kataku dengan tegas sembari memindahkan tanganku ke kepala Aliena dan membelainya lembut.
Kembali mataku dan Ayah Aliena bertemu, lahi dan lagi. Aku tidak tau harus mengarikan apa dengan tatapan itu. Kenapa, ada apa.? Semua menjadi tanya yang sejatinya tidak perlu aku tau jawabannya. Karena itu bukan urusanku. Aku abai.
Deruan halus nafas Aliena, Adit dan Ayah mereka sudah terdengar. Itu bertanda, bahwa mereka telah menjelajah ke negri kapuk. Untuk itu, aku memilih mengangkat tubuhku dan menggiring kakiku menuju jendela kamar di ujung ruangan setelah memastikan bahwa bangsal Aliena telah aku kunci.
Merangkulkan kedua tanganku lenganku, ku giring pandanganku jauh ke salah satu lampu jalanan yang tengah berkedip kedip ingin menyerah menjadi penerang. Itu persis sama seperti ku yang ingin menyerah. Andai aku tidak ingat, bahwa aku telah lebih dulu menyetujui takdir ini di hadapan Allah jauh sebelum aku lahir. Maka, menyerah dengan mudah sepertinya adalah angin indah yang mengiurkan.
Tapi, kenapa dan apa alasanya aku tetap bertahan, jelas karena aku memiliki keyakinan bahwa setiap apa yang terjadi, Allah telah mengukur kapasitas kemampuan dari diri kita. Jika, aku sampai bertahan hingga di titik ini, bukankah itu sudah cukup jadi bukti, bahwa aku telah setuju dengan takdir yang telah Allah perlihatkan kepadaku ketika di lauhul mahfudz.
"Sedang ada fenomena dingin sekarang." Ucapan lirih Ayah Aliena menyadarkan aku dengan lamunanku.
"Mungkin." Jawabku lirih, yang lebih tepatnya itu jawaban tak menentu.
Ayah Aliena sudah berdiri di sampingku, dan juga ikut menatap jauh dimana aku membuang pandanganku. "Maafkan aku, War. Aku terlalu menutup mata dan di butakan oleh kebencian."
Aku diam tak ingin menjawabnya, bukan karena aku suka mendengarnya, tapi itu justru menyakitkan dadaku. Lantaran setiap kalimat maafnya, membaut hatimu lemah dengan mengingat sikap buruknya kepadaku. Karena hatiku tidaklah selapang ahli ibadah yang tak memiliki nafsu untuk membenci.
Semakin aku diam, semakin banyak kata yang keluar dari Ayah Aliena. Hingga, akupun tidak sanggup lagi dan memilih untuk memintanya berhenti, tapi dengan caraku.
"Aku tak ingin mengingatnya, karena aku tak ingin kebencian bersarang di hatiku." Lirihku dan berbalik untuk meninggalkannya. Namun belum aku melangkah, kembali kata katanya menghentikan keinginanku.
"War, soal perkataan dokter juga permintaan Aliena, apa bisa kamu memepertimbangkanya.?"
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862