
Di dapur Meika terdengar ke gaduhan, para cewe cewe manis sedang mempersiapkan sarapan.
Dea di tugaskan untuk membuat nasi goreng. Alisa mencuci piring bekas tadi malam. Caca membuat telur gulung. Sementara bocah kembar Citra dan Eka membuat susu.
"Oke semuanya, apa sudah selesai? " Caca memeriksa pekerjaan mereka.
"Sudah kak, ini tinggal di sajikan aja" sahut Dwa sembari memindahkan nasi goreng ke mangkok besar.
"Susu juga sudah selesai. "
Kini semuanya sudah tersaji, waktunya untuk memanggil nenek dan kakek.
"Wahh harum banget" Dani berlari mendekat ke meja makan, lalu duduk di salah satu kursi.
"Aku mau makan nasi goreng nya dong!! " teriak Dani tidak sabaran, ia sudah sangat lapar, di tambah lagi aroma enak dari nasi goreng itu.
"Ihh sabar dong Dani, nanti juga di kasih" omel Eka membuat Dani cemberut.
Semuanya sudah berkumpul, para cucu dan juga nenek dan kakek.
"Wahhh kalau begini mah, nenek gak mau lepasin kalian keluar dari rumah nenek" kekeh Meika.
"Gak masalah nek, kami akan sering berkunjung" sahut Caca.
"Janji yah... "
"Iya nek, kami juga akan ikut!! " sahut Ekonomi dan Citra senang.
Bastian makan dalam diam, sejak tadi Bastian terlihat tidak seperti biasanya. Dea sedikit bingung, ia menyadari perubahan sikap Bastian.
'Ada apa dengan pria itu' pikir Dea, namun dia tetap bersikap acuh, mengabaikan sesuatu yang menurutnya tidak ada hubungan nya dengan dirinya.
Setelah makan, Dea berpamitan pada nenek dan kakek karena ia harus pergi sekarang. Dea memiliki janji dengan temannya untuk bertemu.
"Nek, Dea pergi dulu yah" pamit Dea memeluk Meika sembari mengecup pipi Meika.
"Kakek juga" kekeh Dea, ia selalu lupa untuk berpamitan dengan kakek tampannya ini.
"Lupa lagi kan" sungut kakek pura-pura cemberut.
"Ih dah tua malah cemberut" ujar Dani. Kakek langsung melotot padanya, bisa bisanya Dani bicara seperti itu.
__ADS_1
"Hahah, kamu memang benar Dani" sahut Citra setuju, lalu menutup mulutnya cepat. Citra menatap takut pada kakek.
"Awas kalian yah, aku akan memberi kalian pelajaran" Kakek mendekati Dani dan Citra yang sudah kabur.
Mereka tertawa bersama, Kakek memang selalu suka bercanda dengan cucu nya.
"Yaudah nek, Dea pergi dulu. bye semua" pamit dea melambaikan tangannya pada semuanya sebelum ia berlalu pergi.
Terlihat Bastian menghentikan makannya, rahangnya mengeras, tatapannya terlihat sangat dingin. Jika anak anak melihatnya, mungkin mereka akan merasa ketakutan.
Dea mengenai mobilnya menuju sebuah cafe, bukan cafe santai.
"Hai Bob, apa lama menunggu? " Dea menghampiri Boby, orang yang memiliki janji dengan Dea. Boby mengatakan pada Dea bahwa dirinya memiliki sesuatu yang ingin ia katakan.
"Gak kok, aku juga baru tiba" sahut Boby tersenyum tipis.
Setelah duduk di depan Boby, Dea menatap pada pria itu. Kening Dea mengerut, Boby terlihat pucat dan gugup.
"Kamu kenapa Boby? " tanya Dea penasaran.
"Hah? aku?.. aku gak papa kok" jawab Boby sedikit gugup. Dea mengangguk pelan, mencoba percaya dengan ucapan Boby.
"De... aku ingin mengatakan sesuatu"
Boby tak kunjung bicara, ia hanya menatap Dea dengan tatapan lekat.
"Hello.... Bob, kamu masih di sini kan? " ucap Dea menggoyakan bahu Boby. Pria ini terlihat aneh di mata Dea.
"Kamu kenapa sih Boby, aneh banget"
Boby menggigit bibir bawanya, mencoba menghalau semua rasa gugup. Lalu Boby kembali menatap Dea yang sudah mulai kesal karena ulahnya. Baiklah, Boby sekarang mencoba meyakinkan dirinya, dan memberanikan diri untuk mengatakan kalimat itu.
"De... " panggil Boby pelan.
"Iya, Boby... sejak tadi kamu memanggil namaku. Tapi tak kunjung bicara" kesal Dea. Ia mengaduk aduk minumannya dengan pipit, Dea mulai jengah menunggu Boby bicara.
"De... aku mau kamu menikah dengan ku" ucap Boby dalam sekali tarikan nafas.
Bryurrrrr.
jus yang baru masuk ke dalam mulut Dea langsung tersembur keluar ketika mendengar pernyataan Boby. Dea menatap Boby dengan mulut ternganga. Dea merasa pendengarannya tidak salah, Boby melamar dirinya?.
__ADS_1
"kamu gak papa dea? " tanya Boby khawatir.
"Bob, aku gak salah dengar kan? " tanya Dea menatap Boby dengan tatapan tak percaya. Boby mengangguk pelan, lalu menghela nafas berat. Boby tahu ini terlalu sulit untuk Dwa Terima.
"Maaf De, tapi aku udah gak bisa menahan semua ini lagi" lirih Boby menatap Dea dengan tatapan frustasi.
Dea menggaruk alisnya, ia masih belum bisa mencerna situasi ini. Sebelumnya dea memang memiliki Prasat jika Boby menyukainya, tetapi Dea selalu menepis nya. Tapi sekarang, Boby malah mengungkapkannya.
"Bob. kamu serius?? gak lagi ngerjain aku kan? " tanya Dea. Lagi-lagi Boby menggeleng. Meraih kedua tangan Dea, lalu menggenggamnya erat, seolah menyatakan jika dia sedang serius.
"Aku udah suka sama kamu sejak lama De, aku lihat kamu juga tidak dekat sama pria mana pun" ucap Boby.
"Maaf bob, tapi.. "
"Tapi apa De, kamu suka juga kan sama aku? kita kan sama sama lajang, gak ada alasan buat kamu menolak aku De. " ucap Boby memotong ucapan Dea. Gadis itu mulai panik, apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Kamu gak perlu jawab sekarang Dea, berikan aku waktu untuk membuktikan pada kamu kalau aku benar-benar serius sama kamu" sambung Boby. Dea semakin tercekat, ia semakin sulit menjawab ucap Boby.
"Tapi... Boby" lirih dea, dan lagi lagi Boby memotong ucapan Dea.
"Selama sebulan De, kita coba jalan dulu" ucap Boby memutuskan secara sepihak. Boby tidak memberikan jeda untuk Dea berbicara.
Dea mendesah pelan, ia bingung harus berbuat apa.
"Baiklah, jalani sebulan dulu" lirih Dea pasrah.
Boby sangat senang, saking senangnya Boby merengkuh tubuh Dea masuk ke dalam pelukannya.
"Terimakasih De"
Tak jauh dari sana, Bastian mematung melihat pemandangan paling menyakitkan di dalam hidup nya. Bastian yang tidak tahu apa hubungannm Dea dengan pria itu menjadi marah. Bastian menganggap Dea tidak menepati janjinya.
Bastian berbalik, rahangnya kembali mengeras, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku buku tangannya terlihat memutih.
Ketika ingin masuk ke kamar, Bastian mendengar Dea tengah menelpon seseorang. Karena rasa penasaran, Bastian akhir nya bersembunyi di belakang tembok, menguping pembicaraan Dea yang ternyata sengan menghubungi seorang pria.
Dan hari ini Bastian malah mengikuti Dea hingga ke cafe ini untuk melihat dan kembali menyabik nyabik hatinya.
Dengan perasaan marah, Bastian meninggalkan cafe itu, melakukan mobilnya membelah jalan raya yang terlihat padat.
...----------------...
__ADS_1
Selamat siang semua, jangan lupa like, komen, vote nya yah... biar author lebih semngt nulisnya